
Daniel terkekeh, menurunkan kaki ramping wanita cantik di dekatnya.
“Bu Tisya humoris juga ya? Bagaimana kaki ibu sekarang?” tanya Daniel masih tidak berani menoleh kebelakang.
Menggerak-gerakan kaki.
“Emb … sudah agak mending … thanks!” dengan senyum manis, Tisya mengusap bahu Daniel.
Kembali berdiri menghadap Tisya kali ini.
“Jika masih sakit, bu Tisya harus segera pergi ke dokter!” ujar Danie sembari tersenyum ramah.
“Sepertinya tidak perlu,” mengelus kakinya.
Daniel menarik kursi untuk duduk, “Jadi, apa kita sudah bisa memulai meeting bu?”
Menyentuh lengan Daniel, “Aku belum setua itu! Jangan terlalu formal, panggil saja Tisya,” tersenyum menggoda.
Melihat pemandangan itu, membuat hati dan perasaan Vee menjadi sesak.
Ruangan seakan menjadi sempit dan udara semakin menipis.
Jadi ini yang namanya cemburu?
Vee membuang muka, mencengkram roknya sendiri bergumam dalam hati.
Apakah Daniel juga merasakan hal yang sama saat melihatku besama Yazza?
...***...
Seluruh lampu dalam apartemen Vee sudah padam.
Dania menyalakan handphone, melihat ke arah Yve untuk memastikan dia sudah tidur atau belum.
Begitu melihat Yve terlelap, dengan hati-hati dia beranjak turun dari ranjang.
Tanpa menyalakan lampu, Dania berjalan mengendap keluar kamar.
Keadaan rumah masih sangat sepi, Vee dan Yazza belum pulang.
Dania tersenyum membuka pintu kamar Vee, menyalakan lampu menutupnya dari dalam.
Dengan riang dia melihat ke sekeliling, berjalan menuju almari.
Membukanya, “Woah!”
Jemari Dania menyusuri baju Vee yang di gantung.
Seolah dia mencoba satu per satu baju di depan tubuh sambil tersenyum melihat bayangannya sendiri di depan cermin.
Dania mengambil long dress berwarna kuning yang terlihat sangat cantik.
“Yang ini cocok sekali untukku!” membawanya ke kamar mandi.
Saat dia keluar, Dania sudah mengenakan gaun Vee dengan tarian memutar-mutar badan menuju meja rias.
Senyum ringan di perlihatkan di depan cermin.
Tanpa sungkan sedikitpun, dia mulai menggunakan alat make up Vee.
Bukan hanya itu, bahkan dia juga menyemprotkan parfum Vee ke seluruh badan.
Melihat ke cermin, “Sudah sangat mirip bukan? Tuan Yazza pasti akan menyukaiku jika melihat aku seperti ini!” tersenyum membelai wajahnya sendiri dengan dua jarinya.
Kembali menoleh ke arah almari.
Dengan sok cantik dia berjalan lagi mendekati almari.
Dilihatnya beberapa pakaian Yazza yang memang tidak banyak di sana.
__ADS_1
Dania tersenyum mengambil dalaman Yazza.
Membentangkannya, lalu dilihat dengan seksama.
Seketika wajahnya tersipu, memeluk erat dalaman tersebut.
...***...
Hampir jam sebelas malam, Vee dan Yazza baru sampai kembali ke apartemen.
“Kamu kenal Tisya?” tanya Vee keluar dari dalam lift.
Menyipitkan mata, “Kenapa tiba-tiba menanyakannya?”
“Karena kalian terlihat sudah saling mengenal sebelumnya.”
“Apa kamu lupa? Bukankah aku pernah menyinggung jika aku Berli, Tisya dan Gerry berada di satu sekolah yang sama saat SMA?”
“Ah … sepertinya aku tidak terlalu menyimak,” menarik nafas panjang. “Well, dia cantik … lemah lembut dan baik hati!” puji Vee ironi.
Kenyataannya, ada nada ketidaksukaan saat dia mengucapkan kalimatnya.
Vee masih merasa cemburu melihat Tisya begitu terpesona terhadap Daniel.
Jelas sekali dari tatapan mata Tisya setiap kali melihat Daniel.
“Percayalah … itu hanya topeng,” cibir Yazza.
Vee menyipitkan mata, sembari membuka pintu apartemen.
“Topeng?” ulangnya ragu.
“Seluruh keluarga Nirwana memang paling pandai memakai topeng. Kecuali pak Ganny, dia satu-satunya orang Nirwana yang jujur. Aku kagum dan respek pada karakternya dalam berbisnis.”
“Pak Ganny suaminya bu Tasya!”
Yazza berdiri di ambang pintu menatap Vee mendalam, “Bagaimana kamu tahu tentang Tasya?”
Sial kelepasan!
Batinnya.
“Emb, bu Tasya kan presdir Nirwana … tentu saja White Purple sangat mengenal bu Tasya. Aku dengar adiknya tadi baru kembali dari luar negeri? Apa benar dia akan membantu kakaknya dalam mengurus bisnis?” gumam Vee di akhir kalimat seolah bertanya pada dirinya sendiri.
Jika itu benar terjadi, maka tidak menutup kemungkinan jika Tisya akan lebih sering bertemu dengan Daniel.
Haiz …
Kenapa ini sangat mengganggu pikiranku!
Batin Vee kesal sendiri.
“Lebih baik jangan terlalu dekat dengan mereka,” Yazza mendahului masuk.
Vee menutup pintu dari dalam.
“Mereka itu ibarat pasir hisap. Terlihat normal-normal saja, tetapi begitu berpijak di atasnya, kamu akan terserap masuk ke dalam!” Yazza berjalan menuju kamar.
Mengikuti, “Mereka tidak terlihat seperti orang yang akan bisa melakukan kejahatan,” gumam Vee lirih menampik pendapat Yazza.
“Hmph … apa?” ulang Yazza menoleh ke arah Vee.
Dia memang tidak mendengar dengan jelas kalimat Vee sebelumnya.
“Ah, tidak! Bukan apa-apa,” membuka pintu kamar langsung menyalakan lampu.
Bau harum semerbak menyeruak dari dalam kamarnya.
Vee langsung mengendus wewangian yang memenuhi rongga hidung.
“Aneh, kok baunya masih kental sekali sih?” tanya Vee masuk ke dalam.
__ADS_1
“Ini parfum kamu sendiri!” Yazza menutup pintu.
“Aku merasa tidak memakai dengan berlebihan,” menyipitkan mata.
“Cih … alasan saja! Pasti memang sengaja memakai banyak parfum untuk menarik perhatian orang kan?”
“Hya! Jangan sembarangan!” sentak Vee kesal.
“Cih … aku mau mandi duluan! Besok kita harus ke boutique lalu menjenguk anak madam Lia!”
“Ya sudah mandi saja sana,” duduk di sofa mencibir melihat punggung Yazza. “Tumben sekali tidak menyela dan mengganggu saat aku di kamar mandi,” gumamnya lirih.
Masih memegang handle pintu, sedikit menoleh ke arah Vee, “Ya kalau mau mandi bareng sih ayo!”
Tersenyum nyengir untuk mencibir, “Tidak! Terima kasih!” membuang muka dengan tangan menyilang di perut.
Yazza mendengus tersenyum.
Lanjut masuk ke dalam kamar mandi.
...***...
Hans baru sampai rumah.
Hirza memegang segelas wine duduk di balkon sembari mengamati bintang-bintang.
“Mas!” Hans ikut duduk.
“Bagaimana?”
“Aman-aman saja sih!”
Seperti biasa, begitu mendapat informasi jika Vee akan bertemu dengan orang Nirwana, Hirza segera mengutus Hans untuk mengawasi.
“Mungkin mereka juga sedang menenangkan diri agar terlihat tidak terlalu mencolok,” meneguk minuman.
Hirza berdiri, berjalan ke pembatas.
Banyak yang dia pikirkan, kepalanya mendongak lalu tersenyum mencibir memikirkan sesuatu.
“Apa yang mas tertawakan?” tanya Hans datar.
“Pertama, mereka sudah kehilangan tiga elitenya dan kemarin dua lagi menyusul ke penjara!”
“Baiknya setelah ini kita serahkan sisanya ke Shadow saja deh! Takutnya jika kita membabat habis semua, justru akan terlihat mencurigakan!” Hans menyarankan.
“Hampir semua pebisnis sudah tahu jika G Corporation sudah menyinggung Paradise. Sekarang, waktunya aku memanggang ikan yang sudah berhasil kupancing,” Hirza mendengus tersenyum licik.
“Bagaimanapun juga, Tasya tidak akan tinggal diam jika kita menyentuh gundiknya!” Hans tersenyum kecut.
“Gundik pria!” Hirza tersenyum mencibir.
“Hahaha … aku kasihan sekali pada suami ular betina itu!”
“Justru aku merasa, Tasya sudah mulai menarik diri menjauhi bisnis gelap setelah kelahiran putri keduanya.”
Hans menyipitkan mata menatap spekulatif Hirza yang masih berdiri di dekat pembatas balkon.
“Atau dia hanya sedang meniru gayaku … tetap memimpin meski tidak menunjukan diri. Bukankah adiknya sudah di tempatkan di garda terdepan saat ini?”
“Layaknya mas Hirza yang menggunakan mas Rudi sebagai pemimpin bayangan. Maksud mas seperti itu juga yang saat ini Tasya lakukan?”
“Entahlah … kita lihat saja!”
Menggoyang-goyangkan gelas.
“Aku tidak suka seorang peniru!”
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
__ADS_1
...>))))> ' ' <((((<...