RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
ASISTEN PRIBADI YAZZA


__ADS_3


Yve tampak tengah bersenang-senang bersama Daniel di aula.


Keduanya terlihat sangat kompak dalam permainan lempar bola.


Senyuman tipis merekah perlahan ketika Vee mengamati keduanya di dekat tiang koridor sekolah.


Panitia lomba mengumumkan jika Yve dan ayahnya memenangkan perlombaan.


Vee terkejut senang langsung bertepuk tangan.


Daniel mengendong Yve dan keduanya bersorak senang.


“Eh, itu mamamu!” Daniel menunjuk Vee sembari menurunkan Yve.


“Mama!” Yve berlari senang langsung memeluk Vee.



Balas memeluk lalu pura-pura menutup hidung, “Ehh, bau keringat!”


“Ini keringat kemenangan!” Yve tersenyum bangga. “Lem tikus ini lumayan juga!” menunjuk Daniel.


“Sungguh?" Seolah meragukan, "Dia terlihat sangat payah!" goda Vee.


“Eh tunggu! Siapa yang kamu sebut lem tikus?” Daniel menunduk menatap Yve.


Mencibirkan bibir, “Siapa lagi kalau bukan Om!”


“Hya! Kenapa menyebutku lem tikus?” protes Daniel.


Yve dan Vee saling tatap lalu terkekeh bersamaan, “Hahahaha!”


“Hei! Apa-apaan ini? Kalian menggosip di belakangku?”


“Kalau iya, memangnya kenapa?” tantang Yve.


Mengernyit, “Tapi kenapa lem tikus?”



Sepertinya Daniel terlihat sangat penasaran sekali.


“Haiz masih tidak sadar!” Yve kembali mencibirkan bibirnya.


“Hah?”


“Om itu selalu menempel dengan erat dan sulit lepas jika disuruh untuk pergi!”


Daniel menyipitkan mata, “Hmm, jadi begitu!” Menyilangkan tangan di perut, “Baiklah, itu artinya kalian tikusnya?”


“Apa!” protes Vee dan Yve bersamaan.


“Jika aku lem tikus yang melekat. Artinya aku hanya lem dan kalian adalah tikus!”


“Hya!” Vee dan Yve berdiri bersamaan sambil bertolak pinggang.


“Oh tidak! Ada tikus yang mau mengejar!” Daniel segera berlari.


“Berhenti kau!” Vee mengejar.


Yve cekikikan ikut mengejar, “Ma, tangkap! Hajar dia!”


“Hya! Keroyokan tidak adil!” Daniel berusaha main kucing-kucingan dengan mereka.



Yazza tidak suka melihat Vee begitu bahagia bersama Daniel di sana.


Ia merasa ini tidak adil.


Dia diperlakukan seperti penjahat. Tapi di sisi lain, Vee akan terlihat seperti peri di hadapan orang-orang.


Apa yang sebenarnya sudah Vee lakukan hingga membuat Yazza begitu kebingungan seperti ini.


Rasanya lebih dari sekedar rasa kebencian.


Lebih tepatnya, kenapa dia menjadi satu-satunya pengecualian.


“Apa aku tidak layak untuk mendapatkan senyumanmu itu?”


***


Daniel mengantar Yve dan Vee pulang.


Anak itu bahagia sekali memegang tropy sambil bermanja di pangkuan mamanya.


“Sudah kubilang kita akan menang!” Daniel pongah.


“Langsung besar kepalanya.” ejek Yve.


“Aku sudah pantas mejadi ayahmu bukan?”


“Jangan bermimpi!” sahut Yve lugas.


Daniel mendengus, “Masih sulit ditaklukan!”


Vee terseyum mencium putrinya, “-lain kali jika ada acara keluarga jangan diam saja. Beritahu mama!”


“Mama sangat sibuk. Yve takut mengganggu mama.” Dalih Yve tersipu.


“Demi Yve, mama pasti akan meluangkan waktu.”


Tersenyum balas menicum pipi mamanya, “Yve sayang sekali sama mama!”


“Hya cium aku juga donk!” pinta Daniel dengan senyum sok polosnya.


“Nggak!” tukas Yve seketika.

__ADS_1


“Haiz!” gerutu Daniel.


“Terimaksih pak untuk hari ini.” Vee tersenyum.


“Sudah kubilang janga terlalu formal!”


“Jangan mencuri kesempatan menggoda mamaku!” Yve mencibir.


Vee terkekeh pelan.


“Astaga. Masih belum bisa menyogok putrinya dengan tropy juara!”


Yve cekikikan menjulurkan lidah mengejek Daniel lalu memeluk mamanya.



Dia tidak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya.


Saat tadi dia bermain bersama Daniel, rasanya dia bisa merasakan bahagianya bermain dengan seorang yang selalu dia harapkan selama ini.


Daniel begitu sigap menjaga agar dirinya tidak jatuh saat berlari. Melindungi dengan tubuh saat ada bola yang mengarah ke arahnya. Dan Daniel juga akan bersorak paling keras untuk menyemangatinya.


Meski tidak bisa diakui secara lisan, kehadiran Daniel mampu menghibur Yve hari ini.


***


“Apa aku boleh mampir?” Tanya Daniel begitu sampai di lobby apartemen


“Tidak!” Vee melarang.


Meski Yve terlihat memprotes menatap mamanya, tapi dia hanya diam dan memperhatikan.


Daniel hanya mengerucutkan bibir. Dia tidak kecewa dan sudah tidak heran dengan penolakan Vee ini.


Tentu saja sudah biasa baginya.


“Emm, Pak! Terima kasih untuk hari ini.” Vee tersenyum tulus.


Balas tersenyum, “Jangan sungkan mengajakku lagi jika ada acara di sekolah.”


Vee tersenyum sipu, “Saya tidak akan merepotkan pak Daniel lagi.”


“Ah tidak repot!”


Menghempaskan nafas, “Apa mulai besok saya harus ke Teratai Putih?”


Daniel langsung muram, “Jika kamu tidak mau, tidak perlu pergi kok! Aku bisa bicara pada ayahku.”


Vee menggeleng, “Saya harus mempertanggung jawabkannya.”


“Sungguh kamu akan baik-baik saja?”


Tersenyum, “Jangan khawatir!”


Meski ada hal lain yang lebih Daniel khawatirkan sebenarnya.


“Kalau begitu, jangan sampai membuat kesalahan di sana. Telepon aku kapanpun jika terjadi sesuatu.”


Tersenyum mengangguk, “Kalau begitu, kami ke atas dulu. Sekali lagi terimakasih pak!”


Daniel tersenyum, “Masuklah!” pungkasnya.


Yve melambai meski tanpa senyuman.


Itu sudah mampu membuat Daniel tersenyum senang melihat gadis kecil yang begitu menggemaskan tersebut. Dia membalas lambaian tangan Yve.


Vee menunduk hormat sebelum berbalik dan melangkah masuk kedalam lobby utama.


Daniel menghela nafas panjang melihat mereka.


Dia tidak rela jika Vee ke kantor Yazza sebenanya. Tapi jika dia tiba-tiba membatalkan perjanjian, bukankah pengaruhnya akan merembet ke satu kantor?


Pak Didik benar. Ini bukan tentang untung atau rugi semata.


Tapi, reputasi dan nama baik Vee yang dipertaruhkan.


Jika sampai kabar tentang alasan penolakan kontrak itu disebakan oleh Vee tersebar, maka Vee yang akan disalahkan banyak pihak. Dan itu yang ingin Daniel hindari.


Pembicaraan Yazza dan Vee tempo hari masih mengganjal di hati. Memberatkannya untuk melepas Vee pergi ke kantor Teratai Putih meski hanya satu minggu.


Apa yang membuat Vee begitu membenci Yazza?


Dan kenapa Yazza selalu memimpikan Vee?


Semakin dipikirkan, semakin membuat Daniel merasa sesak.


 



***



Dengan wajah kesal penuh amarah. Vee memencet bel di depan gerbang rumah Yazza.


Satpam langsung membukakan pintu gerbang.


Subuh tadi saat Vee masih tidur, ada telepon masuk dari nomor asing.


Vee langsung terbangun karenanya.


Dia tidak tahu bagaimana Yazza bisa mendapatkan nomor teleponnya.


Yang lebih menjengkelkan, Yazza menelpon sepagi itu dan menyuruhnya datang ke alamat yang dia sebutkan.


Dengan terpaksa Vee menurut datang dengan hati kesal.


Rumah yang sangat besar dan mewah. Bahkan dari gerbang menuju pintu utama, harus berjalan cukup jauh.

__ADS_1


Seorang asisten rumah tangga sudah menyambut Vee.


Wanita itu membawa Vee ke lantai dua. Mereka berdiri di depan sebuah ruangan.


“Kenapa ke sini?” tanya Vee.


“Ini kamar tuan. Beliau menyuruh saya untuk langsung mengantar anda ke sini!” mbak Rosi tersenyum ramah.


“Kamar? Apa dia sudah gila?” Vee kesal.


Menunduk membukakan pintu, “Saya hanya menjalankan perintah.”


Vee melihat kedalam.



Kamar yang luas dan terang.


Semua tertata begitu rapi.


Furniture bertemakan royal memberi kesan elegan dan nyaman saat pertama melihatnya.


Sangat klasik.


Tirai berwarna coklat karamel menambah kesan mewah, selaras dengan cat tembok juga barang-barang yang ada di dalamnya.


Tidak ada siapa-siapa.


“Cihh! Asisten pribadinya!” cibir Vee kesal melangkah ke dalam.


Yazza memintanya untuk menjadi asisten pribadinya selama seminggu ini.


“Kalau begitu saya permisi dahulu!” mbak Rosi menutup pintu dari luar.


Vee melihat-lihat sekeliling.


Tidak ada pajangan foto.


Hanya lukisan dan ornamen-ornamen antik. Terlihat kuno, tapi harganya pasti sangat mahal.


Pandangan mata Vee berhenti di satu titik.


Ada satu almari hias yang terlihat mencolok dan menarik perhatian.



“Dasar pamer!” cibir Vee mengamati piagam dan piala penghargaan kategori pebisnis muda.


***


Yazza terlihat cukup cerah pagi ini.


Auranya sedang baik.


Dengan hanya berbalut handuk dia keluar dari kamar mandi.



Melihat Yazza setengah telanjang, membuat Vee langsung membalikan badan terdiam tanpa kata-kata.


“Masuk kesini!” kata Yazza datar.


Vee mengatupkan bibirnya rapat-rapat.


Dia kesal sekali, “kamu pikir aku ini apa!” sentaknya tanpa menoleh.


Yazza tersenyum mencibir, “Otak mesum!”


Vee berbalik hendak memprotes, sekali lagi dia melihat  perut telanjang Yazza dan dia urung lalu kembali membuang muka, “Anda yang mesum!”


“Almari pakaian ku ada di dalam sini. Pilihkan pakaian yang cocok!”


“Semua pakain pria hampir sama. Kenapa harus memilih?”


“Kalau begitu aku tidak akan berpakaian sampai kamu memilihkanya!”


Vee kesal menghentakan kakinya ke lantai. Berbalik dan langsung berjalan kedepan.


Dia melewati Yazza tanpa menoleh. Langsung masuk ke dalam pintu di dekat Yazza.


Tempat penyimpanan pakaian dan aksesoris bersebelahan dengan kamar mandi.



Sangat luas!



Hampir seluas kamar utamanya tadi.


Yazza mengikuti Vee berdiri di belakangnya.


“Jangan dekat-dekat!” sentak Vee enggan menoleh.


Yazza sedikit mundur, “Kenapa kamu yang mengatur-atur di rumahku?”


“Cihh!” Vee tidak menjawab dan hanya mencibir kesal.


Ia menggeser-geser kemeja yang menggantung.


Sudah seperti di dalam showroom shopping mall saja!


Yazza tersenyum tipis mengamati Vee dari belakang.



...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))>' '<((((<...

__ADS_1


__ADS_2