RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
PERAYAAN


__ADS_3


Daniel bersama pak Soleh baru selesai memasang banner selamat datang untuk Vee di ruangannya.


“Balon sudah, bunga sudah, terompet sudah dan … kembang api kertasnya mana?” Daniel menunjuk satu per satu.


“Ah, masih di laci!” pak Soleh segera mengambil.


“Hya pak Didik … pakai topinya!” sentak Daniel melihat pak Didik yang berdiri muram di pojokan.


“Sungguh memalukan!” memakai topi kerucut, “Vee justru akan mengomel nanti … lihat saja!”


“Memang itu yang aku rindukan!” Daniel mencibir cuek, sambil berjalan menuju meja Vee yang sudah dipenuhi bunga, permen dan kue.


“Haiz … anak ini! Hya … paling tidak tunjukan sedikit kewibawaan!” tegur pak Didik.


“Cih!” mencibir lalu menatap satpam, “Pak Soleh, bagikan kembang api kertas kepada karyawan. Suruh mereka agar segera masuk berkumpul di sini!”


“Siap bos!” pak Soleh segera keluar ruangan.


“Anak ini sungguh tidak bisa diselamatkan!” cibir pak Didik membuang muka.


“Memangnya aku dalam bahaya? Kenapa harus diselamatkan!” balas mencibir lirih.


“Kejiwaan anda!” tegas pak Didik.


“Haiz … kenapa anda tidak menghormati saya!” bertolak pinggang.


Pak Didik mendengus membalikan badan mencari tumpukan buku.


“Ah … ampun tidak!” Daniel mundur mengangkat kedua tangannya.


“Cih … dasar anak ini!” pak Didik mengangkat tinggi buku di tangannya.



Pak Soleh kembali masuk, “Nona Vee sudah sampai di lobby!”


“Ah, cepat! Mana yang lain!” Daniel bergegas bersiap.


“Cepat masuk semuanya!” pak Soleh mempersilahkan beberapa karyawan yang sudah memegang kembang api kertas dan topi pesta kerucut.


Beberapa karyawan berbondong-bondong masuk.


Berbaris dan bersiap menyambut kedatangan Vee.


Ada yang aneh ketika Vee melihat orang-orang kantor.


Mereka tampak memperhatikannya.


Bahkan beberapa ada yang berbisik pura-pura membuang muka.


Merapikan rambut yang sengaja di urai ke depan bahu.


Aku sudah menutup luka dan bekas dari Yazza!


Kenapa mereka melihatku seolah masih ada yang aneh dari diriku?


Membuat Vee semakin insecure saja.


“Eh ibu Vee … selamat pagi!” sambut salah seorang resepsionis sambil cengingisan.



Makin menyipitkan mata, “Pagi!” balas Vee terus bejalan menuju lift.


Sekali lagi dia mengusap rambutnya dan melihat bayangannya sendiri di pantulan dinding kaca gedung.


Tidak ada yang aneh!


Area kantor ruangan Daniel tampak sepi.


Tidak ada seorangpun.


“Kenapa belum ada orang? Kurasa aku tidak kepagian!” gumamnya celingukan.


Begitu dia menarik gagang pintu, suara terompet dan ledakan kembang api kertas terdengar begitu meriah.



“Selamat datang kembali ibu Vee!” sambut orang-orang begitu lantang.

__ADS_1


Vee menutup telinganya, “Pak Danieeeelllllll!” pekik Vee jengkel.


Ia merasa sangat malu sekarang.


‘SELAMAT DATANG KEMBALI SEKERTARIS VEE!’


Tulisan di banner yang begitu mencolok.


Pantas saja orang-orang di bawah terus melihatnya dan semua orang tampak begitu mencurigakan.


“Kenapa harus mempermalukan saya seperti ini!” protes Vee merebut kembang api kertas di tangan pak Soleh.


Secara tidak langsung seluruh kantor sudah pasti akan punya bahan gossip baru lagi setelah ini.


“Hya! Ini semua untuk menyambutmu kembali … seharusnya kamu senang!” Daniel mencibir.


“Nah kan … apa aku bilang!” gumam pak Didik, menyilangkan tangan di perut.


Vee tersenyum nyengir menatap Daniel kesal, “Terima kasih!” seolah berkata lembut, “Tapi ini berlebihan!” pekik Vee di ujung kalimat.


Mengernyit mengabaikan.


“Oke … oke … yang lain boleh keluar! Gerah!” Daniel berbicara pada para karyawannya.


“Kuenya pak Daniel!” tanya salah seorang.


“Haiz … ini untuk sekertaris Vee! Kalian beli sendiri!” tegas Daniel.


“Yaaaahh!”


“Huuuu!” sorak para karyawan.


“Cih … seperti anak-anak saja!” sentak Daniel mencibir, “Sekarang baris beri selamat untuk sekretarisku!”


“Pak Daniel!” sentak Vee menghentakkan kaki kesal.


“Yaaaaa!” jawab mereka ogah-ogahan.


“Yang tidak semangat tidak dapat bonus!” ancam Daniel.


“IYAAAAAA!” serentak mereka semua berteriak penuh semangat sekarang.


Pak Didik hanya menggeleng terkekeh pelan duduk di kursi Daniel.


Sampai semuanya sudah keluar kembali, pak Soleh segera menutup pintu dari dalam.


“Bagaimana? Ibu Vee senang ‘kan?” tanya pak Soleh.


“Ulang tahun saya masih lama!” berakting seolah mengisak tangis.


“Hya! Jangan terharu seperti itu!” Daniel mendekat.


Vee langsung memukuli lengan Daniel, “Dasar pria freak!”


Pak Soleh mundur beberapa langkah.


“Aku sudah menasehatinya padahal!” pak Didik santai di ujung belakang ruangan.


“Tapi pak Didik juga memakai topi aneh itu!” gerutu Vee.


“Eh, dia mengancam mau memotong gaji jika seluruh karyawan di lantai ini melepas topi sampai jam kerja usai!” menunjuk Daniel sambil mencibir.


“Pak Daniel!” pekik Vee lagi.


Dengan cuek sembari pura-pura tidak melihat ke arah Vee, Daniel memakaikan topi kepada Vee, “Termasuk kamu!”


Vee kembali mewek merengek jengkel, “Pak Daniel … tolonglah! Kita seperti orang idiot!” nadanya seolah menangis.


“Hya, aku tahu kalian semua pasti bahagia di hari spesial ini!”


“Bahagia kepalamu!” pak Didik mengangkat buku tebal lagi.


Daniel bersiap menangkis, tapi tentu saja pak Didik tidak serius melemparkannya.


“Haiz! Kenapa semua orang di sini begitu kaku sih!” gerutunya.


Pak Soleh mengambil salah satu balon, “Pak bos … boleh ini untuk saya?”


“Nah ini … saya suka! Terus terang dan tidak kaku … sambil pak!” Daniel bertolak pinggang tersenyum pongah.


Terkekeh, “Hahaha! Kalau begitu saya keluar dulu deh!” mendekatkan kepala ke arah Daniel, “Jangan lupa sisihkan kuenya!” bisiknya.

__ADS_1


“Hahaha!” Daniel terkekeh menepuk-nepuk pundak pak Soleh, “Tentu saja … jangan khawatir! Spesial!” mereka berdua langsung high five.


“Oke ibu Vee, selamat datang kembali!” pak Soleh cengingisan.


Vee kesal menghentakkan kakinya berjalan menuju meja kerjanya yang dipenuhi hiasan dan kue.


“Sungguh … hanya orang-orang tertentu yang bisa sampai memikirkan hal-hal seperti ini!” ejek Vee.


Pak Didik tersenyum berdecak menggeleng-gelengkan kepala.


...***...



Bu Tania sudah mengumumkan kepada anak-anak sekelas Yve untuk tetap berada di kelas saat jam makan siang nanti.


Yazza sudah menelepon dan memberitahu akan ada banyak makanan datang nanti.


“Eh … Yve, itu papamu yang waktu itu memenangkan lomba bersamamu?” tanya Caesar polos.


“Cih … dia bukan papaku!” cibirnya.


Daniel yang dimaksud Caesar.


“Bukannya waktu itu kamu bilang tidak punya papa?” tanya Caesar lagi.


Tersenyum, “Kami bertemu kembali beberapa waktu yang lalu. Dan papa langsung mengajakku liburan!”


Manyun, “Aku khawatir sekali saat kamu tiba-tiba dipanggil dan langsung meninggalkan sekolah waktu itu. Aku pikir terjadi sesuatu … tapi kata bu Tania kamu akan pergi liburan keluarga!”


“Ya, kita semua ke Bali … menyenangkan sekali!”


“Cih … tapi kenapa nomor handphonemu tidak bisa dihubungi!” protes Caesar.


“Ah, itu karena aku terlalu bahagia menghabiskan waktu dengan papaku!”


Caesar ikut tersenyum saat melihat Yve begitu antusias bercerita.


“Kami bermain pasir, mendatangi rumah eyang buyut dan melihat banyak koleksi kerang,” mengingat sesuatu, “Eh iya … nanti mampir ke rumahku! Aku sudah menyiapkan oleh-oleh … akan aku perlihatkan kerang cantik kepada Caesar!”


“Sungguh?”


Mengangguk, “Tentu saja!”


“Papa Yve pasti orang yang sangat luar biasa!”


“Tentu saja!” tersenyum bangga, “Dan katanya … kami akan segera tinggal bersama kembali!”


Ikut bahagia melihat Yve, “Itu bagus! Jadi kamu tidak akan sedih lagi jika ada perlombaan antara ayah dan anak.”


Mengangguk tersenyum, “Itu benar sekali!”


...***...


Seorang petugas kebersihan diam-diam mengambil gambar suasana ruang kelas Yve saat ini.


Gambar itu sampai ke Hans.


Pelajaran di kelasnya masih berlangsung saat dia menerima pesan tersebut.


Pemuda itu menyipitkan mata menatap layar ponselnya.



Aku semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran pria ini!


Kenapa hubungan mereka masih baik-baik saja?


Bahkan dia menginap di apartemen nona Vee semalam!


Sebenarnya dia sudah tahu tentang kebohongan nona Vee atau belum sih?


Mengingat ada Shadow di belakangnya, mustahil jika dia belum menemukan kebenarannya.


Tapi, jika dia sudah tahu … kenapa justru memilih membahayakan dirinya sendiri yang malah menyimpan ranjau di bawah kakinya?


Padahal aku sangat menunggu kemarahannya!


Jika saja pria itu menyakiti atau membahayakan nona Vee, maka aku akan punya alasan untuk mengambil tindakan!


Geram Hans bergumam dalam hati.

__ADS_1


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))>' '<((((<...


__ADS_2