
Jam istirahat siang.
Vee begitu khawatir jika Yazza tidak menepati janjinya.
Tanpa beranjak dari tempat duduknya, dia langsung mencoba menghubungi Yve.
Daniel yang tadinya hendak mengajaknya makan siang, menjadi urung dan hanya duduk diam memperhatikan.
Dia cukup penasaran, siapa yang Vee telepon saat ini.
“Sayang!” Vee ceria.
Daniel menyipitkan mata semakin kepo.
“Jadi bagaimana di sekolah?”
“Ah, putrinya!” gumam Daniel lirih pada dirinya sendiri.
“Ma … semua orang menyukainya! Mau panggilan video?” tanya Yve bersemangat.
“Boleh!” Vee langsung mengganti ke panggilan video.
Semua anak di kelas Yve begitu antusias mengambil makanan prasmanan yang sudah disiapkan.
Bahkan ada lima orang pelayan restaurant yang juga disewa untuk acara kali ini.
Perasaannya sedikit lebih lega sekarang.
Setidaknya Yazza tidak mempermalukan Yve dengan janji palsu.
Jika sampai Yazza tidak menepati perkataannya, Vee bersumpah akan membalas dengan cara apapun untuk mempermalukan Yazza juga.
Karena dia tahu sangat tahu, Yazza paling peduli dengan imagenya.
Daniel tiba-tiba muncul di layar panggilan Yve.
Vee langsung menoleh ke belakang.
Pria itu melambai ke arah Yve.
Mencibir, “Cih! Hya … lem tikus … menganggu pemandangan!”
“Eh … enak saja! Aku ini sangat tampan loh!” Daniel mengerlingkan mata.
“Cuihh!” cibir Yve membuang muka.
Vee tersenyum mencibir, “Sungguh deh … dia benar-benar lem tikus!”
“Eh … itu sedang ada pesta makan-makan di sana?” tanya Daniel.
“Kepo sekali!” ejek Yve.
“Siapa yang ulang tahun?” tanya Daniel tersenyum antusias.
“Bukan ulang tahun!”
Sebelum Yve melanjutkan, “Sayang, kamu juga makan siang gih … nanti tidak kebagian!” sela Vee mengalihkan pembicaraan.
“Mama juga, ini sudah jam makan siang!”
Tersenyum mengangguk, “Tentu!”
“Oke deh! Bye ma!” melambai.
Vee membalas melambai.
"Bye tikus kecil!" Daniel ikuti tersenyum melambai.
Yve mencibirkan bibir, menjulurkan lidah menatap ke arah Daniel sebelum menutup panggilan.
Daniel balas mencibir, “Cih … dia cuma bisa luluh dengan kacang!”
Vee memukul pelan lengan Daniel, “Hya!”
Tersenyum meringis mengelus tangannya, “Itu karena anak itu benar-benar sangat menyukai kacang!”
__ADS_1
Tersenyum menaruh handphonenya, “Tidak makan siang?”
“Tentu saja menunggu kamu!” sahut Daniel cepat.
"Cih!" membuang muka.
Kegelisahan kembali memenuhi relung hatinya.
Vee sendiri tidak mengerti, kenapa dia harus terjebak dalam situasi ini.
Yazza begitu menginginkan pernikahan, tapi tidak dengan dirinya.
“Pak Daniel!” panggil Vee tiba-tiba.
“Ya?”
“Em … tidak jadi!” Vee berdiri.
“Hya Vee! Ini sudah dua kali kamu seperti ini!” protes Daniel.
“Masak?”
“Cih … jujur deh, kamu ada masalah apa? Ceritakan saja!”
“Kenapa anda menyimpulkan saya bermasalah?”
“Karena dari nada dan ekspresi yang kamu tunjukkan saat ini!”
Menunduk, “Kita mau makan di mana?”
“Hya … jangan mengalihkan pembicaraan!”
Tersenyum, “Saya masih belum siap membicarakannya!”
Menyipitkan mata, “Sungguh mencurigakan!”
Daniel memegang dadanya.
Bahkan dia belum mengatakan apapun.
Tapi kenapa rasanya sesak sekali ya?
Daniel menunduk bertanya pada dirinya sendiri.
Pembicaraan antara Vee dan Yazza yang tidak sengaja pernah dia dengar waktu itu terus saja membebani pikiran.
...***...
Seorang wanita yang terlihat masih sangat muda tengah memegang ponselnya.
Rambutnya panjang, dicat warna coklat bergelombang rapi.
Style yang dia tampilkan sudah sangat layak jika wanita ini disebut dari kalangan kaum sosialita.
'Gerry'
Nama kontak nomor yang tertera di layar ponselnya saat ini.
Tut … tut … tut ….
Sepertinya tersambung.
Usia wanita ini dua tahun lebih tua dari Gerry.
Meski demikian, wajahnya masih saja terlihat seperti gadis SMA.
Ada foto keluarga di belakang dia berdiri saat ini.
Sepasang suami istri dan dua anaknya.
Tentu saja itu foto keluarga kecilnya.
Mereka terlihat sangat bahagia di dalam foto.
Melihat siapa yang meneleponnya, Gerry langsung memejamkan mata, mengepalkan tangan.
“Kenapa lagi?” tanyanya geram.
Tasya tersenyum mendengar suara pria yang dia telepon.
__ADS_1
“Baru juga aku meneleponmu … kenapa marah?” membalikan badan berjalan menuju dinding.
“Aku sedang sibuk!” Gerry membelai rambut Raya yang sedang jongkok di antara kedua kakinya.
“Sibuk apa … menyembunyikan wanita di bawah kolong mejamu lagi?” mengelus foto suaminya.
Gerry tampak mendengus geram, “Shhh ….”
“Jadi benar tebakanku? Padahal aku tidak sengaja!” nada suaranya lembut dan santai.
“Sebenarnya apa mau kamu kali ini?” tanya Gerry tegang.
Laki-laki dalam foto keluarga itu memangku seorang anak laki-laki, “Jemput anakku nanti!”
“Memangnya tidak ada orang lain?”
“Kakakmu keluar kota … aku harus mengasuh Cessa. Tidak ada seorangpun sekarang!” tersenyum sinis.
Mendengus tersenyum, “Jadi, seseorang menggunakan putranya untuk memancing iparnya datang?”
Duduk dengan anggun, “Jangan pura-pura lupa tentang apa yang sebenarnya sudah terjadi!”
“Seharusnya kamu merasa beruntung … setidaknya kakakku mudah dibodohi oleh wanita sepertimu!”
“Jaga bicaramu! Itu karena aku tidak bodoh yang harus lebih memilihmu,” bahkan meski dia marah, suaranya masih saja merdu dan halus.
Terkekeh, “Hahaha … lalu kenapa masih sering ingin aku mendatangimu?”
“Karena aku hanya ingin bersenang-senang!”
“Cih … kurasa kakakku memang payah!”
“Jangan banyak bicara lagi … putra kita akan ke rumah temannya terlebih dahulu … jadi jemput saja dia di apartemen Teratai Putih!”
“Apa? Kenapa dia berkeliaran di daerah kekuasaan Yazza!”
“Tapi Yazza tidak tinggal di sana bukan?”
“Cih … baiklah! Lagipula aku juga tidak akan pernah bisa melawan kehendak kakak iparku ini!” Gerry memang tidak akan pernah bisa menolak kemauan Tasya.
“Okay, sampai bertemu nanti!” nadanya begitu lembut dan mempesona.
Raya mendongak menatap Gerry, mengusap mulutnya dengan ujung telapak tangan.
Dia tersenyum masih jongkok di bawah sana, “Bu Tasya menyuruhmu datang?” tanyanya.
Gerry tersenyum mencibir sambil membelai rambut Raya, “Dia ingin aku menemaninya malam ini!”
Menyipitkan mata, “Pak Ganny tidak di rumah?”
“Kakakku ada bisnis di luar kota,” tersenyum mencibir, “Wanita itu selalu saja bisa memanfaatkan kesempatan dengan baik!”
“Kamu tidak boleh menyinggungnya!” Raya sepertinya sudah sangat memahami tentang karakter Tasya.
Gerry geram dengan senyuman sinis, “Ular betina ini sungguh sulit ditangani!”
“Jadi, apa yang harus aku katakan pada Berli?” tanya Raya santai.
Mencemooh, “Cih … apa dia masih begitu percaya jika kamu adalah mata-mata dan sahabat terbaiknya?”
“Jika aku tidak berusaha mengalah dan baik padanya … kita tidak akan bisa bersama … sebebas saat ini!”
Merengkuh rahang pipi Raya dengan kedua tangannya, “Sungguh wanita terhebat milikku … katakan saja padanya jika aku harus lembur untuk acara bulan depan!”
Mengangguk lembut, “Aku akan datang ke rumahmu untuk menemaninya!”
“Cih … itu tidak perlu sebenarnya!”
“Bagi Berli, dia sudah menganggap aku sebagai sahabat terbaiknya … aku hanya perlu berbasa-basi agar dia semakin mempercayaiku … dengan begitu, dia akan mudah untuk dikendalikan!”
“Hahaha … baiklah kalau begitu. Lagipula wanita itu juga sangat bodoh!” Gerry tersenyum licik kembali menyandar kursi, “Lanjutkan saja lagi!”
Raya tersenyum kembali menunduk menjulurkan kepalanya ke depan.
Gerry tersenyum meringis memegangi kepala Raya.
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))>' '<((((<...
__ADS_1