
Yazza memegang pipi kanannya yang terasa perih.
Bekas telapak tangan memerah tertinggal jelas
Vee masih nanar menatap Yazza geram.
“Dengar! Jangan pernah menghina Yunna dengan kata seperti itu di hadapanku! Bagaimanapun juga, dia tetaplah ibu kandung dari darah daging mu sendiri!” menyingkirkan selimut, mengambil handphonenya, bergegas turun dari ranjang.
Yazza mengepalkan tangan mencoba menahan diri menatap kepergian Vee.
Meski bara api membakar sampai ke ulu hati, dia mengalah dan hanya berdiam.
Bahkan saat Vee meninggalkan kamar, dia masih saja duduk tanpa kata-kata.
...***...
“Vee!” Daniel beringsut duduk menyalakan lampu meja kamarnya.
Ini sudah sangat larut.
Vee kira Daniel tidak akan menjawab saat dia iseng mencoba melakukan panggilan telepon.
Tidak disangka panggilannya langsung diterima.
Wanita itu duduk di atas ayunan taman samping, dekat kolam renang.
“Emph, aku kira kamu sudah tidur,” ucap Vee lirih menggoyang-goyangkan kaki.
“Kenapa menelepon selarut ini, nada bicaramu terdengar tidak baik! Apa terjadi sesuatu?”
Mengangguk sedih, “Hmph!”
Daniel mengernyitkan dahi, “Katakan apa yang terjadi?”
Memegang kening, “Aku capek banget ngadepin Yazza!”
“Kalian bertengkar lagi?” bersandar ke punggung ranjang.
“Hmph! Begitulah … dia sudah tahu jika Yve berteman dengan Caesar!”
Daniel jadi teringat tentang kejadian tadi.
Sekarang dia menjadi bimbang sendiri, sebaiknya bercerita kepada Vee atau tetap merahasiakannya.
Cepat atau lambat, Caesar pasti akan bercerita kepada Yve tentang pertemuan mereka di acara makan malam dengan keluarga Nirwana.
Tapi jika Vee tahu dan marah bagaimana?
Daniel bimbang bergumam dalam hati.
“Hya … lem tikus! Kenapa diam?” tanya Vee.
Terkesiap, “Ah, maaf! Aku mengambil minum tadi. Jadi bagaimana kelanjutannya? Pak Yazza marah karena kamu sengaja merahasiakan pertemanan mereka?”
“Ya … dan besok Yve akan dipindahkan ke sekolah khusus anak perempuan. Meski dia ayah kandungnya, tidak seharusnya dia sekejam itu! Benar-benar seorang diktator!” gerutu Vee.
“Mungkin itu memang wujud sayang pak Yazza kepada Yve!”
“Hanya karena Caesar anak saingan bisnisnya dan dia langsung memindahkan sekolah Yve? Sungguh deh … mereka masih anak-anak! Kenapa dilibatkan dalam urusan orang dewasa?”
Apa pak Yazza juga akan menyuruh Vee berhenti bekerja setelah tahu, aku jalan sama Tisya dari Nirwana?
Tidak!
Aku harus memikirkan sesuatu.
“Pak Daniel!” sentak Vee.
“Eh … iya maaf!”
__ADS_1
“Pak Daniel sudah mengantuk ya? Kenapa banyak diam sih diajak bicara juga,” manyun kesal.
“Em, iya agak sedikit ngantuk sih!”
“Lagian di mana sih seharian? Tidak mengirim pesan sama sekali!”
“A … emm itu ... emb …,-”
“Ada yang pak Daniel sembunyikan ya?”
“Tidak! Tadi seharian aku bersama mama dan papa. Itu … melihat-lihat furniture untuk apartemen baru.”
“Cih! Katanya mau mengajakku saat memilih!”
“Iya … makanya tadi aku tidak setuju dengan semua sama pilihan mereka,” tersenyum, “Besok kita pura-pura sidak showroom, sekaligus memilih mana saja yang kamu suka deh. Lagian, itu juga apartemen untuk kita bertemu!”
Tersenyum, “Tapi besok pagi aku harus mengantar ke sekolah baru Yve dulu.”
Kesempatan bagus!
Aku bisa menemui Tisya terlebih dahulu saat itu.
Daniel kembali bergumam dalam hati.
“Tuh kan pak Daniel diam lagi! Sudahlah, mungkin pak Daniel memang sudah sangat mengantuk.”
“Bukan begitu … tapi tunggu! Kenapa aku mendengar suara jangkrik? Kamu di luar rumah?”
“Ya … kek Gio baru datang dan kami mungkin akan mulai tinggal di rumah Yazza. Karena aku sedang kesal, jadi aku keluar rumah untuk menghirup udara segar!”
“Hya! Masuklah, pasti banyak nyamuk di luar!”
“Jadi pengen gigit pak Daniel!” tersenyum menggoda.
“Hya! Dasar psikopat!” mencibir terkekeh pelan.
Tersenyum, “Oh iya pak Daniel, boleh aku meminta tolong sesuatu?”
“Apa sayangku?”
“Hya, apa salahnya? Aku kan kekasih gelapmu!”
“Astaga bangga sekali!” Vee terkekeh pelan.
“Tentu saja!”
“Emph, pak Daniel tahu tempat jasa pemesanan nisan yang bagus?”
“Nisan? Siapa yang meninggal?”
“Haiz! Kenapa malah balik bertanya!”
“Sungguh aku ingin tahu, kenapa tiba-tiba ingin memesan nisan?”
“Lusa aku mau ke pesisir. Ada sesuatu yang mau aku lakukan, kalau tidak keberatan, pak Daniel boleh ikut. Tapi harus memikirkan alasan supaya tidak mencurigakan.”
“Oke, akan aku pikirkan alasan yang tepat. Emm … jika ke pesisir, berarti nisan itu untuk seseorang yang kamu kenal?”
Tersenyum, “Yeah! Orang yang tidak akan pernah aku lupakan!”
“Ah, aku mengerti. Kalau begitu besok kita sekalian mampir ke tempat pemesanan batu nisan deh.”
Vee tersenyum, “Terima kasih!”
“Sama-sama sayangku! Sekarang kamu masuk ke dalam rumah gih! Banyak nyamuk, nanti masuk angin kalo kelamaan terkena udara malam.”
Tersenyum, “Iya-iya bawel. Aku masuk sekarang nih!”
“Okay.”
“Dah, sampai ketemu besok!” pungkas Vee.
“Bye sayang. Good night!”
__ADS_1
Vee tersenyum menutup panggilan.
...***...
Kek Gio dan seluruh anggota keluarga sudah duduk menghadap meja makan untuk sarapan bersama.
“Vee, kakek lihat pagi ini kamu keluar dari kamar Yve? Kenapa?” tanya kek Gio.
Yazza cuek dan hanya fokus pada makanannya.
“Emm, kepikiran Yve harus tidur sendirian,” jawab Vee salah tingkah.
“Memangnya biasanya tidur sama siapa?”
“Ada seorang pengasuh.”
“Loh, madam Lia? Kakek dengar anaknya kecelakaan dan dia tidak bisa menemani Yve?”
“Papa Yve mencarikan pengasuh sementara untuk Yve. Dia tidak ikut semalam, di rumah ada tamu.”
“Tamu?”
Mengangguk, “Tempat tinggal temanku harus direnovasi, jadi sementara aku memintanya tinggal bersama.”
Yazza mencibir tanpa menoleh sedikitpun, “Cih! Teman?” gumamnya lirih.
Terkekeh, “Hahaha, kebetulan dong! Biar dia di sana menjaga apartemen mu dan kamu bisa tinggal di sini!”
Tersenyum, “Sebenarnya saya lebih nyaman tinggal di sana!”
“Ah, biasakanlah! Ini akan menjadi rumah kalian nantinya. Jadi kapan akan berkemas?”
“Emm … nanti sepulang kerja mungkin.”
“Kakek akan menyuruh orang untuk membantu!”
Tersenyum, “Terima kasih kek!”
Yve masih terlihat muram menunduk sedih.
“Kalian akan pulang dulu kan setelah ini?” tanya kek Gio lagi.
“Saya harus berganti pakaian dan Yve juga.”
“Yve sayang jangan sedih. Kakek sudah mencari informasi tentang sekolah baru Yve. Sekolahnya bagus banget! Yve pasti suka.”
Meski Yve masih tidak terima dan hendak marah, begitu dia menoleh melihat papanya, nyalinya menjadi ciut. Dia mengurungkan niat untuk memprotes.
“Kalau kakek bilang seperti itu, berarti sekolah itu memang bagus!” ucap Vee lirih, lalu diam menatap putrinya.
Jujur, melihat Yve sedih seperti ini membuat hatinya terasa sangat pedih.
Sebuah pohon yang harusnya tumbuh tinggi ke atas, kenapa harus dibonsai di dalam pot kecil?
Benar ….
Pohon itu memang akan terlihat lebih indah dan cantik saat dipandang mata.
Tapi apakah pohon itu akan merasa senang?
Atau dia hanya mengikuti pemiliknya.
Lagipula, pohon juga tidak akan bisa berbicara.
Sudah tidak trend lagi membranding anak dengan gaya otoritas orang tuanya.
Mendukung, menuntun dan mengarahkan adalah wujud parenting yang sesungguhnya.
Kek Gio menyipitkan mata menatap Vee yang terdiam muram tampak memikirkan sesuatu.
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
__ADS_1
...>))))> ' ' <((((<...