
Sepertinya, Daniel benar-benar sibuk dengan Tisya seharian ini.
Bahkan sudah berkali-kali Vee melihat ke layar ponsel, sama sekali tidak ada pesan maupun panggilan dari Daniel.
Tanpa Vee sadari, air matanya terus mengalir menuruni pipi.
“Kenapa sakit sekali!” mengelus dadaanya sendiri.
“Jadi ini yang namanya patah hati!” mengisak tangis, “Aku tahu posisiku, tapi tetap saja ini menyakitkan! Kenapa dia berbohong dan tidak jujur padaku!” melempar ponsel ke atas ranjang.
Pintu terbuka.
Vee membalikan badan menghapus air matanya.
Yazza yang tadinya hendak langsung marah, jadi terdiam mematung mengurungkan niat.
Melihat mata sembab Vee membuatnya menyipitkan mata.
Khawatir ….
Tentu saja.
Apa terjadi sesuatu padanya?
Batin Yazza sembari mengendurkan kepalan otot tangan.
Vee mencoba sebisa mungkin agar terlihat biasa saja.
Yazza nggak boleh lihat aku seperti ini!
Gumamnya dalam hati, menguatkan diri sendiri.
Menutup pintu pelan sebelum akhirnya berjalan mendekati Vee.
“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Yazza lirih.
“Yang lain sudah menunggu restaurant! Jika kamu sudah siap, kita langsung menyusul mereka saja!” ucap Vee pura-pura menyibukkan diri merapikan meja.
“Membuat mereka semua pergi memang adalah rencana ku agar hanya tinggal kita berdua di sini!”
Sedikit menoleh ke arah Yazza, “Kenapa? Emb … aku sedang tidak dalam mood yang baik!”
“Ada hal yang harus kita bicarakan!”
Vee terdiam, berdiri mematung tanpa bergerak sedikitpun.
Yazza berjalan mendekat, berdiri di belakang Vee.
Membalikan badan, “Sekarang aku mengerti! Ternyata memang benar yang kamu katakan! Setiap kali mendengar kalimat seperti itu … rasanya seperti akan ada sebuah perdebatan. Terlebih kamu sampai harus membuat semua orang pergi dari rumah!” Vee mendengus menatap Yazza, “Jadi apa masalahnya kali ini?”
“Seharusnya kamu sudah bisa menebak! Kebohongan terbusuk apa yang sudah kamu sembunyikan di belakangku!”
Mendengar kalimat Yazza tersebut, tangan Vee mengepal dan gemetar.
Dania yang baru datang, tampak menguping di luar kamar.
“Aku memang sangat menginginkanmu, tapi bukan berarti kamu bisa semaunya seperti ini!” tegas Yazza meski masih bernada datar.
__ADS_1
“Yazza aku tidak mengerti apa yang sedang kamu bicarakan ini!” Vee sok innocent.
“Jangan pura-pura bodoh!” sentak Yazza sedikit meninggikan nada.
Vee mundur selangkah ketakutan tidak berani melihat tatapan tajam Yazza yang dilayangkan kepadanya.
“Jawab dengan jujur! Ada hubungan apa antara kamu dan bos mu itu?”
Vee semakin menunduk ketakutan dan salah tingkah.
“JAWAB!!!” sentak Yazza berteriak memekikkan telinga.
Air mata yang sempat terhenti, akhirnya kembali keluar.
“Aku tanya sekali lagi! Kamu berselingkuh di belakangku kan!” tegas Yazza.
Dania terkejut menutup mulut dengan kedua tangan. Secara bersamaan dia melihat bi Imah keluar dari kamar Yve membawa ember dan alat pel.
Dengan gesit Dania langsung mengendap pergi sebelum ketahuan oleh bi Imah kalau dia sedang menguping pembicaraannya tuan rumahnya.
“Kenapa diam? Tidak bisa menjawab kan? Karena kalian memang menyembunyikan sesuatu di belakangku!” nada Yazza kembali datar kali ini.
Vee mendongak menatap Yazza dengan mata yang berkaca-kaca, “Ya! Kami memang memiliki hubungan spesial! Jika aku tidak pernah bertemu denganmu, aku pasti akan bahagia bersamanya!”
Yazza mendengus tersenyum mencemooh pada dirinya sendiri, bertolak pinggang membuang muka.
Berjuta kepedihan merajam bak pisau tajam menancap tepat di dalam hati dan perasaannya.
Pedih dan menyakitkan.
Vee melihat punggung Yazza.
Dengan linangan ari mata dia memegang dadaanya sendiri yang terasa begitu sesak.
“Kamu tidak akan pernah tahu, penderitaan saat dikhianati! Rasanya seperti ada ribuan anak panah yang dihujamkan kepadamu! Sakitnya terasa, tapi bekas lukanya tidak ada! Mau mengobati pun tidak tahu di mana sumbernya. Seluruh badan terasa kebas … frustasi … lebih baik menyerah saja dari pada menanggung sakit yang menyiksa ini!” ucap Yazza pilu tanpa menoleh ke arah Vee.
Setiap kalimat yang terucap dari bibir Yazza, terasa begitu membekas dan sangat mudah untuk dikenali.
Yeah, karena itu juga yang Vee rasakan saat ini.
“Aku seharusnya cukup sadar diri, di mana posisi diriku ini yang sebenarnya! Kenyataannya … kita sampai di sini juga karena banyak hal yang telah dipaksakan!” lanjut Yazza semakin sendu.
Seharusnya aku juga sadar diri!
Dengan tetap mempertahankan Daniel seperti ini, hanya akan menghambat masa depannya.
Daniel punya keluarga, dan mereka pasti ingin melihat Daniel menikah.
Sudah sangat jelas sekali … aku tidak akan pernah bisa bersanding dengannya!
Lalu kenapa aku masih egois dan mempertahankan perasaan yang salah ini!
Kecamuk kegelisahan memenuhi batin Vee.
Kembali melihat punggung Yazza.
Tisya berasal dari keluarga terpandang.
Keluarga mana yang tidak senang mendapatkan calon menantu seperti dirinya.
__ADS_1
Daniel pasti juga tidak akan menolak gadis secantik Tisya.
Akulah yang terlalu bodoh karena mudah dibohongi!
Lagipula … bukankah sudah ada pria yang sudah dipilihkan Yve untukku?
Jika Daniel menyakiti perasaanku, bukankah ini hukuman karena aku juga sudah melukai hati pria di hadapanku ini?
Sakit ini … dia pasti juga merasakan hal yang sama!
“Yazza!” panggil Vee melangkah ke depan.
Dia berhenti berdiri tepat di hadapan pria yang akan menjadi suaminya.
Pria itu menatap Vee dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Melihat tatapan Yazza yang begitu memilukan, membuat Vee merasa semakin sakit.
“Maafkan aku! Aku sudah melanggar peraturan ku sendiri!”
Mendengar kalimat Vee yang justru meminta maaf secara baik-baik, tentu membuat Yazza terheran.
Melihat dari karakter keras Vee, rasanya aneh jika wanita itu langsung mengakui kesalahan tanpa adanya pertengkaran.
Sangat jauh dari ekspetasi, Vee terlihat sama sendunya dengan mata yang sudah di penuhi selaput air mata.
Yazza tampak menyipitkan mata menatap Vee dengan sedikit memiringkan kepala, “Apa kamu berkata seperti ini hanya untuk melindungi Yve lagi?”
Vee menggeleng memegang lengan Yazza, “Pasti sangat sakit sekali perasaanmu saat ini bukan?” air matanya jatuh menuruni pipi.
Pria itu semakin bingung dengan sikap Vee, “Kamu tidak perlu berakting seperti ini lagi!”
“Aku tidak sedang berakting!” menatap Yazza mendalam.
“Sudahlah! Aku tidak tertarik dengan caramu menjilat seperti ini!” menyingkirkan tangan Vee.
“Yazza aku sungguh minta maaf!” Vee mewek menghempaskan tubuhnya memeluk Yazza, “Aku tidak tahu jika ternyata sesakit ini rasanya diselingkuhi!”
Yazza melihat ke bawah.
Hanya kepala Vee yang terlihat.
Wanita itu benar-benar kelihatan sangat sedih, tanpa di buat-buat.
Meski Yazza tahu Vee cukup pandai memanipulasi keadaan, tapi kali ini sungguh berbeda.
Kenapa justru dia yang terlihat lebih menderita?
Dengan ragu Yazza mengangkat tangannya untuk mengelus kepala dan punggung Vee.
Amarah yang tadinya hampir meluap, seketika luluh hancur lebur.
Apa-apaan ini?
Kenapa malah jadi begini!
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
__ADS_1
...>))))> ' ' <((((<...