RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
INTIMIDASI


__ADS_3


Semua orang yang berada di ruang kerja Mr Bald tampak menatap menyipitkan mata.


Mereka terheran, kenapa Yazza tiba-tiba geram dan buru-buru hendak pulang.


“Apa yang terjadi?” tanya kek Gio penasaran.


Yazza menunjukan pesan dari Hirza yang mengirim gambar foto dirinya sedang berada di kediaman mereka.


“Apa-apaan itu! Dia si pemimpin baru Paradise kan?” Kek Gio ikut meluap.


“Sepertinya beliau ingin membuat kita berpikir jika kita memang tidak punya pilihan lain selain untuk menuruti perintahnya,” sahut pak Ardi.


“Sudah aku tebak dari awal! Dia mendekati Vee dengan alasan teman lama … pasti di balik itu, dia memang punya maksud tersembunyi,” geram Yazza.


“Pak Hirza pasti tahu jika anda tidak akan melibatkan nyonya Vee! Beliau sengaja mengirimkan foto itu untuk mengintimidasi anda,” pak Ardi kembali menyimpulkan.


“Jangan buang-buang waktu! Ayo pulang!” Yazza mendahului melangkah menuju pintu.


...***...



Xean dan Hans masing-masing membawa satu kerang di tangan mereka.


“Dik Yve, makasih ya,” Xean tersenyum mengelus kerang hias pemberian Yve.


Yve mengangguk tersenyum, “Eyang buyut ku pasti akan memberikan lagi jika dia sudah kembali ke Bali!”


“Makasih ya adik cantik!” Hans gemas mencubit pipi Yve.


Xean memukul lengan Hans, “Hya! Tidak boleh seperti itu terhadap wanita!”


Vee mendengus tersenyum.


Mereka semua sudah di depan pintu utama.


Hirza menoleh menatap Vee seolah merasa bersalah, “Maaf ya … dua bocah ini membuat gaduh di sini!”


“Xean pasti tidak pernah kesepian karena ada Hans di rumah kalian!” tersenyum, “Aku malah senang jika Yve punya teman bermain. Bisa melihat senyumnya adalah sebuah kebahagian yang tiada tara!”


Garis bibir Hirza tertarik ke atas, dia ikut tersenyum melihat ke anak-anak, “Kamu benar … anak adalah segalanya!”


“Sering-sering datang! Biar rumah ini rame terus,” dengan senyum ringan Vee menepuk pelan lengan teman lamanya.


Mendengus mencibir, “Aku yang tidak enak hati dengan calon suamimu!”


Balas mencibir, “Cih!”


Pria itu kembali tersenyum, “Kalau begitu, kita pulang dulu ya,” melihat jam tangan. “Sudah larut!”


Vee mengangguk.


Xean mendekat sembari mendongak menatap Vee, “Tante, terima kasih! Boleh Xean peluk tante?”


“Hya bocil!” sentak Hans.


Vee terkekeh gemas, “Tidak apa-apa kok … sini sayang,” membuka tangan.


Xean tersenyum langsung memeluk Vee.



Nyaman dan hangat.


Yve tersenyum menggandeng Dania yang sedari tadi mencuri-curi pandang melirik manja, seolah sedang berusaha menggoda Hirza.


Xean terus melambaikan tangan, bahkan ketika mobil sudah melaju meninggalkan area kediaman keluarga Gionio.


Yve dan Vee masih berdiri di sana sampai mobil Hirza melewati gerbang rumah mereka.

__ADS_1


“Mas bro lihat nggak, ada yang aneh deh dari cara pengasuh Yve melihat,” celetuk Hans di dalam mobil.


Mencibir, “Dari atas sampai bawah … dia seperti meniru style Vee!”


“Nah, itu juga! Tapi yang paling kentara, tatapannya itu dingin … seperti psikopat!”


“Lebih mirip si pencari perhatian menurutku!”


Hans tersenyum mengejek, membelokan kemudi, keluar dari area perumahan menuju jalan raya.


“Dia mencoba menggoda mas bro?”


“Yeah, kurasa begitu … tapi aku enggan melihat ke arahnya,” melihat ke depan.


Mobil Yazza melewati mobil mereka.


“Eh, bukankah itu Yazza?”


Tersenyum sinis seolah menang, “Dia benar-benar buru-buru pulang!”


“Mereka sepertinya tidak menyadari kalau sudah bersimpangan dengan kita!”


“Biarkan saja!” Hirza melihat layar handphone.


Tersenyum melihat fotonya dan Vee.


“Pa, apakah tante Vee akan menikah dengan orang jahat?” tanya Xean melirik ke arah handphone papanya.


Hirza bergegas mematikan layar handphone, “Dibanding papa, orang itu lebih baik!”


Mendengus kesal, “Kenapa bukan papa saja sih yang menikahi tante Vee!”


“Jangan bicara seperti ini lagi sayang! Jika paman Rudi tahu, tante Vee akan dalam bahaya,” tutur Hirza lembut.


Menghela nafas panjang, “Aku nggak suka tante Vee aka menikah dengan orang lain!”


Mengelus rambut putranya dengan penuh kasih sayang.


Aku juga tidak ikhlas sebenarnya.


Batin Hirza berkata dalam hati.


...***...



Begitu mobil berhenti, Yazza langsung mendahului turun. Meninggalkan kek Gio, pak Karno dan pak Ardi di belakang.


“Vee!” teriak Yazza begitu membuka pintu masuk.


Vee yang baru meneguk minum hampir tersedak kaget mendengar teriakan itu.


“Apaan sih orang itu!” cibir Vee menaruh botol air mineral kembali ke dalam lemari pendingin.


“Vee! Kamu di mana?” Yazza berjalan cepat.


Keluar dari arah pantry, “Apaan sih! Astaga … ini sudah larut! Jangan berisik … Yve baru mau tidur!” berjalan mendekat.



“Di mana dia?” tegas Yazza.


“Ya di kamar dong! Dimana lagi coba?” jawab Vee santai.


“Apa? Kamar? Kamu gila!” nadanya meninggi.


Wanita itu mengernyit menutup telinga, “Kamu yang gila!”


“Yazza! Tenangkan dirimu!” kek Gio mendekat.


“Dia mabuk ya kek?” tanya Vee. “Orang tidur ya di kamar lah! Masak aku dikatain gila! Ini sudah jamnya tidur … besok putrinya kan harus sekolah!”

__ADS_1


Baik Vee maupun Yazza keduanya sama-sama salah mengartikan.


Yazza mendengus bertolak pinggang, “Bukan Yve maksudku! Tapi Hirza!”


Vee menyipitkan mata.


Darimana dia tahu jika Hirza datang?


Apa mungkin pak satpam?


Batin Vee bergumam dalam hati.


“Hya! Aku bertanya padamu! Kenapa diam?”


“Baru saja pulang beberapa menit yang lalu!”


Menghempaskan nafas lega, “Lain kali jangan sembarangan menerima tamu! Aku nggak suka kalau kamu terlalu dekat dengannya!”


Kenapa aku merasa seperti dejavu ya!


Tunggu!


Astaga, aku baru ingat


Waktu itu Yazza cerita tentang proyek besar yang tidak dia inginkan karena tidak menyukai kliennya.


Apa yang Yazza maksud itu Hirza?


Vee tampak berpikir di dalam hati.


Jika benar seperti itu, aku tidak boleh bicara jika yang mengajak ke sini adalah putranya yang ingin berkunjung menemui Yve


Bisa-bisa Yazza melarang Yve untuk menemui Xean.


Anak itu masih sedih karena tidak diijinkan berteman dengan Caesar. Jika itu terjadi lagi, Yve bisa benar-benar menjadi membenci ayahnya!


Nggak!


Itu nggak boleh!


“Hya … kenapa diam lagi? Sedang memikirkan rencana jahat hah?” cibir Yazza.


Menundukkan kepala, tidak berani menjawab.


Kek Gio memukul punggung Yazza dengan tongkatnya.


Memicingkan mata, mencibir ke arah Yazza.


“Hya turunkan nada bicaramu!” kek Gio berjalan mendekat merangkul Vee, “Yang Yazza katakan memang benar nak! Dia bukan orang baik untuk dijadikan teman,” tutur kek Gio lembut mengelus lengan wanita itu.


“Dia kalau dinasehati masuk telinga kanan keluar lewat telinga kiri kek! Percuma,” Yazza mendengus membuang muka.


“Hya! Aku sudah diam sedari tadi untuk mengalah supaya tidak jadi perdebatan! Kenapa malah makin ngelunjak sih!” protes Vee kesal.


Kek Gio memegang kepala berdiri diantara keduanya.


“Kamu mengundangnya kesini kan?” melihat ke arah meja, “Parcel buah dan buket bunga?” bertolak pinggang, mendengus lalu mencibir.


“Hya! Kamu juga tahu kan, aku tidak mengaktifkan handphoneku sejak beberapa hari yang lalu! Jangan asal nuduh dong! Dia datang untuk menemui mu! Tapi kamu tidak di rumah!”


“Menemui ku?” mencibir, “Mustahil … kita habis meeting bersama siang tadi!”


“Ya mana ku tahu! Dia datang ke sini untuk mencari kamu!” Vee membuang muka salah tingkah.


Astaga!


Aku harus berbohong dan mengkambing hitamkan senior buaya kali ini


Semoga jika Yazza bertanya padanya, dia bisa membantu untuk menutupi kebohonganku!


Dania tersenyum sinis menguping sembunyi di balik tiang besar dekat tangga lantai dua.

__ADS_1


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2