
“Tapi nona … jika kami mengatakannya, kami bisa di hukum mati karena melanggar kode etik!” rengek si rambut merah.
“Oh, jadi kalian lebih memilih mati karena aku pukuli?” sentak Vee tegas.
“Ampun nona! Tidak … tidak!” kembali menciut ketakutan.
“Katakan! Siapa yang membayar kalian?”
Nona ini hanya bertanya siapa yang menyuruh … selama aku tidak mengatakan tentang darimana asal kelompok kami … kurasa kita akan tetap aman dari sanksi atasan!
Batin pria bertato.
“Hya … mau bilang tidak!” sentak Vee lagi.
Kedua pria itu tersentak gemetar.
“Nona Berli … iya … nona Berli!” jawab pria bertato, “Dia yang menyewa kami!”
Vee terdiam menyipitkan mata.
Berli?
Ulangnya dalam hati.
Pria berambut merah terbatuk, “Uhuuuk!” giginya rontok berjatuhan.
Dering handphone Vee kembali terdengar.
Vee hanya menoleh sebentar lalu kembali mematung.
“Nona ampun … kami menyerah!” pria berambut merah merengek dengan muka yang sudah sangat bengep.
Vee mengambil pistol.
“Astaga jangan yang itu nona! Ampuni kami!” pria bertato mulai ikut merengek.
Vee mengamati, “Ini asli … aku kira cuma mainan!” mencoba menarik pelatuk.
DUARRR!!!
Vee dan kedua pria itu meringis menutup mata.
Terkejut.
“Itu asli nona!” pria berambut merah meringkuk ketakutan.
Atap mobil tampak bolong karena bekas peluru, “Woah … keren!”
Vee mencabut pisau yang menahan telapak tangan pria berambut merah.
“Aaaaaaa! Sakiiiittt!” menarik tangan menyembunyikan di perut.
“Turun … pindah ke belakang semua!” Vee mengancam menggunakan senjata.
“Nona gesper nya!” pria bertato memohon.
Melepaskan, “Ahh … lupa!” cengingisan.
Keduanya membuka pintu mobil.
“Awas kabur! Aku masih memegang pistol!” ancam Vee lagi.
Mereka menggeleng ketakutan, “Ti … tidak! Tidak kabur!”
Keduanya menurut pindah ke belakang.
Vee melihat tali di bawah kursi jok kemudi, “Ehh … benar-benar sudah dipersiapkan!” Vee mengambil, lalu ikut turun.
Melihat ke sekeliling, “Tumben jalanan sepi sekali? Seperti mau ada demo saja!” gumamnya.
__ADS_1
Vee mengikat ketiganya, membiarkan mereka ada di bagian belakang.
Satu di antaranya masih tidak sadarkan diri.
“Nah … siapa yang mau menculik dan siapa akhirnya yang diculik?” Vee cengingisan melihat para preman yang ketakutan melihatnya.
“Nona, bawa saja kami ke polisi … jangan bunuh kami!”
“Hya, aku bukan pembunuh … tentu aku akan membawa kalian ke kantor polisi!” Vee mencibir melihat slayer di saku celana salah seorang.
Ketika tangan Vee terulur ke arahnya, kedua pria itu tampak meringis menutup mata.
Menarik slayer, “Hanya mau mengambil ini!” mengikat di bekas luka telapak tangan pria berambut merah.
“Nona selamatkan kami … kami hanya suruhan!” memohon.
“Cih!” Vee hanya mencibir cuek.
Begitu selesai membalut luka preman itu, Vee turun dari pintu belakang menenteng tasnya.
Mengambil handphone melihat ke tampilan layar.
Yazza!
Kenapa dia menelepon berkali-kali?
Bukannya dia seharusnya sibuk meeting!
Apa ada sesuatu yang penting?
Tampak berpikir.
Dia pasti hanya akan mengomel jika tahu apa yang aku lakukan saat ini!
Lebih baik aku menghubungi pak Didik dulu saja!
Bagaimanapun juga, aku akan disalahkan karena main hakim sendiri.
Aku harus mengumpulkan bukti dan saksi supaya bisa meringankan tuduhan yang akan aku terima.
Jika White Purple membuat laporan tentang kasus pengiriman, dengan bukti CCTV yang Yazza miliki, pasti akan sangat membantu agar aku tidak menjadi tersangka!
Batin Vee berkecamuk dengan pemikirannya sendiri.
Vee kembali berjalan menuju pintu pengemudi.
Para preman memperhatikan gerak-gerik Vee dengan sangat hati-hati.
“Hei … kantor polisi lebih baik deh … sungguh!” bisik si pria berambut merah kepada temannya.
“Aku setuju! Dia tidak terlihat sekuat tampilannya!” jawab pria bertato.
“Tenaganya sungguh mengalahkan pria!” preman berambut merah kembali merengek, “Jika tahu target kita bukan manusia … aku tidak akan berani menerima pekerjaan ini!”
“Benar … benar sekali! Apa dia wonder woman di dunia nyata?” pria bertato ikut merengek seolah sedang menangis.
“Kurasa begitu!”
Dan akhirnya mereka berakhir ke kantor polisi.
...***...
Berliana tampak risih saat petugas hendak memaksanya masuk ke ruang BAP.
“Ishh … aku bisa jalan sendiri!” menggeliat seolah jijik dengan para petugas.
Melihat Vee dan tiga preman suruhannya, membuat Berli terkejut ternganga.
__ADS_1
“Nona Berliana? Silahkan duduk!” polwan tadi mempersilahkan.
“Kenapa saya diseret datang ke sini?” Berli melirik Vee yang duduk santai tanpa melihat ke arahnya.
“Menurut kesaksian ketiga preman ini, anda adalah otak penculikan yang akan mereka lakukan kepada nona Vee. Apa itu benar?”
Melihat ke arah tiga preman, “Aku tidak mengenal mereka!”
“Benar … dia nona Berli! Dia yang sudah menyuruh kami mencelakai nona Vee!” pria bertato bersaksi.
Vee mendengus membuang muka.
“Tidak ini pasti fitnah! Ini tidak benar! Aku tidak mengenal mereka semua!” bantah Berli.
...***...
“Apa kamu bilang!” Gerry terkejut berdiri membelalakkan mata.
“Iya tuan! Anda sebaiknya segera menyusul nona Berli, sebelum polisi menjemput ke kantor anda! Itu akan membuat image anda turun nantinya!”
Gerry geram, “Kenapa dia menyeret ku ke dalam kubangan yang dia buat sendiri!”
“Takutnya, polisi sudah menuju kantor anda. Sebaiknya anda bergegas! Ah iya! Saya melihat berita, ada kerusuhan di dekat sana. Mungkin akan macet! Sebaiknya anda memakai jasa ojek online saja agar bisa sampai lebih cepat!”
“Shit!” Gerry menutup panggilan dari penjaga keamanan di rumahnya.
Gerry geram mengepalkan tangan.
“Dia terus saja menciptakan masalah!” merapikan jasnya.
Markas Strom.
Tisya memainkan bolpoin, duduk anggun menyilangkan kaki melihat ke luar jendela.
Kursinya diputar, membelakangi meja kerja.
Ruangannya tidak terlalu terang dan tidak gelap juga.
Kaca besar membentang di hadapan.
Sebagai pembatas, sekaligus tempat untuk memantau kegiatan bawahannya di gedung lantai dasar.
Beberapa orang tampak sedang berlatih bela diri dan membidik di dalam ruangan gelap di bawah sana.
“Aku baru saja menginjakan kaki di sini … kenapa langsung ada laporan masalah?” pandangannya lurus melihat orang-orang yang berduel.
Mr.X berlutut di samping Tisya, menunduk merasa sangat bersalah.
“Apakah sungguh mereka anggota elite?” memicingkan mata.
“Target kali ini bukan tandingan mereka! Ini di luar perkiraan!”
“Oh … jadi kamu mengatakan, anggota elite kita begitu tidak becus dan payah?”
Semakin menunduk, “Bukan begitu maksud saya nona … mereka salah menganalisa target dan menggunakan tehnik yang salah!”
“Jika saja kakakku yang sekarang ini kamu hadapi, mungkin dia sudah tidak akan mengampuni nyawamu!” santai masih melihat anak buahnya yang berlatih.
“Saya bersalah! Maafkan saya nona!” Mr. X memohon pengampunan.
“Kelak … kamu akan menjadi tangan kanan keponakanku. Aku mau kamu lebih cerdas lagi dalam menangani beberapa kasus!”
“Baik nona! Saya akan berusaha memperbaiki kesalahan saya!”
Tisya menerawang jauh ke depan, “Jadi, sehebat itukah wanita barunya Yazza?” gumamnya pada diri sendiri.
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
__ADS_1
...>))))> ' ' <((((<...