RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
SKORSING


__ADS_3

Melihat eskpresi Yazza, membuat ibu Kepala Sekolah menjadi tidak enak hati.


“Sekali lagi, kami dari pihak sekolah meminta maaf! Dengan berat hati, kami akan memberikan skorsing kepada Yve selama satu minggu,” ucapnya tidak berani berlama-lama menatap Yazza.


“Apa?” Vee terkejut membelalakkan mata, “Apa itu tidak terlalu lama bu?”


“Ibu jangan khawatir, kami tidak akan lepas tangan selama masa hukuman ini. Agar Yve juga tidak ketinggalan pelajaran, kami akan mengirim guru ke rumah keluarga pak Gionio. Dengan begitu, Yve masih bisa belajar sendiri di rumah,” ketika berbicara pada Vee, ibu Kepala Sekolah terlihat lebih fleksibel.


Meski ada sedikit kelegaan di hati Vee, tetap saja dia merasa gagal dalam mendidik putrinya.


Dengan mata terpejam, Vee kembali menarik nafas panjang dan menghempaskan perlahan untuk kesekian kalinya.


“Yve adalah murid baru di sini. Dan dia sudah empat kali tidak masuk tanpa ijin. Agar tidak menimbulkan citra buruk di mata para orang tua murid yang lain, kami terpaksa memilih jalan ini untuk memberikan peringatan pertama kepada Yve.”


“Bu, saya sangat yakin … tadi saya sendiri yang mengantarnya sampai gerbang! Apakah tidak ada CCTV di sana? Saya ingin tahu kemana Yve pergi! Dia masih anak-anak, jika terjadi sesuatu di luar sana bagaimana?”


“Emb itu …-”


“Tidak perlu bu! Biar kami yang akan mengurusnya sendiri!” sela Yazza berdiri kesal merapikan jasnya.


“Kami minta maaf karena putri kami membuat masalah! Karena ketetapan sudah diputuskan, kami akan menerimanya,” lanjut Yazza tegas.


“Yazza!” desis Vee berusaha menarik lengan suaminya, “Tidak bisakah ini dibicarakan secara baik-baik lagi?”


Yazza balas menarik Vee agar segera ikut berdiri, “Kami pamit undur diri kalau begitu!”


Air mata Vee berjatuhan di pipi.


Dia mengusapnya berusaha menguatkan diri.


“Maafkan saya bu!” sebelum Yazza semakin menjadi-jadi, lebih baik Vee menurut, “Terima kasih atas waktunya!”


Bu Kepala Sekolah ikut berdiri merasa semakin tidak enak hati.


Yazza dan Vee memberikan salam hormat dengan sedikit membungkuk sebelum akhirnya membalikan badan melangkah pergi.


Kepala Sekolah baru Yve kembali menghempaskan nafas panjang melihat kepergian keduanya.


...***...


Hans buru-buru menyusul Hirza ke toilet restaurant Jepang.


“Sudah tahu apa yang terjadi?” tanya Hirza sembari mencuci tangan.


“Yve bolos … sudah empat hari dalam satu minggu terakhir, dan itu membuatnya harus di skorsing dari sekolah selama satu minggu,” jelas Hans singkat.


“Apa?” Hirza terkejut, menatap Hans melalui cermin besar di hadapannya.


Hans menghela nafas panjang, “Sepertinya mereka akan bertengkar lagi karena anak ini,” desis Hans khawatir.


Hirza ikut menghempaskan nafas, “Yazza pasti akan menyalahkan Vee! Cari tahu kemana Yve pergi! Tidak mungkin seorang anak seusianya bolos tanpa adanya orang dewasa yang mendampingi! Terlebih ini sudah berulang kali terjadi … aku yakin, pasti memang ada orang dewasa di belakangnya!”


Hans membalikan badan, menyandarkan pinggang ke wastafel, “Yeah … meskipun aku rajanya dalam membolos, untuk anak seusia itu apalagi seorang gadis … rasanya sulit memikirkan tujuan, kemana sebenarnya anak itu pergi!”


Hirza tersenyum sinis melihat dirinya sendiri di depan cermin, “Kita juga harus hati-hati saat mencari tahu. Bayangan Mata sudah pasti akan segera di aktifkan!”


...***...


Yazza membawa mobil Mr. Bald saat menuju ke sekolah.

__ADS_1


Karena saat berangkat menghadiri pertemuan dengan para tetua Paradise, dia satu mobil dengan pak Ardi, pak Karno dan kakeknya.


“Yazza! Kamu tidak khawatir dimana putrimu sekarang? Dia tidak bisa dihubungi dan dia tidak berada di sekolah?” hardik Vee dengan pandangan buram tertutup selaput air mata.


“Apa yang perlu kamu khawatirkan? Ini bukan pertama kalinya dia membolos!” sentak Yazza.


“Yazza … please! Kamu sama sekali tidak pernah memikirkan tentang dia! Kali ini saja … pikirkanlah tentang putrimu! Ini kota besar … banyak orang berbahaya di luar sana! Dia memang salah karena membolos, tapi coba kesampingkan tentang kesalahannya itu dulu! Dia putri kandungmu, dan kita tidak tahu dia dimana sekarang!”


Yazza kembali mengatupkan bibirnya rapat-rapat.


Dengan kesal dia memukul kemudi.


Vee sangat terkejut ketakutan saat tiba-tiba Yazza membanting setir kemudi, menepi tepat di depan sebuah minimarket.


Tangan Vee mulai gemetar saat melihat rahang Yazza yang terlihat mengeras.


Otot-otot tangan Yazza juga sudah mulai terlihat jelas menyembul keluar.


Pria itu melirik ke samping, dia melihat ekspresi ketakutan istrinya.


Rasanya jadi tidak tega.


“Belikan air mineral! Aku haus!” tegas Yazza kembali menatap lurus ke depan masih dengan sorot mata yang sarat penuh akan kilat amarah.


Tanpa banyak kata-kata Vee langsung menghapus sisa air mata di wajahnya.


Setelah mengumpulkan kekuatan, dia segera membuka pintu mobil dan bergegas turun.


Begitu memastikan Vee masuk ke dalam minimarket, Yazza segera mengambil handphonenya.


Bergegas dia menelepon seseorang.


“Ya … apa anda perlu bicara dengan Mr. Bald?” tanya Icha sopan.


“Tidak perlu! Aktifkan segera Bayangan Mata!” ucap Yazza tegas.


“Hah?” Icha mengernyitkan dahi, kurang paham dengan maksud Yazza.


“Jangan sampai kakekku tahu! Suruh saja team Bayangan Mata melihat apa yang sebenarnya terjadi di hari Rabu, Kamis, Sabtu dan hari ini di sekolah putriku!”


Tidak seperti yang sudah Vee tuduhkan padanya.


Ternyata Yazza tidak sepenuhnya lepas tangan dalam hal ini.


Dia hanya ingin menyelesaikan menggunakan caranya sendiri. Dan cara yang dia ambil, tidak boleh diketahui oleh Vee.


Itu sebabnya Yazza berpura-pura acuh saat di hadapan istrinya.


“Cari tahu … apakah mungkin ada orang yang membantunya membolos dan mengembalikannya ke sekolah tepat sebelum jam sekolah berakhir!”


Yazza melihat Vee tampak buru-buru keluar dari minimarket dengan air mineral yang sudah di genggam.


Sebelum ketahuan, Yazza langsung mengakhiri panggilan, mengunci layar dan kembali melemparkan handphone ke samping tempat dia duduk.


...***...


Kek Gio baru pulang sore harinya.


Dia melihat Yazza gelisah di ruang tamu.

__ADS_1


“Yazza! Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa semua orang tampak terburu-buru seolah hendak menyelesaikan masalah secara diam-diam?” melihat sekeliling, “Dimana istrimu? Katakan … apa yang sebenarnya kalian sembunyikan dariku?” hardik kek Gio yang masih dituntun pak Karno.


Pria yang beliau ajak bicara hanya menghela nafas panjang membuang muka.


“Jangan diam saja! Pasti terjadi sesuatu kan? Kamu menyuruh Ardi pergi bersama Mr. Bald dengan mobil bawahannya … sementara mobil Mr. Bald saja masih ada padamu! Sudah jelas, pasti ada maksud tersembunyi yang sengaja kamu sembunyikan dariku!” gertak kek Gio makin meninggikan nada.


Yazza menghempaskan nafas menatap ke arah kakeknya, “Yve bolos sekolah … dan ini bukan yang pertama kalinya!”


“Hah? Apa?” menatap tajam pak Karno, “Kamu yang sudah mengantarkannya ke sekolah akhir-akhir ini bukan?”


Menunduk merasa ketakutan, “Saya berani bersumpah … saya sudah mengantar nona Yve! Bahkan saya juga sudah memastikan dia berada di lingkungan sekolah sebelum saya pergi,” jawab pak Karno mencoba membela diri.


“Lalu apa maksudnya ini?”


“Anak itu pasti kabur diam-diam setelah pak Karno meninggalkan lingkungan sekolah!” dengus Yazza bertolak pinggang kesal.


Kek Gio terkejut membelalakkan mata, “Di mana dia sekarang?”


Yazza kembali menggelengkan kepala tanpa berkata-kata.


“Hya! Dia putrimu! Kenapa kamu tidak khawatir padanya? Jika dia tidak di sekolah, lalu dia kemana?”


Yazza mendengus semakin kesal, “Huh! Kakek sama saja dengan Vee … terlalu overthinking!”


“Overthinking kepalamu! Dia tidak diketahui keberadaannya dan kamu malah tidak berbuat apa-apa sejak tadi?” mendengus bertolak pinggang, “Heh … kurasa otakmu yang bermasalah! Anak itu masih kecil Yazza!”


Kali ini Yazza menarik nafas panjang sembari memejamkan mata, perlahan dia menghempaskan seirama dengan gelengan kepala tipis.


“Kek! Kakek tenang dulu,” desisnya lirih.


“Bagaimana bisa tenang, dia hanya seorang gadis kecil! Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya?” kek Gio masih bernada tinggi.


Dania yang baru datang, tampak terkejut menyipitkan mata saat mendengar keributan.


Pak Udin yang sedang merapikan bonsai di depan diam-diam ikut menguping.


“Heh!” Dania mengejutkan pak Udin.


“Astaga! Jantungku nyaris copot,” mengelus dadaanya sendiri.


“Apa yang terjadi?” desis Dania.


“Non Yve hilang!”


“Apa?” terkejut membelalakkan mata.


“Katanya sudah berkali-kali bolos! Mereka sekarang meributkan tentang itu,” pak Udin balas mendesis.


Dania mengernyit menatap tukang kebun di kediaman Gionio.


“Eh sudahlah! Itu urusan para tuan rumah … ayo pergi saja!” ajak pak Udin berbalik meninggalkan taman depan.


Meski pak Udin sudah pergi, Dania masih tetap bertahan berdiam di sana.


Dia melihat ke arah pintu dengan mata menyipit sembari fokus mendengarkan.


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...

__ADS_1


__ADS_2