RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
JOGGING


__ADS_3

Yve sangat kesal karena mamanya membangunkan pagi-pagi.


Dengan pakaian olahraga lengkap mereka menuju taman kota.



Menyilangkan tangan di perut, “Tumben sekali sih mama rajin jogging!”


“Eitz! Ini hari minggu harus membiasakan diri dengan kehidupan yang sehat!” celingukan melihat ke sekeliling sambil lari ditempat.


“Cih!” Yve mencibir membuang muka.


Daniel tampak berlari santai mendengarkan musik sambil membawa botol minuman di tangannya.


Tak sengaja dia melihat Vee dan Yve.


Senyumnya merekah lebar dan dia segera menghampiri.


Vee yang memang sedari tadi menunggu kehadiran Daniel tersenyum lega melihatnya mendekat.


“Eh, lihat ada lem tikus!” Vee pura-pura terkejut sambil menepuk-nepuk bahu Yve.


Memicingkan mata, “Mama tidak sedang sengaja ingin menemuinya di sini bukan?”


Vee menaruh jari telunjuknya di depan bibir, “Shh!”


“Tikus besar! Tikus kecil! Kalian disini?” Daniel tersenyum mengusap-usap rambut Yve.


Yve mendengus jengkel menyingkirkan tangan Daniel, “Ish … mau kupukul?” sambil merapikan rambutnya.


“Eh, dia masih saja galak seperti Vee!” melihat Vee sambil cengingisan.


“Cih … masih saja kekanakan!” goda Vee.


Jongkok untuk mengimbangi Yve, “Hei … tikus kecil! Tidak kangen padaku?”


“Kita ikan bukan tikus!” tegas Yve.


“Eh, ikan? Mentang-mentang pulang dari pantai?”


“Kode mama ternyata anak ikan. Dan eyang buyut memberiku kode ikan teri!”


Menyipitkan mata, “Eyang buyut?”


“Em … pak Daniel sudah dari tadi?” Vee menyahut mencoba mengalihkan perhatian.


Mendongak, “Baru datang sih.”


“Em, mau ke kopi shop?”


Tersenyum antusias, “Kenapa jadi lembut? Isi kepalamu baru di cuci air lautan?” goda Daniel.


Vee terkekeh pelan, “Dasar benar-benar minta dipukul!”


“Tapi, aku ada tempat yang lebih bagus dari kopi shop … kalau kalian mau ikut sih?”


Menyipitkan mata, “Ke mana?”


“Pokoknya tempatnya lebih nyaman ketimbang kopi shop!”


“Ma! Kita tidak jadi jogging?” Yve melirik tajam Daniel.


“Kita sarapan sama lem tikus dulu ya?” Vee tersenyum mengelus kepala putrinya.


“Tapi kenapa dia!” cibir Yve jengkel.


Yve lebih berharap, akan bisa sarapan dan berkumpul dengan papanya.


Seperti hari sebelumnya.


Daniel tersenyum, “Apa kamu mau kue kacang?”


Yve hendak tersenyum, tapi detik berikutnya dia urung dan malah manyun menatap mamanya, “Apa mama membocorkan rahasia jika aku sangat menyukai kacang?”


Vee menyipitkan mata mengangkat bahu, “Mama tidak membocorkannya.”

__ADS_1


“Hei, itu karena kamu terlihat seperti anak monyet!” canda Daniel.


“Hya!” Yve berteriak memprotes.


Daniel langsung berdiri dan mundur.


“Ma, dia mengatai aku anak monyet! Itu artinya dia juga mengatai mama!” Yve merajuk.


Vee setengah tersenyum seolah berpikir, “Hmm, masuk akal! Kalau begitu, tangkap!” Vee menggertak.


“Hya! Keroyokan lagi!” Daniel berlari sambil cengengesan.


“Berhenti kau lem tikus! Awas kalau tertangkap!” Yve berlari mengejar.


Vee mendengus tersenyum berjalan cepat untuk menyusul keduanya.


...***...


Tiga orang tampak duduk di bawah pohon taman.



Dengan topi dan pakaian olahraga dilengkapi dengan kacamata hitam mereka tampak diam melihat ke satu arah.


“Papa mau memindahkan aku ke sekolahnya?” tanya pria kecil berusia 11 tahun kepada papanya.


“Papa belum tahu,” jawabnya datar.


“Aku benci sekolah baru!” membuang muka.


“Mas, apa kita sudah terjebak di jalan yang salah?” tanya Hans, pemuda yang masih duduk di bangku SMA.


“Takutnya, justru inilah jalan yang terbaik baginya!”


“Dengan membiarkan nona itu bersama orang lain?”


“Berkali-kali kubilang, orang-orang seperti kita tidak punya pilihan. Tapi kita yang memutuskan!”


Menghela nafas panjang, “Bahkan, pemantik tidak akan mengeluarkan api jika tidak di picu oleh jari orang!”


Hans tersenyum, “Tapi mas juga jangan lupa, aku ini suka sekali memicu percikan api.”


“Yeah! Aku tahu,” tersenyum menghela nafas panjang menatap Vee dari kejauhan, “Asalkan jangan sampai membuat dia terbakar!”


Mengangguk, “Pagi ini pria itu menuju ke pesisir secara diam-diam. Sepertinya pertunjukan akan segera di mulai.”


“Shadow juga bergerak?” tanya pria itu masih dengan gaya datar khasnya.


Mengangguk, “Orang-orang di sekelilingnya masih merahasiakan tentang jati diri pria itu.”


“Setidaknya aku sedikit tenang, Yazza tidak akan menyakiti Vee!”


Menyipitkan mata, “Mas yakin? Jika pria itu tahu nona Vee berbohong, apakah tidak menjadi masalah?”


Tersenyum, “Kita lihat saja drama pertunjukan kali ini!”


Pandangannya terus tertuju pada Vee tanpa berpaling sedikitpun selama perbincangan keduanya.


...***...



“Mau kemana sih?” tanya Vee begitu di dalam mobil Daniel.


“Sebentar lagi sampai kok!” menyalakan lampu send sambil melirik ke spion.


Menyipitkan mata, “Perumahan?” tampak bangunan-bangunan perumahaan mewah berada di sisi kanan kiri jalan.


“Ma, sepertinya dia menipu kita!”


“Tidak menipu! Sungguh!”


“Heh, jangan-jangan ini area perumahan elite pak Daniel ya?” tebak Vee.


Daniel meringis tersenyum sok manis, “Calon istriku cerdas sekali!”

__ADS_1


“Hya … pak Daniel! Kenapa ke rumah anda!” protes Vee.


“Selain makanannya gratis, tempatnya juga nyaman.”


“Pak Daniel … jangan bercanda!”


“Aku tidak bawa uang dan dompet tadi!” cengingisan, “Jadi cari yang gratis dan di jamin kesehatannya saja!”


“Tapi bukan rumah anda juga!”


Membelokan mobil, “Nah sampai!” membunyikan klakson.



Seorang satpam rumah membukakan.


Vee memegang keningnya, menghela nafas panjang.


“Apa ku bilang! Dia menipu kita!” cibir Yve.


Bangunan rumah mewah bercat putih, hitam berdiri megah di depan mata.


Bu Risma mendengar klakson mobil, “Cepat sekali dia sudah kembali lagi?” sambil memasak bersama dua pembantunya.


“Handphonenya ketinggalan mungkin!” pak Fauzan menyeruput kopi sambil duduk santai membaca majalah bisnis.


“Mbak! Coba lihat deh!” suruh bu Risma pada salah seorang asisten rumah tangganya.


Salah satu pembantunya langsung melongok ke jendela, “Eh … nyonya! Tuan Daniel bersama seorang wanita?”


Bu Risma langsung kepo meninggalkan masakannya untuk menuju ke jendela.


“Siapa?” ikut melongok.


Seorang wanita turun menggandeng anak kecil.


Terlihat Daniel begitu baik memperlakukan mereka bak putri kerajaan.


“Pa … kesini deh! Itu siapa?” bu Risma memicingkan mata, mengamati mereka.


Meletakan majalah, lalu berdiri.


Kursi yang dia duduki berderit mundur ke belakang, “Apa sih ma!” mendekat.


“Itu … putra kita! Dia bersama seseorang,” menunjuk ke luar jendela.


Melongok, “Ah … itu dia!”


Menyipitkan mata, “Siapa? Papa mengenalnya?”


“Itu yang Daniel bicarakan beberapa waktu yang lalu! Sekertaris barunya!” tegas pak Fauzan memberitahukan.


“Yang janda itu?” cibir bu Risma.


“Huss! Nanti mama harus hati-hati berbicara saat berhadapan dengannya!”


“Memang dia janda kok!” kembali mencibir memicingkan mata.


“Papa sudah menyelidiki profilnya. Dia itu wanita tangguh yang membesarkan putri seorang diri! Sungguh deh! Tidak ada catatan buruk dalam hidupnya.”


“Cih! Lalu kenapa dia mempunyai anak tanpa suami?”


“Shh … mama!”


“Serius deh! Daniel benar-benar membawanya kemari!” mengernyit kembali melihat ke arah Vee.


“Ayo ma! Kita sambut mereka! Ingat, mama jangan membuat masalah!” pak Fauzan kembali menegaskan.


Bu Risma menghela nafas mengangguk pasrah menuruti suaminya.


 


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...

__ADS_1


__ADS_2