
Dengan wajah muram Vee berdiri membuang muka. Kedua lengannya menyilang di depan perut.
“Tidak perlu lagi berpura-pura di hadapanku … bahkan meskipun kalian masih menggunakan topeng … aku masih bisa memahami apa yang sedang terjadi,” pandangannya fokus melihat lukisan di dinding.
Semua orang saling bertukar pandang satu sama lain. Mereka semakin tersudut dan kebingungan untuk menghadapi Vee dalam situasi ini.
“Aku tidak sengaja mendengar sesuatu yang mengerikan … begitu Yazza mengucapkan kata ‘lenyapkan dia!’ hatiku mulai tidak tenang! Aku tahu kalian menyelidiki semua ini sendirian tanpa menghubungi Polisi. Dan itu artinya … kalian juga berencana menyelesaikan masalah dengan cara kalian!”
Vee membalikan badan, dengan sorot mata mengintimidasi, dia melihat ke semua orang yang masih duduk dalam kecanggungan.
“Sudahlah … di sini kalian tidak perlu menutupinya lagi! Aku tidak sebodoh itu untuk dibohongi,” dengan senyum licik dia menatap semakin tajam, “aku hanya meminta kalian untuk bekerja sama kali ini!”
Pak Ardi langsung berdiri, menatap memprotes, “Tapi nyonya …-”
“Pak Ardi!” Vee kembali menyela, membuat pria itu kembali terdiam.
Kedua bahunya turun, dia menunduk menciut, perlahan kembali duduk sembari menyatukan kedua tangan di atas pangkuannya.
Pak Karno, Leo dan Icha ikut tidak bisa berkutik begitu melihat wajah Vee.
“Anda sudah lama mengikuti Yazza, dan anda pasti tidak lupa dengan kasus delapan tahun yang lalu! Orang bisa dengan mudah menghilangkan nyawa seseorang … tapi apa mereka pernah memikirkan luka yang ditinggalkan kepada keluarga dan kerabat terdekatnya?” tanya Vee impresif.
Pak Ardi semakin menunduk terdiam tanpa bisa berkata-kata lagi.
“Pak Ardi, nyonya Gionio adalah saksi kejadian delapan tahun yang lalu. Ini juga yang menjadikan saya tidak bisa berkutik melawan beliau!” Leo menyahut, “Maaf … bukannya saya mengkhianati kalian dan mudah membeberkan tentang barang bukti penyelidikan kepada nyonya Gionio! Saya tidak mau jika nyonya Gionio kembali mengajukan penyelidikan tentang kasus itu! Pak Yazza bisa dalam bahaya … itu sebabnya saya tidak punya pilihan lain!”
Icha menyilangkan tangan, tersenyum mencemooh kepada dirinya sendiri, “Oke! Kita semua sudah masuk ke dalam perangkap yang sangat cantik!”
__ADS_1
“Nyonya Vee … kenapa anda kembali mengungkit hal itu? Bukankah tuan Yazza sudah menjadi suami anda sekarang?” protes pak Ardi.
“Kenapa kalian tidak sadar juga? Bukankah istri pak Yazza ini hanya sedang menggertak agar kita sadar diri … di mana posisi kita saat ini!” Icha tersenyum kagum menatap Vee.
Dengan senyuman santai, Vee berjalan menuju jendela, “Bukannya bermaksud membuka aib lama. Tapi jujur saja … luka yang kalian tinggalkan masih membekas jelas di dalam hatiku! Dan aku hanya tidak mau jika ada orang lain lagi yang harus mengalami luka seperti yang aku rasa!”
Vee terdiam sejenak, bola matanya tertuju ke arah kolam renang jauh di bawah sana.
“ Yeah … anggap saja … saat ini Yazza sedang tidak stabil! Aku tahu dia sangat marah dan tidak berpikir sampai sejauh ini! Bukankah kalian semua selalu ingin melindunginya kan?” pungkasnya masih tidak melihat ke semua orang.
“Ya! Anda benar. Kami sebenarnya memang tidak ingin jika tuan Yazza salah mengambil keputusan. Itu sebabnya kami kebingungan untuk melaksanakan perintahnya,” pak Karno akhirnya angkat bicara, “Saya tahu mbak Rosi sudah lama bersama keluarga tuan besar … dan sampai saat ini … saya memang tidak menemukan motif yang masuk akal … kenapa mbak Rosi bisa menjadi tersangkanya!”
“Tepat sekali!” sahut Vee membalikan badan, “Coba pikirkan … mbak Rosi sekolah cuma sampai Sekolah Dasar. Dia juga tidak terlalu melek tekhnologi! Lalu darimana mbak Rosi bisa tahu tentang jenis racun Arsenik?”
Semua orang tampak mengerutkan kening, kenapa mereka tidak berpikir sampai sejauh itu sebelumnya. Begitu Vee menyimpulkan, barulah mereka tersadar. Apa yang Vee katakana memang sangat masuk akal.
“Tidak mudah untuk mendapatkan racun Arsenik. Hanya dengan melihat latar belakang dan pendidikan mbak Rosi, bagaimana bisa kalian masih berpikir jika dia tersangkanya? Kalian mau menyesal seumur hidup hanya karena salah memberikan tuduhan?”
Meski nada bicara yang dia ucapkan terdengar santai, tapi penuh penekanan di tiap kata-katanya.
“Itulah alasan kenapa aku memutuskan untuk mengamankan mbak Rosi di hotel! Jika sampai terjadi sesuatu pada mbak Rosi sebelum masalah ini terselesaikan dengan jelas … aku pastikan, aku tidak akan tinggal diam! Kejadian delapan tahun yang lalu pasti akan aku naikan ke pengadilan!” ancam Vee tegas di akhir kalimat.
“Nyonya! Apakah anda tahu … anda melakukan semua ini … sama saja anda sudah masuk ke dalam jurang yang tak berujung,” pak Ardi semakin tidak tenang. “Kita tidak pernah tahu … bahaya apa yang akan kita hadapi nantinya!”
“Well … karena memang sudah terlanjur melompat … bukankah hanya dengan bekerja sama baru bisa keluar bersama-sama?” Vee menyeringai dengan sedikit memiringkan kepalanya.
Lagi-lagi Icha mendengus tersenyum, “Sejak pertama melihat anda … saya sudah bisa menebak, anda memang bukanlah orang yang mudah dihadapi!”
__ADS_1
Pak Ardi dan pak Karno kembali saling bertukar pandang.
Icha benar, merasa semua sudah terjebak dalam perangkap yang Vee ciptakan kali ini.
“Pak Ardi ingat kejadian tentang obat pencahar? Saya yang berada di posisi mbak Rosi saat itu! Dan saya merasa sedang dijebak. Well … bisa saja ini adalah kasus yang sama! Dan tidak menutup kemungkinan … pelaku yang sebenarnya memang masih berkeliaran di dalam rumah!” tegas Vee menyimpulkan.
“Dania!” desis pak Ardi lirih.
Meski pria itu hanya mendesis, Vee masih bisa mendengarnya dengan jelas.
Dia tersenyum mendengus memicingkan mata, “Bukankah kita sudah membahasnya barusan? Kita tidak boleh memutuskan tanpa bukti yang kuat! Bahkan untuk menangkap ikan, kita perlu umpan atau jaring untuk menjebaknya! Dan untuk saat ini … semua orang di rumah bisa saja menjadi tersangka!”
“Lalu … apa yang sebenarnya sudah anda rencanakan?” tanya Icha masih pada posisi santainya.
“Pertama, tetap rahasiakan keterlibatan ku di hadapan Yazza. Jika dia menanyakan tentang mbak Rosi, bilang saja kalian sudah membereskannya. Kedua, upayakan tidak ada satupun ikan yang boleh keluar dari rumah sebelum kita berhasil menangkap ikan yang bermasalah. Dan ketiga, saya akan terus ikut campur dalam setiap permasalah suamiku! Suka atau tidak … kalian harus bersiap dengan kehadiranku!”
“Nyonya!” pak Ardi tercekat membelalakkan mata menatap Vee, “Saya mohon … pikirkanlah kembali tentang semua perkataan anda ini!”
“Aku punya kartu As kalian! Dan sayangnya … kalian tidak bisa menyentuhku karena Yazza! Bukankah aku berada di posisi yang paling menguntungkan?” ucap Vee tersenyum mengintimidasi.
Vee kembali membalikan badan, kali ini dia mendongak melihat gumpalan awan putih di antara langit biru.
“Percayalah … aku bukan orang jahat! Tapi aku bisa saja menjadi penjahat jika kalian masih tetap mau menyembunyikan tetang jati diri kalian di hadapanku! Yazza akan menjadi ayah dari darah dagingku … melihat penderitaan Yve tanpa seorang ayah selama bertahun-tahun, aku mulai memikirkan satu hal! Jika sampai terjadi sesuatu pada suamiku, dan aku harus membesarkan anak seorang diri lagi … lebih baik aku juga ikut mati saja!”
Sontak semua orang yang ada di sana langsung terdiam membelalakkan mata terkejut menatap punggung Vee.
“Jangan khawatir … aku tidak akan terlalu ikut campur dalam bisnis kalian! Tapi apapun yang menyangkut tentang reputasi dan demi kebaikan suamiku … aku pasti akan memperjuangkannya!”
__ADS_1
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...