RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
BUKAN STALKER BIASA


__ADS_3

Vee mendapat telepon dari orang Nirwana.


Mereka meminta jadwal bertemu untuk membahas perpanjangan kontrak kerja sama.


Dengan professional Vee mengatur waktu yang tepat ketika jadwal Daniel kosong.


Tepat ketika Vee mengakhiri panggilan, Daniel masuk ke ruangannya.



Menaruh dua cup kopi di meja kerja Vee.


“Hya, seharusnya saya yang mengambilkan kopi untuk anda!” protes Vee.


Menggeser kursi agar dekat dengan Vee.


“Kamu terlihat sangat sibuk sekali dari tadi. Pasti banyak pekerjaan yang menumpuk ya?”


“Banyak banget! Lagian pak Daniel kenapa ikut-ikutan tidak berangkat ke kantor saat saya ijin sih?” cibir Vee.


Manyun meletakan kepala di meja sambil melihat wajah sekretarisnya.


“Tentu saja aku sangat patah hati sekali begitu tahu tentang kenyataan itu. Rasanya tidak bersemangat lagi mau melakukan apapun!”


“Cih …,” cibir Vee justru menertawakan.


“Hya! Aku sampai tidak makan seharian karena memikirkan kamu!” protes Daniel melihat respon Vee.


“Lagian sudah aku bilang … cari saja wanita lain!”


Duduk tegak melotot protes, “Hya! Sudah berencana membuangku?”


Terkekeh mencibir, masih fokus menulis laporan.


“Susah sih mau melepaskan lem tikus! Jikapun harus dipaksa, justru akan menyakiti diri sendiri,” ucap Vee setengah tersenyum.


Memeluk pinggang Vee lalu menyandar di bahunya.


“Hya … jangan menggangguku!” berusaha menyingkirkan.


“Aku akan menempel semakin erat sampai kamu tidak akan bisa melepaskan aku!”


Masih berusaha menyingkirkan, “Hya … ini di kantor! Berhati-hatilah!” protes Vee.


“Semua orang sedang istirahat makan siang!” makin mendesal ke bahu Vee.


“Kalau begitu pergilah juga untuk makan siang,” usir Vee datar.


“Aku sudah memesan online food, mereka akan mengabari jika sudah sampai,” nyaman dengan posisinya.


“Hya … lepaskan! Ini menggelikan,” cibir Vee cengingisan.


“Tidak mau! Aku mau menempel terus seperti ini!” Daniel ngeyel.


“Astaga!” cibir Vee tersenyum lalu melanjutkan menulis laporan.


...***...



Kantor Paradise.


Hans terlihat cukup ragu saat hendak memasuki ruangan Hirza.


Pak Rudi baru saja menemui kakak angkatnya.

__ADS_1


Mereka berbicara empat mata.


Sepertinya Hans sudah menebak, pasti ada hal buruk yang baru saja di sampaikan pak Rudi kepada Hirza.


Pria itu menatap Hans kosong duduk menyandar santai di kursi kerjanya.


Tersenyum meringis, “Mas bro …,” basa-basi Hans, “Mas Rudi baru saja datang ya?”


Menghela nafas panjang, “Maksudmu baru saja pergi?”


Salah tingkah, “Ah … benar!”


“Duduk!” Hirza berisyarat dengan gerakan kepala.


Hans menggaruk rambut sembari duduk dalam diam.


“Sudah menebak apa tujuan mas Rudi datang menemuiku?”


Menunduk, “Memarahi mas bro?” tebak Hans takut mendongak untuk menatap Hirza.


“Lalu kamu tahu kenapa dia memarahiku?”


Menggaruk kepalanya, “Masih tentang masalah yang kemarin ya?” tebak Hans lagi.


Menghempaskan nafas, menatap Hans datar.


“Kamu tahu aku tidak akan memarahimu kan?”


Hans kembali mengangguk.


Hirza memang tidak pernah memarahi Hans.


Paling hanya akan mengomel dan menasehati.


“Aku sudah menemui mas Rudi waktu itu, tapi kenapa hari ini beliau datang?” Hans menyipitkan mata, menatap Hirza kali ini.


“Seseorang mencari identitasmu di sekolah … sepertinya kita sudah tertangkap basah!”


Terkejut membelalakkan mata, “Lalu bagaimana selanjutnya?”


“Aku menduga, mereka tidak akan mengambil langkah. Tapi mereka akan memikirkan apa tujuan kita yang sebenarnya.”


“Lalu apakah mas bro akan ketahuan juga?” keningnya mengkerut, “Maksudku usaha yang mas sembunyikan selama ini?”


“Tidak ada seorangpun yang boleh tahu kecuali kita! Biarkan saja orang-orang berpikir jika ini memang masalah Strom dan Shadow. Bahkan mas Rudi juga tidak tahu ada tujuan lain di balik semua ini!” Hirza menerawang jauh ke depan.


“Bukankah kalau begitu … kita seharusnya semakin memperjelas jalan ini saja? Memupuk permusuhan Strom dan Shadow!”


Hirza mengangguk tipis, “Memang hanya ini satu-satunya cara untuk menutupi kebodohanku!” mendengus, “Lagipula, Shadow pasti cukup cerdas untuk memikirkan apa yang akan mereka lakukan!”


“Waktu itu aku menjelaskan ke mas Rudi jika kita hanya ingin memberi pelajaran ke G Corporation dan Strom,” terang Hans.


“Mas Rudi sudah paham alasanku mendekati Teratai Putih dan melibatkan Shadow … dia percaya dengan apa yang kamu katakana kepadanya. Masalahnya, kamu sudah ketahuan kali ini … itu sebabnya mas Rudi marah!”


Menunduk, “Padahal aku sudah sangat hati-hati!”


“Sudah kubilang, kita tidak bisa meremehkan ‘bayangan mata’ dari Shadow.”


Mengangguk, “Lalu apakah mas Rudi memutuskan hukuman untukku?”


Menggeleng, “Aku sudah membersihkan namamu. Tapi ingat, jangan ceroboh dan sembarangan bertindak lagi!”


Mengangguk tersenyum bangga, “Mas bro memang terbaik!”


Tersenyum sinis, “Tapi demi memperbaiki kesalahanmu … kita jadi punya banyak PR kedepannya!”

__ADS_1


Menyipitkan mata, “Apakah mas bro menjanjikan sesuatu kepada mas Rudi?”


Menggeleng, “Lebih tepatnya, memperjelas ‘hukum dari surga!’”


“Maksud mas?”


“Aku hanya mengulang dan membuat mas Rudi semakin yakin dengan arah tujuan yang kamu jelaskan kepada beliau sebelumnya. Meski kita punya tujuan lain … paling tidak kita bisa menggunakan konflik ini untuk menutupi maksud tersembunyi yang sudah kita perjuangkan sejak lama!”


Mendengar kalimat Hirza, Hans kembali merasa sedih dan kasihan kepada kakak angkatnya ini.


“Bagaimanapun juga … baik G Corporation maupun Strom … mereka sudah membuat kesalahan karena menentang kehendak surga!” geram Hirza.


“Well … jika Shadow sudah tahu kita terlibat, mereka pasti akan berpikir jika kita ingin agar mereka semakin menekan Strom bukan?” tanya Hans.


“Tidak tahu apa yang sedang direncanakan oleh dua ular betina dari Strom! Tapi … kakak beradik ini cukup mempunyai kekuatan yang tangguh!”


“Mas selalu mengajariku … untuk mengalahkan lawan yang licik, kita juga harus menggunakan cara yang licik juga!”


“Yeah … itu benar! Semakin cepat kita menjatuhkan Strom, akan semakin besar pula kemungkinan kita bisa menyelamatkan Vee tanpa harus dicurigai banyak orang!” Hirza memutar kursi kerjanya menghadap ke jendela kaca.



Terik mentari di luar sana tidak membuat matanya silau.


Hirza menatap kosong kembali muram memikirkan tentang takdir hidup yang harus dia jalani.


Hans terdiam melihat Hirza dari belakang.


Ada banyak beban berat yang di pikul orang di hadapannya.


Dia tahu, betapa sulitnya menjadi seorang Hirza.


Bahkan untuk dekat dengan orang yang dia cintai saja, dia tidak akan pernah bisa melakukannya.


Terlalu banyak rasa yang sudah dia pendam dalam hatinya.


Dan itu sudah berlangsung sejak lama.


Sampai dia sendiri lupa, apa itu arti dari perjuangan yang sebenarnya.


Mencintai untuk dicintai … rasanya hanya sebuah kata-kata indah yang tidak akan pernah terjadi.


Tidak ada yang tahu jika sebenarnya ada seseorang yang selalu Hirza lindungi dengan cara yang cukup tidak biasa.


Diam-diam mengawasi ….


Menyelesaikan masalah dalam senyap ….


Melindungi tanpa pernah di lihat ….


Yeah ….


Itulah yang Hirza lakukan.


*


*


*


Demi Vee ….


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...

__ADS_1


__ADS_2