RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
MUSUH DARI MASA LALU (Part 2)


__ADS_3

Tisya sepertinya memahami maksud dari perubahan ekspresi yang Daniel tunjukkan.


“Teratai Putih?” desis Daniel.


Sebelum Daniel berubah pikiran, Tisya langsung menatap Hirza berisyarat mata untuk membujuk kekasihnya supaya tidak ada keraguan menerima proyek yang Paradise tawarkan.


“Ah, benar! Mungkin pak Daniel akan sering bertemu dan berkomunikasi dengan pak Yazza untuk menentukan design interior yang sesuai dengan Rumah Sakit yang di design oleh Teratai Putih!”


Mengingat tentang apa yang baru saja terjadi antara mereka berdua, membuat Daniel kembali berpikir ulang mengenai tawaran proyek ini.


“Apakah pak Daniel keberatan bekerja sama dengan Teratai Putih?” tanya Hirza santai.


Mendengar kalimat itu, tentu membuat Daniel jadi salah tingkah, “Aa … emb … sa … saya hanya terkejut karena harus bekerja sama dengan orang-orang besar dalam dunia bisnis! Tiba-tiba saya jadi merasa minder dan tidak percaya diri.”


Hirza terkekeh pelan, “Hahaha … pak Daniel jangan merendahkan diri begitu! Nama pak Daniel banyak diperbincangkan saat ini! Bukankah itu artinya anda mempunyai potensi yang luar biasa di dunia bisnis ini?”


“Ahh … sekarang anda yang melebih-lebihkan,” ucap Daniel menundukkan kepala tersipu malu setelah di puji orang nomor satu di Paradise.


“Sayang …,” Tisya menggenggam tangan kekasihnya, “ini kesempatan yang bagus bukan? Impian seluruh pebisnis di Negara ini adalah bisa bekerjasama dengan Paradise! Bukankah dengan mengikat kontrak dengan Paradise merupakan jalan yang mulus untuk membawa White Purple ke tempat yang lebih terang?”


Daniel hanya terdiam menatap Tisya yang terlihat sangat mendukungnya.


Jujur, dia juga berpikir sama seperti yang Tisya pikirkan.


Mendapat tawaran kerjasama dengan Paradise adalah hal paling langka. Belum tentu perusahaannya mendapat kesempatan yang sama setelah ini.


“Yang dikatakan kekasih pak Daniel benar, White Purple akan semakin naik tinggi nantinya,” Hans ikut mendukung Daniel. "Lagipula anda tidak perlu khawatir jika harus bekerjasama dengan Teratai Putih, pak Yazza orang yang sangat profesional dalam bekerja. Saya yakin dia tidak akan mempersulit anda nantinya!"


Hirza tersenyum santai, “Yeah ... jadi bagaimana? Apakah pak Daniel mau menandatangani kontrak dengan Paradise?”


Daniel menunduk diam masih tampak berpikir.


Kata orang … pak Yazza cukup pandai bermain dengan Preman.


Aku baru saja membuat masalah dengannya.


Bisa saja hidupku dan keluargaku jadi ikut terancam!


Mungkin … hanya dengan kerjasama yang di tawarkan Paradise ini, pak Yazza akan berpikir ulang jika hendak mencelakai ku!


Kita akan bekerja sama dalam satu proyek, jika sampai terjadi sesuatu padaku … akan lebih mudah bagi orang untuk berpikir tentang siapa pelaku yang berniat mencelakai ku.


Tidak masalah jika harus sering bertemu dengannya!


Aku hanya perlu berpura-pura untuk lebih berani.


...***...


Vee celingukan melihat ruang tersembunyi di bawah tanah.

__ADS_1


Mereka ada di ruang kerja Mr. Bald sekarang.


Icha memberikan segelas jus buah di hadapan Vee.


Wanita itu tidak memberikan respon apapun sampai Yazza harus menyenggol lengan istrinya yang terlihat masih sangat linglung.


“Ah … maaf!” menatap Icha dengan senyuman, “Terima kasih!”


Icha tersenyum mengangguk tipis.


“Tempat ini berada di bawah gedung pegadaian? Kenapa di atas tadi banyak sekali mesin gambling?” tanya Vee dengan polosnya.


“Ehemb!” Yazza berdehem gelisah melirik ke arah Vee.


Vee langsung tersenyum meringis, salah tingkah menatap Mr. Bald, “Ups … maaf!”


Mr. Bald terkekeh pelan, “Hahaha … tidak perlu merasa bersalah! Saya memang mempunyai Club dan Casino! Dan tempat ini hanya gudang mesin-mesin.”


“Ah … I see!” jawab Vee kembali melihat ke sekeliling ruangan.


Terlihat normal seperti kantor pada umunya.


Well ... meski Mr. Bald mengatakan bahwa ini hanyalah gudang ... apakah aku akan semudah itu mempercayainya?


Ruang bawah tanah dengan akses masuk rahasia saja sudah cukup mencurigakan!


Batin Vee bergumam dalam hati.


Yazza kembali menyenggol pelan lengan Vee dengan sikunya.


"Jaga matamu!" desisnya lirih memperingatkan.


Vee kembali tersenyum meringis menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Kami minta maaf karena tadi responnya sedikit lambat,” ucap Mr. Bald menatap Yazza seolah mereka bersalah.


“Sepertinya karena bukan saya langsung yang berbicara,” sahut Yazza menjawab sembari menatap ke arah istrinya.


Wanita itu menyipitkan mata, balas menatap Yazza penuh dengan tanda tanya.


Kalau dipikir-pikir lagi ... pak Ardi memang terdengar mempersulit permintaan ku tadi!


Padahal hanya meminta untuk membuka pintu garasi!


“Anda tahu sendiri bukan? Membuka pintu garasi pegadaian tidaklah mudah. Perlu mengosongkan gedung dan membuat orang-orang tidak melihat bagaimana tembok itu bisa terbuka … lain halnya dengan masuk melalui pintu parkiran pegadaian.”


Vee semakin tidak mengerti dengan apa yang di bicarakan oleh Mr. Bald.


Hmph ... sepertinya memang sedang membicarakan tentang informasi yang sangat rahasia!

__ADS_1


Lebih baik aku menyimak saja!


“Kami lebih tidak punya waktu jika harus lewat sana! Lagipula tata cara berbicara pada resepsionis hanya diperuntukan untuk tamu saja kan?” tanya Yazza mengingat betapa sulitnya mendapat akses masuk melalui tata cara kode-kode percakapan khusus dengan resepsionis pegadaian.


Mr Bald tersenyum penuh hormat, “Anda tidak perlu melakukan tata cara seperti itu lagi. Langsung saja ke gedung parkiran pegadaian dan kami akan memberikan akses khususnya.”


Yazza mendengus, “Ujung-ujungnya kita akan ke sini juga! Apa bedanya?”


“Area logistic hanya untuk hal mendesak sebenarnya.”


“Memangnya keadaan kami tadi kurang mendesak?” dengus Yazza mencibir, “Lihat … kaca belakang mobilku nyaris pecah!”


“Ah … benar! Maafkan saya!” Mr. Bald merasa bersalah, membungkuk setengah badan.


“Sebenarnya apa yang terjadi tuan?” tanya pak Ardi khawatir.


“Tiba-tiba saja ada orang yang hendak menyerang ketika kami masih di parkiran rumah sakit.”


“Hah? Itu gila sekali!” komentar pak Ardi.


Vee menelan ludah saat mendengarkan mereka mulai membahas tentang kejadian di parkiran.


Yazza menggeleng mengangkat bahu, “Kelompok mana yang bisa sampai senekat itu? Bahkan kurasa mereka sama sekali tidak peduli dengan CCTV gedung Rumah Sakit!” Yazza menghempaskan nafas panjang sambil memikirkan tentang kemungkinan kelompok mana yang baru saja hendak menyerangnya.


“Tuan Yazza tidak perlu khawatir. Kami akan segera mengusut tuntas masalah ini,” tegas Mr. Bald penuh dengan keyakinan.


Vee memejamkan mata, menghela dan menghempaskan nafas panjang.


“Sepertinya targetnya adalah aku!” ucapnya tiba-tiba sembari membuka mata perlahan.


Sontak semua orang yang ada di ruangan itu langsung menatap ke arah Vee.


Termasuk Yazza yang terkejut menautkan alis menatap lekat wajah istrinya.


“Yeah … mereka pasti mengincar ku!” ucap Vee yakin.


“Apa!!! Apa maksudmu? Kamu mengenal mereka?” Yazza meninggikan nada karena sangat khawatir.


“Yeah … kurasa begitu!” Vee mengingat salah satu dari dua pria yang sempat dia lihat.


Dia terlihat cukup tidak asing baginya.


Tangan Vee mengepal dengan rahang yang mengeras.


Kenapa dia begitu berani keluar wilayah dan mengincar ku sampai ke sini!


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...

__ADS_1


__ADS_2