RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
PENGARUH


__ADS_3

Yazza sudah menunggu di depan sekolah ketika Vee baru datang.


“Terima kasih pak! Bapak sudah boleh pergi, nanti saya pulang sama suami saya!” ucap Vee tersenyum ramah kepada driver.


“Terima kasih juga neng,” jawab Driver balas tersenyum.


Begitu menoleh dan melihat Yazza, dia bergegas dia menghampiri.


“Kamu yakin Yve melakukan hal itu?” sergah Vee langsung bertanya menatap suaminya.


“Kamu ini gimana sih! Bukannya tadi dia sama kamu berangkatnya?” tanya Yazza tegas.


“Memang dia sama aku kok! Aku juga melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau dia sudah masuk ke dalam gerbang sekolah,” bantah Vee membela diri.


“Kata kepala sekolah Yve, ini sudah keempat kalinya dalam satu minggu terakhir!” memegang kepalanya sendiri, “Aku malu sekali … kenapa anak itu bertingkah seperti ini sih?”


“Aku masih tidak yakin Yve begini! Aku yang membesarkannya … aku yang paling tahu tentang dia!”


“Kamu mau bilang kalau Kepala Sekolah Yve berbohong kepada kita?” tegas Yazza bertolak pinggang menatap Vee frustasi.


Wanita itu menghempaskan nafas membuang muka.


“Sebaiknya kita langsung menemui kepala sekolah untuk memastikan!” ucapnya dingin.


“Ini yang takutkan jika punya keturunan dari seorang wanita yang tidak beres asal usulnya!”


“Yazza!” sentak Vee tegas, membelalakkan mata menatap tajam pria di hadapannya, “Jaga ucapan mu!”


Pria itu balas menatap tajam, mendengus kesal dengan amarah yang sudah terlihat jelas dari ekspresi wajahnya.


“Kamu tahu tidak? Aku sedang dalam rapat penting saat kepala sekolah menelepon! Bukankah anak ini sudah mempermalukan aku dalam dua hal sekaligus? Pertama di hadapan orang-orang penting dan kedua di hadapan Kepala Sekolah!”


Vee ikut tersulut emosi, tapi sebisa mungkin dia berusaha agar tidak meledak. Wanita itu mulai mengepalkan tangan memejamkan mata dan mencoba menahan diri dengan menarik nafas panjang lalu menghempaskan perlahan.


Ini bukan tempat yang tepat untuk berdebat.


Semakin Vee menyangkal dan menyalahkan Yazza, sudah pasti Yazza akan semakin melebarkan masalah sampai mengungkit hal-hal yang tidak seharusnya dibicarakan.


“Kita temui dulu kepala sekolah Yve!” ucap Vee sedatar mungkin.


...***...


Pak Didik mengetuk pintu ruang kerja Daniel.


Yve dan Daniel tengah asik main game bersama saat pak Didik masuk membawakan camilan dan es coklat untuk Yve.


“Hya! Cepat lari, awas di belakangmu!” Daniel setengah berteriak histeris.


“Hya, lindungi aku!” protes Yve.


Pak Didik ikut duduk, “Hey, Daniel! Jika Yve keseringan bolos, Vee akan marah saat mengetahuinya!”


“Pak Didik jangan mengganggu! Nanti kita kalah!” gerutu Daniel.

__ADS_1


Pak Didik menghela nafas panjang, melihat keduanya.


“Yah, kalah!” Yve kesal.


Daniel meletakan handphonenya, menatap kesal ke arah pak Didik, “Haiz! Gara-gara pak Didik sih!”


“Lah kok aku ikut disalahkan!” pak Didik balas memprotes.


“Abisnya … lagi war malah diajak bicara sih!” cibir Daniel menyilangkan tangan di depan perut.


Yve mengambil gelas berisi es coklat di atas meja, “Kalau pak Didik tidak mengganggu, kita pasti menang!”


“Hya … kalian berdua memang sekongkol mau memojokkan aku kan?” cibir pak Didik.


“Eh pak Didik! Tolong sewakan kapal dong,” pinta Daniel menatap pak Didik dengan tatapan yang tampak serius kali ini.


“Kapal?” menyipitkan mata, “Untuk apa?”


“Aku mau mengajak Yve jalan-jalan naik kapal!” Daniel tersenyum menatap Yve.


Yve ikut tersenyum menganggukkan kepala.


“Hya! Jangan aneh-aneh deh! Bagaimana bisa kamu akan membawa pergi anak orang?”


“Aku akan bilang jika kakek dan nenek yang mengajak! Mama pasti mengijinkan!” jawab Yve antusias.


Pak Didik menatap Daniel khawatir, “Daniel jangan kelewat batas deh! Dengan terus mengajak bolos seperti ini saja sudah tidak benar loh!”


Yve manyun, “Aku sama sekali tidak menyukai sekolah itu! Teman-teman baru aku di sana tidak sebaik teman-teman di sekolah Caesar!”


“Mereke suka pilih-pilih teman! Bahkan Yve sampai tidak boleh berteman dengan anak yang ayahnya cuma pekerja biasa. Kata mereka tidak selevel,” Yve menundukkan kepala.


“Hya … kenapa anak Sekolah Dasar sudah diskriminatif seperti itu?” gerutu Daniel ikut kesal.


“Yve pernah cerita ini ke mama. Tapi sekarang mama tidak sepeduli dulu lagi! Mama cuma bilang … aku harus jadi diri sendiri, tapi mama tidak memahami perasaanku!” ucap Yve memanyunkan bibir kesal.


“Maksud kamu?”


“Jika aku jadi diri sendiri dan berteman dengan semua orang, teman-teman yang mengajakku berteman akan menjahili dan jadi memusuhi aku …,” memainkan jari-jarinya sendiri, “padahal aku sudah berjanji pada Papa jika aku tidak akan bertengkar lagi! Aku cuma tidak mau mencari musuh … tapi aku merasa tertekan jika ikut kelompok mereka!”


“Astaga kasihan sekali!” Daniel mengelus punggung Yve, “Begini saja, bagaimana jika kamu jadi lebih berani?”


“Maksudnya berkelahi?”


Daniel menggeleng tegas, “Berani bukan berarti harus main fisik!”


“Terus gimana dong?”


“Mama Vee benar … kamu memang harus jadi diri sendiri! Tapi kamu juga harus jadi berani. Berani membela teman-teman yang dijahili, serta berani melawan ajakan dan perintah teman-teman Yve yang tidak baik!”


“Tapi kalau mereka memusuhi aku, bagaimana?”


“Jika misalkan mereka menjahili kamu … kamu jangan diam saja! Jahilin balik atau lapor ke guru, kamu harus lebih cerdas! Jangan biarkan mereka menang darimu! Aku yakin jika kamu lebih berani dari mereka … mereka tidak akan lagi mengusik mu! Atau mungkin mereka malah akan menghormati kamu!”

__ADS_1


Gadis kecil itu tampak berpikir, “Bagaimana jika mereka tetap menjahili meski aku sudah melawan?”


“Jika kamu tidak pernah menyerah untuk lebih berani dan tetap bangun meski jatuh berkali-kali … aku yakin mereka juga akan lelah dengan sendirinya!” Menerawang ke depan, “Akan lebih keren lagi jika kamu bisa membuat mereka jera dan merasa tidak berdaya di hadapanmu. Dengan begitu mereka yang akan tunduk dan menuruti kemauan mu!”


“Kalau begitu berkelahi saja! Mereka pasti langsung takut!”


“Hya … tidak boleh!” tegas Daniel, “Masih ada banyak cara untuk unjuk gigi tanpa harus menyentuh orang lain!”


Yve menyipitkan mata.


“Kamu sekolah di sekolah khusus wanita kan? Ingat … mama kamu juga seorang wanita. Memukul seorang wanita, sama saja kamu menyakiti mamamu sendiri! Selain dinilai kurang etis, menyakiti sesama wanita juga terkesan tidak baik! Meskipun mereka bermulut kasar, dan berbuat yang tidak baik padamu … selama mereka tidak memukul duluan, kamu jangan pernah menyakiti mereka!”


Pak Didik bertepuk tangan, menggeleng-gelengkan kepala berdecak kagum, “Ckckck! Luar biasa!” pujinya.


Yve mengernyit mencibir, “Kamu ini bicara seolah guru bimbingan konseling saja!”


“Hya! Aku mengajarimu poin-poin penting! Selalu ingat kata-kataku tadi!” tegas Daniel.


Yve mendengus tersenyum, “Sudah! Ayo main satu kali lagi,” ajak Yve kembali mengambil handphonenya.


“Hya! Kenapa tidak memakai handphonemu sendiri?” protes pak Didik saat Yve memakai handphonenya.


“Ini jam sekolah! Aku harus mematikan handphone!” cibir Yve.


“Tapi kamu tidak sedang bersekolah!” tegur pak Didik.


“Haiz … pak Didik jangan berisik lagi! Kalau kali ini kita kalah lagi, pak Didik harus traktir kami makan!” tegas Daniel.


“Hya!” pak Didik melotot bertolak pinggang.


Yve cekikikan, mulai menggeser duduknya mendekat ke arah Daniel kembali.


Pria itu tersenyum lalu mulai fokus menatap layar handphone.


Pak Didik mendengus tersenyum saat melihat tingkah keduanya.


...***...


Sekolah Yve.


Vee mendengus kesal sekaligus khawatir saat di dalam ruang Kepala Sekolah.


Yazza melirik sinis saat melihat Vee sibuk mencoba menelepon ke nomor Yve.


“Percuma saja! Aku juga sudah berkali-kali menghubunginya tadi,” desis Yazza.


Vee menatap pria di sebelahnya, dia merasa bersalah karena sempat tidak mempercayai suaminya.


Bu Kepala Sekolah tampak memberikan selembar kertas kepada Yazza, “Kami memohon maaf pak! Meskipun kami sangat menghormati pak Yazza, kami tidak bisa tinggal diam dalam hal ini!”


Yazza mulai membaca isi tulisannya.


Seketika rahangnya kembali mengeras, dengan geram dia mencengkram kertas di tangannya.

__ADS_1


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2