
Pak Ardi berbisik kepada Yazza.
Mendengar kalimat dari orang kepercayaannya ini, bisa membuatnya tercengang membelalakkan mata.
Seorang wanita mengaku mempunyai anak darinya dan wanita itu sudah menunggu di kopi shop depan kantor.
Yazza sudah bisa menebak siapa wanita itu.
“Carikan tempat tinggal untuk mereka!”
“Tuan?” terkejut menyipitkan mata, “Anda yakin?”
“Minta untuk tes DNA. Dan jika dia memang benar. Segera selesaikan. Jangan sampai dia berbicara ke publik.”
“Ah, saya mengerti maksud anda. Menahan untuk mengontrolnya.”
“Selanjutnya anda tahu apa yang harus anda lakukan!”
“Baik tuan!” Pak Ardi menunduk hormat sebelum akhirnya pergi.
Tangan kanan Yazza datang menemui Yunna.
“Nona yang mengirim pesan itu?”
Melihat sekeliling, “Dimana pak Yazza?”
“Jika dia muncul saat ini, akan menarik banyak perhatian. Beliau memintaku untuk memberikan ini.”
Menyodorkan kartu kunci apartemen.
Yunna menyipitkan mata menatap pak Ardi.
“Beliau sudah menyiapkan tempat untuk kalian, dan beliau ingin test DNA terlebih dahulu. Jika anak ini memang anaknya, beliau akan segera menemui anda dan bertanggung jawab.”
Tersenyum senang, “Sungguh?”
“Apapun yang nona butuhkan, bilang saja ke pelayan.”
“Pelayan?”
“Pak Yazza mengirim satu pelayan untuk membantu anda merawat bayi ini.” Melihat bayinya, “Siapa namanya?”
“Tidak akan kuberitahu untuk saat ini!”
“Ah baiklah.” Pak Ardi tidak memaksa.
Yunna tidak menyangka, dia akan diperlakukan dengan baik. Dia sangat senang dan tidak sabar untuk menceritakan kepada Vee.
Vee yang melamun di atas kapal tiba-tiba mendapat pesan masuk.
'Vee tebak, apa yang terjadi?'
'Yazza mau bertanggung jawab setelah tes DNA terbukti!'
'Bahkan sekarang dia memberiku apartemen yang sangat mewah. Juga seorang baby sitter.'
'Aku tidak bisa menelpon sementara ini.
Entahlah, aku merasa baby sitter ini seperti mata-mata juga sih. Jika aku meneleponmu, takutnya akan ketahuan dan kamu akan terseret juga.'
'Intinya, mereka begitu baik sejauh ini. Aku tetap harus waspada bukan?'
Vee yang membaca pesan itu merasa sedikit bingung.
Sebenarnya, Yunna benar-benar baik atau dia juga merasa ada yang aneh di sana.
Memikirkan itu membuatnya semakin tidak tenang. Vee menghela nafas panjang, mulai mengetik pesan balasan.
'Ya, tetap waspada!'
'Dulu dia memintamu tutup mulut dan sekarang sepertinya sama. Hanya saja caranya berbeda.'
'Jangan biarkan orang asing masuk ke dalam.'
'Awasi terus baby sitter itu. Jangan sampai dia berbuat buruk kepada Yve.'
Seperti yang Vee pinta.
Yunna cukup waspada kepada baby sitter ini.
Siang tadi, pak Ardi sudah membawa sample rambut Yve untuk melakukan tes DNA.
***
H-1 Hari Kejadian.
__ADS_1
Yazza melempar kertas hasil DNA ke lantai dengan kesal.
“Bereskan semua bukti yang ada hingga tidak ada lagi yang tersisa!” geram Yazza.
“Malam ini juga akan saya bereskan.”
“Tunggu sampai besok! Malam ini adalah malam peringatan kedua orang tuaku. Aku tidak mau menyamakan hari sialnya dengan hari kematian orang tuaku!”
“Baik tuan!”
Vee ditemani para pelaut tengah menabur bunga dari atas kapal ke tengah lautan.
Sekali dalam satu tahun, dia dan para pelaut lokal akan mengadakan acara tabur bunga serta doa atas kepergian teman-teman mereka.
Ada sebuah kejadian besar yang dulu pernah terjadi hingga menelan banyak korban jiwa.
Saat itu usia Vee baru 8 tahun. Dia ikut ayahnya melaut bersama beberapa pelaut lainnya.
Gelombang laut memang tidak stabil malam itu, angin dan badai.
Ayah Vee mendengar teriakan meminta tolong.
Suara keributan terdengar jelas. Mereka berteriak meminta tolong.
Ada kapal yang terbalik.
Kapal itu membawa banyak penumpang, kekacauan terlihat sangat jelas.
Para nelayan segera mengirim signal bantuan.
Beberapa diantaranya segera terjun ke laut untuk menyelamatkan orang-orang yang berjuang untuk hidup.
Vee pun ikut membantu terjun ke lautan.
Ayahnya menyuruh dia membawa seorang pria muda yang sudah sangat kedinginan.
Tepat saat Vee sudah berada di atas kapal untuk membantu anak itu tersadar, tiba-tiba gelombang tinggi datang dan menyapu orang-orang.
Ombak menyeret mereka yang masih di lautan.
Dia berteriak histeris memanggil ayahnya dan hendak ikut terjun.
Paman Mail menahannya. Gadis kecil itu berontak dan berteriak tak terkendali.
Ada yang hilang dan ada yang ditemukan.
Ayah Vee dan beberapa pelaut lainnya ikut menjadi korban hilang saat hendak menyelamatkan para penumpang kapal.
Meski mereka yang meninggal diberi penghargaan oleh pemerintah, sebagai pahlawan.
Tetap saja tidak bisa menyembuhkan luka kehilangan bagi para keluarga pelaut.
Termasuk Vee.
Pak Ardi cukup tercengang saat dia berhenti di dekat pelabuhan.
Dia menoleh ke belakang.
Yazza tampak duduk termenung melihat ke arah lautan.
“Kenapa tuan tiba-tiba mengajak kesini?” tanya pak Ardi.
Sudah lima belas tahun Yazza tidak pernah mendekati pelabuhan dan perairan lagi.
Trauma terberat baginya saat kehilangan kedua orang tuanya pasca kecelakaan kapal laut.
Dia begitu bersikeras mengajak orangtuanya berlibur ke pulau sebrang dengan menaiki kapal waktu itu.
Siapa sangka, keinginannya itu justru membuatnya kehilangan kedua orang tuanya.
Mereka tenggelam dan tidak pernah ditemukan, hanyut bersama keceriaan dan senyumnya.
Dan sejak kejadian itu, Yazza menjadi pribadi yang sangat dingin dan jarang sekali tersenyum.
Dia dibesarkan oleh kakeknya yang tegas dan cukup dominan.
Yazza terbiasa hidup dalam aturan yang sangat ketat dan serius.
Kakeknya selalu menuntut yang terbaik darinya, dan sampai sekarang, sifat itu masih terbawa.
Yazza selalu berusaha dengan maksimal dan bersungguh-sungguh untuk mencapai target sempurna.
Menjadi pebisnis sukses di usia muda adalah berkat didikan keras kakeknya itu.
__ADS_1
“Sudah dibelikan bunga kesukaan mama?” tanya Yazza datar.
Mengangguk, “Biasanya tuan hanya memperingati di rumah duka?”
Menghela nafas, “Tahun ini, aku merasa tidak mau mendoakan sebuah foto lagi.” Membuka pintu mobil.
Pak Ardi ikut turun membawa seikat lili putih.
Dengan ragu Yazza melangkah menuju pesisir pantai.
Pak Ardi mengikuti.
Ada beberapa orang yang juga menaruh bunga dan berdoa di pesisir pantai.
Mungkin mereka semua adalah keluarga korban yang sedang memperingati hari duka itu.
Langkah Yazza terhenti begitu melihat sebuah kapal menepi ke pelabuhan.
Dia membalikan badan, memejamkan mata, masih tidak sanggup melihat kapal laut.
“Pak, taruh bunganya di sana. Aku akan menunggu disini!”
“Baik tuan!” pak Ardi langsung menuju pesisir pantai.
Vee turun bersama para nelayan lain.
“Vee, besok mau ikut berlayar tidak?” tanya salah seorang.
“Bukannya ada peringatan hujan badai?”
“Tidak melaut tidak makan!” sahut paman Mail.
Mencibir, “Sepertinya aku hendak ke kota.”
“Menyusul temanmu itu?”
“Aku khawatir dengan mereka.” Menunduk sedih.
“Pakai saja truk ku. Sekalian setor ikan! Hehehe.” Terkekeh.
Tersenyum, “Siap ndan!” cengingisan melihat ke kerumunan orang.
Vee tampak mencari seseorang, "Sudah lama sekali tidak melihat kakek itu!" gumamnya.
"Mencari Cangkang kerang?" tanya paman Mail.
Vee mengangguk.
"Dengar-dengar sih sudah pindah keluar kota." sahut paman yang lainnya.
Vee mencibir, "Cihh! Tidak berpamitan denganku!" kesal menatap ke arah para pelaut, “Aku duluan kalau begitu. Sampai jumpa besok paman-paman!” Vee melambai melangkah pergi.
“Hati-hati!” sahut paman Mail.
“Awas digodain si bangkotan itu!” goda yang lainnya.
Vee hanya terkekeh sambil terus berjalan.
Vee melihat seorang pria yang sangat rapi berdiri sendirian membelakangi pantai.
Yazza menoleh saat Vee melewati sampingnya.
Vee cukup terkejut melihatnya.
Keningnya berkerut dengan eskpresi tidak percaya.
"Kenapa dia disini?" batin Vee.
Deg!
Seperti ada hentakan saat melihat tatapan Vee.
Yazza menyipitkan mata, "tatapan mata itu lagi!"
Vee segera membuang muka dan mempercepat langkahnya.
“Nona!” panggil Yazza.
Vee berhenti dan menoleh.
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Yazza bertanya spekulatif.
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
__ADS_1
...>))))>' '<((((<...