RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
HAKIKAT SEORANG ISTRI (Part 1)


__ADS_3

BEBERAPA JAM SEBELUMNYA


Mbak Rosi masih saja menangis sesenggukan di dalam mobil. Wanita itu duduk tepat di sebelah Vee.


Pak Karno dan pak Ardi sama-sama kebingungan dalam situasi ini. Mereka gelisah memikirkan tentang bagaimana caranya melenyapkan mbak Rosi jika Vee saja malah mengawal target utamanya.


Kalau sampai mbak Rosi sampai ke kampungnya, jelas akan sangat sulit bagi mereka untuk bertindak.


Masalahnya, kampung mbak Rosi hanyalah kampung kecil. Siapapun orang asing yang keluar masuk kampung tersebut, sudah jelas akan mudah dihafal.


“Pak Ardi, kita ubah haluan ke hotel Teratai Putih,” ucap Vee datar.


“Hah?” pak Ardi sontak terkejut mendengar perintah itu.


Pak Karno pun juga langsung menoleh ke belakang, “Hotel?”


“Kenapa tiba-tiba pendengaran kalian menjadi berkurang?” tanya Vee impressive sedikit memiringkan kepala.


“Emb … maksud kami … kami hanya terkejut!” pak Karno tersenyum salah tingkah.


“Tapi kalau boleh tahu, kenapa kita justru ke sana?” tanya pak Ardi melihat dari spion atas.


Mbak Rosi juga sama penasarannya menatap nyonya di sebelahnya.


“Mbak Rosi, kami mau saja percaya jika mbak memang tidak bersalah. Tapi apakah mbak Rosi bersedia menginap di hotel untuk sementara? Sampai kita benar-benar menemukan bukti dan kebenaran yang sesungguhnya,” masih dengan ekspresi datar yang sama, Vee menoleh menatap pembantunya.


“Menginap di hotel?” ulang mbak Rosi mengernyit bertanya-tanya.


Vee mengangguk, kembali melihat ke depan.


“Semua orang di rumah percaya jika mbak Rosi memberi racun pada kek Gio! Mereka akan memandang mbak Rosi dengan sebelah mata, terutama suamiku … dia pasti tidak akan suka jika melihat mbak Rosi masih di sana!”


Mbak Rosi tampak membelalakkan mata menatap Vee.


“Jika mbak Rosi mau menuruti permintaan saya … saya berjanji akan membantu ! Mbak tidak merasa melakukan kejahatan dalam kasus ini kan?”


“Benar nyonya! Saya berani bersumpah, saya tidak pernah ada sedikitpun niat untuk mencelakai tuan besar!”


“Kalau begitu … artinya mbak Rosi juga bersedia menginap di hotel untuk sementara ini kan?” tanya Vee, sedikit menolehkan kepala.


Wanita itu mengangguk dengan penuh keyakinan, ada sedikit senyum kelegaan dan binar bahagia saat menatap majikan wanitanya.


Vee ikut tersenyum kali ini, “Mbak Rosi juga harus berjanji, mbak tidak boleh keluar kamar tanpa seijin saya! Makanan dan segala kebutuhan mbak Rosi akan disediakan petugas hotel. Intinya … selama mbak Rosi mau menuruti permintaan saya, saya akan menjadi satu-satunya orang yang percaya jika mbak Rosi memang tidak bersalah!”

__ADS_1


“Nyonya! Saya tidak bersalah … karena nyonya sudah berkata demikian, maka saya akan membuktikan kepada nyonya bahwa saya memang tidak bersalah!”


“Ingat … jangan kabur dan jangan sembarangan keluar! Tunggu sampai mendapatkan ijin dari saya!”


Mbak Rosi mengangguk antusias, “Saya tidak akan kabur! Dan saya akan mengikuti semua perkataan nyonya!”


“Bagus! Jangan mengecewakan saya,” Vee tersenyum sembari menepuk-nepuk pelan lengan mbak Rosi.


Mendengar semua kalimat yang Vee ucapkan, kembali membuat Pak Karno dan pak Ardi saling bertukar pandang satu sama lain. Mereka dibuat kebingungan dengan apa yang sebenarnya Vee rencanakan.


Sesampainya di hotel, manager menyambut pak Ardi.


Pria ini tidak terlalu mengenali Vee yang sekarang menjadi istri pemilik hotel. Dia hanya sempat melihat Vee satu kali saat acara resepsi, itu saja saat Vee mengenakan make up, terlihat jauh berbeda ketika saat ini mereka kembali berhadapan.


Begitu pak Ardi mengenalkan Vee, pria itu langsung memberikan salam hormat dan meminta maaf karena terlambat mengenali.


“Astaga! Maafkan saya bu Presdir!” sesal pria itu.


Tentu saja Vee tidak mengambil hati dalam hal sepele ini, tanpa basa-basi, Vee langsung menjelaskan kepada manager tentang apa yang dia mau.


“Berikan kamar ternyaman dengan fasilitas yang lengkap! Mbak Rosi mungkin masih sangat awam dan tidak begitu memahami tentang memanfaatkan fasilitas hotel … jadi saya meminta bantuan anda untuk mengajari mbak Rosi saat dia hendak memesan makanan atau meminta sesuatu nantinya!”


“Baik ibu Presdir … saya pasti akan membantu beliau!”


Manager tampak kebingungan menatap ke arah tangan kanan Yazza.


Pak Ardi mengangguk, berisyarat agar Manager menuruti permintaan Vee.


“Anggap saja mbak Rosi adalah tamu istimewa yang langsung saya bawa ke sini! Jadi … jika sampai pelayanan kalian tidak bagus, saya akan melaporkan penilaian ini ke pak Yazza!”


Pria itu membelalakkan mata menatap Vee, “Aa … emb! Ibu tidak perlu khawatir … kami pasti akan menunjukan yang terbaik!”


“Ya … kalian juga bisa menganggap kalau saya sengaja mengirim mbak Rosi untuk memberikan nilai evaluasi pekerjaan kalian,” ucap Vee santai menyilangkan tangan di perut.


“Emb … ba … baik ibu! Terima kasih sudah memberikan peringatan di awal! Dengan begitu, kami bisa termotivasi untuk memperbaiki dan berusaha bekerja dengan sepenuh hati untuk tamu istimewa ibu Presdir!”


Vee tersenyum tipis menatap pak Karno dan pak Ardi bergantian.


“Kalau begitu kami harus pergi sekarang. Ingat … layani mbak Rosi dengan baik!”


“Siap bu!” pria itu setengah membungkuk memberi hormat.


Vee berjalan menuju pintu keluar meninggalkan ruang kantor Manager untuk menemui mbak Rosi di luar ruangan.

__ADS_1


Begitu Vee keluar, Manager tampak langsung menghempaskan nafas panjang sembari mengendurkan dasinya.


Pak Ardi menoleh ke arah pria itu, “Kenapa? Kamu terlihat terbebani dengan permintaan nyonya Gionio?”


Pria itu tersenyum salah tingkah, “Aa … emm … bukan begitu! Ini pertama kalinya saya merasa seciut ini di hadapan seseorang selain pak Yazza!”


Pak Ardi tersenyum tipis menertawakan, “Bagaimana? Seakan terintimidasi?”


“Nah tepat sekali! Saya rasa beliau memang cocok jadi istri pak Yazza! Aura kewibawaannya kuat sekali,” puji Manager melihat ke arah pintu yang sudah tertutup.


Pak Ardi menepuk bahu Manager hotel, “Atur saja seperti yang nyonya Gionio pinta!”


“Baik pak!” Manager mengangguk hormat.


Pak Ardi dan pak Karno berjalan menuju pintu keluar.


Begitu ketiganya meninggalkan hotel, lagi-lagi dua pria paruh baya ini di buat bertanya-tanya karena Vee justru mengajak mereka ke apartemen lamanya.


Dan yang lebih mengejutkan, sudah ada Leo dan Icha di sana.


“Well … aku tahu, kalian pasti sangat kebingungan dan bertanya-tanya saat ini,” Vee melihat ke semua orang yang sudah duduk di ruang tamu.


“Sebenarnya saya juga tidak tahu apa-apa! Tapi karena anda mengirim pesan untuk bertemu di sini, saya langsung menyanggupinya,” Icha menatap Vee penuh tanda tanya.


“Dan kenapa anda juga meminta saya untuk membawa semua bukti kasus tuan besar ke sini?” sahut Leo sama penasarannya.


“Leo!” tegur pak Ardi membelalakkan mata.


Pria itu sangat terkejut ketika mendengar pernyataan Leo yang membawa barang bukti kasus yang seharusnya di rahasiakan, terutama di hadapan Vee.


Vee tersenyum tipis, “Pak Ardi! Ini bukan salah Leo … saya menggunakan handphone Yazza untuk mengirim pesan padanya!”


“Yeah … dan saya terjebak sampai tidak bisa menolak permintaan nyonya Gionio!” ucap Leo pasrah bersandar santai di punggung sofa.


“Kalian semua, termasuk Yazza … sudah menyembunyikan sesuatu dariku kan? Dan aku tahu, Yazza hanya tidak mau aku terlibat di dalamnya!”


Dengan tatapan penuh makna, Vee tersenyum tipis ke semua orang.


“Ini pula yang akan kita bahas … alasan kenapa saya mengajak kalian semua berkumpul di sini!”


“Nyonya Vee! Apa yang sebenarnya anda rencanakan?” pak Ardi tampak khawatir.


...-@,@- To Be Continue -@,@-...

__ADS_1


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2