RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
FREEZE : Weird Feelings


__ADS_3

Saat Yunna bangun, dia hanya tinggal sendirian di sana.


Dia cukup senang bisa tidur dengan Yazza.


Dengan riang gembira, dia mengambil semua pakaiannya dan membawanya ke kamar mandi.


...***...



Vee membuat sarapan dari bahan-bahan yang ada di lemari pendingin apartemen Yunna.


Jam Sembilan lebih di hari minggu. Dan Yunna masih belum juga kembali.


Baru saja dia memikirkan tentang sahabatnya, pintu terbuka dan Yunna masuk dengan ceria.


“Morning beb!”


“Dasar gila!” gumam Vee dari balik pantry.


Menghirup aroma, “Harumnya, aku merindukan telur dadar gulung buatan bestieku!” mendekat.



“Mandi sana, menjijikan!”


Mencibirkan bibir, “Cih! Aku sudah mandi.”


“Paling tidak ganti pakaian dulu!”


Yunna yang sempat duduk kembali berdiri.


“Aku selalu merasa punya ibu setiap kali serumah denganmu!” mengangkat kedua bahunya sebelum akhirnya berjalan menuju ruang ganti dengan santai.


Vee hanya terkekeh pelan melanjutkan memasak.


Yunna sudah mengganti pakaiannya, dia kembali ke pantry, “Jadi gimana? Tidak tersesat semalam?”


“Enggak dong. Aku sudah sering datang ke kota ini, meskipun cuma mengantar ikan saja sih! Tapi jangan khawatir, aku sudah sangat hafal dengan jalannya. Terlebih menuju apartemen jorok ini!”


Melihat sekeliling, “Eh …, sudah bersih dan rapi! Wow sungguh ibu yang baik!” tersenyum sok imut menatap ke arah Vee.


Sebutir bawang merah melayang dan mendarat di kepala Yunna yang tengah asyik duduk sembari menggigit roti.


“Hya!” protes Yunna kesal.


Vee terkekeh, “Hahaha! So, gimana having fun-nya?”


Manyun, “Dia sudah pergi saat aku bangun!”


“Cih, dia pasti malu dengan apa yang dia lakukan!”


“Meski tidak sadar karena mabuk. Sungguh, rasa bos memang beda. Mantap sekali!”


Vee mengernyit jijik, “Hih!”


Tersenyum sipu, “Tapi sungguh deh! Dari sekian banyak pria, dia memang yang paling hebat sih!”


“Hya, hentikan pembicaraan jorok ini!”


“Dih, padahal kamu yang mancing-mancing duluan!” protes Yunna mencibirkan bibir.


Vee hanya tersenyum melihat ekspresi sahabatnya.


Ada keraguan yang terbenam di hatinya.


Dia sudah memikirkan tentang hal ini semalaman.


Meski merasa tidak enak hati pada Yunna, tapi keputusan Vee sudah bulat.


“Em ..., aku sudah memutuskan sesuatu," ucapnya ragu-ragu.


“Apa?” Yunna menatap penasaran.


“Aku tidak mau satu kantor dengan mu!” tegas Vee memantapkan diri.


“Eh kenapa?” jelas saja, kalimat yang Vee ucapkan membuatnya terkejut.


Mengangkat teflon yang digunakan untuk memasak telur.


Yunna segera membalik piring.


Seperti sudah hafal dengan gerakan Yunna, Vee langsung menaruh telur dadar gulung di atas piring yang Yunna tadahkan di hadapannya.


“Aku tidak mau memiliki boss mesum seperti itu!” Vee kembali menegaskan.


“Dia biasanya jauh lebih dingin dari es di kutub dan jauh lebih panas dari lahar saat dia marah loh!” sembari memotong-motong telur dadar gulung.



Vee teringat ketika Yazza tiba-tiba menciumnya.


Tidak ada pria yang melakukan hal seperti itu kepadanya sebelum ini.


“Pokoknya aku tidak mau. Aku akan melamar pekerjaan ditempat lain!” membalikan badan menaruh teflon kembali ke atas kompor.


“Tapi dimana?” tanya Yunna.


Vee menunjuk Koran, “Ada banyak kantor yang sudah ku tandai.”



Yunna menarik Koran di sebelahnya.


Ada beberapa lingkaran merah di bagian lowongan pekerjaan.


“Eh, ini kantor White Purple lumayan juga loh. Semoga keterima di sana!"

__ADS_1


“Benarkah?” menopang dagu dengan kedua tangannya, ikut melihat Koran dihadapan Yunna.


“Ya, meski aku masih berharap kamu sekantor denganku sih,” mencicipi telur dadar gulung buatan Vee.


“Emm ... ini …,” menunjuk salah satu nama perusahaan yang dilingkari, “G Corporation, jangan kesini! Kantor ini adalah rival perusahaanku. Takutnya hubungan kita jadi tidak baik jika kamu ke sini!”


Vee mengangguk-angguk.


“Datang saja dulu ke White Purple. Dengan nilai kelulusan mu, sudah jelas akan dipertimbangkan sih!”


“Oke,” jawab Vee tanpa keraguan.


Tentu dia akan sangat mudah percaya dengan semua yang Yunna katakan.


Tersenyum, “Ambilkan nasi!” rengek Yunna.


Vee mencibir lalu mengambilkan nasi untuk sahabatnya.


“Manja!”


 


...***...



Senin pagi.



Daniel bersama ayah dan ibunya berkumpul untuk sarapan pagi.


Sangat jarang sekali ini terjadi.


Bukan karena kesibukan masing-masing.


Mereka sebenarnya keluarga yang sangat sempurna dan bahagia. Jarang berselisih paham dan saling menghargai satu sama lain.


Sejak lulus dari perguruan tinggi luar negeri, Daniel memang memilih untuk melanjutkan hidup sederhana dengan mandiri.


Bahkan saat ayahnya hendak membawanya ke kantor untuk langsung mengisi posisi tinggi, Daniel justru menolak dan meminta agar ayah dan assisten ayahnya merahasiakan identitasnya kepada siapapun.


Dia ingin mencari tahu seberapa jauh keahliannya sendiri, untuk merintis pekerjaan dari bawah meskipun di perusahaan milik ayahnya.


Ibunya sempat cemas dengan keputusan Daniel.


Tapi ayahnya justru bangga.


Dengan begitu, Daniel akan tahu, betapa susahnya memulai bisnis dari bawah.


Daniel membeli rumah kecil di blok perumahaan kota.


Ini yang membuatnya jarang berkumpul dengan keluarga.


Dia sesekali akan menginap di rumah aslinya, terutama ketika akhir pekan saja.


Daniel juga menolak semua fasilitas kemewahan yang sebenarnya sudah dia miliki.


“Sudah lebih dari satu tahun! Kamu masih bertahan?” tanya ayahnya, pak Fauzan.


“He'um, manager sudah melihat kemampuanku. Dia juga semakin menambah tugas baru untukku. Sepertinya aku akan segera naik jabatan!” Daniel cengingisan.


“Nak kamu kurus sekali,” bu Risma menuangkan sayur ke piring Daniel.


“Ma! Aku tidak suka itu!” rengek Daniel manja.


“Makan yang banyak mumpung di rumah!” tegas ibunya.


Pak Fauzan tersenyum, “Jadi bagaimana rasanya hidup dengan gaji sendiri?”


“Aku masih sangat beruntung sebenarnya. Tidak perlu membagi gaji ku untuk orang tua ataupun cicilan rumah dan kendaraan,” memikirkan sesuatu, “Haruskah aku memulai itu juga dari awal? Mencicil rumah baru dan sepeda motor baru?”


“Cih, kurang bersyukur sekali!” cibir ibunya.


“Ma, aku hanya ingin tahu beratnya kehidupan bagi rakyat menengah kebawah. Begitu aku menjadi pemimpin suatu hari nanti, aku tahu apa yang harus kulakukan untuk menunjang karyawan di kantorku agar terjamin dan lebih baik kinerjanya.”


“Setidaknya carilah pacar juga agar ibu tidak khawatir!” celetuk ibunya.


“Khawatir?” Daniel menyipitkan mata.


Pak Fauzan berdehem, mengambil gelas berisi air putih dan buru-buru meminumnya dengan salah tingkah.


“Ibu meneliti pergaulan remaja pria di luar Negeri ...-"


“Sayang!” pak Fauzan berisyarat mata memotong kalimat istrinya.


Daniel mengernyit, “Sebenarnya apa yang kalian pikirkan tentang aku?”


Ibu Daniel menghela nafas panjang, “Di sana banyak sekali kaum LGBT. Ibu khawatir!”


Daniel langsung terkekeh mendengarnya, “Hahaha!”


“Kenapa kamu malah tertawa?” protes ibunya.


“Mama overthinking!” Daniel menggelengkan kepalanya gemas.


Tiba-tiba dia teringat dengan gadis yang dia lihat semalam.


Menoleh ke arah ayahnya, “Eh iya! Bagaimana Papa bisa jatuh cinta kepada Mama?”


Pak Fauzan menyipitkan mata, “Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?”


“Hanya ingin tahu,” tersenyum sipu.


Salah tingkah melihat istrinya, “Mamamu gadis yang cukup cuek dengan para laki-laki di sekolah. Dan saat melihatnya begitu jutek kepada pria-pria yang mencoba menggodanya. Papa justru semakin jatuh cinta. Bahkan saat pertama melihat mama saat ospek, Papa sudah merasa jika Papa akan menikahinya suatu saat nanti. Mamamu akan semakin imut saat dia kesal!” mengerlingkan mata genit kepada istrinya.


Senyum bu Risma merekah “Ah kamu ini,” tersipu malu menyenggol lengan suaminya.

__ADS_1


Keduanya tersenyum mengingat keromantisan masa muda mereka.


Daniel mendengus membuang muka sembari menopang dagu.


Lagi-lagi dia teringat dengan gadis itu.


Benar-benar persis seperti yang ayahnya katakan.


Wanita yang dia temui semalam juga terlihat semakin imut saat kesal.


“Kurasa aku baru saja melihat yang seperti itu juga!” gumamnya tersenyum gemas.



“Hah?” ibunya menoleh terperangah.


“Ah tidak. Ayo selesaikan makan. Aku harus berangkat sebelum Papa sampai kantor!” kembali menyantap makanan, “Dan Mama jangan berpikir aneh-aneh! Aku normal, hanya saja fokus dulu ke karir!” ucap Daniel dengan mulut penuh makanan.


“Jangan bicara saat makan nanti tersedak!” mengelus punggung putranya.


Daniel tersenyum manja menatap kedua orangtuanya.


Pak Fauzan dan bu Risma ikut tersenyum melihat putra semata wayang mereka.


...***...


Vee sudah bersiap dengan pakaian hitam putih.


“Beneran nggak mau interview di kantorku saja? Jelas keterima loh!” tanya Yunna.


“Ih, enggak. Serem ah!”


“Ya sudah! Ku antar deh sampai ke perusahaan White Purple!”


“Kan berlawanan arah. Aku naik angkot saja!” Vee tersenyum.


“Tapi Vee …-”


“Masih meremehkan aku?” potong Vee, “Aku tidak akan tersesat. Sungguh!”


“Ya kan, kamu jarang ke kota. Itu saja ke kota langsung ke pasar untuk menyetor ikan,” Yunna masih saja mencemaskan sahabatnya.


Memukul kepala Yunna dengan CV-nya, “Aku juga menyetor ke berbagai restaurant di seluruh pelosok kota. Jangan mengkhawatirkanku!”


“Cih, memangnya apa yang perlu dikhawatirkan darimu. Aku justru khawatir dengan orang yang akan kamu temui. Kasihan, jika mereka membuat kesalahan sedikit saja, kamu pasti akan mengomeli dan menghajarnya!”


“Hahaha!” terkekeh mencibir, “Kamu pikir aku Preman yang menghajar semua orang?"


“Hahaha!” ikut terkekeh, “Bahkan Preman pasar saja takut pada ocehan mu!”


“Sudah, aku mau berangkat!”


Yunna mengangguk, “Hati-hati!” melambai manja.


Vee tersenyum melambai sebelum keluar dari apartemen sewaan milik Yunna.


...***...


Yazza menyetir sambil menelepon.


Dia marah-marah kepada tangan kanannya.



“Gimana sih pak? Lahan itu tidak boleh jatuh ke G Corporation donk!”


Tiba-tiba mobilnya berhenti.


“Shit!”


Ia semakin kesal.


“Tuan? Apa yang terjadi?” tanya pak Ardi khawatir.


“Pak, mobil saya ada masalah. Bukankah saya sudah menyuruh anda untuk menyuruh orang untuk servis beberapa hari yang lalu?” turun hendak memeriksa mesinnya.


“Saya sudah menyuruh orang untuk mengurusnya tuan!”


“Lalu kenapa mogok sekarang!” sentak Yazza.


“Tuan dimana?”


Melihat sekeliling, “Kantor White Purple!”


Vee turun dari angkot, tepat di dekat mobil Yazza.


Begitu membayar, angkot pun berlalu.



Vee membelalakkan mata, terkejut melihat pria di dekatnya.


Yazza tidak sengaja menoleh, dia melihat Vee yang sedang menatapnya.


Aneh!


*Kenapa tubuhku membeku, dia menatapku seperti ini, aku seharusnya memarahinya. Kenapa tiba-tiba aku tidak bisa bicara!


Apa ini!


Ada apa dengan diriku?


Tatapan itu, ekspresi itu, sungguh tidak asin*g!


Yazza menatapnya frustasi.


__ADS_1


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2