RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
DI BAWAH TEKANAN


__ADS_3

Menyipitkan mata, “Kenapa begitu?” tanya kek Gio.


“Aku sudah terbiasa merawat putriku seorang diri!” tegas Vee masih berdiri memprotes.


Kek Gio menarik nafas panjang lalu menghempaskannya kembali.


Dengan penuh kasih sayang, beliau meraih tangan Vee, menggenggamnya erat, “Vee! Putrimu juga seorang gadis. Suatu saat jika dia hendak menikah, dia membutuhkan seorang wali. Dan karena ayahnya masih hidup juga mau bertanggung jawab, kenapa masih berkeras kepala?”


“Tapi kek …-“


“Kalian sudah memiliki putri sekarang!” potong kek Gio menegaskan.


“Pikirkanlah tentang putri kalian …,” menghela nafas panjang, “kalian berdua sama-sama tidak memiliki orang tua sejak kecil. Seharusnya kalian memahami perasaan yang Yve rasakaan saat tahu orangtuanya tidak utuh!” lanjut kek Gio menegaskan.


Vee kembali menunduk.



Tentu dia tidak melupakan tentang pembicaraannya dengan wali kelas Yve beberapa waktu yang lalu.


“Kakek melihat tumbuh kembang kalian berdua dan kakek sangat tahu kesepian dalam hati kalian! Bahkan meskipun kakek selalu mencoba menghibur kalian, ruang kasih sayang dari kedua orangtua tetap saja tidak akan bisa tergantikan!”


Kesedihan yang tiba-tiba menyeruak di dalam hati Vee, membuat selaput air bening mengaburkan pandangannya.


Memang benar yang kek Gio katakan.


Dia sangat ingin seperti orang lain yang memiliki orang tua.


Yang bisa mengambilkan raport saat kenaikan kelas dan yang bisa hadir memenuhi undangan dari sekolah.


Orang tua yang akan mengajaknya pergi liburan bersama dan orang tua yang bisa di ceritakan kepada teman-teman sekelasnya.


Ada satu perasaan yang baru Vee sadari, Yve bisa saja memendam perasaan yang dulu pernah dia rasakan itu.


Pantas saat ada acara sekolah dia begitu muram.


Pasti anak itu juga ingin membanggakan sosok orang tua yang sangat menyayanginya kepada teman-teman di sekolah.


Dan sekarang Yve tahu jika Yazza adalah ayahnya.


Apakah Vee tega memisahkan kentalnya hubungan darah?


“Lihat saja, dia begitu bahagia bersama kalian berdua!” kek Gio tersenyum melihat ke arah Yve.


Rasa bersalah dan gejolak kegetiran memenuhi relung hati Vee.


Bukankah dia sudah menipu semua orang saat ini?


Seandainya kalian semua tahu jika dia bukan putriku!


Apakah akan masih membicarakan tentang pernikahan?


Orang yang seharusnya Yazza nikahi sudah tidak ada lagi di dunia ini


Yunna … apa yang harus aku lakukan sekarang?


Kecamuk getir kepedihan memenuhi relung hati Vee.


Dia tidak akan berani mengungkapkan, pertanyaan demi pertanyaan.


Yeah, dia hanya bisa memendamnya seorang diri.


Kek Gio adalah salah satu orang baik yang Vee kenal selain paman Mail.


Bagaimana bisa dia sampai hati menipu beliau juga?


Dilema yang dia rasakan tentu membuatnya semakin gelisah tidak tenang.


Bahkan meskipun Vee bisa saja mendapat perlindungan dari kakeknya Yazza, tetap saja dia tidak bisa jujur tentang identitas Yve.


Masalahnya, sekarang ada pada Yve.

__ADS_1


Apa yang akan Yve rasakan jika anak itu tahu jika aku bukan ibu kandungnya?


Bagaimana jika Yve membenci dan meninggalkanku?


Bukankah anak itu akan lebih memilih tinggal bersama ayah kandungnya?


Batin Vee sembari memejamkan mata.


Jujur saja, Vee tidak menginginkan hal itu terjadi. Dia sangat takut jika Yve tidak lagi sayang padanya dan lebih memilih Yazza.


Aku tidak mau kehilangan Yve!


Dia adalah putriku!


Kembali bergumam dalam hati.


 


...***...


Yazza mengendong Yve yang tertidur dari dalam mobil.


Mereka kembali ke Villa ketika sudah sangat larut.


Kek Gio menyuruh mereka menginap, tapi Yazza lebih memilih kembali ke Villa.


Vee sehabis mandi di kamar sebelah.



Hanya berbalut handuk, dia berjalan keluar mencari pakaiannya di dalam koper.


Vee tidak menyangka Yazza akan masuk dan datang di saat yang tidak tepat.


Dia pikir, Yazza akan tetap di kamar Yve seperti kemarin.


Ceklek …


Suara pintu terbuka.


Dengan panik dia membalikan badan.


Menoleh menatap tajam ke belakang.


“Apa-apaan ini!”


Yazza tampak menutup pintu dari dalam.


Matanya terus menatap lekat ke arahnya.


“Hya … keluar!” tegas Vee.


Yazza menaruh jarinya di bibir, “Shhh … putri kita akan terbangun!” desis Yazza mendekat.



Vee kembali membalikan badan, berjalan mundur perlahan masih sembari menutupi bagian atas tubuhnya.


Setiap langkah kaki Yazza membuat degup jantungnya kian tidak menentu.


“Pergilah!” meskipun hanya mendesis, tekanan nadanya sangatlah tegas.


"Ayo mengobrol sebentar,” tersenyum sedikit memiringkan kepalanya


"Tunggu di luar sampai saya selesai berganti pakaian!"


Menggeleng tersenyum melihat bagian atas Vee, "Itu tidak perlu!"


Semakin tidak nyaman menutupi badannya, "Sungguh … haiz! Anda ingin dihajar ya!"


“Rasanya aku yang sangat ingin menghajarmu kali ini!” sorot mata Yazza semakin mengerikan.

__ADS_1


“Dasar pria mesum! Keluar!” tegas Vee sekali lagi meski hanya mendesis.


Tersenyum, “Kamu tahu? Aku masih sangat terkejut dengan semua kenyataan ini. Penyelamat hidupku, menjadi ibu dari anakku dan sekarang, kamu akan segera menjadi istriku.”


“Jangan asal bicara! Siapa yang setuju untuk menjadi istri anda!” melotot tajam.


"Waktu itu aku sudah tidak memiliki harapan hidup saat terombang-ambing di lautan. Yang pertama dan terakhir ku lihat adalah tatapan matamu!” ujarnya lembut.


Seolah tidak memperdulikan ketidaknyamanan Vee, Yazza terus saja mendekat.


“Pak Yazza! Saya sudah melupakan kejadian itu! Jika tidak ada hal lain lagi … sebaiknya anda keluar!” semakin waspada.


Yazza tetap acuh.


Dia masih tersenyum dalam setiap langkahnya, “Sejak saat itu aku yakin jika peri itu memanglah ada!”


Sial.


Punggung Vee sudah mentok ke meja hias dekat pintu kamar mandi.



“Peri itu terlihat manis sekali meski dalam kegelapan. Sorot matanya bisa membawaku kembali ke cahaya. Dia memberiku kesempatan untuk hidup satu kali lagi!" langkah pelannya kian pasti.


"Jangan banyak omong kosong! Itu hanya kebetulan!" mencoba mencari sesuatu sebagai pegangan.


Disahutnya ornamen hiasan kecil dari atas meja.


Yazza menggeleng, "Itu takdir … tidak akan kubiarkan peri itu pergi lagi, bahkan meski harus memotong sayapnya sekalipun!"


"Kurasa anda memang seorang psikopat!" mengacungkan patung ke tepat ke wajah Yazza, “Jangan mendekat!”


"Tidak peduli benar atau salah. Selama kita bisa bersama … aku merasa hidupku terlihat begitu sempurna!"


Dengan gerakan tidak terbaca, Yazza merebut patung di tangan Vee.


“Hya!” terkejut membelalakkan mata.


Yazza menaruh patung itu kembali ke tempat semula, tubuhnya condong sangat dekat di hadapan Vee.


"Sepertinya anda sedang mabuk!" Vee berusaha melewati Yazza, hendak menuju pintu keluar.


Detik berikutnya, dia berhasil menarik lengan Vee.


Membuat tubuh wanita itu tertarik mendekat ke arahnya.


Dengan gerakan anggun, dia langsung mengunci pinggang Vee dengan sebelah tangannya.


“Anda sudah gila!” Vee berusaha mendorong Yazza untuk melepaskan diri.


Yazza tidak menggubris, dia menunduk mendekatkan kepala mengecup bibir Vee.



Dengan sekuat tenaga Vee mendorong Yazza dan menamparnya.


PLAAAK!!!


Yazza justru tersenyum memegang pipinya, “Ini sudah pernah terjadi. Rasanya masih saja sama!” desis Yazza menatap Vee yang tampak tersudutkan.


Handuk yang membalut Vee nyaris melorot.


Saat Vee fokus menahan untuk membenahkan, Yazza langsung mendorong dan menindihnya di atas kasur.


Vee berontak melotot tajam mencoba mendorong Yazza.


Sangat mudah mengunci lengan wanita itu.


Yazza tersenyum menatap mata Vee yang sekarang tepat ada di bawah wajahnya.


__ADS_1


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2