
Gerry sudah mengemas seluruh barangnya ke dalam koper.
Karena dia sudah berencana kembali membawa pulang Berli ke rumahnya, tentu dia juga harus keluar dari kediaman Tasya.
“Ger! Kenapa sih … kamu sulit sekali di nasehati!” tegur kakaknya, Ganny.
“Maaf mas! Bukannya aku tidak mau mendengarkan mas Ganny, tapi aku dan dia sudah sangat lama tinggal bersama. Rasanya seperti ada yang kurang jika dia tidak ada,” bantah Gerry sembari memegang gagang koper.
Tasya hanya berdiri cemberut menyilangkan tangan di perut menyandar di dekat daun pintu.
“Halaah … kemarin kalian sudah hampir bisa berpisah! Wanita itu tidak baik untukmu! Dia tidak bisa apa-apa!”
“Justru itu mas! Aku kasihan padanya! Selama ini dia bergantung padaku … dan sekarang dia di luar sana seorang diri. Aku kepikiran tentang bagaimana dia bisa bertahan hidup!”
Tasya tampak tersenyum sengit, mendengus membuang muka.
Gerry pandai sekali berakting di depan kakaknya!
Jelas-jelas dia ingin menyingkirkan wanita itu!
“Pokoknya mas tidak setuju jika kamu terus—menerus dimanfaatkan olehnya!”
“Begini saja deh … aku janji akan membuat Berli berubah! Saat ini sekretaris ku yang lama kabur entah kemana, dan posisi itu kosong. Mungkin Berli cocok di posisi itu … jadi waktunya juga tidak akan habis untuk bersenang-senang lagi.”
“Dia hanya akan mempersulit pekerjaanmu!” bantah Ganny tegas.
“Mas … berikan kesempatan untuk Berli! Aku akan bicara padanya … aku yakin dia pasti juga akan bisa berubah kok!”
Ganny menghela nafas panjang menatap lekat adiknya.
“Mas … anggap saja aku sedang meminta kesempatan terakhir untuk masalah ini! Misalkan nanti Berli tidak kunjung berubah … aku akan menuruti semua kemauan mas Ganny … termasuk untuk tidak menemuinya lagi!”
“Kamu sungguh serius dengan wanita itu?”
Gerry terdiam membuang muka.
“Ger! Aku tahu kalau kamu suka main-main dengan banyak wanita. Tapi aku heran … kenapa kamu mempertahankan satu wanita ini di rumahmu selama bertahun-tahun tanpa bisa lepas darinya! Sebenarnya apa yang sudah dia lakukan padamu? Dia sama sekali tidak memiliki bakat dalam berbagai hal … atau dia mengancam mu dengan sesuatu? Rahasia misalanya!”
Deg!
Meski tidak sepenuhnya yang di katakan Ganny adalah sebuah kebenaran. Tapi ada satu poin yang memang benar.
Berli memang memegang rahasia G Corporation. Meski wanita itu tidak pernah mengancam, tapi Gerry yang terlalu overthinking terhadapnya.
Untuk mengantisipasi segala kemungkinan terburuk, tentu Gerry tidak mau mengambil resiko.
Satu-satunya jalan adalah, membawa Berli kembali dan tetap memberikan kepercayaan jika wanita itu adalah satu-satunya orang yang sangat Gerry cintai.
“Well … baiklah! Ini kesempatan terakhir! Jika wanita itu masih saja menganggur untuk menghabiskan uangmu secara terus-menerus … mas sendiri yang akan mengusirnya secara kasar!”
Gerry menghela nafas panjang menatap kakaknya, “Aku akan memegang omonganku!”
...***...
Leo sudah menunggu di saat Berli keluar dari lobby apartemen.
__ADS_1
Dengan menenteng rantang makanan, dia tersenyum bergegas menghampiri.
“Hi … maaf membuatmu menunggu lama!” membuka pintu dan langsung masuk.
Karena kedua tangannya membawa bawaan, dia terlihat cukup kesulitan saat memasuki mobil.
“Hya! Apa kamu mau membuat nyonya Gionio semakin sakit?” dengus Leo membantu Berli menaruh bawaannya tanpa bergerak dari bangku kemudi.
“Apa maksudmu?” menutup pintu sembari melirik ke arah Leo.
“Kamu tidak pernah belajar dari kesalahan atau bagaimana sih?” mulai menyalakan mesin, “Lupa dengan kejadian terakhir kali saat kamu membawa makanan untukku?”
“Ahhh … itu!” Berli tersenyum meringis menggaruk kepala, “Kali ini aku sudah mencicipinya kok! Enak!”
Leo memicingkan mata, menatap curiga, “Tidak yakin!”
“Haiz! Aku tidak bisa terus-menerus jajan makanan di luar! Untuk bertahan hidup, aku harus masak sendiri. Aku mulai belajar dari yang mudah-mudah dari video tutorial memasak!”
“Terus?”
“Ya … tidak terlalu buruk! Nyatanya aku bisa memasak sekarang!”
Melirik rantang bawaan Berli, “Lalu itu isinya apa?”
“Ini hanya bubur! Membuatnya tidak terlalu sulit!”
“Yakin sudah di coba?” Leo masih curiga.
Berli mengeluarkan kotak makanan dari tas bawaannya yang lain, “Nah … aku juga sudah menyiapkan untukmu. Coba saja!” mengulurkan ke arah Leo yang sudah menyetir memasuki jalanan.
“Hya! Aku sudah mencobanya! Tidak buruk!”
“Tidak buruk?” mencibir, “berarti ada kemungkinan tidak enak?”
“Hya! Kenapa sudah menilai sebelum mencoba?”
“Sebaiknya jangan berikan masakan mu ke nyonya Gionio!”
Berli mencibir gemas setengah melotot menatap Leo, “Buka mulutmu!”
Wanita itu langsung membuka kotak makanan, mengambil sendok dan mengambil sesendok bubur di dalamnya.
“Hya … aku sedang menyetir!” Leo tampak ketakutan menggeser duduknya mentok ke pintu.
“Aku tahu keangkuhan mu dalam berpendapat! Jika ini enak, diam saja … tidak perlu memuji atau mengatakan apapun!” Berli menyodorkan satu sendok bubur ke mulut Leo.
Pria itu mengatupkan bibir sembari menggelengkan kepala.
“Aku akan terus memaksa jika kamu masih menolak!” Berli berkeras terus menyodorkan ke arah Leo.
“Iya … iya baiklah!” Leo mengalah, membuka mulut masih sembari menyetir.
“Nah gitu dong!”
Dengan terpaksa Leo menelan bubur masakan Berli. Tanpa mengatakan sepatah katapun dia mengunyah dengan pandangan mata lurus ke depan.
__ADS_1
“Bagaimana?” Berli tersenyum sedikit memiringkan kepala.
Leo masih terdiam, dia menelan makanan di mulutnya, masih melihat ke jalanan.
Berli tersenyum kembali mengambil sesendok buburnya, “Oke … jika diam … artinya enak!”
Memang tidak seburuk seperti sebelumnya.
Meski Leo tidak mengatakannya … Ia akui, kemajuan skill memasak Berli memang berkembang pesat.
“Sini, makan lagi! Kamu pasti belum sarapan kan?” kembali menyodorkan sesendok bubur.
“Hya … sudah kubilang! Aku sedang menyetir!”
“Tinggal menguyah saja … apa susahnya!” memaksa memasukan ke mulut Leo.
“Hya!” protes Leo memperlihatkan ekspresi enggan. Meskipun begitu, dia tidak menolak dan terus mengunyah.
Gengsi, mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan sikapnya saat ini.
Pria itu tidak akan memuji ataupun membuat orang lain terlihat lebih hebat darinya.
Dia memang berbakat dalam menilai orang lain, tapi hasil dari pengamatannya, hanya akan dia simpan untuk dirinya sendiri.
Tidak perlu menunjukan diri, juga tidak perlu banyak berbicara jika diam saja sudah bisa menyelesaikan segalanya.
Seorang pengacara tentu sudah pasti paham, mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang baik dan mana yang hanya menginginkan pembenaran.
Ada sesuatu hal yang menarik dari dalam diri Berli. Bahkan jika penjahat saja masih diberi kesempatan untuk menyewa pengacara, bukankah masih ada kemungkinan jika orang jahat, tidak sepenuhnya jahat?
Bisa saja dia hanya terlalu polos dan berada di tempat yang salah.
Hanya perlu menggunakan kacamata yang bisa melihat dari sisi lain untuk bisa melihat hal—hal yang tidak bisa di lihat oleh orang lain.
Jika pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang, lalu kenapa orang yang tidak pernah mengenal justru ikut-ikutan menghakimi kesalahan orang lain?
Leo mendapat teguran dari Icha malam tadi.
Begitu mengamati kedekatan Leo dan Berli, Icha langsung berkomentar agar Leo tidak terjebak oleh tipu daya wanita itu.
Yeah … semua orang menilai Berli sebagai wanita yang buruk. Terlebih dia pernah mengkhianati Yazza, bahkan wanita itu sudah bertahun-tahun mengikuti musuh utama Yazza, Gerry.
Tapi tidak bagi Leo … jika dia menyamaratakan semua orang sesuai pandangan publik, bagaimana dia bisa mencari keadilan untuk kliennya?
Yang dia tahu, Berli tidak seburuk seperti yang di pikirkan orang-orang di sekitarnya.
Lalu apa salahnya jika dia berdiri pada keteguhan hatinya?
Meskipun harus bertentangan dengan banyak orang, dia hanya akan tetap bertahan dengan keyakinannya.
Karena dia memang tahu, mana yang buruk dan mana yang baik untuk dirinya.
Yeah … itulah Leo dengan pendirian dan karakter kuatnya.
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
__ADS_1
...>))))> ' ' <((((<...