
Berli mulai merasa bosan hanya berdiam di dalam apartemen.
Dia ingin sekali pergi shopping, akan tetapi dia sudah tidak punya uang sama sekali.
“Apa aku pinjam uang dulu ke Raya yah?”
Mengambil handphone.
Berkali-kali Berli mencoba meneleponnya, dan berkali-kali pula di reject.
“Gila ya anak ini!” melempar handphonenya ke sofa, “Amel sama Ellen juga! Tiba-tiba kenapa pada menghilang semua sih!” gerutunya.
Berli berdiri dengan kesal hendak menuju kamar mandi.
“Kenapa Gerry tidak mencari ku?” menggerutu lirih sembari berjalan.
Tepat di depan kamar Yve, Berli mendengar tawa cekikikan.
“Yes, I will! Kita akan menikah dan menjadi keluarga yang bahagia!”
“Dih, pasti si freak itu!” gumam Berli lirih.
Pintu tidak tertutup rapat, ada celah kecil untuk melihat ke dalam.
Berli mengintip.
Dania memegang dalaman pria, mengajaknya berdansa seolah sedang berdansa dengan seseorang.
“Pak Yazza! Saya akan melakukan yang terbaik untuk anda, sampai pak Yazza tidak akan pernah bisa berpaling lagi dari saya!” tersenyum-senyum sendiri melihat dalaman itu.
Berli langsung menarik diri menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya membelalak terkejut.
Dia kembali mengendap duduk di sofa, menyembunyikan kakinya di bawah selimut.
“Astaga! Dia benar-benar orang gila!” memeluk kedua lututnya yang terbalut selimut, “Mengerikan sekali!”
Kembali meraih handphonenya.
...***...
Raya mencibir melihat layar handphone miliknya.
Berli mencoba melakukan panggilan video kali ini.
“Dasar, masih saja tidak tahu diri! Dia itu sudah menjadi sampah yang terbuang. Tidak selevel denganku!” melihat ke arah ruang kerja Gerry, “Saatnya aku menggantikan posisinya!” berdiri sembari merapikan rambut.
Dengan sengaja Raya melepas dua kancing atas kemeja putih tipisnya.
Gerry tampak terkejut saat Raya tiba-tiba masuk.
“Ketuk pintu dulu!” tegur Gerry.
“Maaf!” menutup pintu lalu berjalan genit mendekat.
Raya duduk di ujung meja, sengaja menyilangkan kaki untuk memperlihatkan pahanya ke Gerry.
“Aku sedang sibuk! Tidak bisa bermain-main sekarang!” fokus melihat laptop.
“Aku dengar, wanita itu sudah angkat kaki dari rumahmu? Jadi kalian sudah putus?” menopang dagu manja dengan sebelah tangan, menunduk begitu rendah sengaja memperlihatkan belahan dadaanya.
“Mas Ganny yang sudah mengusirnya!”
“Lagipula, dia juga sudah tidak ada manfaatnya kan?”
Tersenyum menatap Raya, “Kenapa kamu tidak mengerjakan tugasmu? Kita sedang di bawah tekanan Paradise sekarang!”
Menarik dasi Gerry dengan manja, “Sayang, aku bisa membantumu melepaskan segala kepenatan dalam hatimu! Bukankah aku lebih baik dari Berli? Kenapa tidak mengakui aku sekarang?”
Tersenyum menarik dasinya, “Dengar! Jangan karena aku memuji permainan ranjangmu, lantas kamu menjadi besar kepala dan mulai banyak menuntut! Pahamilah posisimu! Kamu itu tidak lebih dari toilet umumnya G Corporation! Jadi tetap saja fokus menjadi toilet umun dan jangan meminta untuk menjadi toilet pribadiku!”
Raya tercengang mendengarnya.
Perlahan senyumnya pudar, dia kembali duduk tegak menatap Gerry.
__ADS_1
“Kenapa? Tidak terima di bilang begitu? Kamu aku anggap special karena berkat kamu, kolega-kolegaku menjadi tertarik berbisnis dengan kita. Kamu berhasil memuaskan mereka dengan sangat baik. Cukup pertahankan saja prestasimu itu! Jangan khawatir, aku akan terus menaikan gaji mu!”
Raya mendengus kesal turun dari meja, “Tidakkah kamu melihat ketulusanku? Aku melakukan itu semua hanya untuk dirimu! Kenapa masih merendahkan aku seperti ini?”
Mendengus tersenyum, “Jadi kamu mau diakui?”
Menatap Gerry, “Ya!”
“Akan kuberi satu syarat, jika kamu berhasil melakukan hal ini, aku akan langsung memberimu cincin tunangan!”
Tersenyum antusias, “Apa yang harus aku lakukan?”
Tersenyum sinis, “Paradise sedang melihat kita. Aku dengar, pemilik Paradise sudah lama menduda, dia juga tidak dekat dengan siapapun. Jika kamu berhasil mendekatinya dan membuat dia mau berdamai dengan kita, aku akan menuruti apapun yang kamu mau!”
“Maksudmu pak Hirza?” menyipitkan mata.
“Siapa lagi?”
“Bukankah dia seorang ‘Biksu’, bagaimana aku bisa mendekatinya?”
“Biksu hanya julukan, lagipula dia sudah pernah menikah dan mempunyai anak. Itu artinya, dia memang tertarik pada wanita!”
“Gerry! Ini sulit sekali!”
“Atau paling tidak, jika tidak bisa menarik hatinya … buat saja supaya dia mau mengampuni kita!” tersenyum mencibir, “Ada dua opsi bagimu untuk lebih dekat dengannya.”
“Apa?”
“Pertama, dia mempunyai adik angkat yang masih SMA, kamu bisa menggodanya. Dan kedua, dekati anaknya yang masih SD itu, jika dia merasa nyaman denganmu, kamu akan ada kesempatan untuk lebih dekat dengannya!”
Raya tampak memikirkan kata-kata Gerry.
Gerry mendengus mencibir tersenyum sebelum akhirnya kembali fokus melihat ke layar laptop.
...***...
Vee membuka pintu apartemennya.
Berli langsung berdiri menyambut, “Vee sudah pulang?” melihat ke arah pintu, “Kok sendirian?”
“Ah, begitu!” melihat ke arah Dania yang sedang membersihkan kaca jendela, “Vee, kamu dapat pengasuh itu dari mana sih?” desis Berli.
Menyipitkan mata, “Kenapa memangnya?”
Dania berdehem menatap tajam Berli.
“Ah, astaga! Aku lupa, mie cup ku pasti sudah mengembang!” berjalan menuju sofa dengan ketakutan.
Vee tersenyum berdecak menggeleng, duduk di dekat pantry.
“Kamu tidak mandi dan berganti pakaian dulu?” tanya Berli.
“Aku harus mengemas pakaian. Mandinya nanti sekalian ketika semua sudah beres!”
“Hah? Mengemas pakaian?”
“Astaga! Aku lupa memberitahumu, aku harus pindah ke rumah Yazza hari ini. Tapi jangan khawatir, aku hanya akan membawa pakaianku kok! Jadi kamu tetap bisa menginap di sini sementara waktu.”
Ngeri melihat Dania, “Dia juga akan tinggal di sini?”
“Karena dia pengasuh Yve, tentu saja dia akan ikut kami. Apa kamu takut sendirian?”
Tersenyum lega, “Lebih baik sendirian sih!” ketimbang harus bersama Dania tentunya.
“Bagus deh kalau begitu!” Vee mengambil handphone tepat ketika pintu terbuka.
Yve masuk disusul Yazza.
“Baru mau aku tanyakan sudah sampai mana,” menatap Yazza kembali menyimpan handphonenya.
“Kenapa masih bersantai?” Yazza melirik ke arah Vee.
Mencibir, “Cih, aku juga baru sampai rumah!” berdiri, “Mbak Dania, bantu Vee mengemas bajunya, sekalian bawaan mbak Dania juga!”
Tersenyum ramah, “Baik bu!”
__ADS_1
Berli mencibir, “Dia sungguh bermuka dua!” desisnya bergumam lirih.
Vee melihat wajah muram putrinya.
Tidak biasanya Yve seperti itu.
Vee mendekat, jongkok di hadapan Yve, “Tuan putriku kenapa?”
“Dia minta martabak telur. Aku malas mengantri!” ucap Yazza menjawab sembari berjalan menuju kamar utama.
Vee menghela nafas panjang tersenyum mengelus rambut Yve, “Ya sudah nanti mama beliin ya?”
Yve mengangguk.
“Jangan cemberut lagi dong! Jadi bagaimana hari ini di sekolah?”
“Semua anak di sana cukup ramah. Tadi juga ada kelompok anak yang mengajak Yve main bersama mereka. Kata mereka, Yve pantas masuk kelompok mereka karena ada yang mengenal papa Yazza.”
Tersenyum menyipitkan mata, “Genk cewek?”
“Tapi mereka aneh, masak katanya kalau sudah menjadi bagian dari mereka, Yve tidak boleh berteman lagi dengan orang sembarangan. Mereka cukup ditakuti anak-anak yang lain dan Yve juga tidak berani menolak ajakan mereka.”
Vee menghela nafas panjang lagi, “Sayang, jika kamu merasa tidak nyaman bersama mereka, kenapa takut untuk menolak ajakan mereka? Kamu berhak berteman dengan siapapun yang kamu mau!”
“Yve sudah janji sama papa jika Yve tidak mau lagi membuat masalah dan berkelahi di sekolah!”
Tersenyum, “Anak mama pintar sekali sih!”
“Yve nggak mau papa marah lagi!” kemabli menunduk muram.
Melihat kesedihan putrinya, tentu membuat Vee ikut kepikiran.
Kenapa nasib anak ini begitu sulit sih!
Cukup Yunna yang sudah mengalami pahitnya hidup. Jangan sampai kesialan Yunna juga turun pada putrinya!
Cukup keceriaan dan semangat Yunna saja yang harusnya diwariskan ke Yve!
Vee mengelus wajah Yve bergumam dalam hati.
“Sekarang Yve berkemas dulu ya, abis itu mandi dan kita akan tinggal di rumah baru!”
Yve kembali mengangguk.
“Senyum nya mana?” Vee pura-pura cemberut menggoda Yve.
Yve tersenyum gemas. Jari mungilnya menarik garis bibir Vee membentuk senyuman.
“Mama juga harus tersenyum!”
Vee gemas menciumi dada Yve, “Hmph, bau aceem!”
“Ma, Yve sudah delapan tahun!” tapi gemas ikut memeluk mamanya.
Vee terkekeh, “Ya sudah sana gih! Mama juga harus segera berkemas!”
Mengangguk lalu berlari kecil ke kamarnya.
Berli tersenyum melihat mereka.
Kelihatan menyenangkan sekali mempunyai anak!
Menghela nafas panjang mengingat masa lalu.
Jika aku tidak menggugurkan kandunganku waktu itu, mungkin anakku sudah sebesar anak Yazza!
Ckkk!
Harusnya aku tidak menuruti permintaan Gerry dan tetap menjaga kandunganku sampai melahirkan!
Dengan begitu aku akan punya alasan untuk tetap menuntut supaya Gerry tidak meninggalkanku!
Ahh … bodoh sekali aku ini!
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
__ADS_1
...>))))> ' ' <((((<...