
Malam Sebelumnya.
Tasya, Tisya dan Gerry datang menemui pak Rudi setelah menerima undangan resmi Paradise.
Tasya tidak mengerti kenapa harus melibatkan Gerry lagi di sini.
"Nanti kamu minta maaf lagi saja pada pak Rudi! Jangan menunjukkan sikap tidak sopan dan sombong," Tasya memperingati sembari mengelus rambut Gerry.
"Kenapa sih harus membawa Gerry juga?" tanya Tisya yang duduk di depan, di samping Mr.X yang tengah mengemudi.
"Apa kali ini aku yang akan dibunuuh olehnya?" Gerry ketakutan menggenggam tangan Tasya.
Tasya menggeleng, "Tidak … jangan khawatir aku pasti akan melindungi mu," mencoba menenangkan Gerry.
Sesampainya di restauran Jepang, mereka langsung disambut oleh seseorang. Orang itu membimbing mereka menuju tempat di mana pak Rudi sudah menunggu.
Sementara di ruangan lain, Hirza dan Hans sudah duduk santai melihat dari rekaman CCTV.
"Mas, aku sampai tidak bisa tidur memikirkan tentang hal ini! Tujuan mas bro yang sebenarnya itu apa sih? Bukankah mas bro mau melumpuhkan kekuatan mereka supaya mereka tidak lagi semena-mena dan terus-menerus mencoba mencelakai nona Vee? Tapi kenapa mas bro malah memberi Gerry kekuatan dan kekuasaan?" tanya Hans memprotes.
Dengan sikap tenang, Hirza tersenyum menatap layar Tv besar, "Memang sih, dia akan lebih memiliki kekuatan … tapi akan lebih mudah juga untuk mengendalikannya! Mencelakai sesama kelompok lain secara terang-terangan, akan mendapat teguran dan punishment yang berat dari mas Rudi … bukankah Gerry akan menjadi lebih terkendali setelah ini?"
"Tunggu, jadi mas bro memberi kekuasaan hanya untuk membatasinya?" Hans tersenyum mencibir, "Kenapa aku tidak berpikir sampai ke sana!"
"Tugas selanjutnya bagi kita adalah … menyeret Yazza masuk ke Shadow! Raja hutan harus kembali ke tempat yang seharusnya … bahkan meski dia tidak akan pernah diijinkan untuk kembali, kita harus tetap membuatnya kembali!"
"Eh … benar! Bukankah keluarga Gionio adalah founder kelompok Shadow? Kenapa mereka menjauhkan diri dan malah menghindar?"
Hirza menunduk sedih, “Kamu masih ingat saat aku bilang, aku merasa bersalah pada Yazza?”
Hans mengernyitkan dahi menatap Hirza impresif, “Ya … aku ingat. Apa mas sudah siap menceritakannya sekarang?”
Pria itu menganggukkan kepala tipis, “Awalnya aku cukup ragu, tapi baru-baru ini aku menemukan kebenarannya … semuanya kembali lagi kepada kekuasaan dan hasrat menjadi penguasa!”
“Maksud mas? Aku semakin tidak mengerti,” ucap Hans bersikap serius kali ini.
__ADS_1
"Ini karena keegoisan ayahku dahulu. Seharusnya yang dipilih untuk menikahi putri Paradise adalah Yazza. Tapi karena takut jika Sky Light menjadi redup, ayahku melakukan hal yang curang.”
“Dia memang berhasil menyingkirkan anak dan menantu pendiri Shadow, tapi ternyata nasib masih menyelamatkan Yazza dari kecelakaan besar tersebut!”
“Sejak saat itu, founder Shadow menyerahkan segala urusan kelompok yang dia bangun ke tangan kanannya … yeah, siapa lagi kalau bukan Mr. Bald! Dan sampai saat ini aku tidak tahu … apakah Yazza sudah tahu identitas aslinya, atau kakeknya masih merahasiakan dari dirinya!"
Hans menggelengkan kepala menatap Hirza penuh tanda tanya, "Lalu kenapa mas merasa bersalah?"
“Kamu yang seharusnya lebih paham … bagaimana rasanya kehilangan orang tua di usia yang masih sangat belia!”
Dengan tatapan sendu, Hans menunduk terdiam tanpa bisa berkata-kata.
“Lagipula, ada hal yang lebih aku sesalkan dengan kejadian itu!”
“Apa itu mas?”
"Seandainya jika ayahku tidak sembarangan memutuskan, pasti Yazza yang ada di posisiku ini. Sementara aku … aku yang akan bersanding dengan Vee!" tersenyum pilu menatap kosong layar Tv yang menunjukan rekaman CCTV.
Mendengar kalimat yang kakaknya lontarkan, tentu membuat Hans merasa sedih.
Kasihan sekali kisah Hirza yang harus mencintai tanpa berharap balas untuk dicintai.
“Tapi mas … bukankah waktu itu kalian masih anak-anak? Bagaimana bisa masa depan anak-anak menjadi urusan persaingan orang dewasa?”
“Ayah mertuaku melihat bakat dari keluarga Giono, dan dia mulai tertarik menaikkan derajat Shadow, bahkan dia berencana menjodohkan anaknya dengan cucu pendiri Shadow.”
“Dari situ, ayahku mulai merasa terancam dan mulai merencanakan pelenyapan Yazza dan keluarganya. Meski Yazza masih selamat, tapi setelah kejadian itu kek Gio mengajukan pengunduran dirinya. Ayahku selalu mengawasi, sampai dia benar-benar yakin jika pendiri Shadow sudah meninggalkan hutan kekuasaannya.”
“Setelah yakin mereka tidak akan lagi masuk dalam bisnis ini, akhirnya ayahku melepaskan Yazza dan tidak lagi berusaha untuk menyingkirkannya,” pungkas Hirza masih menatap layar Tv.
Hans membuang muka, menatap lurus ke luar jendela, “Tidak disangka, dunia ini ternyata lebih gelap dari yang aku bayangkan. Rasanya matahari saja tidak cukup untuk menjadi penerang!”
...***...
Gerry, Tasya dan Tisya sudah duduk di hadapan pak Rudi. Mereka tampak penasaran melihat senyum yang pak Rudi lemparkan.
"Tidak disangka, kita bertemu lagi secepat ini," basa-basi Tasya.
"Aku sudah mengambil keputusan untuk masalah yang kalian hadapi," pria paruh baya itu tersenyum tipis dengan gaya tenang.
__ADS_1
Tasya menatap pak Rudi tersenyum lega, "Sepertinya kami masih bisa diselamatkan, benar kan?"
"Tepat sekali,” menuangkan teh di gelasnya sendiri. “Tapi hanya dengan satu syarat!"
"Satu syarat?" ulang Tasya menyipitkan mata dengan kening mengkerut.
Pak Rudi menggeser pandangan menatap Gerry, "Aku tidak cukup yakin, kalian akan siap mendengarkan tentang ini atau tidak!"
Melihat tatapan mata pak Rudi, Gerry langsung menunduk gemetaran.
Bayang-bayang tentang kejadian saat Raya harus matii di depan matanya kembali teringat dengan jelas.
Seolah Tasya memahami kegelisahan Gerry, dengan lembut dia menyentuh pahaa pria itu dengan sebelah tangan.
Tasya berusaha tenang kembali menatap pak Rudi, "Kenapa begitu? Apa syaratnya cukup berat?"
"Aku sudah berbicara kepada petinggi Paradise … dia memberikan penjelasan yang masuk akal. Terlepas dari masalah bisnis antara Sky Light dan Nirwana, aku sendiri setuju dengan pendapatnya," ucap pak Rudi datar.
Keempat perwakilan Strom termasuk Mr. X yang duduk di dekat pintu tampak tegang menunggu kelanjutan kalimat pak Rudi.
"Nirwana bukan lagi milik Nirwana yang dulu. Suamimu Ganny sudah memegang kendali, dan dia sama sekali tidak tahu tentang bisnis lain yang kamu jalankan ini! Secara tidak langsung, Strom sudah kehilangan kekuatan … itu sebabnya Paradise mencoba membersihkan yang tidak berguna."
"Jadi … ini bukan karena kami pernah menyinggung Sky Light?" tanya Tasya.
"Itu menjadi alasan bahan penilaian dari petinggi. Well … kalian dianggap tidak lagi berguna bagi kelompok! Karena pada dasarnya, Paradise selalu memikirkan fungsi dan manfaat … bukan hanya tetang alasan pribadi atau dendam semata," ujar Pak Rudi menatap Tasya masih degan nada datarnya.
"Lalu … syarat apa yang mereka berikan untuk mempertahankan kami?"
"Mengganti pemimpin dan tugas utama bagi Strom!"
"Apa? Mengganti pemimpin … maksud anda?" Tisya setengah meninggikan nada.
Tasya langsung menyenggol adiknya, "Tenang dulu," desis Tasya lirih.
"Gerry akan menjadi pemimpin baru Strom," ucap pak Rudi tanpa menatap lawan bicaranya.
Semua yang di sana membelalakkan mata menatap pak Rudi yang justru mengambil sushi menggunakan sumpit dan dengan santai mencelupkannya ke dalam kecap asin.
Mendengar keputusan itu, membuat Gerry diam terkejut dengan nafas yang terasa kian berat di rongga dadaa.
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
__ADS_1
...>))))> ' ' <((((<...