
Berli memiringkan sedikit kepalanya, matanya menyipit menatap Gerry semakin dalam.
“Keningmu mengeluarkan keringat di tempat yang dingin ini? Apa kamu sakit?” tanya Berli dengan polosnya.
Yeah, wajah Gerry memang langsung pucat pasi pada saat itu juga.
Pria itu mengusap keningnya, “Ahh tidak,” tampak mulai salah tingkah, “Ra … Raya, dia … dia kabur entah kemana! Bagaimana aku bisa mencarinya!”
“Tapi kamu sudah melaporkan dia ke polisi kan?”
Gerry semakin ketar-ketir mendengar kalimat terakhir Berli, “Hah? Po … poli … si?”
“Yeah! Polisi!” ucap Berli dengan yakin, “Mereka pasti bisa membantu menemukan Raya lebih cepat!”
“Emb … itu … e … anu! Su … sudah kok!”
Menyipitkan mata, “Kamu kenapa sih? Kenapa gelapagan?”
Melihat jam tangan, “Sepertinya aku sudah terlambat! Ada meeting pagi ini,” Gerry bergegas berdiri, “Aku berangkat dulu!”
Berli tersenyum, “Hati-hati sayang!”
Gerry balas tersenyum mengecup kening Berli, sebelum akhirnya berjalan terburu-buru meninggalkan kekasihnya.
Lega sekali akhirnya bisa menghindari pembicaraan tentang Raya.
Sampai sekarang, perasaan bersalah dan tatapan tajam Raya saat dia terakhir menghembuskan nafas dengan buih dimulutnya masih saja terngiang dengan jelas di ingatannya.
Gerry menoleh sedikit ke belakang, menatap ke arah Berli dengan senyum licik.
Untung saja dia mudah dialihkan perhatiannya!
Gumamnya dalam hati.
...***...
Sekolah Xean.
Mobil Cadillac hitam terparkir di sebrang jalan. Seluruh kaca mobilnya tampak gelap hingga tidak memungkinkan orang dari luar melihat isi dalamnya.
Mobil itu sudah di sana bahkan sebelum gerbang sekolah di buka.
Seorang pria tua duduk memegang cerutu di bangku depan samping supir.
Meski rambutnya sudah memutih, dan kulitnya sudah berkerut, tapi tubuhnya masih terlihat kekar.
Terdapat bekas luka panjang melewati mata kanannya.
“Tidak biasanya kamu meminta permintaan seperti ini!” ucapnya santai.
Dua orang duduk di belakang.
Seorang pria berpakaian dokter dan seorang wanita dengan seragam suster.
Wanita itu adalah wanita yang kemarin mengenakan seragam pasien rumah sakit jiwa.
Tanpa menjawab, dia terus melihat ke luar jendela.
__ADS_1
Sekolah sudah mulai ramah oleh murid yang berdatangan.
Sampai saat mobil mewah berhenti dan tiga orang turun, barulah dia duduk tegak tersenyum tipis menatap ke arah mereka.
Xean turun bersama Hans dan ayahnya, Hirza.
“Pa, nanti sepulang sekolah aku harus ke mana? Kantor atau Rumah Sakit?” tanya Xean.
“Papa ke kantor hari ini. Biar mas Hans atau Ozzy yang menjemut nanti!”
Xean mengangguk, “Kalau begitu aku masuk dulu!”
Hirza mengangguk.
Begitu Xean masuk, Hans langsung menghela nafas panjang. Dan itu langsung menarik perhatian Hirza.
“Kenapa?” tanyanya menyipitkan mata.
“Mas jangan menoleh! Arah jam tiga … sepertinya salah satu dewa sedang turun untuk mengawasi!”
Hirza tersenyum santai menatap Hans, “Kali ini dewa dari mana?”
“Dari mobilnya … sepertinya si seribu tangan, Mr. Marko!” jawab Hans yang memunggungi mobil Cadillac hitam di sebrang jalan
“Ahh … salah salah satu yang paling loyal kepada tuan lamanya!”
“Aku heran … orang yang seharusnya beristirahat, kenapa masih sibuk ikut campur dengan generasi yang sekarang?”
“Mungkin mereka berpikir jika kita tidak bisa lebih baik dari mereka. Entah tidak percaya, atau meragukan kemampuan orang lain!”
“Anggap saja ini batasan,” Hirza membuka pintu mobil. “Sebaiknya kita cepat pergi sebelum mereka menyadari jika kita sudah tahu tentang keberadaannya!”
Hans mengangguk menuruti perintah kakak angkatnya.
“Bahkan orang ini punya seribu tangan … bukankah terlalu kurang kerjaan jika turun langsung?”
“Abaikan saja!” dengan cuek Hirza masuk ke dalam mobil.
Seolah seperti tidak terjadi apa-apa, keduanya segera menjalankan mobil meninggalkan area sekolah.
***
Daniel sudah menunggu di dekat sekolah Yve sejak pagi.
Sengaja agak jauh agar tidak ketahuan oleh orang yang akan mengantarkan Yve.
Dia sudah membuat janji dengan Tisya dan Caesar untuk pergi jalan-jalan hari ini.
Yve tampak sangat senang dan antusias sekali saat semalam Daniel menelepon untuk mengabari tentang rencana ini. Itu sebabnya pagi ini dia tampak sangat ceria.
Daniel tersenyum senang saat melihat Yve turun dari mobil.
Begitu mobil yang mengantarnya melaju pergi, Yve tampak celingukkan mencari Daniel.
Handphone Yve berbunyi, segera dia mengambil dari dalam tas.
“Hallo … lem tikus kamu di mana?” tanya Yve masih celingukkan.
__ADS_1
“Emb … di bagian kiri sekolah! Mobilku di bawah pohon samping jalan. Cepat kemari!”
Tersenyum melihat mobil putih Daniel, “Oke … aku melihatnya!” berlari kecil.
“Eh … jangan lari! Hati-hati nanti tersandung!” Daniel merasa seakan jantungnya meloncat keluar begitu melihat Yve berlari di samping jalan raya.
Meskipun kenyataannya Yve sudah berada di jalan pedestrian yang semestinya, tetap saja itu membuat Daniel khawatir.
Gadis itu cekikikan di sepanjang jalan, “Aku tidak sabar mau bermain bom bom car bersama Caesar!”
“Iya, tapi hati-hati saja!” Daniel menghempaskan nafas panjang, ketar-ketir karena banyak kendaraan yang berlalu lalang.
Yve sampai di samping mobil Daniel.
Pria itu langsung membukakan pintu dari dalam, “Hai ratu ikan kecil! Masih tidak mau duduk di depan saat satu mobil denganku?” mematikan panggilan.
Yve mencibir menyimpan kembali handphonenya, “Baiklah kali ini aku akan di depan,” ucapnya sembari masuk lewat pintu depan.
Daniel tersenyum gemas melihat polah tingkah anak itu, “Tutup sendiri!”
Sembari menutup pintu, Yve kemabli mencibirkan bibir, “Hya … aku tahu itu! Tidak mungkin kita berjalan dengan pintu yang masih terbuka kan?” celetuknya membuat Daniel makin gemas.
“Hya … bukankah kamu berjanji akan bersikap manis padaku?” goda Daniel seolah menuntut.
Yve langsung tersenyum manis, “Sungguh deh … ini adalah topeng terberat yang akan aku kenakan!”
“Hya … kenapa gaya bicaramu kembali seperti orang dewasa lagi?” cibir Daniel mulai menjalankan mobil.
Memakai seatbelt, “Heh … siapa bilang aku masih anak-anak!”
“Ohh … jadi aku harus memanggilmu apa? Nenek?” ejek Daniel cengengesan.
“Hya! Mau aku pukul!” sentak Yve.
Daniel semakin cekikikan, “Sungguh deh … aku sangat merindukan gertakan seperti itu! Kamu dan mamamu memang sangat mirip!”
“Tentu saja! Aku kan putrinya!” tampak bangga diri tersenyum menyilangkan tangan di depan perut.
Senyum Daniel seketika lenyap begitu mengingat cerita yang sebenarnya tentang Vee dan putrinya ini.
Daniel tidak mungkin merusak senyum Yve yang sangat manis dan menyenangkan itu.
Kasihan sekali Yve!
Jika dia tahu Vee bukan mamanya, dia pasti akan merasa sangat terpukul.
Karena Vee memutuskan untuk tidak meberitahukan tentang ini, maka itu artinya aku juga tidak boleh membahas hal ini di hadapan Yve!
Vee … semoga kamu cepat memaafkan aku!
Aku tidak bisa terus-menerus seperti ini tanpamu!
Bagaimana caranya supaya kita bisa bertemu dan berduaan lagi seperti sebelumnya?
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...
__ADS_1