
“Astaga! Apa yang terjadi!” pak Udin terkejut saat melihat tuannya sudah terkapar dengan kondisi seperti itu.
Pak Karno langsung mengangkat tubuh kek Gio, “Pak Udin! Cepat bukakan pintu mobil!” melihat ke sekeliling, “Pak Satpam, amankan cangkir kopi itu!”
Satpam mengangguk melihat ke atas meja.
Hanya ada satu cangkir kopi hitam di atas meja ruang tamu.
“Baik!” Satpam hendak menyentuh.
“Tunggu!” sela pak Karno, “Gunakan sarung tangan atau plastik!”
“Ahh … maaf!” melihat bi Imah, “Bi, ambilkan sarung tangan dan plastik!”
“Baik!” bi Imah bergegas menuju dapur.
Mbak Rosi yang tampak gelisah langsung menyusul bi Imah.
Buru-buru pak Karno membawa kek Gio keluar dari dalam rumah.
Mbak Rosi terlihat ketakutan memegang lengan bi Imah yang tengah mencari plastik, “Tuan besar kenapa?”
“Sepertinya keracunan!”
“Aku yang membuatkan kopi untuk beliau! Apa aku akan disalahkan?” tanya mbak Rosi mewek gemetaran.
Bi Imah mengelus lengan mbak Rosi, “Mereka pasti akan mencari tahu tentang ini! Kamu jangan takut jika tidak bersalah!”
Mengangguk meski merasa tidak tenang.
...***...
“Apa!”
Yazza berdiri syok begitu mendapat telefon dari Satpam rumah.
“Di mana mereka sekarang?”
“Dalam perjalanan menuju rumah sakit tuan!”
Menoleh ke arah Vee yang ikut panik melihat ekspresi kepanikannya.
“Mereka pasti akan menuju ke sini! Rumah sakit ini yang paling dekat dari rumah!”
“Sebentar tuan! Sepertinya ada pak Leo dan seorang wanita yang datang ke sini!” ucap Satpam sembari melihat ke depan gerbang.
“Pasti pak Karno yang sudah menyuruh mereka datang. Biarkan mereka masuk dan memeriksa!”
“Baik tuan!”
Telepon dimatikan.
__ADS_1
Vee langsung berdiri memegang lengan Yazza.
“Apa yang terjadi?” tanyanya ikut gelisah.
Yazza melihat ke arah Yve yang tampak memperhatikan mereka.
Pria itu tersenyum, “Tidak ada apa-apa! Emb … madam Lia, boleh titip Yve sebentar? Kami mau mencari kopi di kantin!”
Vee menyipitkan mata, “Hah?”
Yazza tampak berisyarat mata menatap istrinya.
Sepertinya tidak butuh waktu lama untuk memahami maksud isyarat itu.
“Ah, benar! Yve minum obatnya ya setelah ini,” ucap Vee tersenyum menoleh menatap putrinya.
Anak itu mengangguk, “Ma … kata madam Lia, Yve mau punya adik ya?” tersenyum senang.
“Aa … emm ... i-iya sayang!” jawab Vee tersenyum salah tingkah.
“Emb … Yve, papa sekalian mau mengajak mama periksa ke Dokter dulu! Mau memastikan supaya calon adik Yve baik-baik saja di dalam perut mamamu,” ucap Yazza ikut menatap putrinya.
Anak itu tersenyum antusias, “Yve mau ikut!”
“Kan Yve belum boleh kemana-mana! Yve di sini dulu sama madam Lia ya?” bujuk Vee menggenggam erat telapak tangan Yazza.
“Oke deh! Yeay … akhirnya Yve mau punya adik!” sorak riang Yve cekikikan gemas.
Ucap Yve dalam hati.
Melihat dari ekspresi wajah yang Yazza tunjukkan, sepertinya memang sedang terjadi hal buruk.
Vee, Yazza dan pak Ardi bergegas ke depan.
Yazza mulai menceritakan apa yang tengah terjadi di kediamannya saat ini.
“Apa! Bagaimana itu bisa terjadi?” pekik Vee panik.
“Entahlah! Kita coba tunggu di UGD saja dulu! Rumah Sakit ini paling dekat, kemungkinan mereka akan ke sini,” ucap Yazza tidak tenang.
Vee menganggukkan kepala, bergantian menatap Yazza dan pak Ardi.
Yazza kembali menggenggam tangan istrinya.
Mereka berjalan cepat menuju UGD.
Jika benar pak Karno membawa kek Gio ke rumah sakit ini, sudah pasti mereka akan langsung ke UGD.
“Sepertinya Leo sedang mencari tahu! Jika Satpam rumah bilang dia datang bersama wanita … mungkin saja itu adalah Icha! Pak Ardi, pulanglah ke rumah! Mereka mungkin membutuhkan bantuan,” ucap Yazza berusaha menenangkan dirinya sendiri.
“Kenapa tidak memanggil polisi saja!” celetuk Vee.
__ADS_1
Yazza menghentikan langkahnya, membuat Vee juga ikut berhenti melangkah.
Pria itu memegang kedua bahu lengan Vee, “Aku tahu kamu pasti banyak sekali pertanyaan dan rasa penasaran! Dalam beberapa hal, kita lebih baik menyelesaikan masalah kita sendiri tanpa harus melibatkan polisi! Bukannya kita tidak percaya pada hokum … tapi percayalah, uang bisa saja memanipulasi hukum!”
Vee menyipitkan mata dengan kening mengerut, “Aku semakin tidak mengerti! Sebenarnya orang macam apa kalian ini!”
“Vee … sayang! Aku minta maaf jika belum bisa mengatakan semuanya. Sedikit-demi sedikit, aku akan mencoba membuatmu mengerti!” Yazza menatap mata Vee mendalam.
“Jika kamu bilang kamu mengalami banyak masalah sejak bertemu denganku … yeah … aku tidak akan menyangkalnya!” lanjutnya dengan nada menenangkan.
“Sudah sejak lama … banyak sekali orang yang ingin mencelakai aku! Dan mungkin … lebih banyak lagi orang yang menginginkan nyawa kakek! Dalam hal ini, kita tidak boleh sembarangan bertindak,” pungkas Yazza masih memegang kedua bahu lengan istrinya.
“Yazza please! Kenapa kamu tidak langsung mengatakan saja yang sebenarnya? Aku semakin pusing dengan semua ini!” desak Vee mulai frustasi.
“Yang kita hadapi bukanlah orang-orang biasa! Kita tidak bisa mengandalkan polisi jika kita belum tahu siapa yang sedang berusaha mencelakai kakek kali ini! Begitu memastikan kita menemukan pelakunya, baru kita akan berpikir untuk membawanya ke hukum atau menyelesaikan dengan jalan kami!”
Vee menurunkan tangan Yazza dengan gerakan halus.
“Sepertinya aku memang sudah paham!” genangan air mata memenuhi pelupuk matanya. “Aku tidak sebodoh yang kamu pikirkan! Melihat siapa yang berteman baik denganmu saja … seharusnya aku sudah bisa menebaknya!”
Melihat tatapan Vee, membuat Yazza terdiam ketakutan.
Pria itu menarik nafas panjang berusaha menguatkan diri, tapi tiada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya.
Dengan bibir kelu, Vee menatap lekat suaminya, “Well … aku tumbuh besar di lingkungan yang keras! Dan aku tahu … ada orang-orang besar yang memang selalu menguasai suatu tempat! Mereka mengambil pungutan liar, mendominasi wilayah, menindas pedagang dan seolah menjanjikan kedamaian di dermaga meski pada kenyataannya … mereka sebenarnya hanya membuat kami semua di bawah tekanan!”
“Vee … tapi kamu tidak begitu!” Yazza mengusap air mata di wajah istrinya.
“Meskipun tidak begitu … bukankah sama saja dengan kondisimu ini?” menyingkirkan tangan Yazza, “Yeah … orang-orang seperti mereka memang selalu tidak disukai! Jika ada yang ingin melenyapkan mereka … salah satunya pasti ada aku di dalamnya! Aku sangat membenci kelompok-kelompok seperti itu!”
Hirza yang sedari tadi sudah berdiri di belakang Yazza tampak menunduk lemas begitu mendengar perkataan yang keluar dari bibir Vee.
Sama halnya dengan Yazza, dia juga menjadi terdiam seribu bahasa tanpa bisa berkata apapun lagi.
Kalimat Vee bukan lagi sebuah sindiran, melainkan pernyataan. Dan bukan hanya Yazza yang merasa tersindir begitu mendengarnya.
Pak Ardi terkejut melihat Hirza.
Dalam situasi seperti ini, sebaiknya tidak membuat orang luar semakin curiga.
“Pak Hirza!” sapa pak Ardi sengaja mengeraskan suara sembari menunduk memberi hormat.
Vee dan Yazza sama terkejutnya.
Tidak ingin memperlihatkan kesedihan dan air matanya, Vee segera membalikan badan untuk mengusap wajahnya.
Yazza membalikan badan memicingkan mata menatap tajam ke arah Hirza, “Ini bukan rumah sakit anda! Kenapa anda bisa berada di sini?”
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...
__ADS_1