
Pemuda dengan seragam SMA yang tertutup Hoodie tampak berdiri santai di bawah pohon sembari melihat ke arah bangunan sekolah.
Dia tamak memperhatikan seorang pria yang berdiri di trotoar jalan, menatap ke dalam aula bermain dari balik pagar pembatas.
Handphonenya bordering.
Dengan santai dia menerima panggilan.
“Hya! Kamu bolos lagi?” suara seorang pria di ujung telepon.
“Mas, apakah usaha kita selama ini sudah gagal?” nadanya terdengar lesu.
“Apa yang terjadi?”
“Aku mengikutinya dari Teratai Putih sampai Sekolah Dasar. Dia sepertinya tidak akan melepaskan nona itu!”
Pria dengan setelan jas putih duduk memutar kursi sembari mengepalkan tangan menghadap ke dinding kaca ruang kerjanya.
“Mas?” panggil anak SMA itu ketika tiada suara balasan dari orang yang di telepon. “Mas mendengarku?”
“Pada akhirnya, granat yang sudah kita genggam selama bertahun-tahun akan segera meledak juga!” ucap pria itu masih dengan gaya khas nada santainya.
“Mas! Jangan bilang mas mau membiarkannya begitu saja?”
“Yang akan terjadi biarlah terjadi.”
“Nggak mas! Pokonya aku akan tetap berusaha menghentikan ledakan itu!”
Memejamkan mata, “Kembalilah ke sekolah atau aku akan menghukummu!” tegas pria itu seolah tidak mau mendengarkan kekesalan si anak SMA tersebut.
***
Begitu melihat gambar putrinya, Vee segera menarik buku gambar itu.
Mengambil crayon hitam dari tas Yve dan segera mencoret-coret nama Yazza di sana.
Vee terpaksa memakai nama Yazza saat pertama kali hendak membuat akta kelahiran Yve.
Karena memang Yazza lah ayahnya.
Dia memang menuliskan nama itu di dalam data diri Yve. Tapi dia tidak menggunakan nama lengkap Yazza.
Hanya satu kata ‘Yazza’ saja, agar Yve tidak pernah bisa menemukan siapa ayah kandungnya yang sebenarnya.
Nama Yazza Gionio pasti akan sangat mudah di temukan di internet.
Melihat kelakuan orang tua anak didiknya, bu Tania menyipitkan mata terheran-heran.
Menyadari jika dia tidak sendirian, Vee langsung melihat wali kelas Yve salah tingkah, “Ahh, maaf bu!”
Menghela nafas, “Ini yang saya khawatirkan!”
__ADS_1
“Maksud ibu?”
“Saya khawatir akan keadaan psikologis Yve sedang tidak stabil saat ini.”
Vee mendengarkan dengan ketakutan, “Apa?”
“Dia menggambar ayahnya tanpa wajah dan diwarnai hitam. Saya langsung menebak, dia pasti tidak pernah melihat ayahnya.”
Bu Tania mengelus gambar di pangkuan Vee.
Tersenyum ramah, “Kontras sekali dengan gambar yang memperlihatkan keceriaan sebuah keluarga yang utuh.”
“Yve mendambakan sosok ayahnya.” Imbuh bu Tania. Menoleh ke taman tempat para orang tua dan anak bermain.
Sementara itu, Vee hanya diam menunduk tidak bisa berkata-kata menatap gambar putrinya.
“Dia menulis nama ayahnya tapi tidak menggambar wajah dan senyum seperti yang ada pada gambar lainnya. Ibu lihat saja, matahari bahkan bunga juga diberi wajah yang tersenyum.”
Kembali menatap Vee, “Maaf sebelumnya, apa anda memiliki masalah dengan ayah Yve?”
Vee merasa ada pukulan keras di dadanya.
Ia menunduk membenarkan.
“Apakah anda juga melarang Yve berbicara pada ayahnya?”
“Sebenarnya, saya tidak perah membicarakan tentang ayahnya.” Mengepalkan tangan geram.
Mendongak menatap wali kelas Yve, “Maksud ibu?”
Melihat gambar, “Itulah alasan kenapa dia mewarnai hitam sosok ayahnya. Tidak seharusnya anak menjadi korban perselisihan orang tua.”
Menggeleng pelan, “Saya tidak mengerti. Apa kaitannya dengan gambar ini?”
“Tidak mungkin bukan, ayahnya sudah meninggal? Yve sebelumnya bilang, jika dia tidak punya ayah. Bukankah itu artinya dia memang tidak pernah melihat atau mengetahui tentang siapa ayahnya yang sebenarnya?”
“Memang itu yang saya inginkan. Saya tidak ingin Yve tahu! Itu sebabnya selama ini saya tidak pernah membicarakan tentang orang itu!”
Melihat kebencian Vee yang mendalam saat membicarakan tentang ayah Yve, semakin membuat bu Tania yakin jika Yve memang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
“Apakah anda juga selalu seperti ini saat Yve mulai mempertanyakan tentang ayahnya?”
Pertanyaan bu Tania tentu mampu membuat Vee tercengang.
Dia memang akan selalu kesal dan memarahi Yve ketika anak itu mulai mempertanyakan tentang ayahnya.
“Seharusnya anda sudah mulai memahaminya bukan? Kenapa Yve tidak berani menggambar wajah tersenyum pada sosok ayah di dalam gambarnya.”
“Ada dua kemungkinan. Pertama, dia takut jika anda sedih dan kedua, dia takut anda marah.” Imbuh bu Tania menyimpulkan.
“Tapi pria itu sungguh orang yang tidak bertanggung jawab!” ucap Vee begitu sedih.
Dia tidak tahu jika Yve menyimpan perasaan seperti itu selama ini.
__ADS_1
“Ya, meski tidak dikatakan. Gambar anak-anak seperti ini, sebenarnya sudah bisa menjelaskan isi hatinya. Saya yakin Yve juga tidak berani menyinggung tentang ayahnya kepada anda.”
Melihat anak-anak lain sibuk bermain dengan ayah mereka membuat hati Vee semakin sedih.
“Jadi ini alasan kenapa Yve terlihat begitu aneh pagi tadi.” Menunduk memegang keningnya, “Bahkan aku terlalu egois sampai tidak memberinya kesempatan untuk mengatakan isi hatinya!”
Vee menghela nafas panjang melihat wali kelas putrinya, “Lalu apa yang harus saya lakukan bu?”
“Mempertemukan dengan ayahnya atau tidak, itu adalah hak anda.” Ucapan yang keluar dari bibir bu Tania terdengar sangat berhati-hati.
“Tapi dengan terus memendam keinginannya, Yve akan tertekan dan menjadikannya priadi yang keras. Bahkan mungkin di suatu titik tertentu, dia akan berbalik melawan anda. Dia akan merasa, ada hal yang tidak pernah terwujud dari sesuatu yang sudah anda batasi ini!” lanjutnya dengan gaya tenang.
“Apa ada cara lain, selain mempertemukannya dengan ayahnya?” jelas Vee tidak akan pernah setuju dengan cara ini.
“Setidaknya, beri dia sedikit ruang untuk mengenang ayahnya. Beri dia memori yang menyenangkan. Dan jangan memupuskan angannya. Yang paling penting, anda jangan marah jika dia ingin membicarakan tentang ayahnya.”
“Saya takut, saya tidak bisa mengontrol emosi saya.”
Vee menunduk sedih.
“Setiap dia bertanya tentang ayahnya, saya selalu menjadi kesal sendiri dan menyuruhnya untuk diam. Saya tidak menyangka, hal itu membuat Yve menjadi seperti ini.”
“Belum terlambat untuk menyelamatkan mental Yve. Anda pasti juga tidak mau jika Yve menjadi anak yang tertutup bukan?” kembali melihat ke taman, “Hari ini Yve sudah menunjukan ke arah itu. Dia menyendiri dan menghindari orang-orang.”
Bagaimana mungkin Vee melewatkan tentang hal penting ini. Dia pikir, semuanya tampak normal dan baik-baik saja sejauh ini.
Meneteskan air mata, “Ini adalah kesalahan saya. Meski saya bersumpah untuk membahagiakannya, tapi ternyata, saya justru membatasi kebahagiannya.” Vee sangat sedih.
Mengelus punggung Vee, ”Maaf jika saya terlalu ikut campur tentang masalah keluarga anda.”
Menggeleng mengusap air matanya, “Justru saya berterimakasih karena ibu sudah sangat perhatian dengan keadaan anak saya. Saya sungguh tidak layak menjadi ibu yang baik.”
“Anda jangan berkata seperti itu. Yve sangat berkarakter dan terlihat dewasa di usianya. Tentu saja itu atas dasar didikan anda yang sangat baik. Hanya saja, dia merasa berbeda dari yang lain karena kekurangannya tersebut.”
Vee menyadari kesalahannya. Tapi dia juga tidak ingin jika Yve tahu tentang ayahnya.
Dia sangat khawatir dengan kesehatan psikis putrinya sekarang.
Bu Tania benar. Paling tidak, memberi Yve sedikit memori tentang ayahnya akan membantunya bangkit.
Anak itu pasti tertekan karena tidak bisa menceritakan atau membanggakan sosok ayah kandungnya.
Dia akan selalu berkata kepada semua orang jika dia tidak punya ayah. Dan itulah yang menjadi bahan ejekan teman-teman Yve sebelumnya.
Vee memutuskan, tidak akan terlalu keras lagi sekarang!
Terutama saat Yve ingin bertanya tentang ayahnya.
Meskipun, keputusan untuk tetap merahasiakan ayah kandungnya sudah sangat bulat. Dia masih bisa menjawab dengan samar tanpa harus menjelaskan secara gamblang, siapa dan bagaimana tampang Yazza yang sebenarnya.
“Kenapa aku tidak berbohong dari awal dan mengatakan jika ayahnya sudah meninggal saja!” sesal Vee sembari memejamkan mata.
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))>' '<((((<...
__ADS_1