
Vee tersenyum pongah merasa menang.
“Pertama, jangan pernah memberitahu pada Yve jika aku bukan ibu kandungnya dan bersikaplah dengan sangat baik kepada anak itu. Kedua, jangan pernah memaksaku untuk keluar dari White Purple!”
“Aku ingin kamu di rumah saja setelah menikah!” ucap Yazza datar.
“Aku akan tetap bekerja di White Purple!” bantah Vee.
“Apa ada yang kamu sayangkan untuk dilepas dari sana?” sindir Yazza sarkas.
“Ya … hanya di White Purple kita bisa merasakan nyamannya bekerja tanpa tekanan! Sayang sekali harus meninggalkan keluarga dan teman-teman yang begitu baik di sana!”
Yazza mendengus tersenyum mencibir, “kamu yakin masih mau di sana? Tidak khawatir kejadian seperti kemarin terulang lagi?”
“Maksudmu?” menatap Yazza menyipitkan mata.
“Sepertinya … seseorang ingin menjatuhkan kamu!”
“Hah?” semakin tidak mengerti.
“Mungkin … karena orang itu tahu kamu adalah wanitaku!”
“Apa?” alisnya semakin bertautan, “Terror itu bukan mengarah ke White Purple … melainkan justru aku?”
“Dari yang aku lihat dari CCTV … ciri-ciri pelaku mirip sekali dengan preman-preman yang selalu ingin menyingkirkan aku dari dunia ini!”
“Tunggu! Kamu sedang tidak mencoba memanipulasi lagi ‘kan?”
Mengangguk, “Aku hanya mengatakan berdasarkan dengan apa yang aku tahu!”
Menyingkirkannya?
Sepertinya memang bukan hanya aku yang begitu membenci Yazza!
Vee terdiam bergumam dalam hati.
“Mungkin … masih akan ada teror-teror lainnya. Jadi berhati-hatilah!” lanjut Yazza memperingati.
“Hya … setiap dekat denganmu, hidupku menjadi banyak sekali masalah!” cibir Vee menyilangkan tangan di perut.
Tersenyum santai, “Bahkan pedagang kaki lima saja bisa bersaing dengan sangat ketat. Wajar jika banyak yang ingin membuatku terguling … terutama para pesaing-pesaing di bidang yang sama!”
Menggoyangkan kaki yang tergantung, “Kurasa bukan hanya sekedar masalah bisnis! Tapi … memang kamu saja yang sangat menyebalkan sampai memancing ketidaksukaan orang terhadapmu!”
Mendengus tersenyum, “Jika aku tidak menyebalkan … bagaimana aku bisa bertahan sampai pada tahap ini!”
“Cih … dasar egois!” cibir Vee membuang muka.
“Jangan khawatir, aku akan selalu ada untuk melindungi kamu!” mengelus kaki Vee.
“Cih …,” menyingkirkan tangan Yazza dengan gerakan kakinya, “aku ingin lihat rekaman cctv kemarin!”
“Mau mencari mereka dan menghajarnya?” Yazza mencibir.
“Tentu saja … kalau ketemu!” turun dari atas meja.
Tersenyum dengan sebelah tangan terulur memegang mouse, “Kemari!”
Yazza menepuk-nepuk pahanya sendiri agar Vee duduk di atas pangkuannya.
“Buka saja rekamannya! Setelah itu kamu pergi dari situ … baru aku akan melihat dengan tenang!” melirik mencibir.
“Apa aku ini sumber alergi jika berdekatan denganmu?”
“Ya! Bercak merah akan banyak muncul tiap dekat denganmu!” sindir Vee tajam.
Terkekeh pelan, mencibirkan bibir, “cih!”
Vee menunduk, menjulurkan kepala untuk melihat ke layar.
“Jadi, apa aku sudah bisa mencetak jejak alergi baru sekarang?” Yazza cengingisan melirik Vee.
Melotot tajam, “Sudah pernah dilempar keluar jendela dari atas gedung?”
Mendengus, “Psikopat!” memutar rekaman cctv, “Itu mereka!”
Vee makin melongok untuk melihat lebih dekat ke layar.
__ADS_1
Tangan Yazza terulur menyentuh pinggul Vee.
Pak Ardi membuka pintu, melihat Vee dan Yazza begitu dekat membuatnya menjadi salah tingkah.
Yazza menarik lagi tangannya, tersipu membuang muka.
Vee yang terkejut juga langsung berdiri tegap.
“Ah, maaf!” dia kembali keluar menutup pintu dari luar.
Tersenyum cengengesan lalu berdehem merapikan jas.
Dengan santai pak Ardi mengenakan earphone, mendengarkan musik sembari berjalan kembali menuju ke meja kerjanya.
Yazza dan Vee saling bertukar pandang.
Canggung dan tidak nyaman.
“Sudah kubilang, menyingkir lah!” cibir Vee.
“Lagipula sudah pernah jauh lebih dekat dari ini … kenapa harus dipikirkan!” masih salah tingkah mencoba menenangkan dirinya sendiri.
“Tutup mulut dan diam saja!” tegas Vee sama canggungnya.
Kembali fokus menatap rekaman cctv.
“Emb … darimana kamu mendapatkan rekaman ini?” tanya Vee, mengalihkan perhatian, “Bukan dari petugas kepolisian seperti yang pak Didik katakan bukan?”
Yazza hanya diam cengengesan.
Melirik, “Hya … aku bertanya padamu!”
Jemari Yazza bergerak di depan bibirnya, seolah mengisyaratkan sedang mengunci mulutnya.
“Hya!” sentak Vee kesal.
“Aku dilarang bicara!”
“Cih, menyebalkan sekali!” gerutu Vee.
Mendengus tersenyum menarik Vee ke pangkuannya.
Mendekap pinggang Vee, “Aku tidak akan memberitahu!”
“Pasar gelap? Preman? Gangster atau Mafia?”
“Woah, kamu pandai menebak!” menyandarkan kepala ke punggung Vee, memejamkan mata.
“Hya! Menyingkir lah!” kembali menggeliat tipis karena risih.
Mendekap makin erat, “Tidak mau!” masih memejamkan mata.
“Cih!” menaruh siku di atas meja, menopang kepalanya dengan sebelah tangan.
“Jika kamu banyak bergerak, akan ada yang bangun!” ucap Yazza santai.
“Apa yang kau bicarakan!” Vee melirik tajam.
Tersenyum masih tidak membuka mata, “Bagaimana ya rasanya … di posisi sekarang dan saat ini juga?”
“Hya, sungguh mau aku lemparkan ke luar jendela?” protes Vee, tapi matanya menatap gambar layar.
Mendengus tersenyum, “Sebentar saja … mau ya?”
Wanita itu hanya mendengus mengabaikan.
Salah satu dari tiga pria yang menghadang tronton terlihat mencolok, rambutnya di cat merah.
Tunggu!
Apa itu?
Tato atau noda?
Gumam Vee dalam hati.
Dengan jarinya, dia berusaha mengelap layar laptop.
__ADS_1
“Bergoyang-goyang seperti itu … aku anggap kamu setuju!”
“Ckk! Buka matamu sehingga kamu bisa melihat apa yang aku lakukan!” protes Vee kesal.
Terkekeh, membuka mata, “Hahaha … apa memangnya?”
“Aku pikir ini noda … ternyata tato!” menunjuk lengan salah seorang.
“Ya … tato naga melingkar di lengannya!”
“Bagaimana kamu tahu jika itu tato naga?”
Tersenyum, “Sudah kubilang … mereka musuhku! Tentu aku menghafal orang-orang yang selalu berusaha ingin mencelakai aku!”
“Kenapa tidak membawa mereka ke polisi?”
“Malas berurusan dengan polisi!”
“Ah … benar! Aku nyaris lupa jika kamu ini kan juga seorang penjahat!” sindir Vee.
Mendengus kembali menyandar ke punggung Vee, “Aku sungguh ingin mencoba melakukan kejahatan kecil itu di sini sekarang!”
“Dasar gila!” Vee berusaha menyingkirkan lengan Yazza untuk berdiri kali ini.
Menahan, “Sebentar saja kok! Aku ada meeting setelah ini,” pinta Yazza.
Menoleh sedikit, “Ckk! Baik … cepatlah!”
Mendongak menatap Vee, “Aneh sekali!” Yazza justru terkejut.
Menyingkirkan lengan Yazza, “Ya sudah kalau tidak jadi!”
Kembali menahan pinggang Vee, “Katakan … kenapa lagi ini?”
“Hya, sudah kubilang kamu tidak akan rugi dengan penawaran dariku! Kamu belum menyetujuinya, jadi anggap saja aku sedang ‘menjilat’ dengan ini!”
Tersenyum mencibir, “Sungguh seekor ikan yang berubah menjadi ular!”
“Jadi bagaimana … aku masih boleh tetap di White Purple?”
Yazza tampak berpikir, menghela nafas panjang.
“Baiklah, tapi ingat batasan! Aku bisa membatalkan perjanjian ini kapanpun aku mau! Terutama jika aku tahu … tujuan kamu masih ingin di White Purple karena hendak mendekati pria lain!”
Ya, memang akan selalu ada resikonya.
Vee tidak bisa memegang janji itu selamanya.
Karena dia memang masih tidak rela meninggalkan Daniel dengan kekonyolannya.
Sekertaris yang sebelumnya telah memanfaatkan kebaikan Daniel dengan melakukan korupsi juga penggelapan.
Dia hanya tidak ingin, ada orang lain lagi yang mencoba memanfaatkan kebaikan Daniel demi keuntungan mereka sendiri.
Vee masih ingin berada di sisi Daniel untuk tetap menjadi pengarah yang baik.
Jika dia memang tidak akan pernah bisa memilikinya, hanya dengan terus membantu dan menaikan nama baik White Purple, sudah cukup membuatnya merasa lega.
Semoga saja Daniel tidak mengusirnya setelah kehebohan ini.
...***...
Seorang gadis berpakaian serba hitam keluar dari pintu bandara membawa koper besar.
Dress ketat yang dia kenakan memperlihatkan lekuk tubuh yang sempurna.
Dia tersenyum mengenakan kacamata hitam berjalan melenggak-lenggok dengan penuh pesona.
Sepatu hak tingginya membuatnya terlihat semakin menawan.
Semua mata tertuju padanya.
Majalah bisnis dia pegang dengan sebelah tangan lainnya.
Tepat di samping tempat sampah, wanita itu berhenti.
Melihat sampul majalah dengan foto Yazza dan Vee.
“Bersiaplah menghadapi badai yang akan datang!” tersenyum sinis.
__ADS_1
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...