RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
BADAI DI DALAM BADAI


__ADS_3

Tasya masuk ke kamar adiknya yang tengah bersolek di depan meja rias.



“Kakak!” sapa Tisya terkejut melihat dari pantulan cermin.


Duduk di pinggiran ranjang, “Kamu mau pergi sama Daniel?”


“Mamanya menelepon, katanya mau ngajak shopping! Nggak enak juga kalau menolak,” tersenyum.


“Kakak lihat, kamu jadi beneran suka pada pria tidak dewasa itu?”


Mendengus, “Nggak dong! Tujuan utamaku cuma mau membuat wanita itu sakit seperti yang aku rasakan!”


Tersenyum, “Tapi kamu beneran marah saat dia tidak menghubungimu!”


Tisya terdiam menatap bayangannya sendiri di cermin.


“Jika memang kamu beneran jatuh cinta, dia tidak terlalu buruk kok! Masa depannya cerah … meski terlihat manja, dia sangat mandiri dan tidak suka bergantung pada usaha orang lain!”


“Tetap saja, Yazza masih yang terbaik!” jawab Tisya lirih.


“Bahkan sejak papa masih ada, perasaanmu kepada Yazza tidak akan pernah disetujui! Meskipun keluarga Gionio sudah tidak lagi memiliki bayangan, tapi semua orang juga tahu … bayangan tidak akan pernah lepas dari pemilik aslinya,” menunduk sedih.


Menoleh menatap kakaknya, “Emb … apa kakak baik-baik saja?”


Tersenyum pilu, “Apakah Strom akan hancur dalam masa kepemimpinan ku ini?”


Menyipitkan mata, “Apakah kak Tasya sedang memikirkan tentang ‘badai’ di dalam Strom kali ini?”


“Ya … kita sudah kehilangan terlalu banyak! Kakak tidak boleh terus bersembunyi dan berpangku tangan seperti ini! Bahkan mereka sudah berani menyentuh Gerry.”


Menghela nafas panjang, “Kenapa sih kakak masih saja peduli padanya?”


“Bagaimanapun juga … dia tetaplah ayah kandung dari putraku!”


Mendengus, “Kak lupakan tentang itu dan yakin saja jika ayah Caesar memang mas Ganny!”


Menggeleng, “Tidak bisa semudah itu … kakak masih tidak rela melepaskan Gerry!”


“Ckk! Lalu apa yang akan kakak lakukan sekarang?”


“Tadinya aku berencana mengajak kamu menemui pak Rudi. Kakak sih sudah membuat janji semalam, dan dia setuju untuk bertemu,” tersenyum, “karena kamu harus pergi berkencan, jadi lupakan saja!”


Tasya tampak mengerutkan kening menatap panik kakaknya, “Kalau begitu Tisya akan batalkan perjanjian dengan keluarga Daniel dan ikut menemani kakak saja!” ucapnya tanpa keraguan.


Tersenyum menggeleng, “Tidak perlu … kakak bisa pergi dengan Mr. X … selama ada dia, sepertinya tidak akan jadi masalah besar!”


“Tapi kak … Tisya masih tidak tenang jika kakak harus menemui pak Rudi!”


“Masalah Strom harus segera dibereskan … sebelum mereka benar-benar memusnahkan kekuatan ‘sang badai’!”


Menggeleng, “Pokoknya Tisya harus ikut juga!” mengambil handphonenya.


Menahan lengan adiknya, “Kamu mau apa?”


“Menelepon tante Risma untuk membatalkan janji dengannya!”

__ADS_1


Menggeleng, “Jangan sayang! Kamu harus memberikan kesan baik kepada mereka … jangan mengecewakan mereka!”


“Tapi …-”


“Sudah, jangan khawatir! Mereka tidak mungkin bertindak sembarangan … terlebih kepadaku,” sela Tasya sembari mengelus lengan adiknya.


Menghela nafas panjang, “Kakak yakin?”


Mengangguk tersenyum.


“Kalau sampai terjadi sesuatu yang tidak baik … segera hubungi Tisya!”


Tersenyum sambil mengelus kepala adiknya, “Iya sayang! Terima kasih sudah peduli sama kakak!”


Dengan lembut Tisya memegang lengan kakaknya.


Wanita itu menaruh telapak tangan Tasya ke pipinya, “Kakak jangan bicara begitu … kita hanya tinggal berdua sekarang! Seperti kata papa … keluarga harus selalu melindungi.”


Tasya tersenyum bangga menatap adiknya.


...***...


Yazza masih tidur di bawah selimut saat Vee masuk ke kamar.



“MALING!!!” pekik Vee keras.


Yazza langsung terkesiap duduk menyingkap selimut.


Sambil celingukan dia melihat ke sekeliling, “Maling mana maling?” masih terlihat linglung.


Yazza mendengus memejamkan mata meraup wajahnya dengan kedua tangan.


“Maling kau maling, jangan teriak maling,” Vee masih berdendang sambil duduk di ujung ranjang.


“Hya!” sentak Yazza melotot kesal menatap Vee.


“Pagi-pagi itu jangan marah-marah. Senyum! Biar harinya jadi indah,” menaruh nampan di samping Yazza.


“Hya! Ini hari libur, biarkan aku tidur lebih lama lagi!”


“Tapi aku sudah terlanjur memasak untukmu!” menunjuk nampan, “Kalau dingin nanti tidak enak!”



Memicingkan mata melirik Vee, “Sikap apa ini? Menyeramkan sekali?”


“Hya, aku sudah berbuat baik. Kenapa tidak berterima kasih atau paling tidak, memuji usahaku?”


“Hanya ada dua kemungkinan kamu berbuat sebaik ini padaku,” mengambil mawar, “dan ini?” melemparkan ke ranjang, “Terlihat semakin mencurigakan!”


“Hya … sungguh deh! Aku tidak bermaksud apa-apa,” protes Vee.


“Mustahil!” sahut Yazza cepat, “Jika tidak hendak meminta sesuatu pasti sedang berusaha mengerjai ku! Sudah … itu dua opsi yang paling mungkin!”


“Sungguh … aku tidak akan minta apa-apa! Dan aku memasak semua ini dengan sepenuh hati. Tanya saja pada bi Imah dan mbak Rosi!”

__ADS_1


Masih memicingkan mata menatap Vee, “Aneh!”


“Shhh … sudah deh! Makan saja dulu! Jangan berprasangka buruk terus,” menyodorkan sendok ke arah Yazza.


Menerima sendok dengan ragu-ragu, “Ah … pasti sedang menyogok agar aku tidak marah dan melampiaskan kekesalan kepada Yve kan?”


“Astaga orang ini!” Vee bertolak pinggang, “Hya … kalau tidak mau ya sudah,” merebut sendok dari tangan Yazza.


“Hya!” kembali merebut, “Baiklah aku akan memakannya!”


“Nah gitu dong dari tadi,” tersenyum melihat Yazza dengan seksama.


Menunduk mulai menyendok bubur, “Aneh! Sangat mengerikan sekali!” gumam Yazza lirih, “Apa dia benar-benar serius dengan perkataannya itu?”


Vee mendengus mencibir mendengarnya, “Hya … kenapa sih masih saja tidak mempercayai aku?”


Yazza mulai makan bubur buatan Vee.


“Bagaimana enak kan?”


“Hmph,” Yazza membenarkan sembari mengunyah.


“Aku memang cukup berbakat,” menggesek-gesekkan kedua telapak tangannya sendiri, “sepertinya sudah lolos uji coba rasa … tinggal planning pembukaan restaurant baru!”


Yazza langsung melotot mendongak, “Hya … apa maksudnya?”


“Kamu kan paling pemilih kalau soal makanan. Jadi kalau kamu bilang enak, berarti itu memang enak! Karena aku sudah tidak bekerja di kantor, aku memikirkan tentang membuka restaurant selama semalaman!”


“Hya! Kamu pikir aku ini apa? Jadi berbuat sebaik ini untuk alat uji coba mu gitu?” Yazza meringis memegang perutnya yang tiba-tiba terasa melilit perih, “Awww!” matanya terpejam menahan sakit.


“Eh … kamu kenapa!” sontak kejadian itu membuat Vee panic menatap Yazza.


“Hya! Kamu kasih apa dalam bubur ini?” sentak Yazza lantang.


Dengan kasar dia melempar sendok ke nampan, bergegas turun ranjang.


“Sudah aku duga … memang selalu tidak ada yang beres tiap kali kamu berbuat semanis ini padaku!” berlari ke kamar mandi sambil memegangi perut.


Vee menyipitkan mata, “Yazza … aku sungguh tidak menaruh yang aneh-aneh! Mungkin kamu memang hanya kebelet,” ikut turun mengikuti Yazza.


“Rasanya mirip ketika dulu ada pesaing bisnis yang mencampur obat pencahar di dalam makananku agar aku gagal dalam presentase!”


“Aku tidak sejahat itu! Lagipula untuk apa melakukan hal buruk seperti itu?”


Yazza mendengus menatap tajam ke arah Vee sebelum membanting pintu toilet.


Vee merasa bersalah mengetuk pintu yang di kunci dari dalam, “Yazza … sungguh … aku tidak bermaksud buruk!”


“Pergilah! Jangan membuatku tidak nyaman!” teriak Yazza dari dalam.


Vee mendengus membalikan badan melihat ke arah nampan, “Aneh … kenapa dia tiba-tiba jadi sakit perut seperti itu? Semua bumbu yang kumasukkan normal-normal saja,” gumamnya lirih.


Vee menghela nafas panjang menoleh ke arah pintu.


“Dia pasti sangat marah dan menyalahkan aku setelah ini!” lanjutnya berkata pada diri sendiri.


...-@,@- To Be Continue -@,@-...

__ADS_1


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2