RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
PEMBUKTIAN


__ADS_3


Melihat semua orang tampak terperangah terkejut, justru membuat Hirza semakin senang.


Pria itu menatap adik angkatnya yang tampak ikut memprotes.


“Hei … aku hanya ingin membuktikan kepada mereka! Kita ini tidak memihak Teratai Putih, Nirwana, G Corporation, maupun pihak manapun!”


“Mas! Itu terlalu beresiko,” debat Hans berucap serius kali ini.


“Semua pasti ada resiko, berjalan kaki saja bisa tersandung. Well … itu bukan topik utamanya! Misalkan tugas mereka berhasil memakan korban jiwa, itu merupakan sebuah prestasi. Tapi jika gagal … saya tidak akan menyalahkan! Yaa … maklum saja, ini memang tugas pertama kalian.”


“Pak Hirza! Kenapa anda juga harus membahayakan nyawa anda!” Mr. X angkat bicara.


“Kenapa harus takut kepada maut jika itu untuk mempertahankan nama baik kita?”


“Saya bisa merencanakan kekacauan yang lebih baik dan kita tidak perlu membahayakan nyawa kita sendiri,” sahut Mr. X.


“Maksud Mr. X, ide saya tidak bagus? Ayolah … hanya dengan cara itu saya bisa merasa lega dan tenang. Saya hanya mau membuktikan jika saya ini netral!”


“Pak Hirza … kami mempercayai anda! Anggap saja, apa yang dibicarakan adik saya hari ini adalah kekhilafan semata,” Tasya masih terus saja berusaha memohon.


“Loh … katanya tadi mau melakukan apapun? Jadi gimana ini? Adik saya juga tidak mau saya memaafkan kalian tanpa melakukan sesuatu,” Hirza mengangkat bahu, “Ya sudah deh … saya serahkan masalah ini ke pak Rudi saja ya?” cibirnya sengaja mengejek.


Tasya memejamkan mata menghela nafas panjang, “Baiklah! Kami akan menyusun rencana untuk mengacaukan acara pak pak Yazza besok!”


“Kak! Ini sangat berbahaya!” Tisya kembali mendesis.


“Sudah kamu diam saja! Ini semua karena kesalahanmu!”


Tisya menunduk dengan bibir kelu.


Hirza melihat jam tangannya, “Saya akan ada meeting! Hans, antar mereka pergi,” Hirza berdiri kembali menuju meja kerjanya.


“Baik mas!” anak itu ikut berdiri. “Mari!” melihat ke semua tamunya.


Dengan berat mereka semua berdiri.


Hirza sudah mengusir degan cara halus.


Jika mereka berkeras dan tetap berdebat di sana, takutnya akan ada hal yang lebih buruk lagi nantinya.


Begitu memastikan mereka menjauh dari ruang staff, Hans kembali masuk menuju ruang kerja Hirza.


“Mas! Mas ini sudah gila atau gimana sih?” hardik Hans.


Tersenyum, “Kita sudah berpuluh tahun tinggal bersama! Kenapa masih takut pada lubang jebakan yang kita gali sendiri?”


Bertolak pinggang menghempaskan nafas, “Tetap saja semua cara yang mas pilih itu tidak ada yang simple!”


“Kita lihat dulu laporan dari mereka. Setelah mereka selesai membuat rencana, baru kita merencanakan cara untuk mengatasinya!”


“Memang ya … mas ini seorang psikopat! Yang merencanakan mau menyakiti orang tapi juga mau menyelamatkan orang itu!” menggeleng berdecak, “Ckckck! Dasar berkepribadian ganda!”


Tersenyum mendengus, “Hya! Kenapa membolos lagi? Kamu memarahiku karena ingin mengalihkan pembicaraan agar aku tidak marah duluan karena ulah mu kan?”


Salah tingkah, “Emb … itu … anu … gurunya rapat! Kita dipulangkan lebih awal!”

__ADS_1


“Cih! Kamu pikir mudah jika mau menipuku?”


Menggaruk kepala, “Abisnya ngebosenin!”


Menghempaskan nafas panjang, “Ganti pakaian! Ikut aku pergi menemui klien!”


Mengangguk, “Siap bos ku!”


...***...



Tasya menghempaskan nafas panjang melotot menatap adiknya, “Puas kamu memperkeruh keadaan?”


“Kak … aku hanya tidak terima jika Strom diambil alih olehnya!” menunjuk Gerry.


Gerry menoleh kebelakang, “Aku juga tidak mau menanggung beban! Kita hanya menuruti atasan,” tegasnya membela diri.


“Kakak sudah bilang, Gerry hanya membawa status pemimpin … Strom tetap milik kita!” Tasya ikut menegaskan.


Tisya semakin kesal membuang nafas memalingkan wajah, “Kita tidak sebodoh itu yang bisa dibohongi hanya dengan pengakuannya! Jelas-jelas di acara lelang, pak Hirza sudah membantu Teratai Putih!”


“Terlepas dari kebohongan atau tidak … kita tetap tidak boleh sembarangan di hadapan pak Hirza! Kamu tidak lihat caranya tadi memperlakukan kita? Ingat yang dia katakana … dia memang tidak pernah turun tangan, tapi hanya dengan lisannya … kita bisa saja dibantai malam ini juga!”


“Kak …-“


“Kakak mohon!” sela Tasya memotong pembicaraan adiknya dengan nada tegas, “Jangan perah lagi berurusan dengan pak Hirza! Dia punya banyak sekali tangan-tangan yang tidak terlihat!”


“Maafkan Tisya kak,” wanita itu menunduk tidak berani menatap kakaknya yang terlihat masih sangat marah.


“Serahkan pada saya! Saya akan mencari seorang homeless, mencuci otaknya dan menawarkan banyak uang!”


“Homeless? Apa mereka mau?” tanya Gerry lagi.


“Pokoknya, serahkan saja pada saya! Saya sudah punya rencana!” Mr. X yang mengemudi, sesekali menoleh menatap Gerry di sampingnya.


“Acara pernikahan pak Yazza ada di hotel … akan lebih mudah untuk menyusupkan seseorang di sana. Suruh saja orang itu berpakaian pelayan … kita akan menyembunyikan bom di atas troli makanan,” lanjut Mr. X.


Tasya menyipitkan mata, “Lalu bagaimana dengan keselamatan nyawa kita?”


“Kita akan memakai pita merah di lengan, lalu kita akan memberitahukan kepada orang itu untuk membiarkan orang-orang berpita merah keluar dari dalam ballroom. Tentang hal ini … beritahukan kepada pak Hirza dan keluarganya supaya mengenakan pita merah juga!”


“Itu ide yang sempurna!” Gerry menoleh kebelakang, “Bagaimana menurut kalian?” bertanya pada Tasya dan Tisya.


Tasya mengangguk-anggukkan kepala, “Bagus! Kalau begitu saya serahkan semuanya kepada Mr. X!”


Mr. X tersenyum, “Kalian semua tenang saja, saya sendiri yang juga akan melindungi nyawa kalian!”


Tasya tersenyum, “Terima kasih!”


...***...


Kembali ke Hari Pernikahan.


Ballroom Hotel Teratai Putih.


__ADS_1


Leo celingukan mencari keberadaan Berli.


Wanita itu tidak terlihat berada di dekat Gerry.


“Jangan sampai kecerobohannya membuat dia berada dalam bahaya lagi!” gumamnya lirih.


Yve tampak panik dan ketakutan memeluk Daniel begitu erat.


“Tenang aku pasti akan melindungi mu!” Daniel mengelus kepala Yve.


Vee khawatir melihat ke arah Yve yang tampak ketakutan.


Hirza mendekatkan kepala ke telinga Hans, “Suruh temanmu yang menyamar untuk mengalihkan perhatian. Mulai saja dengan sedikit kekacauan agar ada orang yang punya kesempatan untuk menelepon polisi.”


Hans mengangguk tanpa berkata-kata.


“Jalur untuk team gegana sudah dilonggarkan?”


“Aman … tenang saja! Setelah seseorang melapor, mereka akan segera datang! Karena jalanan sudah lenggang, mereka pasti akan cepat sampai,” desis Hans menjawab.


“Bagus! Cepat laksanakan sekarang … sebelum para elite Strom melanjutkan aksinya!” Hirza melihat ke sekeliling, “Mereka juga berniat membuat kekacauan untuk membiarkan kita keluar dari sini.”


Hans mengangguk sekali lagi.


Vee melihat Yazza, “Hya! Pinjam ikat pinggang mu!”


“Mau apa?” Yazza melotot, “Jangan macam-macam, tetap di sini saja!” mengambil handphone, “Aku akan menelepon polisi dan tim gegana!”


Pria bersenjata itu menoleh ke arah Yazza, “Sedang apa itu!” mengacungkan senjata.


Vee dan Yazza terkejut membelalakkan mata.


“Halo … kantor kepolisian di sini, ada yang bisa kami bantu?” tanya seorang operator di dalam telepon panggilan.


“Beraninya kalian menelepon polisi!” sentak pria tadi hendak menarik pelatuk.


Hirza melihat ke depan, “Kenapa Yazza mengacau sih! Hans cepat!” desisnya panik.


Baru saja Hans hendak berisyarat kepada temannya, pandangan matanya langsung teralihkan.


Semua orang terkejut membelalakkan mata menatap ke arah pengantin wanita.


Dengan gerakan lincah Vee menekan cincin pemberian Mr. Bald tepat bersamaan ketika dia melompat dari atas panggung ke arah pria tadi.


“Hyaaaaattt ….”


Orang lain tidak akan bisa melihat jika cincin itu adalah senjata tajam dengan pisau kecil yang dapat melukai lawan.


Pria bersenjata terkejut mendongak melihat Vee, secara refleks dia melepaskan tembakan.


DUARRR!!!


“Aaaaaaaaa!” Pekik histeris semua orang.


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...

__ADS_1


__ADS_2