
Hirza berdiri menatap putranya.
“Ayo pulang!”
Menyipitkan mata, “Xean masih mau melihat apa yang akan dilakukan mas Hans!”
“Kamu masih kecil! Belum pantas melihat hal-hal semacam ini!”
Berdiri kesal, “Papa selalu curang! Mas Hans saja boleh kenapa aku tidak boleh?”
“Tunggu sampai dewasa!”
“Jadi … apa aku juga boleh bolos sekolah nantinya?”
Melotot kesal, “Kamu tidak boleh malas-malasan dalam menuntut ilmu! Kelak kamu akan menggantikan papa mengurus perusahaan! Jika kamu bolos dan menjadi tidak pandai, papa yang akan disalahkan banyak orang!”
“Cih … kenapa aku harus memimpin perusahaan? Aku lebih suka menjadi seperti mas Hans, bebas dan selalu bersenang-senang!”
“Terlalu sering bersenang-senang juga tidak baik! Takutnya akan menjadi lupa rasa sakit dan terjebak di tempat tanpa bisa bergerak untuk melakukan perlawanan!”
Xean mencibir, “Papa mulai berkata tidak jelas lagi!”
Menggandeng Xean tersenyum lembut, “Pada akhirnya, semua ini akan menjadi tanggungjawabmu! Jadi berlatihlah untuk tenang dan bersabar sampai saatnya kamu akan memahami semuanya!”
“Apa sih maksud perkataan papa ini?” mengernyit kesal.
Tersenyum menggeleng, “Hanya cukup di ingat dan turuti saja perkataan papa untuk saat ini!”
Hirza tersenyum menatap kosong ke dapan.
Xean mengangkat bahu mengabaikan.
Meski tidak sepenuhnya dia benar-benar mengabaikan.
“Yuk pulang!” ajak Hirza menarik lengan Xean pelan.
“Bagaimana dengan mas Hans?” melangkah mengikuti.
“Dia tidak akan hilang ingatan dan lupa dengan alamat rumah kita! Jangan khawatir!”
Mereka mulai berjalan meninggalkan lokasi.
Xean menoleh ke belakang, melihat Hans yang sedang berdiri tenang di balik pohon sambil menunggu kesempatan.
Sesekali dia melihat ke arah dua pria di belakangnya yang sedang memegang kamera.
...***...
“Bagaimana senang tidak?” tanya Daniel melihat Yve di sebelahnya.
“Kayuh dong! Jangan diam saja!” cibir Yve.
“Eh … lain kali naik speed boat aja ya?” Daniel mengeluh berakting seolah lemas.
“Dih, memangnya bisa?” Yve memicingkan mata.
“Bisa dong! Aku kan ahlinya!” membanggakan diri.
“Cih … bohong!” membuang muka.
“Beneran … kapan-kapan kita cobain deh!”
“Janji?” mengangkat kelingking mungilnya.
Daniel tersenyum, “Janji!” menautkan ke jari Yve.
“Awas kalo bohong! Aku doain dimakan hiu!” menarik kembali tangannya.
“Astaga dia sama psikopatnya!” cibir Daniel berdecak menggelengkan kepala.
“Apa?”
Tersenyum meringis, “Tidak apa-apa!”
Tidak sengaja Yve melihat kerumunan orang di dekat danau.
“Lihat apa yang terjadi di sana?” Yve menunjuk ke depan.
Lokasi kerumunan tidak jauh dari Vee dan orang tuanya.
Daniel panik melihat ke saung bambu.
Keluarganya tidak berada di sana.
“Ayo segera menepi!” Daniel bergegas sedikit panik.
Tiga orang polisi datang menghampiri dua orang suruhan Gerry.
“Selamat siang pak!” sapa salah seorang Polisi sembari memberi salam.
“Ya pak? Ada apa ya?” tanya salah seorang anak buah Strom.
“Kami mendapat laporan, jika kalian adalah pengedar!” Polisi menegaskan.
“Apa? Itu tidak mungkin!” bantah salah seorang.
“Apa? Jadi mereka pengedar?” Hans muncul diantara mereka.
“Kamu siapa?” tanya dua preman.
“Siapa-siapa! Pakai sok pura-pura … kembalikan kamera saya!” merebut kamera dari tangan anak buah Strom.
__ADS_1
“Hei … itu punya kami,” hendak merebut kembali.
“Enak saja! Ini punyaku!” Hans berkeras.
“Dasar penipu! Kami saja tidak mengenalmu!” masih berusaha merebut kameranya kembali.
“Hei! Kalian cuma mau mengalihkan perhatian ya?” tegas petugas kepolisian.
“Bukan begitu pak!” Bantah Hans menyembunyikan kamera. “Mungkin mereka yang mau membuat drama supaya terhindar dari tuduhan!”
“Lalu kamu siapa?” tanya polisi.
“Saya solo Youtuber! Kebetulan sekali mau meliput keharmonisan keluarga yang berlibur di sekitar sini. Saya lupa tidak membawa tripod, jadi saat hendak mengambil stock shoot gambar saya sendiri, saya meminta bantuan dua pria ini. Mereka terlihat bersantai, jadi saya mintai tolong saja!” jelas Hans.
“Apa-apaan! Jangan mengarang! Pak anak ini seorang penipu!” bantah suruhan Gerry.
“Sudah! Diam kalian, kami akan menggeledah tas kalian!” tegas petugas.
“Apa-apaan ini! Kami tidak membawa barang terlarang!” bantah mereka.
Hans mundur, “Geledah saja pak!”
“Kamu juga! Jangan pergi dulu … kali saja kamu juga bersekongkol!” tegas polisi yang lain.
“Ok pak! Saya sih akan kooperatif. Karena saya yakin saya bersih,” Hans mengalungkan kameranya, mengangkat kedua tangan ke atas.
Mereka mulai menggeledah tas dua orang tersebut.
“Pak barangnya ada di tas mereka!”
“Apa? Itu tidak mungkin!”
“Anak ini memang bersih pak!” polis yang lain selesai menggeledah Hans.
Menunjuk wajah Hans, “Bocah! Pasti kamu sengaja menjebak kami kan?”
“Lah kok jadi aku kena tuduhan?” Hans membuat gesture seolah mundur terintimidasi.
“Lalu kenapa tiba-tiba mengaku itu kamera mu?” bentaknya.
“Lah ini memang punya saya! Kalian jangan membuat drama biar nggak jadi ditangkap ya!” Hans menepuk lengan polisi, “Pak pasti mereka cuma mau mencari kambing hitam setelah ketahuan boroknya.”
“Cepat borgol dua orang ini!” perintah komandan lapangan.
“Pak ini tidak benar!”
“Pak kami dijebak!”
Kedua orang itu meronta melawan saat hendak diborgol.
“Semakin kalian melawan, kalian semakin mencurigakan!” tegas komandan.
“Pak, saya juga bersedia bersaksi ke kantor polisi deh. Soalnya saya melihat, mereka memang sedikit mencurigakan sedari tadi!”
“Benar kamu bisa dipercaya?” polisi menyipitkan mata.
“Anak setan! Jangan mengarang cerita!”
“Sudah … kalian semua cepat bawa mereka!” perintah komandan.
Hans tersenyum sengit di balik maskernya.
Melihat kearah Hans, “Kalau begitu mari ikut juga ke kantor polisi!”
“Siap pak!” Hans seolah memberi salam hormat.
...***...
Daniel celingukan mencari Vee dan kedua orang tuanya.
Dia menggandeng Yve erat menyusup ke kerumunan.
“Eh itu Daniel!” Vee yang menggandeng bu Risma menunjuk Daniel.
Melihat Vee tersenyum melambai ke arahnya membuat dia merasa lega.
“Syukurlah mamamu baik-baik saja!” menunduk menatap Yve.
Yve tersenyum mengangguk, “Ayo ke sana!” ajak Yve.
Orang-orang mulai bubar ketika polisi sudah membawa mereka pergi.
“Apa yang terjadi?” tanya Daniel begitu sampai di dekat Vee.
Mereka kembali berjalan ke saung.
“Penangkapan pengedar!” jawab Vee.
“Kok bisa sampai masuk ke sini?” Daniel menyipitkan mata.
“Pengedar itu apa Ma?” tanya Yve polos.
“Sesuatu yang dilarang, tapi mereka tetap menjualnya!”
Menyipitkan mata menatap mamanya, “Sesuatu yang dilarang?”
“Iya!” jawab Vee.
“Lalu, sesuatunya itu apa?”
“Obat-obatan terlarang. Jadi, ada beberapa obat tertentu yang hanya boleh dipakai dokter. Tapi orang-orang tadi itu malah menjualnya di luar ijin kedokteran! Makanya mereka ditangkap,” jawab Vee menjelaskan.
Bu Risma gemas mencubit pipi Yve, “Anak ini cerdas sekali sih!”
“Dia berbakat menjadi hakim atau pengacara sepertinya deh!” cibir Daniel.
__ADS_1
“Heh itu bukan cita-citaku!” dengus Yve menatap Daniel.
“Memangnya cita-cita Yve apa?” tanya pak Fauzan.
“Jadi polisi!”
“Polisi?” ulang bu Risma.
Mengangguk, “Biar bisa menangkap dia!” menunjuk Daniel.
“Hya … aku orang baik! Kenapa menangkapku?” protes Daniel.
“Terlalu berisik! Mengganggu ketenangan orang!” Yve cengingisan menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Mendengus tersenyum bertolak pinggang, “Anak ini sungguh deh!”
Pak Fauzan dan bu Risma terkekeh seketika.
Kembali duduk di saung bambu.
“Mama Vee tidak pernah mengajarimu menjadi gadis yang lemah lembut ya?” cibir Daniel.
“Hya! Kenapa memangnya?” Vee melotot kearah Daniel, meski bibirnya terangkat, tersenyum tipis.
“Nah kan! Sama galaknya,” mengernyit menoleh ke arah Yve.
Yve menjulurkan lidah sengaja mengolok-olok.
“Sudah, ayo makan dulu! Nenek masak banyak untuk Yve loh …,” bu Risma tersenyum.
“Sudah lama sekali kita tidak piknik dan makan di luar seperti saat ini!” pak Fauzan menerawang jauh ke depan.
“Terakhir saat Daniel masih SD. Itu saja hanya bertiga, tidak seramai saat ini!”
Vee tersenyum, “Dulu saya juga paling suka saat acara makan bersama di atas kapal. Rasa kebersamaan dan suasana makan di luar ruangan memang menyenangkan.”
Bu Risma menatap Daniel, “Tuh dengerin! Makan bersama itu lebih baik. Malah berniat mau tinggal sendirian lagi!”
“Ckkkk! Kenapa malah mengomel masalah itu lagi sih?” Daniel membuang muka.
“Tunggu, tinggal sendiri?” Vee menatap Daniel.
“Dia membeli apartemen baru! Katanya untuk ditinggali saat lagi pengen menyendiri … kan agak aneh anak ini. Jelas-jelas sudah punya rumah yang sangat nyaman,” cibir bu Risma.
Vee tersenyum mencibir memicingkan mata, “Ah … membeli apartemen baru ya?”
Daniel melirik Vee, salah tingkah tersipu membuang muka.
“Jadi, kapan mengundangku datang untuk melihat-lihat?” tanya Vee menyindir.
“Belum diisi perabotan. Masih bingung milih-milih,” jawab Daniel santai.
“Kalau tidak keberatan, saya bantu memilih deh kapan-kapan!”
“Wah, ide bagus! Vee pasti punya selera yang keren!” Daniel tersenyum.
Mereka lebih terdengar seperti sedang memainkan drama.
“Tapi ingat ya! Cuma sesekali saja tinggal di sana!” tegas bu Risma.
Daniel tersenyum bahagia, “Tentu saja!”
Tanpa diketahui yang lain, tangan Daniel menggenggam tangan Vee di belakang punggung Yve.
Vee tidak memprotes, justru dia merasa sangat senang untuk saat ini.
...***...
Pak Ardi masuk ke ruangan Yazza.
“Tuan memanggil saya?” tanya pak Ardi.
“Ah, benar!” sambil sibuk dengan laptopnya.
“Ada apa tuan?”
“Mau bertanya tentang madam Lia, apakah anaknya belum sembuh?”
Beberapa hari kemarin, anaknya mengalami kecelakaan.
Kejadiannya tepat setelah madam Lia selesai menemui Mr.Bald.
Putra madam Lia kritis dan dia tidak tega meninggalkan putranya sendirian.
“Meski belum sadarkan diri, tapi anaknya sudah melewati masa kritis!”
“Kalau begitu coba cari pengasuh lain untuk sementara!” ucap Yazza tanpa melihat ke arah pak Ardi.
“Bukankah nyonya Vee sudah bersamanya?”
“Kakek akan segera datang! Dia akan mengomel jika aku terlalu pelit karena tidak menyewa pengasuh untuk anak itu!”
“Apakah nyonya Vee sudah tahu jika kek Gio akan datang?” pak Ardi menyipitkan mata.
Menggeleng, “Aku belum memberitahunya.”
Menghela nafas panjang, kali ini menatap pak Ardi.
“Semoga dengan kedatangan kakek, beliau mau membujuk Vee agar mau tinggal serumah denganku!”
“Ah, itu benar! Nyonya Vee terlihat sangat menghormati dan menurut sekali kepada kek Gio!” pak Ardi membenarkan.
“Yang perlu aku lakukan adalah, meyakinkan kakek agar beliau mau membantuku! Hanya setelah Vee tinggal serumah, barulah akan lebih mudah untuk mengontrolnya! Dan begitu pernikahan kita disahkan … akan aku kirim anak itu pergi ke asrama!” tersenyum sengit memainkan jarinya mengetuk-ngetuk meja.
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
__ADS_1
...>))))> ' ' <((((<...