
Vee mendapat cerita tentang Daniel dari pak Didik saat dia meminta laporan tentang kegiatan bulan lalu ke ruang kerja pak Didik.
White Purple memang perusahaan yang di dirikan ayahnya. Tapi dia lebih memilih memulai karirnya dari magang sampai ke posisi ini.
Mengesankan sekali.
Daniel tidak seperti anak-anak orang kaya lainnya.
Meski dia kekanakan, Daniel cukup mandiri dan bisa diandalkan.
Dan yang mengejutkan, sampai saat ini Daniel masih saja belum menikah dikarenakan masih berusaha mencari keberadaannya.
“Dia sungguh tidak peduli dengan apa kata orang. Saya yang paling tahu tentangnya. Dia hanya sedang menunggu seseorang selama ini. Dan itu adalah kamu.” Kata pak Didik menegaskan.
“Apa?” Vee merasa, sepertinya dia tidak pantas untuk diharapkan.
“Banyak sekali yang bergosip buruk tentangnya. Dari yang katanya gaaay, pedooo sampai ada yang bilang dia lemah syahwaat. Untung saja Daniel tidak pernah mendengarkan itu semua!” pak Didik terkekeh.
“Cihh, orang pintar lulusan luar negeri kenapa begitu bodoh dalam memilih masa depannya.” Cibir Vee.
Tersenyum, “Bahkan sejak pertama dia menjadi karyawan magang di bawah asuhan ku, dia yang paling santai jika ditanya tentang pasangan. Dan tidak pernah bertingkah kegenitan ataupun caper kepada karyawati lain selain seperti yang dia tunjukan kepadamu. Bukankah dia tipe setia? Jatuh cinta pada seseorang dan akan menunggunya seumur hidup!”
Vee terkekeh mencibir, “Sungguh pria aneh!”
“Oh, ya. Aku dengar kamu memiliki seorang putri?”
Vee tersenyum, “Ya, seorang malaikat kecil yang begitu manis.”
“Daniel menyukai anak-anak. Bukankah mereka akan mudah akrab?”
“Apa bapak mencoba mencomblangkan kami sekarang?” tersenyum menggoda.
Tersenyum, “Mungkin, hanya di sini kami bisa merasakan memiliki boss yang serasa seperti rekan sederajat. Dia sungguh pandai memainkan suasana kantor dan suasana hati para bawahannya.”
“Sepertinya saya harus terbiasa dengan kekonyolannya.”
“Itu yang aku maksud. Kamu akan mempunyai dua anak sekarang. Yang satu putri kecilmu dan satu lagi boss mu. Bukankah mereka akan mudah akur saat bersama karena satu frekuensi?”
Vee langsung terkekeh, “Bahkan dia meminta orang-orang memindahkan meja kerja saya ke dalam ruangannya!”
Terkekeh, “Sudahlah, biarkan saja sesuka hatinya. Selama masih dalam batas wajar, turuti saja apa maunya. Dan jika sudah tidak wajar, hajar saja!”
Vee tersenyum berdiri, “Putri saya lebih baik dari dia sepertinya.”
Tersenyum, “Cepatlah kembali sebelum dia kembali berulah.”
Mengangguk, “Terimakasih dan permisi pak!”
Mengangguk, “Good luck!”
***
Daniel hendak mengantar Vee pulang.
Jelas Vee menolaknya.
Dia harus menjemput putrinya terlebih dahulu.
Yve selalu disekolahkan ke full day school karena tidak ada yang menjaganya saat Vee bekerja sampai sore.
Yve sudah menunggu kedatangan mamanya di dekat pos satpam sekolah.
Begitu turun dari taksi online, Yve langsung berlari memeluk Vee.
__ADS_1
“Mommy!”
Menyambut, berjongkok membuka kedua tangannya lebar-lebar “Shhh, kenapa putriku masih sangat manja seperti ini?”
Memeluk erat Vee gemas, “Bagaimana hari ini di kantor mama?”
“Emm, nostalgia?” Vee seolah berfikir.
“Huh?” melihat wajah mamanya.
“Mama pernah bekerja di sana sebelumnya, jadi bertemu beberapa orang lama. Lalu bagaimana sekolahmu hari ini?” balik bertanya.
“Banyak teman baru. Setidaknya mereka tidak seperti di sekolah sebelumnya. Tidak ada yang mengejekku.”
Tersenyum, “Kalau begitu kita pulang?” berdiri tegak.
Mengangguk, “He’em!” menggandeng tangan Vee.
Keduanya berjalan melewati trotoar karena apartemen mereka tidak jauh dari sekolah Yve.
"Sebangku dengan anak laki-laki?" tanya Vee begitu mendengar cerita Yve tentang teman satu bangkunya.
"Dia ketua kelas, juga paling pandai katanya. Namanya Caesar. Dan yang membuat Yve terkejut, semua anak di kelas tampak berteman dengan baik satu sama lain.Wali kelas kami bu Tania sangat ramah penuh kasih sayang dan pandai bercerita."
"Wow, kedengarannya menyenangkan sekali!"
Tersenyum, "Memang berbeda sekali dari sekolah yang sebelumnya. Yve selalu di ejek di sana." Tiba-tiba menunduk muram.
Vee sedih melihat Yve, "Lupakan saja, jangan dimasukan hati. Bukankah sekarang sudah mendapat teman baru? Siapa tadi? Caesar?"
“Ya, Caesar. Tapi dia terlihat seperti orang lemah deh!”
“Eh, nggak boleh menilai orang begitu dong!” tegur mamanya.
“Nyatanya tadi saja pas pelajaran olahraga, dia bahkan tidak kuat lari sampai dua putaran.”
Mengangkat bahu, “Entahlah! Dia juga tidak berani mendongak saat berpapasan dengan kakak kelas.”
Tersenyum, “Sepertinya dia anak yang sangat sopan!”
"Lebih tepatnya penakut!”
“Huss!” tegur Vee sembari tersenyum menggoda.
Terkekeh, “Hahaha! Iya-iya maaf! Tapi aku senang, ternyata dia juga menyukai lautan. Yang paling dia suka adalah cerita tentang pelaut. Ketika aku bercerita tentang kakek Mail, dia begitu antusias ingin ikut kelautan."
Vee tersenyum, "Sayang, lain kali, jangan bercerita tentang kakek Mail atau masa lalu mama lagi kepada siapapun ya?"
Muram, "Tapi kenapa ma?"
"Takutnya ada monster jahat yang tahu keberadaan kita dan dia akan memangsa kita!"
Vee bercanda dengan seolah menerkam Yve.
“Rawwrr!”
Yve cekikikan tertawa, "Monster laut itu tidak ada Ma!"
"Memang bukan monster laut. Bisa saja monster lainnya!" terkekeh.
"Mama ini masih saja menggunakan trik itu untuk menipuku!" pura-pura manyun.
"Eh, meragukan mama?" Vee bertolak pinggang, "Banyak monster yang menjelma menjadi wujud manusia tahu!"
Yve terkekeh, menarik tangan mamanya dan langsung menggenggamnya lagi, "Selama ada mama, Yve tidak akan disakiti oleh monster manapun!"
Vee tersenyum, menggandeng putrinya, "Tentu saja! Mama akan selalu melindungi Yve!"
Keduanya kembali berjalan menyusuri trotoar.
__ADS_1
***
Yazza tengah bersama pembawa acara wanita di hadapan beberapa kamera dan crew acara Tv property di depan gerbang utama salah satu apartemennya.
“Ramai sekali ma? Ada apa?” tanya Yve melihat ke kerumunan depan.
“Mungkin acara Tv!”
Tersenyum, “Ayo kita lihat!”
“Apa menariknya melihat orang lain?”
“Ma!” rengek Yve.
“Baiklah! Baiklah!” Vee tersenyum menyerah.
Mereka mendekat ke kerumunan.
Melihat siapa yang berada di depan kamera.
Tubuh Vee langsung mengejang kaku dibuatnya.
Bibirnya mengatup rapat dengan rahang mengeras. Tatapannya berubah penuh kebencian.
Yve merasakan cengkraman erat dan perubahan ekspresi mamanya. Gadis kecil itu menyipitkan mata langsung menoleh ke arah mamanya yang menatap nanar pria di depan sana.
“Are you okay Ma?” Yve menarik lengan mamanya lembut.
Vee membuang muka menarik nafas dalam lalu menghempaskannya, “Maafkan mama sayang. Apakah sakit?” mengelus lengan Yve.
Menggeleng, lalu melihat lagi pria di depan sana.
Ada perasaan aneh setiap kali Yve melihatnya, “Ayo kita pergi Ma!” ucapnya halus.
Yve tidak ingin melihat mamanya dengan emosi seperti itu.
Lebih tepatnya, Yve tidak suka melihat mamanya marah dan kesal.
Keduanya mundur menjauh, kembali menuju arah apartemennya.
“Cut!” teriak salah seorang crew.
“Okay break dulu sebelum pindah lokasi!”
Yazza mengangguk.
Entah kenapa dia tertarik menoleh ke arah gerbang masuk.
Seorang wanita menggandeng gadis kecil berjalan memasuki gerbang.
Gadis kecil itu menoleh kearahnya, dan wanita yang menggandengnya ikut melihat ke arahnya.
Yazza tersentak terkejut berdiri mengejang.
Wanita itu tampak bergumam kepada anak di sampingnya, sebelum keduanya membuang muka dan melanjutkan berjalan memasuki gerbang.
“Dia!”
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))>' '<((((<...
__ADS_1