
Pak Fauzan baru turun dari atas ketika bu Risma masih sibuk membuatkan kopi untuknya.
“Daniel belum turun?” tanya pak Fauzan sambil menarik kursi dekat meja makan.
“Dia pulang malam lagi semalam, aku dengar ada masalah?” bu Risma menaruh kopi di hadapan suaminya.
Dua pembantunya tengah sibuk di dapur kotor untuk menyiapkan sarapan.
“Masalah pengiriman … jangan khawatir, sudah dibereskan kok!” menoleh ke pembantunya, “Mbak ambilkan majalah dan koran dong!”
“Baik pak!” salah satu pembantu segera menuju depan.
“Memangnya masalah pengiriman apa?” tanya bu Risma ikut duduk.
Pak Fauzan sengaja tidak ingin memberitahukan kebenarannya pada istrinya.
Takutnya, dia akan terkejut dan terlalu memikirkan masalah ini.
“Bukan masalah besar … sudahlah! Lagipula ini sudah waktunya yang muda-muda untuk menangani masalah!” menyeruput kopinya, “Papa dengar Vee dan Daniel begitu cepat tanggap mengatasi masalah itu. Beruntung sekali kita memiliki Vee di kantor!”
Tersenyum, “Sejak bertemu dengannya beberapa waktu lalu, mama merasa keluarga kita akan jadi semakin utuh saja!”
“Mama sangat menyukainya ya?” terkekeh pelan.
“Pantas Daniel tergila-gila padanya. Dia mirip mama sewaktu muda nggak sih?” bu Risma tersipu-sipu sendiri.
“Ah, masih cantikan mama!” goda suaminya.
Mencubit lengan pak Fauzan, “Ihh, bisa saja papa ini!” gemingnya manja.
Pak Fauzan terkekeh gemas, “Hahaha!”
Pembantu mendekat, menaruh majalah dan koran di atas meja, “Ini pak!”
“Terimakasih!” pak Fauzan mengambil korannya.
Tidak sengaja mata bu Risma mengarah ke majalah yang tadinya tertutup koran.
Senyum di wajahnya seketika memudar.
Ia membelalakkan mata menarik majalah dengan buru-buru.
Pak Fauzan melirik, “Kenapa sih ma?”
Bu Risma menyembunyikan majalah dalam dekapannya.
“Apa ma … kok aneh gitu?” pak Fauzan menyipitkan mata, makin penasaran.
“Pa … kita tidak sedang bermimpi saat ini ‘kan?”
Menggeleng, “Nggak kok! Mama aneh deh!”
“Pa … ini gawat!” mewek memegang lengan suaminya, “Bagaimana dengan nasib anak kita!”
“Apa sih ma!” menarik majalah yang masih dipegang dengan sebelah tangan.
Bu Risma berat melepaskan.
“Mama ….” pak Fauzan menegur.
Bu Risma menghela nafas pendek, sesak sekali rasanya.
Sambil merengek dia meletakan majalah di meja, “Kasihan Daniel!” bibirnya kelu.
__ADS_1
Pak Fauzan sama terkejutnya saat pertama melihat berita di halaman sampul majalah bisnis langganannya.
“Ini tidak mungkin!” geleng-geleng tidak percaya.
‘YAZZA TERATAI PUTIH DAN KISAH KELAM MASA LALUNYA’
Judul yang tertera ditulis dengan huruf kapital paling besar di antara sub judul lainnya.
Foto Vee, Yve dan Yazza saat liburan di Bali terpampang jelas di sampulnya.
“Kenapa bisa Vee dan putrinya bersama Yazza?” bu Risma lemas, “Masa lalu?” menyandar punggung kursi merasa tidak bersemangat.
Seketika dia mengingat semua cerita yang Vee katakan padanya, tentang ayah Yve dan kebenciannya.
“Apa Vee sengaja tidak memberitahu Daniel tentang ini? Kenapa Daniel mencari masalah dengan pak Yazza sih!” pak Fauzan kesal.
“Pa … sepertinya Daniel memang tidak tahu!” bu Risma mencoba menenangkan dirinya sendiri.
“Lalu, Vee yang sengaja merahasiakannya begitu?” mengepalkan tangan geram.
“Mungkin Vee juga tidak bermaksud untuk merahasiakannya,” ucapnya lirih.
“Ma … lihat ini! Mereka bertiga tampak bahagia!”
Mengelus tangan suaminya, “Waktu itu, Vee mengatakan tentang kesedihannya kepada mama,” bu Risma menatap sendu suaminya.
“Vee sebenarnya sangat tidak ingin menemui ayah Yve … dia bilang … jika bukan karena Yve ingin menemui ayahnya, dia juga malas sekali berbicara pada ayah Yve!” meneteskan air mata, “Mama juga tidak menyangka jika pria itu ternyata pak Yazza!”
“Tapi tetap saja di foto ini mereka terlihat bahagia saat bersama. Vee mau mempermainkan anak kita?” pak Fauzan masih meluap-luap.
Menggeleng, “Mungkin kenyataan yang sebenarnya berbeda dari yang ditampilkan. Dia tersenyum untuk menutupi kepedihannya di hadapan putrinya!”
“Kenapa mama sangat yakin membelanya!” geram pak Fauzan.
“Karena kita sama-sama wanita … dan mama percaya … Vee tidak mungkin berbohong dengan ceritanya! Mama bisa menilainya dengan jelas dari mata Vee waktu itu!”
Menunduk lemas sembari menghela nafas panjang, “Kita hampir saja menaruh harapan kepada orang yang seharusnya tidak boleh di harapkan!”
“Pagi semua!” sapa Daniel berjalan mendekat.
Bu Risma gelagapan menghapus air matanya, menyembunyikan majalah di atas kursi yang ia duduki.
Melihat kedua orangtuanya yang tampak tidak baik-baik saja, membuat Daniel menyipitkan mata.
“Ada apa ini? Kenapa pagi-pagi sudah terlihat mendung?” Daniel duduk menatap keduanya.
Pak Fauzan mendongak, tersenyum menatap Daniel, “Tidak ada apa-apa! Ayo sarapan … mbak! Mana makanan kita?” menoleh ke arah asisten rumah tangga.
Daniel masih menyipitkan mata, “Mana mungkin tidak ada apa-apa … pasti kalian berantem ya?”
“Bukan masalah besar!” bu Risma tersenyum, meski masih terisak sesekali.
Para pembantu menyiapkan makanan di meja.
Mata Daniel tertuju ke kursi yang mamanya duduki, “Kenapa majalah itu di taruh di sana?”
“Ah, kursi mama basah!” dalih bu Risma berusaha tersenyum dengan bibir kelu.
“Daniel!” panggil ayahnya, “Teman papa punya anak perempuan yang baru lulus kuliah dari luar negeri … kita bikin janji makan malam bersama ya?”
Mengernyit jijik, “Apaan sih … kenapa tiba-tiba jadi acara mak comblang lagi! ‘Kan Daniel sudah bawa pulang Vee, Daniel cuma mau sama Vee!”
“Tidak … cari yang lain saja!” pak Fauzan menunduk fokus melihat piring di hadapannya.
“Ma … mama setuju kan aku sama Vee?” Daniel mencoba mencari pembelaan.
__ADS_1
Menggeleng, “Ikuti saja kata papa!”
“Kalian kenapa sih! Kenapa tiba-tiba berubah pikiran … bukankah kemarin kalian sangat setuju!”
“Setelah kami pikiran, akan sulit menerimanya … mengertilah … dia sudah punya anak!” pak Fauzan memegang garpu dan sendok masih tidak berani menatap putranya.
“Daniel tidak peduli tentang status Vee!” meninggikan nada.
Bu Risma kembali meneteskan air mata, membuang muka.
“Ma … mama memihak Daniel ‘kan?” tuntut Daniel, “Bahkan mama menyuruh Vee untuk memanggil dengan sebutan ‘mama’!”
Bu Risma tidak berani menoleh, menghapus air mata mendongak menatap langit-langit rumah.
Dia memilih untuk tidak menjawab pertanyaan anaknya.
Daniel semakin kesal mendengus membuang muka, “Daniel tidak mood makan!”
“Daniel … jangan mempersulit diri! Masih banyak gadis single di luar sana!” tegas pak Fauzan.
“Memangnya kenapa sih kalau Daniel menikahi single parent? Bukankah kalian selalu mengajari Daniel tentang kesetaraan hidup? Vee juga manusia … single parent juga berhak bahagia! Jangan memandang mereka sebelah mata seperti ini!” tegas Daniel berapi-api.
“Cukup Daniel! Pokoknya papa tidak mau jika kamu mengejar Vee lagi!” tegas pak Fauzan dengan suara yang lebih lantang.
Bu Risma semakin tidak kuasa mengisak air mata, ia takut jika putranya mengetahui kenyataan tentang Vee.
Daniel berdiri kesal, hendak mendebat papanya.
Tanpa sengaja, dia justru melihat sedikit tulisan di atas majalah yang di duduki mamanya.
“Yazza?” desisnya lirih.
Hanya itu yang bisa dia baca.
Bu Risma mendongak terkejut membelalakkan mata.
Daniel langsung menarik majalah itu.
“Jangan Daniel!” bu Risma hendak merebut kembali.
Tapi Daniel sudah terlanjur melihat sampulnya.
Seketika tubuhnya mengejang kaku.
Majalah yang dia pegang terjatuh ke lantai.
Bahunya turun bersamaan dengan kaki yang terasa semakin lemas.
Tubuhnya kehilangan keseimbangan, terhuyung nyaris jatuh jika tidak berpegangan pada punggung kursi.
Pak Fauzan sigap langsung memegang lengan Daniel.
Bu Risma berdiri panik semakin tidak kuasa melihat kepedihan putranya.
Jadi, dugaan itu memang benar!
Hal yang paling aku takutkan, akhirnya menjadi kenyataan.
Daniel bergumam dalam hati.
Dari sekian banyaknya pria ….
Kenapa harus pak Yazza!
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
__ADS_1
...>))))> ' ' <((((<...