RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
SELINGKUH ITU BERAT


__ADS_3


“Yazza!”


Tegas kek Gio melotot tajam menatap cucunya.


“Kembali duduk ke tempatmu semula!”


Yazza mendengus kesal tidak bisa membantah.


Dia kembali duduk, membuat Dania lega melihatnya.


“Jangan memarahi Yve! Lagipula itu juga kamar orangtuanya, kenapa kamu mempermasalahkan masalah sepele?”


“Itu tidak sopan kek! Bukankah kakek dulu juga keras dalam mendidik?”


“Dia anak perempuan! Semakin kamu keras padanya, akan semakin tidak benar kedepannya!”


“Apa bedanya kek?” bantah Yazza meninggikan nada.


“Jelas berbeda! Kamu anak laki-laki, dengan didikan keras bisa membentuk fondasi yang lebih kuat. Laki-laki itu pemimpin di dalam sebuah keluarga! Jika dia tidak kuat, bagaimana bisa dia membawa keluarganya ke tempat yang aman?”


“Itu sebabnya Yve harus dimarahi!”


“Bedakan antara kuat untuk melindungi keluarga dan kuat karena sikap otoriter kepala keluarga! Dua hal ini merupakan sebuah perbedaan yang sangat jelas! Jadi pandai-pandailah memilih jalan!”


Yazza kembali mendengus membuang muka.


Kek Gio menatap Dania, “Kenapa masih di sini? Cepat lihat, apakah Yve sudah siap atau belum!”


“Ah, baik tuan!” Dania segera melangkah pergi.


Kek Gio kembali menatap Yazza.


“Ingat, jangan terlalu keras padanya! Memperlakukan anak gadis itu harus penuh dengan kelembutan!”


“Baik kek!” dengus Yazza.


“Biar pak Karno yang mengantar Yve ke sekolah hari ini!”


“Terserah kakek saja!” Yazza cuek kembali makan.


Kek Gio menggeleng menghempaskan nafas menatap Yazza.


...***...


Gerry mendengus tersenyum memegang handphone.


“Raya keasyikan sepertinya. Telepon saja tidak pernah diangkat sampai sekarang!”


Seseorang melihat handphone Raya yang terus menyala.



Sosok tangan, mengambil handphone lain di sebelah handphone Raya.


Gerry terkejut melihat ke layar, “Kenapa pak Rudi menelepon sepagi ini? Apa ada hal penting?”


Gerry mempersiapkan diri, lalu menjawab panggilan, “Pagi pak Rudi!”


Tasya duduk di dekat Gerry, ikut mendengarkan.


Dia cukup kepo begitu Gerry menyebut nama Rudi.


“Ada yang ingin saya bicarakan dengan anda! Bisakah kita bertemu di suatu tempat?”


Gerry menyipitkan mata, melihat ke arah Tasya, “Emb, kalau begitu akan saya carikan tempat!”


“Ah tidak perlu! Datang saja ke tempat yang sudah aku tentukan!”

__ADS_1


“Em, baiklah. Tapi di mana saya harus menemui anda?”


“Restaurant Jepang Sky Light!”


“Hah restaurant Jepang Sky Light?” ulang Gerry.


Tasya terkejut mematung mendengarnya.


“Akan ku kirim lokasinya!”


“Ah, baik pak Rudi!” Gerry lemas mendengarnya.


Panggilan diakhiri.


“Kenapa kamu menyetujui datang ke sana!” sentak Tasya lirih.


Menyipitkan mata, “Memangnya kenapa?”


Tasya menghela nafas panjang memejamkan mata, “Aku akan menyuruh Mr. X menemanimu!”


“Kenapa sih? Kedengarannya seperti ada hal yang tidak bagus?”


Tasya berdiri menggeleng. Dengan panik dia mencoba menghubungi Mr.X.


“Hey, jelaskan dulu!” desak Gerry.


Tanpa memperdulikan Gerry, wanita itu melangkah pergi menjauh.


Ganny datang menyipitkan mata, “Kenapa?”


“Ah, tidak! Mbak Tasya cuma kesal saja karena paket belanjaannya belum datang. Dia memintaku mengecek ke pengiriman, tapi dia tidak menjelaskan detailnya dan keburu marah.”


“Ah, masalah belanja online lagi. Biarin saja, nanti juga lupa sendiri. Kamu juga tahukan sikapnya? Kalau sedang kesal, pasti semua orang kena imbas!” Ganny tersenyum menyeruput kopi.


“Kemarin Gerry mendapatkan kontrak dari Paradise!”


“Heh, bagus itu!”


Ganny mendengus, “Cih! Proyek Sky Light waktu itu benar-benar tidak beres. Mas nggak mau terlibat sesuatu yang tidak benar! Bagaimana bisa proyek biasa-biasa saja, tapi pembiayaannya sepuluh kali lipat dari anggaran normal? Kurasa mereka sedang melakukan money laundry menggunakan proyek tersebut!”


“Ya … paling tidak mereka masih professional dalam bisnis! Meskipun pak Rudi adalah kakak dari pak Hirza Paradise … mereka tidak membawa-bawa masalah itu ke ranah yang lain.”


Tersenyum, “Baguslah kalau begitu.”


Tisya keluar dengan wajah masam.


“Ckk … ckk … ckkk! Para perempuan di rumah ini pada kenapa sih! Pagi-pagi sudah cemberut semua!” Ganny berdecak menggeleng-gelengkan kepala.


Tisya duduk, dengan kesal menyilangkan tangan di perut.


“Kenapa sejak punya pacar jadi sering murung?” ejek Gerry.


“Eh benar! Kok mas nggak pernah lihat Daniel menjemput kamu lagi?” tanya Ganny menyipitkan mata.


“Dia tidak bisa dihubungi dua hari terakhir!” melempar handphone ke meja.


Gerry terkekeh, “Hahaha! Mungkin dia sedang selingkuh dengan wanita lain!”


“Hus! Ger!” tegur Ganny.


Tisya makin cemberut kesal.


“Ckk! Mas akan menelepon ke kantornya, jangan khawatir! Kalau sampai dia menyakiti adik iparku yang cantik ini, awas saja!”


“Mas Ganny kenapa jadi sering emosian sih!” tanya Gerry.


“Pokoknya, siapapun yang membuat keluargaku tidak bahagia, mas akan maju paling depan!” ucap Ganny sungguh-sungguh.


Tisya tersenyum, “Makasih ya mas! Mas Ganny adalah kakak ipar terbaik di dunia!”

__ADS_1


“Pokoknya kamu tenang dulu, biar aku yang menanyakan kepada mereka!”


...***...



Daniel baru mengaktifkan kembali handphonenya.


Laporan panggilan dan pesan masuk bertumpuk-tumpuk.


“Nah kan mampus kamu!” ejek pak Didik. “Pagi tadi calon kakak iparmu menelpon, dia menanyakan tentangmu!”


“Lalu pak Didik bilang apa?”


“Ya seperti yang kamu bilang … dalam perjalanan bisnis! Masalah telepon mati, aku tidak ikut campur ya!”


Daniel melihat semua pesan dari Tisya.


Dia menghela nafas panjang.


“Karena kamu sendiri yang memutuskan masuk ke dalam permainan perselingkuhan ini, sekarang bertanggung jawablah! Telepon pacar gadismu,” terkekeh, “hahaha! Lagian ada-ada saja! Punya pacar langsung dua! Yang satu pacar gadis dan satu lagi ‘calon istri orang’! Dasar gila anak ini!” ejek pak Didik.


“Apaan sih, males deh!” Daniel cemberut.


“Jadi gimana liburannya? Bingkisan dariku dipakai kan?” pak Didik cengengesan.


“Aku buang ketempat sampah!” jawab Daniel cepat.


“Iya! Karena sudah penuh isinya kan?” kembali cengengesan.


“Dih! Nggak perlu pakai begitu-begitu … langsung gas aja!” Daniel tekekeh pelan.


Memukul kepala Daniel, “Jangan sembarangan! Kalau hamil bagaimana!”


“Ya bagus dong! Memangnya pak Didik tidak bangga kalau aku bisa mencetak keturunan!” menaik turunkan alis dengan sengaja.


“Apa kamu bilang … mencetak? Hya! Jangan makin kelewatan deh!” bertolak pinggang. “Apa yang akan dipikir pak Yazza jika kelak Vee melahirkan anak yang wajahnya justru mirip dirimu?”


“Emb, iya juga ya!” Daniel meringis membayangkan.


Kembali memukul kepala Daniel, “Dasar! Makanya yang dipikir jangan enaknya saja!”


“Ya gimana lagi, emang enak kok!”


“Hya!” sentak pak Didik.


Daniel menangkis kedua tangan di atas kepala, “Kayak nggak pernah ngerasain aja sih!”


“Haiz, sungguh tidak tertolong lagi!” berjalan menuju pintu keluar.


“Hya, pak Didik mau ke mana?”


“Mencarikan seorang psikiater!” teriak pak Didik kesal.


“Hya, aku tidak gila!”


“Selesaikan masalahmu! Aku nggak mau kalau ditelepon orang Nirwana lagi!”


“Iya-iya! Ini aku hubungi dia!” cibir Daniel memegang handphonenya.


Dia hendak menelepon Tisya.


“Haiz … aku heran! Kenapa orang di luar sana banyak sekali yang tidak setia pada pasangan!”


“Hya! Itu kamu sendiri!” pak Didik berdiri bertolak pinggang di dekat pintu.


“Cih! Selingkuh itu ternyata berat juga ya!”


...-@,@- To Be Continue -@,@-...

__ADS_1


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2