RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
KELUARGA NIRWANA


__ADS_3


Yazza terlihat tidak tenang terlentang di sebelah Vee.


Dia masih memikirkan tentang masalah yang dibawa Hirza ke dalam hidupnya.


Vee menoleh untuk melihatnya.


“Hei … pakailah bajumu! Dokter akan menyalahkan ku jika kamu sakit lagi karena masuk angin,” cibir Vee.


“Aku masih mau memamerkan keindahan tubuhku,” goda Yazza.


“Cih!” membalikan badan memunggungi Yazza, “Tidak tertarik!”


“Hei … dengar perintahku! Jangan terlalu dekat berhubungan dengan Hirza!”


“Kenapa? Kita kan memang sudah kenal lama,” sahut Vee tanpa menoleh.


“Tapi kamu tidak mengenalnya dengan baik!”


“Aku sangat mengenalnya! Meski sering gonta-ganti pacar, dia adalah seorang teman yang baik!”


“Dia tidak sebaik dengan apa yang kamu pikirkan!”


Kembali menghadap ke Yazza, “Satu-satunya yang tidak baik itu kamu!”


“Coba kamu pikir deh! Dia seniormu, tapi anaknya sudah kelas 6 SD. Bukankah artinya dia sudah punya anak saat masih kuliah?”


Tampak berpikir menyipitkan mata, “Mungkin ketidaksengajaan! Karena masih kuliah, jadi dia menutupinya, lagian dia memang banyak sekali ceweknya… itu sebabnya aku memanggil dia dengan sebutan senior buaya!”


Menatap Vee dalam, “Kamu tidak keberatan berteman dengan seorang seperti itu?”


Hirza dan Yunna ... memangnya apa perbedaan di antara keduanya?


Yunna juga seorang yang suka sekali mempermainkan banyak pria. Dan Vee masih mau saja berteman dengan dia.


“Selama orang itu baik kepadaku, meski dia seorang penjahat sekalipun, aku akan tetap membalas kebaikannya!”


Tersenyum, “Kalau begitu aku akan sangat baik kepadamu!”


Mengernyit jijik, “Kamu adalah pengecualian!” mencibir kembali memunggungi Yazza.


“Tentu saja … aku kan calon suamimu!”


“Sudah tidurlah!” menarik selimut.


“Hei!”


“Apa lagi? Aku mau tidur, besok harus mengantar Yve ke acara ulang tahun temannya!” tanpa menoleh dia menggerutu kesal.


“Jika aku bilang … luka yang aku alami ini adalah sebuah kesengajaan … apa kamu akan percaya?”


Memejamkan mata, “Hmmm! Makanya jangan banyak mencari musuh!”


Menatap kesal, meski hanya punggung Vee yang bisa dia lihat.


“Ckk … malah menyalahkan aku!”


“Itukan hanya tawuran! Lagian kamu juga sih, terlalu banyak berpikir!”


“Berita tawuran itu langsung menutupi kehebohan tentang kita. Bukankah sedikit aneh?”


Menoleh tanpa membalikan badan, “Hya … harusnya justru malah bersyukur! Tidak perlu dikejar-kejar wartawan lagi!”


Tersenyum mendengus, “Rasanya seperti di keluarkan dari danau penuh dengan buaya, tapi di hadapkan langsung ke sarang singa!”


“Apa yang kamu bicarakan! Aneh sekali!” membuang muka ke posisi sebelumnya.


Vee kembali memejamkan mata.


“Anggap saja seperti ada burung elang yang sedang mengawasi. Entah itu niatnya untuk memangsa atau hanya mengincar saja … tidak ada yang tahu!”


“Sudahlah … jangan banyak memikirkan hal yang berat. Tidur saja ya,” pinta Vee.


Memiringkan badan untuk memeluk Vee dari belakang.


Dengan lembut Yazza mencium punggung bahu Vee.


“Beristirahatlah! Kamu sudah bekerja keras.”


“Cih … kamu yang bekerja keras, aku hanya diam saja sedari tadi!” gumam Vee sudah sangat tidak jelas.


Yazza mendengus tersenyum gemas mendengarnya.


...***...

__ADS_1


Hari ulang tahun Caesar.



Hans memarkirkan mobilnya.


“Hei bocah! Gara-gara kamu, mas disuruh bolos sekolah lagi,” cibir Hans.


“Hilih! Mas Hans kan memang paling senang kalau disuruh bolos!” Xean mengolok-olok.


“Itu karena tugas utama mas bukan sekolah! Tapi menjaga kamu!”


“Disuruh mukulin anak-anak yang jahat sama Xean aja nggak mau! Banyak ngomong memang si mas ini!” membuka pintu mobil.


“Mas nggak ikut masuk ya,” dengus Hans.


“Xean ngadu ke papa nih! Tadi pesan papa apa?” mencibir menatap Hans.


“Iya-iya! Mas ikut masuk!”


Xean tersenyum puas untuk mengejek.


Hirza mau supaya Hans terus mengawasi Xean bahkan sampai di kerumunan orang.



Caesar menyambut Yve yang baru datang.


“Yve sini!” panggil Caesar.


Vee tersenyum menatap Yve dan berisyarat agar segera menghampiri.


Yve menarik lengan mamanya, mendekat.


Tasya tersenyum menatap Yve.


“Hei, sayang!” mengelus wajah Yve, “Cantik sekali menjadi Mermaid.”


“Hallo tante!” sapa Yve ramah.


“Yve, yuk ke sana!” ajak Caesar.


“Wah, panggungnya berbentuk kapal! Keren sekali!” puji Yve.


Dekorasi dan seluruh hiasan memang bertemakan bajak laut.


“Ada permainan memancing ikan berhadiah! Ayo ikut!” menarik lengan Yve menuju area mini game yang disediakan.


“Ah … mamanya Caesar?” Vee tersenyum ramah menyapa Tasya.


“Hi … mamanya Yve ya?” Tasya mengulurkan tangan.


“Vee,” menjabat tangan memperkenalkan diri.


“Tasya,” tersenyum begitu anggun.


“Ini adik Caesar yang pernah Yve ceritakan waktu itu?” Vee mengelus pipi Cessa.


“Namanya Cessa dan ini suamiku, Ganny!” menunjuk Ganny.


Ganny tersenyum ramah, “Hallo,” menjabat tangan Vee. “Setiap kali Caesar menelepon, dia akan menceritakan tentang Yve … teman barunya! Hahaha,” terkekeh pelan.


“Ah … Yve juga sering bercerita tentang Caesar! Dia teman pertama putriku setelah kami pindah ke sini.”


“Saya juga dengar jika Yve adalah anak yang sangat pemberani!”


Vee tersipu, “Ah … apakah ini tentang kejadian beberapa waktu yang lalu?”


Tersenyum mengangguk, “Caesar bilang, teman barunya sanga keren karena berani menghajar kakak kelas yang nakal.”


Semakin malu, “Anak itu belajar sedikit ilmu bela diri sejak kecil!”


“Eh … bagus juga jika anak kita berlatih bela diri!” Ganny menatap istrinya.


“Kita tidak bisa memaksakan kehendak anak. Biarkan dia memilih jalan yang ingin dia ambil. Sebagai orang tua, kita hanya bisa mendukung!”


Vee tersenyum mendengar jawaban Tasya, “Anda sepertinya ibu yang sangat baik!”


Ganny merangkul istrinya, “Hahaha, istriku memang yang terbaik!”


Melihat keharmonisan kedua pasang suami istri ini, membuat Vee tersenyum ikut senang.


“Oh ya … nikmati saja pesta kami! Semoga bisa membuat anda senang!” Tasya kembali tersenyum ramah.


“Pestanya sangat meriah!” puji Vee.

__ADS_1


Tersenyum sipu, “Demi menyenangkan anak … apapun akan kami lakukan!”


Vee melihat ke sekeliling, “Ya … itu benar!” tersenyum takjub.


“Mas … dia calon istri pak Yazza itu loh!” Tasya menatap suaminya.


Terkejut, “Sungguh? Jadi anda yang sempat ramai diperbincangkan banyak orang itu? Hahaha,” terkekeh pelan.


“Ah … itu hanya dilebih-lebihkan!” Vee menunduk malu.


“Apa pak Yazza juga ikut?” Ganny celingukan.


“Dia sibuk menyelesaikan urusan kantor yang sempat tertunda.”


Menyipitkan mata, “Setahuku pak Yazza tidak pernah menunda-nunda pekerjaannya?”


“Emb … dia sempat sakit tiga hari dan harus di rawat di rumah sakit.”


Terkejut, “Benarkah? Maaf kami tidak tahu, jadi kami tidak menjenguk beliau!”


“Sebenarnya kami memang sengaja tidak mengatakan kepada siapapun!” Vee cengengesan.


“Lalu bagaimana dengan pernikahan kalian?”


“Sudah beres semuanya … tinggal menghitung hari.”


Terkekeh, “Hahaha … bagus kalau begitu. Jangan lupa undang kami!”


“Tentu seja!” Vee tersenyum kembali mengelus pipi Cessa.


Tasya tersenyum menatap Vee.


Wajar saja Yazza mengejar wanita ini.


Kurasa jika aku laki-laki, aku juga akan menyukainya!


Gumam Tasya dalam hati.


Tisya baru keluar dari dalam.


Vee melihat ke arahnya.


Tentu dia merasa tidak asing.


Mereka pernah bertemu di acara lelang waktu itu.


Tisya tersenyum hangat, “Hi …,” sapa wanita itu lembut.


Vee tersenyum, “Hi juga!”


“Ah … ini adikku, Tisya!” Tasya memperkenalkan.


Vee dan Tisya saling berjabat tangan.


Kedua kakak beradik ini sungguh terlihat sangat mengagumkan.


Jadi tidak percaya diri berdiri di dekat mereka!


Vee jadi insecure dengan kesempurnaan Tasya juga Tisya.


“Kita pernah bertemu sebelumnya,” Tisya berusaha bersikap ramah.


“Ah … benar! Saya melihat anda di acara lelang waktu itu.” Vee meringis.


“Maaf karena saya tidak menyapa. Karena kita belum mengenal satu sama lain sebelumnya.”


Tersenyum, “Ah … saya juga meminta maaf kalau begitu!”


Tasya terkekeh, “Hahaha … karena kita semua sudah mengenal sekarang dan terlebih anak-anak kita juga bersahabat, mungkin kita juga akan bisa menjadi teman baik.”


Tisya tersenyum, “Kakak benar! Nyonya Gionio ini sepertinya memang sangat berkarakter,” puji Tisya penuh makna mendalam.


Vee tersipu, “Pernikahan kami masih sebulan lagi. Panggil saja Vee!”


Tersenyum, lalu pandangannya fokus ke arah depan.


Gerry berjalan masuk bersama Berliana yang menggelayut di lengannya.



Astaga!


Kenapa dia sini!


...-@,@- To Be Continue -@,@-...

__ADS_1


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2