RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
METODE PLAYING VICTIM


__ADS_3

“Ini gawat sekali!” pak Didik memegang kepalanya.


Daniel dan Vee menatap pak Didik menyipitkan mata.


“Shhh! Kenapa sih?” tanya Daniel khawatir.


“Barang yang seharusnya dikirimkan ke Nirwana tiba-tiba saja hilang dalam pengiriman. Dan sekarang dari pihak Nirwana mempertanyakan kinerja kita yang dianggap tidak bisa tepat waktu!”


“Apa?” Daniel berdiri panik.


“Kok bisa hilang?” Vee mendengus resah.


“Aku sudah menyuruh beberapa orang untuk melacak … tapi belum ada kejelasan sampai sekarang!” pak Didik duduk dengan frustasi.


Daniel tapak berpikir, “Emb … Vee, telepon dan beri penjelasan ke Nirwana, bicarakan baik-baik dan minta waktu sebentar lagi. Katakan pada mereka, kita pasti akan mengirim sebelum jam 10 malam!”


“Baik pak Daniel!” Vee segera mengambil gagang telepon.



“Tunggu dulu!” sela Daniel.


Batal hendak menekan nomor telepon, “Ya?”


“Biar aku saja yang menelepon nanti … ini sudah hampir jamnya Yve pulang sekolah, kamu harus segera pulang untuk menjemputnya!”


“Ah … pak Daniel tidak perlu khawatir, Yve bilang temannya mau mampir. Temannya ini selalu bersama pengasuh. Karena mereka akan ke apartemen, mungkin dia juga bisa menjaga Yve sekalian!”


“Tetap saja itu orang asing!”


“Setidaknya Yve tidak pulang sendirian … jika dia sudah di rumah, dia akan mengerti apa yang harus dia lakukan!”


“Yve masih kecil Vee!” Daniel khawatir.


“Shhh! Jangan mendebat lagi ... kita hadapi dulu masalah ini!” tegas Vee.


Pak Didik cengingisan, “Hmph … seperti berada di antara pertengkaran kedua orang tua tentang anaknya!” menyindir halus.


Vee mencibir, “Cih … jadi ini gimana kelanjutannya?”


“Pak Didik, sepertinya kita harus turun tangan ikut mencari deh!” Daniel mendekat.


“Ah … bagaimana jika aku yang menelepon mereka dan kalian yang mencari. Kan aku sudah tua, tidak kuat jika berlama-lama di dalam mobil!”


“Haiz … Vee harus segera pulang setelah menelepon!” tegas Daniel.


“Ah … tidak apa-apa kok … pak Didik di sini saja! Biar saya dan pak Daniel yang pergi menyelidiki.”


“Tapi Vee!” sela Daniel.


Tersenyum, “Aku akan menelepon Yve dan memberitahukan padanya nanti … dia pasti mengerti kok!”


“Ah, aku jadi tidak enak hati!” pak Didik seolah polos.


“Hya pak Didik tidak mau mengalah sekali!” protes Daniel.


“Hya! Aku memberi kesempatan kalian berduaan! Dasar anak ini tidak mengerti juga!” sentak pak Didik kesal.


Daniel nyengir, lalu detik berikutnya bertolak pinggang melotot menatap pak Didik, “Tapi bagaimana dengan Yve!”


Vee justru tersenyum senang, Daniel begitu mengkhawatirkan tentang putrinya.


Padahal dia selalu berargumen dengan Yve.


“Baiklah begini saja … bagaimana jika aku yang ke rumah Vee untuk menjaga Yve?” ucap pak Didik menyarankan.


“Sungguh?” Daniel menyelidik memicingkan sebelah mata.


“Tentu saja … setidaknya aku berada di dalam rumah! Bisa rebahan dan bersantai.”


“Ckkk! Dasar orang tua!” Daniel mendengus mencibir.

__ADS_1


“Hya!” refleks tangan pak Didik meraih buku di meja kerja Vee.



Daniel langsung berlari, bersembunyi di balik bahu Vee.


“Hya … ringan tangan sekali sih!” protes Daniel.


Tersenyum, “Sudahlah!” Vee menarik buku dari tangan pak Didik, “Tidak perlu repot kok! Pak Didik pulang saja!”


“Tidak Vee … aku sudah merepotkan. Maaf sebelumnya, tapi sungguh … aku tidak keberatan menjaga Yve!” tersenyum ramah.


“Hati-hati anak itu galak!” cibir Daniel.


Vee memukul Daniel dengan buku tadi, “Ayo jalan sekarang! Jangan menunda waktu lagi!”


“Hei … pak Didik dengar … dia mengajakku jalan!” goda Daniel cengingisan.


“Hya! Minta dipukul lagi?” tegas Vee.


Daniel mencibir, berjalan mendahului.


“Sepertinya kalian berdua adalah ayah dan anak … mirip … gemar memukul!” gerutu Daniel menyindir Vee dan pak Didik.


Vee terkekeh pelan, “Mama sendiri yang sudah memberi ijin untuk memukul kapanpun aku mau!”


“Mama?” tanya pak Didik menyipitkan mata.


Daniel berhenti di depan pintu, “Ahh benar … dia sudah memanggil mama Risma dengan sebutan ‘mama’ … manis sekali bukan?” Daniel cengingisan.


Vee tersenyum sipu menatap pak Didik, “Kemarin saya bertemu dengan beliau … bu presdir memintaku memanggilnya dengan sebutan itu!” jelasnya.


Meringis menggoda, “Iiiiihhhhh … jadi sudah sejauh itu?”


“Shhh! Pak Didik jangan melebih-lebihkan!” Vee mencibir.


“Tiiidaaaaak!” tapi dia masih meringis mengejek Vee cengingisan.



Daniel tersenyum senang membukakan pintu.


“Hati-hati kalian!” pak Didik melambai.


“Ingat pak! Segera menemui Yve begitu selesai menelepon!” Daniel mengingatkan.


“Jangan khawatir! Aku bisa diandalkan!” pak Didik terkekeh percaya diri.


...***...


Caesar dan Yve berjalan berdampingan di sepanjang trotoar.



“Maaf ya, bibi Nanny dan supirku tidak bekerja hari ini. Jadi kita harus berjalan kaki!” Caesar merasa bersalah.


“Tidak masalah … dekat kok! Di depan sana!” Yve menunjuk gedung di depan.


“Iya … ternyata rumahmu dengan sekolahan sangat dekat ya! Tapi … nanti setelah kamu pindah bagaimana?”


“Ya, mungkin harus diantar juga!”


“Tapi tidak pindah sekolah ‘kan?” tanyanya khawatir.


Menggeleng, “Aku suka bersekolah di sini. Semua orang-orangnya baik!”


Tersenyum lega, “Baguslah kalau begitu!”


Mereka sampai di apartemen Yve.


“Wah, rumahmu bagus!” Caesar melihat-lihat sekeliling.

__ADS_1


“Mama akan lembur hari ini. Tapi katanya, nanti paman Didik akan datang!”


“Mamaku juga menelepon tadi … katanya om yang akan menjemput nanti!”


“Ah, baguslah ada yang menjemput. Jika mama tidak lembur, pasti kami akan mengantarmu nanti!” tersenyum.


“Nanti aku malah jadi merepotkan! Eh iya, di mana kerangnya?” Caesar tersenyum antusias.


“Sini!” Yve berlari menuju kotak besar dekat Tv.


Caesar tersenyum mengikuti.


...***...


Tidak usah datang ke apartemen.


Aku akan pulang terlambat.


Ada pak Didik di sana!


Yazza tersenyum mencibir membaca pesan dari Vee.


“Tuan anda sudah benar-benar siap dengan kehebohan yang akan timbul nantinya?” tanya pak Ardi berdiri di dekat Yazza.



“Metode playing victim memang akan lebih efektif untuk saat ini!”


“Lalu bagaimana dengan orang-orang yang berniat menjatuhkan anda?”


“Mungkin … sampai kegaduhan itu berhenti, aku akan berpura-pura baik di hadapan anak itu. Masalah Vee, dia cukup dewasa untuk memposisikan dirinya!”


Yazza menghela nafas menyandar punggung kursinya.


“Ya … anak-anak memang akan cenderung berbicara sesuai kenyataan,” pak Ardi menerawang.


“Aku sangat muak tiap kali melihat wajahnya … mengetahui kenyataan bahwa dia bukan putri Vee, kenapa aku begitu kecewa?”


“Tuan, bagaimanapun juga … dia putri anda!”


Menatap pak Ardi garang, “Sudah kubilang, aku tidak akan sembarangan mengakui anak yang terlahir dari seorang wanita murahan!”


Menunduk ketakutan, “Maaf tuan!”


“Vee bilang, dia akan terlambat pulang. Cari tahu ke mana dan apa alasannya!”


“Baik tuan!”


“Karena anak haram itu … Vee harus menerima cibiran dan menyandang status yang tidak pernah diharapkan wanita manapun!”


Yazza geram mengingat perkataan Berliana sewaktu di Bandara.


“Bagaimana bisa orang-orang mengatainya wanita murahan yang hamil diluar nikah, sementara dia ternyata menjaga kesuciannya selama ini!” mencibir pada dirinya sendiri.


“Tuan, nyonya Vee yang terlalu baik sebenarnya. Jika dia bahkan rela dihina, maka anak itu memang prioritasnya!”


Memejamkan mata, “Setelah menikahi Vee … akan ku kirim anak itu ke asrama!” mengepalkan tangan.


“Menurut saya, dari pada harus memotong sayapnya … lebih baik mengikatnya saja … bukankah dengan begitu anda bisa mengendalikan sesuka hati anda?”


Membuka mata, menoleh tipis ke arah pak Ardi, “Mengikat … apa pernikahan saja masih tidak cukup?”


“Mengingat begitu keras kepalanya nyonya Vee … sebaiknya dalam hal ini anda memikirkannya lagi!”


Tampak terdiam memandang ke luar jendela.


Sepertinya Yazza sedang mempertimbangkan saran pak Ardi.


Mengikat?


...-@,@- To Be Continue -@,@-...

__ADS_1


...>))))>' '<((((<...


__ADS_2