
Hans tengah mempersiapkan keperluan Hirza untuk pertemuan penting yang diadakan di kantor pusat Paradise.
“Kenapa kamu meninggalkan Xean lagi?” Hirza masih duduk santai.
“Pasti dia juga kegirangan karena bisa main game sepuasnya tanpa dimarahi jika kita tidak ada!” cibir Hans.
“Dia harus mulai bisa belajar bisnis dasar!”
“Haiz! Dia masih SD mas bro!”
“Tetap saja harus mulai belajar serius. Dia adalah pewaris asli Paradise!” tegas Hirza.
Menghela nafas, “Kasihan anak itu!”
Mencibir, “Kamu harus bertanggung jawab atas dirinya!”
“Dih, mau lepas tangan. Kan ayahnya itu mas bro! Bukan aku!” Hans mengernyit.
Berdiri merapikan jas, “Ayo turun!”
“Siap!” langsung bersikap tegap berdiri formal menenteng laptop.
...***...
Yazza bertemu Gerry di depan lobby kantor.
“Eh … lihat siapa yang datang ini!” cibir Gerry.
Membuang muka, “Aku malas berurusan dengan orang yang tidak penting!”
“Aku akan mengalahkan mu kali ini!” ucap Gerry penuh percaya diri.
“Well, silahkan saja! Bukankah kalian sudah di tandai oleh Paradise? Cukup punya muka juga kalian!” olok-olok Yazza.
“Justru aku di sini karena mau membuktikan pada mereka jika kami layak bertahan di dunia bisnis!”
Mengangkat bahu, “Sepertinya aku tidak peduli!” berjalan mendahului.
“Hei, kamu yakin mau menikahi wanita itu?” ikut berjalan.
“Bukan urusanmu!” tetap berjalan acuh.
“Apa kamu juga tahu jika bosnya sering bareng sama dia? Bahkan bosnya itu pernah menginap di apartemen calon istrimu loh!”
Yazza berhenti melangkah.
Pak Ardi langsung menoleh ke arah Gerry yang ikut berhenti.
“Jaga bicara anda!” tegas tangan kanan Yazza kepada pria yang sudah sejak lama bermusuhan dengan tuannya.
Terkekeh, “Hahaha … jadi kamu tidak tahu wanita seperti apa yang akan kamu nikahi itu? Kurasa dia berselingkuh di belakangmu! Seperti yang dulu pernah terjadi pada hubunganmu dengan Berli!”
Yazza menoleh, menatap tajam ke arah Gerry, “Sebaiknya kamu cepat-cepat membawa gundiikmu itu keluar dari apartemen calon istriku! Apa kamu tidak takut jika dia membocorkan semua rahasia perusahaan mu pada kami?”
Menyipitkan mata, “Berli ada di apartemen wanita itu?”
“Oh, kamu tidak tahu ya?” tersenyum sinis kembali membalikan badan.
Yazza berdiri di hadapan Gerry dengan postur santai tapi mengintimidasi.
“Dia mendatangiku menangis memohon untuk diselamatkan. Kurasa dia mulai merayu-rayu dan berbuat baik padaku untuk menarik perhatianku lagi! Jika aku sedikit saja menggunakan tipuan, dia pasti akan dengan senang hati menceritakan semua tentang perusahaan sekaratmu ini!” tersenyum, “Dan dengan mudah, aku akan meruntuhkan apa yang sudah kamu bangun selama ini hanya dengan satu jentikan jari!”
Gerry tampak terdiam geram mengepalkan tangan dengan tatapan nanar.
Yazza tersenyum sengit, membalikan badan dan kembali melangkah.
“Pak Ardi … periksa rekaman CCTV di gedung apartemen Vee satu bulan terakhir ini!” desis Yazza.
“Tuan! Anda termakan omongan pak Gerry?” pak Ardi menyipitkan mata.
“Jangan banyak tanya. Cari tahu saja!”
“Baik tuan!”
Yazza dan pak Ardi sudah masuk ke dalam lift.
Gerry mendengus kesal menatap Raya.
“Apa kamu tahu tentang ini?”
Salah tingkah, “Emb, aku … aku tidak tahu! Bukankah kamu yang memintaku untuk tidak menanggapi telepon darinya?”
“Yang aku tanyakan, kamu tahu tentang ini atau tidak!” tegas Gerry.
__ADS_1
Menunduk ketakutan, “I … iya!”
“Goobloock!” bentaknya mendesis tajam agar tidak terlalu menarik perhatian, “Kamu tahu tidak resikonya jika dia tetap berada di dekat Yazza?”
“Ya, aku cuma nggak mau, kalau dia balik lagi ke rumahmu!”
“Lalu dengan begitu, kamu bisa menyelamatkan perusahaan kita? Otak kamu di mana sih! Aku nggak mau tahu, setelah ini hubungi dia dan ajak dia tinggal di apartemen mu!”
“Tapi ….-”
“Jangan membantah!” tegas Gerry menyela.
Cemberut mendengus kesal, “Baiklah!”
Mendengus melihat ke sekeliling, ada mesin kopi di depan, “Aku mau kopi … stres sekali!” bertolak pinggang dengan sebelah tangan memegang kepala.
“Dingin atau panas?”
“Yang panas!”
Raya mengangguk, melangkah berjalan menuju meja samping resepsionis.
Setelah menuang kopi ke cup, tidak sengaja dia melihat Hirza dan Hans keluar dari lift.
“Mas bro tunggu saja di atas, biar aku yang mengambilkan handphone mas bro di dalam mobil!”
“Haiz!Kenapa kamu selalu mengikutiku sih!”
“Yaa … daripada harus mendahului ke ruang meeting dan bertemu mas Rudi,” cibir Hans.
“Dasar anak ini!”
Raya menabrak Hirza, “Aaa! Astaga maaf!” menumpahkan kopi di pakaian Hirza.
Hirza menatap tajam, kesal dan hendak marah.
Gerry terkejut melihat ke arah Raya.
“Kamu ini gimana sih!” sentak Hirza.
Mencoba membersihkan pakaian Hirza dengan sapu tangannya, “Sungguh maafkan saya! Saya tidak sengaja!”
Hans tidak sengaja melihat ke arah Gerry.
Secara tidak kentara dia menyenggol lengan Hirza, “Ya ampun! Aduh … mas harus ganti pakaian deh! Masak iya … mau meeting pakaiannya kotor begini?”
“Ganti gimana?” sentak Hirza.
Hans mengkerlingkan mata, membuat Hirza menyipitkan mata melihatnya.
“Kan di ruang kerja mas ada pakaian ganti tuh, ganti dulu deh!” melihat ke arah Raya, “Bantu pak Hirza ya, aku harus mengambil handphone di mobil!”
Raya tersenyum, “Tentu! Saya yang membuat kesalahan, saya pasti akan bertanggung jawab.”
Bagus!
Aku mendapatkan juga kesempatan ini!
Gumam Raya dalam hati.
Merebut kunci mobil dari tangan Hirza, “Mas ke atas dulu deh!” mengkerlingkan mata, berisyarat menunjuk ke arah Gerry lalu berlari kecil menuju pintu lobby utama.
Hirza menghela nafas panjang, “Ya sudah deh! Ikut aku,” Hirza kembali berjalan menuju lift.
Raya mengikuti dengan senyum sipu.
Gerry tersenyum sinis, “Boleh juga tipuan anak itu!” desisnya lirih pada dirinya sendiri.
...***...
“Jadi kamu sekretarisnya pak Gerry?” tanya Hirza begitu masuk ke dalam ruang kerjanya.
“Tepat sekali pak!” memegang lengan Hirza, “Emb, biar saya bantu melepaskan.”
Hirza hanya diam menurut.
Raya tersenyum menggoda, dengan gerakan lembut dia melepas jas Hirza disertai sentuhan yang berirama.
Hirza tersenyum memahami isyarat yang di tunjukan Raya kepadanya.
Raya berdiri di hadapan Hirza memegangi jasnya, “Upss! Maaf!” dengan sengaja dia menjatuhkan jas ke lantai.
Raya langsung jongkok di hadapan Hirza. Rok pendeknya sengaja diperlihatkan untuk memamerkan pahanya.
__ADS_1
Mendongak menggigit bibir bawahnya, “Maafkan atas keteledoran saya pak Hirza!” gaya bicaranya dibuat-buat agar terdengar menggairahkan.
Hirza duduk di ujung meja dengan santai, “Kamu terlihat cukup menarik!”
Tersipu, “Benarkah?” masih jongkok di depan Hirza.
“Aku bisa membantu perusahaanmu mendapatkan proyek ini! Tapi apa yang bisa kamu lakukan untuk berterima kasih?”
Raya berjalan seperti hewan berkaki empat, sengaja memperlihatkan belahan dadaanya mendekat ke arah Hirza.
Dengan sentuhan manja, tangannya menyusuri paha Hirza, “Apapun yang pak Hirza inginkan!”
Tersenyum, “Termasuk permainan panas di atas ranjang?”
Mengangguk manja, masih mengelus paha Hirza, “Saya bisa memberikan malam terindah yang tidak akan pernah pak Hirza lupakan!”
Menahan lengan Raya, “Emb … tidak sekarang!”
Mendongak menyipitkan mata.
“Semua orang pasti sudah menunggu di ruang meeting. Bagaimana jika setelah pertemuan ini kamu datang ke apartemenku?”
Tersenyum mengangguk manja, “Dengan senang hati pak Hirza!”
Hans masuk tanpa mengetuk pintu.
“Ups maaf!”
Raya langsung berdiri salah tingkah.
“Tidak perlu mengkhawatirkan tentang dia!” menatap Hans, “Bersihkan apartemenku! Malam ini akan dipakai! Siapkan juga pakaian yang sexy untuknya,” Hirza mengambil kartu apartemen, “kamu bisa datang duluan untuk bersiap begitu meeting ini usai.”
Raya menunduk hormat tersenyum manja, “Siap pak Hirza!”
“Kamu bisa pergi dulu sekarang, aku harus berganti baju!”
“Baik pak!” Raya kembali memberi salam hormat sebelum melangkah pergi.
Langkahnya semakin di buat-buat. Melenggak-lenggok agar terlihat makin menarik.
Hans mendekat mencibir begitu Raya sudah keluar dari ruangannya.
“Widih, abis ngapain sampai jongkok segala di situ!” goda Hans cengengesan.
Hirza langsung melempar vas bunga ke arah Hans.
“Eiitzz!” dengan sigap Hans menangkap.
“Sekali lagi melibatkan aku dalam permainan menjijikan seperti ini … akan aku lempar kau ke lubang buaya!” geram Hirza kesal.
Mencibir, “Cih! Dikasih kesempatan enak-enak malah marah!”
“Kepalamu itu enak-enak!” sentak Hirza meninggikan nada.
Hans memberikan pakaian ganti dan handphone milik kakaknya.
“Nah ngapain nyuruh bersihin apartemen dan siapin pakaian sexy?” Cengengesan, “Jadi ngebayangin yang mantap-mantap!”
Menendang Hans keras, “Hya! kamu masih di bawah umur!”
Hans mencibir mengelus kakinya, “Tetap saja aku ini seorang pria!”
“Siapkan saja yang aku minta tadi! Ini akan jadi drama seperti yang kamu harapkan!”
“Mas bro memangnya serius mau nanggepin dia?”
“Aku tahu maksud kamu yang sebenarnya! Kamu mau menggunakan wanita tadi supaya menjelekan image G Corporation bukan?”
“Ya! Dan aku tidak menyangka … mas bro beneran tertarik padanya!” cengengesan.
Tersenyum sengit, “Aku hanya ingin membuat drama ini lebih menarik,” melepas kemeja.
Bentuk tubuh sempurna terlihat jelas melalui pantulan tembok kaca.
“Setelah sekian lama menjadi biksu … akhirnya …-”
Hirza melempar kemeja kotornya ke muka Hans.
“Hya! Mas bro!” protes Hans.
“Berisik!”
Mencibir sambil merapikan pakaian kotor Hirza.
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
__ADS_1
...>))))> ' ' <((((<...