RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
RAHASIA DALAM SEBUAH RAHASIA


__ADS_3


Pak Didik sengaja menunggu Daniel di depan lobby.


Mondar-mandir dia melangkah penuh kegelisahan.


Mobil Daniel berhenti di depan pintu utama, satpam langsung mendekat untuk membukakan pintu mobil.


“Makasih!” Daniel turun memberikan kunci mobil padanya.


Satpam tersenyum menunduk hormat, menerima kunci dan segera masuk ke dalam mobil untuk memarkirkannya.


Terkejut melihat pak Didik, “Eh, kenapa masih bersantai-santai di situ!”


“Hya! Kita harus bicara!” langsung menarik lengan Daniel.


“Ih, sabar! Apa sih?” berhenti menghentakkan tangan pak Didik.


Memicingkan mata menatap Daniel.


Daniel menghela nafas panjang, “Pasti papa sudah menelepon pak Didik kan?”


Pak Didik mendengus tanpa menjawab.


“Haiz … aku heran deh! Kenapa papaku selalu memberitahukan apapun ke pak Didik! Jadi semakin curiga … sepertinya pak Didik memang menjual aku ke orang tuaku yang sekarang kan?”


“Hya! Masih saja bisa bercanda!” sentak pak Didik bertolak pinggang.


Meringis tersenyum memegang bahu pak Didik, “Ah … iya-iya maaf!” mengelus lembut, “Jadi kenapa nih!”


“Ayo ikut!” berjalan mendahului.


Daniel mengangkat bahu, mengikuti.


Begitu sampai di ruangan Daniel, pak Didik langsung mengunci pintu.


“Hya! Orang-orang akan berpikir aneh nantinya!” Daniel bertolak pinggang.


“Heh, jangan pikirkan itu sekarang! Maksud kamu itu apa sih?”


“Maksud apa?” Daniel menyipitkan mata menatap lekat pria paruh baya di hadapannya.


“Kenapa tiba-tiba jalan sama bu Tisya? Iya sih dia cantik banget, tapi bukankah kamu sedang dekat dengan Vee?” memegang kepalanya, “Aduh Daniel, please jangan membuat masalah dengan Nirwana! Aku tahu, satu-satunya orang yang kamu cintai itu cuma Vee! Dengan mempermainkan bu Tisya, karirmu bisa dalam masalah besar!”


Daniel menghela nafas pajang menurunkan lengannya.


“Itu dia! Aku juga bingung. Jika Vee sampai tahu, pasti dia akan marah padaku!”


“Lalu kenapa setuju!”


“Ya aku tidak ada pilihan untuk menolak!” Daniel duduk kesal di kursi kerjanya, “Pak Didik bayangin deh, kita tiba-tiba diundang makan malam bersama dengan seluruh keluarga Nirwana, lalu pak Ganny meminta aku untuk mengenal Tisya. Masalahnya mereka itu berkuasa, kita tidak boleh sembarangan menolak atau menyinggung mereka!”


Pak Didik ikut menghempaskan nafas panjang, “Lagian kenapa jadi seperti ini sih?”


“Kata pak Ganny, Tisya tertarik pada ketampanan ku ini,” merapikan rambut dengan kedua tangan dengan gaya tengilnya.


“Hya masih saja bercanda!” sentak pak Didik.


Cengengesan, “Lah … kan memang begitu alasannya. Cuma masalahnya, bagaimana mengatakan ini pada Vee? Kalau aku jujur, terus Vee marah dan dia resign lalu tidak mau menemui aku lagi gimana?”


“Kamu dan Vee statusnya itu juga hubungan gelap kan?” cibir pak Didik.


Mengernyit, “Hya! Jangan diperjelas!”


“Lagian memangnya kamu bisa menutupi semua ini dari Vee?”


“Aku sih sudah bilang pada Tisya untuk tidak mengekspos kedekatan kita. Kebetulan, dia akan ada proyek pembangunan rumah yang akan melibatkan kita. Jadi jika misal sering bertemu dengannya, Vee juga tidak akan curiga bukan?”

__ADS_1


Bertolak pinggang, “Hya! Kenapa jadi playboy gini sih sekarang. Dulu saja berpuluh-puluh tahun menjomblo, giliran sudah mendapatkan wanita yang kamu mau, malah dapat bonus satu lagi. Dasar aneh!”


Daniel nyengir menatap pak Didik, “Bantu aku merahasiakan tentang ini ya?”


“Memangnya ada hal gila yang tidak pernah aku bantu selama ini?”


Tersenyum menatap pak Didik, “Ah … pak Didik memang paling best!”


“Jangan memujiku seperti itu! Menjijikan!” mencibirkan bibir membuang muka.


Cengengesan, “Oh ya, nanti aku mau kencan sama Vee, dengan alasan sidak ke toko furniture! Dia mau memilih perabotan untuk apartemen baruku, pak Didik jaga kantor ya!”


Kembali mencibir, “Aku mulai memikirkan tentang proposal pengajuan kenaikan gaji!”


“Ah itu sih gampang. Harus disuap berapapun juga akan aku turuti!”


Menjitak kepala Daniel, “Hya! Profesional dong! Jangan menerapkan citra buruk di kantor ini!”


“Lah … kan pak Didik yang meminta kenaikan gaji!”


“Hya! Aku hanya mengetes saja!”


Daniel cengengesan,”Ah benar, aku kan anak pak Didik yang di adopsi pak Fauzan!”


“Hya anak ini benar-benar minta di hajar! Pak Fauzan dan bu Risma itu orang tua kandungmu!”


Daniel cekikikan gemas melihat ekspresi pak Didik yang tampak kesal karena keisengannya.


Menghela nafas panjang, “Heh … mengenai hubungan gelap mu ini, berhati-hatilah! Jangan sampai pak Yazza tahu! Kelar hidupmu jika sampai ketahuan!”


Daniel tersenyum pedih, “Pak Didik jangan khawatir.”


Jujur, memang ada ketakutan jika memikirkan tentang Yazza.


Jelas-jelas Yazza lebih keren dan lebih hebat darinya.


Vee mau menerima Daniel saja, rasanya sudah merupakan sebuah keberuntungan yang besar.


Meski selamanya dia harus terus bersembunyi.


Rasanya, itu sudah lebih dari cukup.


...***...



Caesar sengaja menunggu Yve di depan kelas.


Sudah hampir jam masuk dan yang dia nantikan masih belum datang.


Kenapa Yve belum terlihat!


Padahal aku mau bercerita tentang papa bohongannya!


Gumam Caesar dalam hati.


Bel masuk berbunyi.


Caesar masih saja celingukan di luar.


Bu Tania yang memang hendak mengajar, melihat salah satu anak didiknya masih di luar kelas bahkan ketika bel sudah terdengar.


“Loh … sayang! Kok masih di sini sih?” tanya bu Tania lembut.


“Yve belum datang!”


Tersenyum mengelus rambut Caesar, “Sayang, Yve kan pindah sekolah!”

__ADS_1


“Apa? Kenapa dia tidak memberitahu padaku?”


“Ah, mungkin dia masih sibuk. Kan dia pindah rumah sekarang, jadi juga harus pindah sekolah.”


“Hah? Jadi Yve sudah pindah rumah juga?”


Mengangguk, “Ya sudah, masuk dulu yuk!”


Caesar menghempaskan nafas panjang, menunduk sedih, “Baik bu!”


Dengan langkah tidak bersemangat dia masuk ke dalam kelas.


Xean yang berniat bolos bersembunyi di balik tiang. Dia tidak sengaja mendengar percakapan mereka.


Jadi adik Yve pindah rumah dan pindah sekolah?


Itu artinya tante Vee juga tidak di apartemen itu lagi!


Aku harus menelepon papa!


Tapi kalau menelepon sekarang, akan ketahuan aku bolos dong?


Ya sudah deh terpaksa nggak jadi bolos!


Nanti pas istirahat aku baru menelepon papa!


Xean memutar badan, hendak kembali ke kelasnya.


...***...



Vee dan Yazza selesai mengurus kepindahan Yve ke sekolah baru.


Mulai sekarang Yve sudah resmi menjadi murid di sekolah khusus anak perempuan itu.


Satu atap dengan SMP dan SMA.


Sekolahnya besar, luas dan memiliki reputasi yang bagus. Sudah berstandar Internasional juga. Dan oleh karena itu, Vee tidak banyak memprotes lagi tentang masalah ini.


Pasti pak Ardi yang sudah merekomendasikan pada Yazza.


Pak Ardi memang tidak pernah setengah-setengah dalam melakukan hal apapun.


Sekarang keduanya dalam perjalanan menuju kantor.


“Tidak mengomel lagi?” sindir Yazza.


“Terima kasih pak Ardi!” ucap Vee sengaja mengabaikan Yazza. Wanita itu tersenyum ke arah pak Ardi yang mengemudikan mobil.


“Cih!” Yazza membuang muka melihat ke luar jendela.


Pak Ardi tersenyum, “Nona Yve adalah putri tuan Yazza. Orang-orang akan mulai bergosip jika putri seorang pengusaha sukses bersekolah di tempat biasa!“


“Yeah, terdengar tidak mengejutkan!” cibir Vee.


“Meskipun harus buang-buang uang. Setidaknya aku menyelamatkan reputasi ku!”


Vee melirik memicingkan mata, “Yeah! Memang tidak ada yang lebih berharga dari reputasi, nama baik dan kehormatan bagi seorang Yazza!” sindir Vee tajam.


Yazza mendengus tersenyum kecut tanpa melihat ke arah Vee.


“Jangan pikir ini gratis! Kamu harus mengganti biaya sekolah anak itu dengan sesuatu,” ucap Yazza datar.


Vee langsung menoleh menatap Yazza menyipitkan mata.


“What?”

__ADS_1


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2