RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
BALAS DENDAM


__ADS_3

Pak Ardi menjadi panik tanpa sebab yang pasti.


Melihat tuannya tampak gelisah menatap layar laptop tentu membuatnya curiga.


“Apa ada yang salah?” tanyanya hendak memastikan.


“Pak Hirza mencoba melakukan panggilan video!” Yazza masih berdiam, tampak enggan untuk menjawab.



“Tuan! Setidaknya anda harus menjawab!” saran pak Ardi khawatir.


Jika Yazza mengabaikan, Hirza akan berpikir bahwa mereka tidak menghormati Paradise.


“Baiklah! Aku angkat dulu,” dengan enggan Yazza menerima panggilan.


“Selamat siang pak Yazza!” sapa Hirza tersenyum ramah.


Tersenyum basa-basi, “Siang pak! Apa ada yang bisa saya bantu?”


Melihat seksama ke belakang punggung Yazza.



“Anda sepertinya sedang berada di rumah?” tanya Hirza polos.


“Ya … kebetulan sedang mendesain ulang, seperti permintaan pak Hirza!”


“Ah, saya juga hendak bertanya tentang hal itu!”


“Pak Hirza tidak perlu khawatir,” Yazza meringis kembali memegang perut, “Maaf pak! Anda bicara dengan pak Ardi terlebih dahulu,” Yazza memutar laptop ke arah pak Ardi dan bergegas berlari.


Hirza menyipitkan mata, melirik ke arah Hans.


Hans ikut menyipitkan mata sembari mengangkat kedua bahunya.


Pak Ardi linglung salah tingkah, “Ah … emb … maaf itu … emb tuan Yazza mengalami diare sejak pagi!”


Tersenyum lega, “Ah … saya mengerti,” kembali melirik ke Hans sebentar, “Emb … sudah diperiksakan ke dokter?”


“Kebetulan sudah ada dokter yang datang tadi!”


“Ah begitu! Baguslah! Kalian pasti sedang sibuk sekarang,” basa-basi Hirza.


“Emb … iya pak! Kami harus lembur untuk mengejar target.”


Hirza tersenyum, “Kalau begitu saya tidak akan mengganggu lagi. Saya percaya Teratai Putih pasti tidak akan mengecewakan!”


Tersenyum, “Terima kasih pak Hirza sudah mempercayakan proyek ini kepada kami!”


Terkekeh pelan, “Hahaha … saya yang beruntung bisa menggandeng Teratai Putih dalam proyek pembangunan rumah sakit baru Paradise!” melihat jam, “Kalau begitu sampai jumpa di acara pertemuan hari senin!”


Tersenyum mengangguk.


Panggilan di akhiri.


“Bagaimana mas?” tanya Hans mendekat.



“Yazza yang sakit … diare katanya!”


Hans terkekeh menutup mulut, “Apa dia salah makan sesuatu?”


Tersenyum, “Entahlah! Yang jelas aku sudah cukup lega karena bukan Vee yang sakit!”


...***...


Pak Ardi menatap Yazza yang baru keluar dari toilet.


Melihat layar laptop sudah menghadap ke arah tempat dia duduk sebelumnya, membuat Yazza tahu, jika panggilan sudah berakhir.


“Bilang apa saja dia?” tanya Yazza berjalan mendekat.


“Hanya ingin mengecek … apa kita sudah mulai mendesain ulang atau belum!”


Menyipitkan mata, “Aneh sekali! Apakah dia kurang kerjaan?”


Mengangkat bahu, “Sabtu minggu biasanya beliau mengurus rumah sakit!”


“Entahlah! Nggak penting juga!”


Yazza kembali duduk, tepat saat Vee membuka pintu dari luar.


Kepalanya melongok, “Hallo semua! Waktunya makan siang!”


“Sudah ada makanannya? Siapa yang masak?” tanya Yazza sinis.


Mencibir melirik Yazza lalu melihat ke arah pak Ardi dengan senyuman, “Pak Ardi, turun dulu untuk makan, saya sudah menyiapkan! Kalau orang di depan pak Ardi itu tidak mau ya sudah … biarkan saja dia kelaparan!” masih melongok kan kepala di balik pintu.


“Hya!” sentak Yazza kesal.


Pak Ardi tersenyum berdiri, “Kebetulan saya sudah lapar sekali!”

__ADS_1


“Hya pak Ardi! Awas nanti jadi seperti saya loh!” Yazza mengerlingkan mata.


Pak Ardi tidak menghiraukan, “Masakan nyonya Vee pasti enak sekali! Saya tidak sabar untuk mencobanya!” berjalan menuju pintu keluar.


“Hya!” Yazza berdiri kesal bertolak pinggang.


Vee menjulurkan lidah ke arah Yazza.


“Shhh!” membuang muka, “Ya sudah … bawakan makan siang ku ke sini! Aku malas turun!”


Vee mendorong pintu dengan kaki hingga terbuka lebar, “Sudah siap,” tersenyum memegang nampan makanan.



Pak Ardi cengengesan menoleh ke arah Yazza sembari menutup mulut dengan tangan.


“Astaga!” Yazza memegang keningnya “Kenapa harus menyembunyikan begitu sih!”


“Ya … takutnya kalau langsung di bawa masuk … kamu akan menolak!” Berjalan mendekat, “Jadi harus dipancing dulu sampai disuruh!”


“Kalau aku tidak minta?”


“Ya aku bawa turun lagi! Susah amat!” melihat ke arah meja, “Singkirkan itu … nanti kena noda marah-marah lagi!”


Pak Ardi tersenyum menggeleng-gelengkan kepala berjalan melenggang keluar dari kamar lalu menutup pintu dari luar.


“Dasar bawel!” Yazza mulai menyingkirkan file-file yang berserakan di meja.


Menaruh baki makanan, “Sebentar … aku siapkan juga obatnya,” berjalan menuju meja samping ranjang.


Yazza duduk sembari menutup laptop.


Dengan gerakan santai, dia menumpuk file dengan laptop agar Vee tidak sembarangan mengambil file-file itu lagi.


“Bagaimana masih sering lari ke toilet?” kembali mendekat.


“Ya!” berusaha bersikap biasa, agar Vee tidak curiga dan banyak bertanya tentang proyek Paradise.


“Ke rumah sakit saja yuk! Takutnya kamu kehilangan banyak cairan tubuh juga nantinya!”


“Nggak perlu! Aku masih punya banyak hal yang harus dikerjakan!”


Duduk disebelah Yazza, “Oh ya … kamu ada bisnis dengan Hirza?” mencoba mengambil file.


Yazza menahan lengan Vee, “Eh … tadi pagi kamu bilang mau menjadikan aku sebagai penilai masakan mu kan? Serius dengan rencana membuka restaurant?” sengaja mengalihkan pembicaraan.


Menatap Yazza tersenyum antusias, “Ah iya! Sebenarnya itu sudah keinginanku sejak masih di pesisir sih! Berhubung sekarang tidak memiliki pekerjaan, aku kembali kepikiran tentang hal ini. Sejak semalam kita makan malam di restaurant, aku mulai menguatkan niat untuk membuka sebuah rumah makan yang bisa dipakai juga untuk berkumpul dengan keluarga!”


“Memangnya kamu sudah benar-benar yakin, mau mengundurkan diri dari White Purple?” tanya Yazza melepas lengan Vee yang sudah teralihkan perhatiannya.


“Lalu kamu sudah memikirkan tentang berapa banyak ganti rugi yang akan kamu berikan pada para pengunjung restaurant mu jika mereka semua harus mengalami sakit perut seperti yang aku alami ini?” tanya Yazza sengaja mengolok-olok.


“Hya!” melirik kesal mendengus ke arah Yazza.


Yazza tersenyum mendengus mengabaikan sembari mengambil sendok makan.


“Harusnya kali ini aku benar-benar menaruh obat pencahar lagi ke dalam makannya!” cibir Vee mendengus membuang muka.


Yazza hanya tersenyum pura-pura tidak mendengarkan.


...***...


Dania beres-beres di kamar Yve.



Dia cukup heran dengan sikap orang-orang terhadapnya pagi ini.


Hari minggu, karena tidak perlu mengantar Yve ke sekolah, dia memanfaatkan waktu untuk menghindari orang-orang dengan berada di kamar Yve.


Sambil menunggu jam mengantar ke tempat latihan bela diri, dia hanya melakukan beberapa kegiatan ringan, mengelap barang-barang dan menata meja belajar Yve.


Kenapa tatapan orang-orang di rumah ini tampak berbeda ya sejak kemarin?


Apa mereka mencurigai ku tentang bubur pak Yazza?


Gawat!


Aku harus menahan diri dan bersikap tenang untuk sementara waktu.


Ini semua pasti gara-gara si kakek tua bangka itu!


Jika keadaan sudah kembali normal, aku pasti akan melakukan sesuatu padanya!


Kehadirannya sungguh selalu membuatku sial!


Gumam Dania dalam hati.


Gadis cantik itu mendengus kesal memukulkan kemoceng ke meja belajar Yve.


“Mbak Dania kenapa?” tanya Yve yang terkejut menatap Dania.


Salah tingkah, “Ah … tadi ada laba-laba,” tersenyum menatap Yve yang sedang menonton Tv.

__ADS_1


“Ah laba-laba! Yve pikir, mbak Dania sedang marah!”


Danie tersenyum ke arah Yve, “Nggak kok! Kenapa mbak Dania harus marah?” melihat jam, “Nanti jam sepuluh jadi mau latihan bela diri?”


Mengangguk tersenyum, “He’em!” ikut melihat jam, “Wah sebentar lagi, Yve siap-siap dulu deh!”


“Mbak siapin air panas di bathtub dulu ya!”


Mengangguk, “Oke mbak!”


Dania tersenyum menuju kamar mandi di dalam kamar Yve.


...***...


Vee duduk bersandar di atas ranjang melirik Yazza yang tengah menelepon seseorang.



Pria itu berdiri di samping dinding kaca.


“Sungguh begitu?” melirik ke arah Vee lalu terkekeh pelan, “Hahaha … pantas saja!”


Vee mengernyit mencibir, “Siapa yang dia telepon? Kedengaran asik sekali ngobrolnya,” gumamnya lirih.


“Oke, kalau begitu aku tutup dulu,” tersenyum, “Ya, cepat kirim foto darimu,” ucap Yazza antusias.


“Foto? Apa dia sedang bertukar foto dengan wanita lain?” cibir Vee mendengus membuang muka.


Tertawa lepas, “Hahaha … tentu saja aku sungguh tidak sabar untuk melihatnya!”


Vee makin mengernyit menatap Yazza tajam, “Hya berisik!” sentak Vee.


Yazza menatap Vee menahan senyum, membuang muka menatap keluar jendela.


“Benar! Abaikan saja, dia memang sering berteriak marah-marah seperti itu,” masih berbicara di telepon.


“Cih! Apa dia sedang membicarakan tentang aku dengan selingkuhannya?” cibir Vee menekan-nekan remote, mengganti chanel tanpa benar-benar memperhatikan layar Tv.


“Oke! Cepat kirimkan … aku tunggu!” Yazza mengakhiri panggilan.


Vee membuang muka saat Yazza berjalan mendekat memegang handphone dengan raut bahagia.


Ikut duduk di sebelah Vee, cengengesan menarik selimut yang menutupi kaki Vee.


“Shhhh!” Dengan sigap Vee memukul lengan Yazza, tidak membiarkan pria itu merebut selimut darinya.


“Hya, berbagi lah sedikit,” ikut menyembunyikan kaki di satu selimut yang sama.


Yazza kembali mendengus tersenyum menatap ke arah Vee.


Mengernyitkan dahi, “Kenapa sih? Bahagia banget … abis teleponan sama seorang gadis? Mesra sekali, sampai bisa tertawa lepas seperti itu,” ucap Vee ketus.


Tersenyum melihat ke depan, “Kenapa? Cemburu?”


“Cih!” mendengus, “Kenapa harus cemburu!”


Notifikasi pesan masuk terdengar.


Yazza bergegas mengecek layar handphone.


Vee melongok berusaha mengintip.


Pria itu langsung menutupi, menyembunyikan dari Vee, “Kepo banget?” Yazza cengingisan melihat ke layar.


“Siapa yang kepo!” sok acuh membuang muka.


“Hmph, menarik sekali!” Yazza menutup mulut dengan sebelah tangan, tertawa cekikikan.


Vee kembali menoleh menyipitkan mata.


“Cie ada yang penasaran!” goda Yazza melirik wanita di sampingnya.


“Jangan kepedean!” berusaha merebut handphone Yazza.


Menyembunyikan di sela pahaa, “Penasaran banget nih ye!”


“Hya! Kenapa ditaruh di situ!” protes Vee.


“Kalau mau lihat, ambil sendiri! Kayak nggak pernah pegang saja!”


Mencibir kesal, “Shhh … orang aneh!”


“Mau aku kasih tahu?” Yazza tersenyum menatap Vee mendalam.


“Kamu selingkuh di belakangku? Mau balas dendam?” tebak Vee masih bernada ketus.


Mencibir terkekeh membuang muka, “Ya tepat sekali! Aku mau balas dendam!”


Melotot sembari menarik kerah leher kaos Yazza dengan sebelah tangan. Sebelah tangannya lagi, mengepal selah siap melayangkan tinju.


“Hya! Siapa wanita lain itu?” tegas Vee geram, menatap Yazza tajam.


...-@,@- To Be Continue -@,@-...

__ADS_1


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2