RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
THE LOSE BOY


__ADS_3


Para petugas kepolisian berpamitan kepada Yazza, kek Gio dan Leo.


Begitu mereka keluar dari ruangan, barulah Vee bisa menghempaskan nafas lega.


“Lagi-lagi harus menjawab banyak pertanyaan dari polisi,” menatap Yazza, “Heh … ini sudah kedua kalinya aku berurusan dengan kepolisian sejak bertemu lagi denganmu!”


Yazza mencibir sembari duduk di sofa, “Itu karena kamu selalu bertindak sesuka hatimu!”


Berli tersenyum meringis menggenggam tangan Vee, “Yang pertama pasti karena ulahku waktu itu ya?”


Upss!


Vee lupa jika Berli saat ini berada bersamanya.


Dengan senyum salah tingkah Vee meringis menatap wanita itu, “Maaf … aku tidak menyalahkan mu kok! Hanya sedang ingin menggodanya saja!” menunjuk Yazza.


“Aku yang seharusnya meminta maaf!” Berli terlihat canggung saat ini.


“Hya! Bisa tidak jika kamu tidak usah melakukan hal-hal yang membahayakan dirimu sendiri?” dengus Yazza menatap Vee.


“Heh … istrimu mencoba melindungi mu! Jika Vee tidak mengalihkan perhatian tersangka, kamu bisa saja tewas tertembak di sana!” bela kek Gio.


Yazza menghela nafas panjang membuang muka, “Jangan lagi melakukan hal konyol seperti itu! Aku ini pria … tidak selayaknya mendapat perlindungan dari seorang wanita!”


Vee mencibir mencemooh, “Cuih! Aku menyelamatkanmu hanya karena masih memikirkan tentang restaurant! Jika kamu mati … harus pada siapa aku mengajukan proposalnya?”


Yazza mendengus kesal menatap Vee, “Nah … kek … kakek dengar itu?” berdecak menggeleng-gelengkan kepala, “Ckckck … betapa liciknya wanita ini!”


Kek Gio terkekeh pelan.


Baik Leo, Berli maupun pak Karno ikut tersenyum menertawakan.


“Hya! Kenapa kalian malah menertawakan ku!” protes Yazza.


“Bukankah kamu sendiri yang membawa wanita licik ini masuk ke dalam rumahmu?” ejek kek Gio.


Vee mengernyit menatap kek Gio, “Cih … tidak tahu siapa sebenarnya yang didukung kakek tua ini!”


Kek Gio mencibirkan bibir, “Untung aku sudah terbiasa dengan pelaut wanita ini,” berdecak menggeleng-gelengkan kepala, “Ckckck! Kata-katanya memang setajam batu karang!”


Vee mendengus tersenyum, “Oh iya … paman Mail dan para undangan dari pesisir bagaimana?”


“Suruhan Mr. Bald sudah mengantarkan mereka kembali ke pesisir dengan aman. Jangan khawatir tentang itu,” jawab Yazza datar.


“Syukurlah kalau begitu! Aku hanya sempat berbincang sebentar dengan mereka semalam,” ujar Vee memanyunkan bibirnya.


Leo menoleh menatap Yazza di sampingnya, “Well … kasus ini akan berakhir dengan putusan pelaku tunggal bom bunuh diri!”


“Benar-benar tidak ada bukti jejak yang bisa menunjukan jika dia tidak sendirian?” tanya Yazza mengerutkan kening.


Leo menggelengkan kepala, “Dari datang sampai tewas, dia terlihat melakukan segala sesuatunya seorag diri … identitasnya juga tidak jelas!”


Berli tampak menundukkan kepala.


Apa ini ulah Gerry ya?


Batinnya dalam hati.


“Jika tidak dibantu oleh seorang ahli, tidak akan mungkin kejahatannya sesempurna ini!” desis Yazza.

__ADS_1


Tok … tok … tok!!!



Pintu diketuk.


Semua terdiam melihat ke arah pintu.


“Sepertinya belum jam periksa,” Yazza melihat jam tangan.


“Buka saja, mungkin tamu,” ucap Vee yang masih duduk setengah bersandar di ranjangnya.


Pak Karno langsung maju untuk membukakan pintu.


Nampak kepala anak laki-laki melongok ke dalam.


“Eh … Xean?” Vee menyipitkan mata.


Yazza langsung melihat ke arah kek Gio dan Leo bergantian.


Tersenyum meringis, “Hai tante,” sapanya malu-malu.


“Eh … dia temannya Yve yang semalam kan?” Berli melambai tersenyum ramah.


“Iya … dia teman Yve! Sini sayang,” Vee tersenyum menyambut.


Dengan ragu Xean berjalan masuk.


Berli berdiri, memberikan tempatnya untuk tamu kecil Vee.


“Loh … kamu sendirian?” tanya Vee begitu Xean berdiri di sampingnya.


Anak itu tersenyum cengengesan menggaruk kepalanya, “Xean diam-diam menyelinap dari kantor papa! Xean bertanya pada seorang suster, dia mengantar sampai depan dan kembali lagi ke tempat dia bertugas.”


Dengan lembut dia mengelus lengan Vee, “Tante baik-baik saja? Maaf jika Xean tidak membawakan buah tangan!”


Tersenyum gemas, “Itu tidak perlu sayang!”


Yazza mendekatkan kepala ke Gio, “Sudah aku bilang bukan? Kita salah rumah sakit!” bisik Yazza lirih.


“Rumah sakit ini yang paling dekat. Tidak ada pilihan lain!” balas kek Gio ikut mendesis.


“Eh iya … kenapa kamu menyelinap? Bagaimana jika papamu mencari nanti?” tanya Vee.


“Ahh … biarin saja! Papa sibuk! Paling yang kena omelan pertama adalah mas Hans … dia yang akan kebingungan mencari ku! Hahaha,” ucap Xean terkekeh puas.


“Hmph … suka sekali jahilin mas Hans,” goda Vee mencubit pipi Xean, “Kamu ini selain tampan juga cerdas sekali sih … tante jadi gemas!”


Anak itu menunduk tersipu malu, “Tante bisa saja!”


Vee kembali tersenyum menatap Xean sembari mengelus wajah anak itu.


“Eh iya, adik Yve mana?”


Melihat jam, “Tadi mau pulang duluan ke rumah. Kok belum ke sini lagi ya?”


Pintu terbuka, “Mama!” Yve menyapa histeris begitu membuka pintu.


“Nah itu dia!” Vee tersenyum ke arah putrinya.


“Shhh! Yve … pelankan sedikit suaramu!” tegur Yazza.

__ADS_1


Yve cemberut menundukkan kepala.


Kek Gio langsung memukul kaki Yazza dengan tongkatnya.


“Jangan pedulikan papamu sayang! Sini … lihat … siapa ini yang datang?”


“Kak Xean?” Yve tersenyum mendekat, “Kok kakak bisa datang ke sini!”


“Rumah sakit ini milik papaku!” Xean tersenyum bangga.


Yazza tampak memicingkan mata melihat kedekatan Yve dan putra Hirza.


Jadi benar … anak itu memang dekat dengan putranya Hirza!


Tidak boleh terus dibiarkan!


Yazza bergumam dalam hati.


Astaga!


Gawat!


Aku lupa jika Yazza tidak menyukai Hirza.


Haiz … kenapa aku lupa untuk menutupi hubungan pertemanan Yve dengan Xean!


Bagaimana ini?


Vee panik dan gelisah sendiri melihat ekspresi yang Yazza tunjukkan.


“Heh … kenapa putrimu bisa berteman dengan anak itu?” desis kek Gio.


“Padahal aku sudah memindahkannya ke sekolah khusus putri. Tapi ternyata mereka masih bisa bertemu setiap hari minggu ketika latihan bela diri!”


“Loh … dia juga satu sekolah dengan Yve sebelumnya? Dia kelihatan lebih besar!”


“Mereka sempat terlibat insiden bersama. Sejak saat itu, meski anak Hirza kelas enam, dia tetap menjalin hubungan baik dengan Yve.”


“Ckkk! Aku jadi tidak tenang jika dibiarkan tetap seperti ini!” kek Gio menatap Yve khawatir.


“Itu juga yang sedang aku pikirkan. Tidak tahu bagaimana caranya menjauhkan keduanya!” Yazza menghela nafas panjang.


...***...



“Hans! Kamu gimana sih! Disuruh menjaga Xean saja tidak becus! Sekarang dia dimana coba?” Hirza bertolak pinggang melototi menatap adik angkatnya.


Pemuda itu tampak tertunduk merasa bersalah, “Dia bilang … dia cuma mau membeli salad buah di kantin. Begitu aku menyusul, ternyata penjaga kantin tidak pernah melihat Xean datang ke sana!”


Mendengus kesal, “Lalu ke mana anak itu?”


Mengingat, “Eh … bukankah dia selalu ingin menemui nona Vee? Jangan-jangan dia menyelinap ke sana?”


Hirza menyipitkan mata, “Apa … haiz! Benar juga! Dia pasti tidak mendengarkan larangan ku lagi!”


“Biar aku yang mengeceknya!” Hans hendak memutar badan.


“Tunggu!” cegah Hirza.


...-@,@- To Be Continue -@,@-...

__ADS_1


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2