RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
TATAPAN TANPA MUARA


__ADS_3

Daniel menguap berjalan ke meja makan.



“Pagi semua!”


Dia sudah rapi dan siap berangkat ke kantor tapi terlihat begitu lesu dan lelah.


“Lembur? Semalam pulang larut sekali?” tanya mamanya.


“Iya, mempersiapkan presentasi untuk meeting dengan Teratai Putih.”


Pak Fauzan menyipitkan mata, “Lembur dimana? Kemarin orang kantor katanya mengantar file segala macam keluar.”


“Ya, ke rumah sekretarisku.” Tersenyum sambil mengambil makanan.


Menyipitkan mata, “Pa, sekretarisnya pria lagi?” tanya bu Risma sedikit khawatir sambil berbisik.


“Ahh!” pak Fauzan tersenyum mengingat sesuatu, “Ma, di kantor ramai sekali membicarakan tentang sekretaris barunya!”


Menatap Daniel kesal, “Sudah membuat skandal lagi dengan pria baru?”


“Haa!” Daniel menyeringit.


“Ma! Dengar dulu!” sahut ayahnya.


Sudah terlanjur muram, “Apa?” sengak.


“Bukan laki-laki! Jadi dia dulu pernah bekerja di kantor dan anak itu...,-" berisyarat kepala menunjuk Daniel. “Daniel selalu menguntitnya seperti anak itik mengikuti induknya. Dan sekarang dia kembali ke kantor, lalu gosip masa lalu kembali menyebar!”


“Shhh, kenapa ayah ikut bergosip di kantor sih!” Daniel cuek melahap sarapannya.


“Seorang wanita?” tersenyum antusias.


“Tentu saja. Dia juga sangat berbakat. Tapi,..”


“Tapi apa pa?” bu Risma mengingat sesuatu. “Jangan-jangan dia yang istri orang itu ya?"


Melotot ke arah anaknya, "Daniel! Bisa tidak sih tidak membuat skandal!”


“Ma!” mengelus lengan istrinya, “Bukan istri orang ternyata, tapi seorang ibu tunggal!”


“Sudah punya anak?” terkejut.


“Itu karena dulu aku tidak langsung menikahinya. Harusnya aku lebih berani saat itu. Dan dia tidak akan menikah dengan lelaki lain yang bahkan sekarang meninggalkannya. Haiz!” Daniel menggerutu.


Bu Risma menyenggol lengan suaminya, “Pa, jadi wanita itu yang selama ini dia tunggu sampai tidak mau menikah?” desisnya.


“Kurasa begitu.” Balas ayah Daniel ikut mendesis.


“Hya! Kalian pikir aku sudah tidak bisa mendengar dengan baik!” protes Daniel sambil mengunyah.


Berdehem, menegakkan duduknya, “Ehem! Mama ingin menemui wanita itu!” seolah tegas.


“Tidak! Mama pasti akan memarahinya dan menyuruhnya menjauhiku!”


“Hya! Kenapa begitu berfikiran buruk kepada mama?” protes bu Risma.


“Di drama-drama kebanyakan seperti itu.” Gerutu Daniel cengingisan.


Memukul Daniel dengan sendok, “Dewasalah! Ini dunia nyata!”


“Lalu kenapa mama mau menemuinya?”


“Apa kamu tidak mau mengenalkannya kepada kami?”


Daniel tersipu, “Apa aku direstui?”


“Tidak buruk langsung memiliki satu cucu.” Ayah Daniel tersenyum bangga.


Meski bu Risma melirik tidak setuju dengan pendapat suaminya, “Setidaknya dia menyukai wanita.” Ucapnya pasrah mengulang kalimat yang pernah suaminya ucapkan.

__ADS_1


Daniel ceria sekali. dia menjadi semakin bersemangat melanjutkan sarapan.


 


***


Yazza yang baru selesai mandi membalutkan handuk ke pinggangnya.


Postur tubuhnya yang sempurna ditambah lekuk otot-ototnya yang memukau, membuatnya terlihat semakin keren.



Tok..tok..tok!


Pintu diketuk.


Yazza masih melihat gantungan kemeja di almari besar yang tertata begitu rapi.



“Masuk saja!” ucapnya datar.


Pak Ardi menunduk hormat menyapa.


“Ini masih terlalu pagi bukan? Apa yang membuat anda datang lebih awal?” Yazza mengambil sebuah kemeja warna abu-abu.


“Tentang wanita itu!”


Mendengar pak Ardi hendak menyampaikan berita tentang Vee, Yazza tampak terdiam dan menaruh kembali kemeja tadi ke gantungan.


“Kemungkinan, kita akan bertemu dengannya nanti.” Lanjut pak Ardi.


Menoleh, “Maksudnya?” menyipitkan mata.


“Ada yang melaporkan, semalam CEO White Purple pulang dari tempat tinggal wanita itu saat larut malam. Informasi lain yang didapat, wanita itu adalah sekertaris baru di sana. Mungkin mereka sedang mempersiapkan materi untuk pertemuan kita nantinya.”


“Itu artinya dia tidak ada hubungannya dengan G Corporation?”


Tersenyum mendengus, “Kemungkinan face to face hari ini?” Yazza memutar badan kembali memilih pakaian.


Tidak biasanya dia ragu dengan pemilihan pakaian yang akan dia kenakan.


Kali ini Yazza berkali-kali mengganti setelan jas sampai dia menemukan yang dirasa cocok baginya.


***



Vee begitu gelisah di lobby hotel berbintang yang akan menjadi tempat meeting.


“Apa kamu gugup?” tanya pak Didik.


Menggeleng, “Pak, aku tidak menyukai orang yang akan bertemu dengan kita!”


Menyipitkan mata, “Kenapa?”


“Sejujurnya, aku sangat membencinya! Aku takut akan terbawa suasana dan mengacaukan segalanya!”


“Pak Fauzan akan hadir juga. Jangan panik dan tetap tenang. Aku tidak akan bertanya kenapa kamu begitu membencinya. Tapi, cobalah bersikap professional. Tarik nafas dalam dan hempaskan!” pak Didik memberi semangat.


Vee menuruti perkataan pak Didik, dia menghela nafas panjang dan mencoba menenangkan diri, “Saya akan berusaha semampu saya!”


Pak Fauzan dan Daniel baru sampai di lokasi.


Semua menyambutnya.


Daniel melambai santai ke arah Vee.


Ayahnya menyenggol lengannya.


“Profesional sedikit! Orang besar yang akan kita temui!” desis ayahnya.

__ADS_1


Mengernyit, “Siap pak Presdir!”


Pak Fauzan tersenyum ke arah pak Didik dan Vee.


“Ini sekretaris baru Daniel?” tanya pak Fauzan tersenyum menyalami Vee.


“Maaf pak baru sempat bertemu pak Presdir di sini.” Vee tersenyum ramah.


Terkekeh, “Hahaha! Itu bukan salahmu. Ku dengar putraku yang membatasi gerakmu?”


Vee nyengir salah tingkah mendengarnya.


Bahkan gosip itu menyebar sampai ke telinga direktur utama hanya dalam beberapa hari.


“Dia akan sering menyusahkanmu, jadi terkadang memang harus tegas padanya!” pak Fauzan menepuk pelan bahu Vee.


Vee hanya mengangguk sungkan, “Pak Didik juga sudah berpesan seperti itu.”


Terkekeh lagi, “Hahaha! Dia memang yang paling memahami putraku!"


Pak Didik tersipu, “Pak Presdir bisa saja.”


Daniel mencibir, “Terus saja cari aliansi sebanyak-banyaknya untuk melawanku!”


“Shh!” pak Fauzan memukul pelan lengan putranya.



Rombongan mobil berderet-deret berhenti di lobby utama.


Jantung Vee semakin berdegup keras saat melihat Yazza turun dikawal orang-orangnya.


Dia dengan kewibawaannya mendapat sambutan yang sangat luar biasa dari orang-orang kanor White Purple.


Ketika semua orang menunduk hormat saat dia berjalan di atas karpet merah, hanya Vee yang masih berdiri mengejang mengepalkan tangan dengan rahang mengeras.


Sorot matanya begitu tajam dan mematikan.


Dadanya sesak akan asap kebencian.


Rasanya bara masa lalu kembali berkobar di dalam hatinya.


Dan dia masih berusaha menahan dirinya untuk tidak berlari kehadapan Yazza untuk menghajarnya.


Yazza dengan mudah menemukan keberadaan Vee diantara banyaknya orang yang menyambutnya.


Meski seharusnya sudah tidak heran lagi melihat tatapan Vee yang seperti itu.


Jauh dalam benaknya, setiap kali dia menyelami mata Vee, yang dia temukan hanyalah ketidak jelasan yang ingin diperjelas.


Yazza ingin menemukan muara agar dia bisa menepi dan memahami misteri apa yang tersembunyi di sana.


Semakin dia memikirkannya, semakin gelisah dan tidak tenang dia rasakan.



Daniel melihat perubahan ekspresi Vee.


Lalu dia melihat kearah Vee melihat.


Yazza juga tampak sedang menyipitkan mata menatap Vee penuh tanda tanya dan kefrustasian.


Daniel menyipitkan mata, memikirkan apa yang ada dalam benak keduanya saat ini.


Kenapa Vee terlihat begitu membenci pria yang sangat di hormati semua orang di sana?


Apa ada alasan yang tidak dia ketahui, dan itu berhubungan dengan kenapa Vee sempat tidak mau menghadiri meeting hari ini?



...-@,@- To Be Continue -@,@-...

__ADS_1


...>))))>' '<((((<...


__ADS_2