RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
RUMAH TERAKHIR


__ADS_3


Pria renta dengan rambut cepak memutih terkekeh lantang.


“Hahaha! Eh ada dik Vee! Lama sekali tidak ke sini?” ucap pak Lohan dengan nada genit menggoda.


“Kenapa sih masih saja mengingat saya?” cibir Vee.


“Loh, gimana tidak ingat. Orang dik Vee kan calon istri saya!”


“Ingat umur! Astaga!” menyilangkan tangan di perut.


“Dik Vee sendirian saja? Masih belum punya pasangan ya? Bagaimana kalau jadi istri ke dua puluh tiga saya?”


“Hah? Sudah puluhan sekarang?” Vee mengernyit jijik.


Terkekeh, “Ya jelas! Kan saya ini paling tampan dan kaya raya di Pesisir ini! Banyak yang naksir abang loh!”


Mencibir, “Cihh! Dengar ya si tua bangka! Saya sudah akan menikah, saya cuma mau liburan di sini. Jadi sebaiknya jauh-jauh dari saya dan jangan mengganggu saya!”


“Ah, dik Vee pasti malu-malu kan. Bilang saja datang ke sini mau menemui saya. Kangen kan pasti?”


“Hya! Sudah lama tidak dihajar?” Vee geram.


“Vee!” panggil kek Mail.


Vee menoleh langsung tersenyum lebar.


“Preman Pelaut sudah datang! Kita pergi saja!” pak Lohan mencibir melihat kek Mail.


Anak buah pak Lohan langsung membimbingnya berjalan menjauh.


“Paman!” Vee memeluk kek Mail gemas.


Terkekeh, mengelus punggung Vee, “Baru datang langsung di ganggu lagi ya?” menarik diri untuk menatap Vee.


Vee mengernyit, “Gila! Memang benar sudah dua puluh dua?”


Terkekeh, “Hahaha! Kabarnya baru-baru ini ada pedagang yang ngutang ke dia, karena tidak bisa bayar, ya seperti biasa! Dia mau anak pedagang itu nikah dengannya, masih SMA loh, udah ditungguin! Hih, kalau bisa lapor polisi, mending dilaporin aja deh! Meresahkan banget!” cibir kek Mail.


Vee tersenyum, “Memangnya masih jaman begituan ya?”


“Ya masih!” melihat sekeliling, “Calon suamimu itu tidak ikut?”


Menggeleng, “Sejak kejadian itu, dia jadi trauma lautan sampai sekarang.”


“Astaga kasihan sekali!”

__ADS_1


“Yve juga titip salam ke paman!”


Terkekeh, “Hahaha, anakmu itu sungguh manis sekali!”


“Oh iya paman, bagaimana? Sudah menyiapkan yang saya minta?” Tanya Vee menyipitkan mata.


Mengangguk, “Kemarin nisan itu sudah diantar, dan aku sudah minta orang untuk membantu memasang,” menghela nafas panjang, “tapi aku masih tidak mengerti! Bagaimana bisa tiba-tiba dia menjadi Yunna? Padahal dulu aku sempat mengira jika orang tanpa identitas ini adalah kamu! Tahu sendiri kan alasannya? Jangan seperti itu lagi, tiba-tiba menghilang tanpa jejak! Membuatku panik saja!”


Vee menunduk dalam, “Sepertinya tidak tepat jika dibicarakan di sini!” Menatap kek Mail, “Boleh antar saya ke makam Yunna sekarang?” tersenyum dalam kepedihan.


Mengangguk mengelus punggung Vee, “Tentu saja!”


...***...


Vee duduk di dekat makam Yunna.


Air mata berjatuhan saat jemarinya mengelus nisan yang bertuliskan nama sahabatnya.


“Maaf ya! Baru bisa datang sekarang,” ucapnya dengan senyuman tapi juga di disertai dengan kesedihan.


Kek Mail berdiri ikut pilu melihatnya.


“Sebagai seorang sahabat yang selalu bersama, tidak seharusnya aku datang sebegitu telat seperti ini. Dan maaf juga karena aku baru berani memberi identitas untuk rumah terakhirmu!” mengusap nama ‘Yunna’ yang terukir di atas batu nisan.



Kek Mail hanya terdiam menyipitkan mata karena tidak memahami perkataan Vee.


“Yun, kamu pasti juga bisa melihat dari surga kan? Betapa bahagianya Yve ketika bersama dengan papanya. Dan bahkan anak itu tetap sayang pada papanya meski tahu, papanya begitu acuh dan galak padanya. Tapi kamu tenang saja! Selama ada aku, Yve akan baik-baik saja!”


“Vee!” kek Mail membelalakkan mata menatap Vee.


Dengan sedih, Vee mendongak lalu tersenyum.


“Vee, meski aku ini tidak lulus SMA, tapi aku tidak bodoh untuk memahami ini sekarang! Kenapa aku merasa ada yang salah di sini?” tanya kek Mail.


Vee kembali menatap ke makam Yunna, “Aku sudah menipu banyak orang! Termasuk menipu paman selama ini. Maafkan aku!”


Ikut jongkok sekarang, “Vee! Katakan, apa yang sebenarnya terjadi?”


Vee mulai menceritakan semua detail kejadiannya kepada kek Mail.


Kek Mail sangat terkejut dan syok mendengar tentang kenyataan yang sebenarnya.


Vee sudah berkorban banyak selama ini.


Kek Mail geram dan marah, tapi Vee berusaha meyakinkan jika dia tidak akan baik-baik saja.

__ADS_1


“Pokoknya paman tidak setuju kamu melanjutkan rencana pernikahanmu itu! Bagaimana mungkin kamu bisa hidup berdampingan dengan orang yang sudah melenyapkan temanmu sendiri?” kek Mail tegas.


“Tapi paman … aku sudah terjebak di dalamnya! Yve ingin kita bersama lagi, jadi aku tidak punya pilihan!”


“Vee! Kenapa sih, kamu selalu saja mengorbankan dirimu untuk wanita ini? Dulu semasa masih hidup, kamu selalu berada di posisi sulit karena dia, dan sekarang … dia sudah tiada sekalipun, masih saja menyulitkan hidupmu! Tidak bisakah kamu pura-pura menutup mata dan hidup dengan kebahagiaanmu sendiri?”


Menggeleng meneteskan air mata, “Aku tidak mau jika Yve tahu kalau aku bukanlah mama kandungnya! Toh jikapun aku memilih pergi, Yazza akan tetap melakukan cara apapun untuk membuatku mengikuti kemauannya! Yang paling aku takutkan adalah, dia akan membocorkan tentang jati diriku kepada Yve. Aku tidak sanggup jika harus kehilangan Yve! Paman tolonglah mengerti!” ucap Vee meninggikan nada dalam getir kepiluan.


Menghela nafas panjang, “Aku sungguh tidak habis pikir! Kenapa kamu bisa melakukan semua ini! Kamu memang seperti ayahmu, selalu memiliki pemikiran gila! Bagaimana bisa seorang yang berpendidikan dan juga memiliki image yang begitu baik dengan masa depa cerah, tiba-tiba menciptakan aib yang sebenarnya tidak pernah dia lakukan? Dan yang lebih parahnya, kamu justru menjelekan dirimu sendiri untuk kepentingan orang lain! Apa kamu masih waras?” kek Mail ikut meninggikan nada.


Tersenyum menghapus air mata, “Aku tidak peduli dengan apa kata orang. Asalkan Yve tetap bisa tersenyum, itu artinya aku masih bisa menepati janjiku kepada Yunna!” kembali mengusap nisan Yunna, “Anggap saja, aku sedang dihukum karena tidak berhasil menasehati Yunna waktu itu!”


“Vee!” kek Mail mulai frustasi.


“Jika saja waktu itu aku berhasil menyeret Yunna pulang, ini semua juga tidak akan terjadi! Jadi, jika harus menyalahkan seseorang, akulah yang paling salah di sini!”


“Vee kenapa malah menyalahkan dirimu sendiri?” protes kek Mail geram.


“Yazza mabuk, dan Yunna memang selalu gila seperti biasanya! Aku satu-satunya orang waras yang memiliki akal sehat di sana. Karena aku tahu Yunna akan melakukan kesalahan dan aku tetap membiarkannya, bukankah sudah sepantasnya akulah yang paling bersalah?”


“Vee …,” kek Mail menghela nafas panjang. Dia menatap Vee penuh kesedihan tanpa bisa berkata-kata lagi.


Vee kembali tersenyum, menatap ke arah batu nisan, “Maafkan aku!”


...***...


“Mas, ini adalah kartu As yang selama ini kita sembunyikan rapat-rapat! Mas bisa saja menjatuhkan Yazza dengan mudah sejak awal! Tapi aku masih tidak mengerti, kenapa mas masih menyimpan rahasia ini?”


Hans bertanya santai menyilangkan tangan di depan perut.


Dia dan Hirza sama-sama berkacamata hitam dengan jaket kulit dan celana Levis menatap ke arah pemakaman umum.



“Apa ada hal yang mas sembunyikan dariku?” tanya Hans lagi.


“Lebih tepatnya … dari semua orang?”


Menyipitkan mata, “Maksud mas?”


“Aku sendiri masih takut untuk mencari tahu, tapi aku merasa bersalah karena berhutang nyawa pada Yazza!” ucap Hirza datar tanpa memalingkan pandangan.


Dia masih saja melihat Vee di area pemakaman.


“Terlepas itu masih dugaan … ada sesuatu yang membuatku merasa tidak berani mengusik Yazza secara langsung! Hutang nyawa sudah seharusnya di bayar dengan nyawa!”


...-@,@- To Be Continue -@,@-...

__ADS_1


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2