RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
UNDANGAN MAKAN MALAM


__ADS_3

Malam itu cukup tenang.


Hanya mereka berdua yang masih terjaga.



Tiap kali melihat Hirza terdiam merenung seperti itu, selalu saja membuat perasaan Hans menjadi gelisah dan tidak tenang.


Pemuda itu ikut diam membuang muka.


Sebenarnya ada hal lain yang mengganjal di hatinya sedari tadi.


Tapi dia cukup ragu jika harus mengatakannya kepada Hirza.


Antara tidak berani dan takut semakin menyakiti perasaan kakak angkatnya.


Keheningan itu di sadari oleh Hirza.


Tidak biasanya Hans menjadi pendiam dan berhenti mengoceh.


Pasti ada hal yang di sembunyikan Hans saat ini.


Karena penasaran, dia menoleh untuk melihat adik angkatnya.


“Apa ada masalah?” tanya Hirza lembut.


“Sebenarnya tadi ada Yazza juga!” jawab Hans enggan sekali membahas tentang calon suami Vee.


Seketika Hirza langsung membalikan badan sepenuhnya untuk menatap Hans dengan mata menyipit.


“Pasti dia juga khawatir begitu tahu nona Vee akan bertemu dengan orang Nirwana!”


“Bukankah itu artinya Vee sudah mulai terbuka dengan Yazza? Lalu kenapa ketika Vee datang ke kandang para ular itu, Yazza justru tidak ikut serta?” tampak berpikir, “Padahal di acara ulang tahun justru rawan bahaya. Gerry juga mantan Yazza juga berada di sana bukan?”


Hans jadi ikut memikirkan perkataan kakak angkatnya.


“Atau mungkin, nona Vee sengaja menutupinya?” terka Hans dengan kening mengerut.


“Apa yang sedang di sembunyikan oleh Vee?”


“Mas lupa kalau teman dekat Yve adalah putra pemilik Nirwana? Bukankah jika Yazza tahu tentang ini … kemungkinan besar mereka akan di pisahkan!”


Menyipitkan mata kembali berpikir.


“Nona Vee pasti tahu permusuhan antara Yazza dan keluarga besar Nirwana. Bukankah nona Vee selalu menjaga perasaan putrinya?”


“Aku mengerti sekarang!” Hirza kembali membalikan badan.


“Mas, aku jadi khawatir jika Nirwana akan menggunakan kedekatan anak-anak itu demi kepentingan mereka!”


“Kita lihat saja dulu … dalam hal ini, Xean mungkin yang akan banyak membantu. Aku yakin dia juga akan melindungi Yve di sekolah!”


Hans kembali menunduk pilu.


Dia jadi teringat tentang perasaan Xean yang sebenarnya.


Jujur, Hans juga merasakan hal yang sama.


Memang kisah masa kecilnya lebih kejam.


Hidup di jalanan tanpa orang tua.


Kesepian dan begitu merindukan kasih sayang.


Xean memang masih memiliki ayah dan dirinya, tapi bagaimanapun juga … anak-anak selalu ingin pelukan dari sosok seorang ibu dalam hidupnya.


Dan itu yang selama ini Xean harapkan.


“Mas Hirza … aku tahu ini lancang … tapi Xean sudah semakin besar. Kapan mas akan menceritakan tentang ibu kandungnya?”


Deg!


Seperti ada sentakan hebat dalam dada Hirza.


Gelas yang dia pegang terlihat berhenti bergoyang.


__ADS_1


Pertanyaannya itu hanya menggantung di udara tanpa adanya jawaban yang pasti.


Mulut Hirza terkunci rapat-rapat dengan getir ketakutan yang kembali memenuhi relung hati.


...***...



Yve sudah bersiap hendak berangkat latihan karate.


Karena baru hari ini dia akan mendaftar jadi dia masih belum memiliki seragam latihannya.


“Mau mama antar sayang?” tanya Vee.


“Tidak usah ma! Bukankah mama mau pergi sama papa? Lagipula ada mbak Dania kan,” ujar Yve menjawab lembut.


Dania tersenyum, “Saya akan mengurus semuanya, ibu jangan khawatir!”


Vee tersenyum, “Kalau uangnya kurang atau masih butuh biaya administrasi lain, bilang saja. Biar langsung aku kirim pakai E-money.”


Dania mengangguk ramah.


“Kalau begitu Yve berangkat dulu ya ma!”


Membuka kedua tangannya, “Peluk mama dulu dong sayang!”


Yve tersenyum langsung mendekap Vee gemas, “Yve sayang mama,” mengecup pipi mamanya.


“Mama lebih sayang sama Yve! Hati-hati ya,” memeluk gemas.


“Siap ma,” menarik diri.


“Lebai banget deh!” cibir Yazza di sebelah Vee.


Mengelus kepala Yve, “Papa iri karena Yve lebih sayang sama mama!” Vee tersenyum mencoba menghibur putrinya.


Tersenyum menatap Yazza, “Papa jangan iri, Yve juga sayang sekali sama papa!”


“Hmph,” Yazza cuek masih melihat layar Tv.


Vee langsung menyikut Yazza.


Menoleh, “Ah iya … apa kamu mau dibelikan sesuatu nanti?” tanya Yazza yang memahami isyarat dari Vee.


Tersenyum menggeleng, “Tidak pa! Dengan melihat papa dan mama bersama terus sudah membuat Yve senang!”


Mengelus wajah Yve, “Ohh, anak mama manis sekali sih! Gemes deh,” menekan pelan wajah Yve.


“Mama!” Yve menahan tangan Vee, “Sudah Yve bilang, Yve sudah besar. Jangan digituin lagi!”


Terkekeh, “Iya maaf! Anak mama memang sudah besar!” mencubit hidung Yve.


Terkekeh geli.


“Ya sudah, berangkat gih! Nanti telat karena macet.”


“Kebetulan taksi onlinenya juga sudah datang!” Dania menggandeng Yve.


“Jaga Yve baik-baik ya mbak!” pesan Vee.


Dania mengusap lembut kepala Yve, “Tentu saja!”


Vee tersenyum lalu melihat ke arah handphone.


Dania melirik ke arah Yazza


Tentu aku akan menjaga putrinya tuan Yazza.


Dia juga akan menjadi putriku jika aku menikah dengan tuan Yazza!


Dania mengkhayal memikirkan dalam kepalanya.


“Ayo mbak!” Yve menarik Dania penuh semangat.


Dania tersenyum.


Sekali lagi melihat ke arah Yazza, melambai tipis di depan perutnya ke arah Yazza, tanpa seorangpun yang melihat.

__ADS_1


Bahkan Yazza juga tidak menyadari gerakan itu, matanya fokus menonton acara Tv.


...***...


Bu Risma membawakan nampan berisi camilan dan jus jeruk ke kolam renang.



Daniel sedang berenang di sana.


Melihat mamanya mendekat, Daniel segera menepi.


“Eh, mama baik sekali,” melihat ke nampan.


Duduk di samping kolam, “Tumben pagi-pagi berenang.”


“Lagi pengen aja,” mengambil gelas tanpa naik dari kolam, setengah badannya masih berada di dalam air.


Meneguk jus jeruk.


“Mama senang banget deh, kamu sudah bisa menerima keadaan dan berteman dengan Vee tanpa ada kecanggungan.”


“Daniel lebih takut jika Vee pergi hanya karena keegoisanku. Lebih baik seperti ini, berdamai dengan diri sendiri dan semuanya agar kita bisa hidup sesuai jalan masing-masing.”


Tersenyum mengelus rambut putranya, “Yve itu sungguh cerdas sekali ya?”


“Ya, dia sama persis seperti Vee. Galaknya hanya sampul luarnya saja! Hahaha,” terkekeh.


“Mama senang, Yve masih menganggap mama sebagai neneknya!”


Tersenyum, “Terima kasih ya ma, sudah memberikan kebahagian untuk Yve. Yve senang sekali memiliki nenek dan kakek sekarang. Mama juga tahu bukan, baik Vee ataupun pak Yazza, keduanya sudah tidak memiliki orang tua.”


Mendengus tersenyum menyipitkan mata, “Kenapa kamu yang berterima kasih untuk Yve?”


“Daniel sudah merasa cocok sekali dengan anak itu! Melihat Yve bahagia, Daniel juga ikut bahagia!”


Tersenyum, “Kebapakan sekali!” goda bu Risma.


Daniel mencibir, “Cih … eh, mana papa?”


“Tadi ada telepon. Tidak tahu dari siapa, tapi sepertinya cukup penting dan serius.”


Menyipitkan mata, “Proyek baru?”


Mengangkat bahu, “Mama juga tidak tahu.”


“Hah! Sudah Daniel bilang, sudah waktunya papa dan mama cukup istirahat di rumah menikmati hari tua.”


“85% tanggung jawab sudah diserahkan padamu bukan? Hahaha,” bu Risma terkekeh.


Pak Fauzan dengan senyum lebarnya keluar dari dalam rumah berjalan mendekat ke arah Daniel dan istrinya.


Dia terkekeh sepanjang langkah.


“Hahaha!” masih memegang handphone.


Bu Risma menyipitkan mata, “Apa yang membuat papa senang?”


“Coba mama tebak!” duduk dengan susah payah di samping istrinya.


“Yee … ditanya malah suruh nebak. Gimana sih papa ini,” memukul pelan lengan suaminya.


Daniel tersenyum melihat keduanya, “Papa pasang lotere dan baru saja menang ya?”


“Ngawur kamu, sembarangan aja!” pak Fauzan merangkul bahu istrinya.


“Lalu apa dong?” tanya Daniel.


“Iya nih, papa suka banget bikin orang penasaran!” cibir bu Risma.


“Papa habis mendapat telepon dari pak Ganny. Katanya ada yang membuatnya senang setelah acara meeting kalian semalam dengan perwakilan Nirwana. Secara pribadi, pak Ganny mengundang kita semua untuk makan malam ke kediaman mereka malam ini!”


Daniel menyipitkan mata, “Makan malam pribadi?”


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...

__ADS_1


__ADS_2