
"Kenapa harus aku yang menjadi alasan Yazza menolak kehadiran Yunna dan Yve!"
Gemuruh api kegelisahan kini memenuhi relung hati Vee.
Tentu saja dia sedang menyalahkan dirinya sendiri.
Dia kembali membalikan badan, menghadap ke Yazza.
Menarik nafas panjang, menguatkan diri.
“Bagaimana anda bisa menolak kehadiran orang lain demi orang yang tidak anda kenal?”
“Meski tidak pernah saling berbicara. Aku merasa, kita sudah saling mengenal dalam waktu yang lama! Aku selalu penasaran dan selalu ingin tahu tentang dirimu!”
Menghela nafas panjang.
Hening untuk beberapa detik.
“Aku menyesal dan menyalahkan diriku sendiri setelah mengetahui kenyataan ini. Jika saja aku tahu kamu membesarkan anak kita seorang diri, aku tidak akan berhenti dan akan terus mencari sampai menemukanmu!”
“*Apa yang harus kulakukan sekarang?"
"Yve memang putrinya! Jika aku tetap keras kepala dan menyangkal, tentu justru akan menimbulkan kecurigaan. Terlebih jika dia memaksa untuk test DNA."
"Aku harus memikirkan sesuatu. Yazza tidak boleh tahu tentang identitas asli Yve*!”
Menunduk merasa sangat bersalah, “Maaf karena sudah membiarkanmu menderita seorang diri," Yazza meraih tangan Vee.
Menggenggamnya dengan kedua tangan.
“Karena semuanya sudah jelas sekarang, ijinkan aku menebus kesalahan dan biarkan aku bertanggung jawab!” lanjutnya dengan nada serius.
"Apa dia benar-benar berniat akan bertanggung jawab jika Yve adalah putriku? Bagaimana jika dia tahu, jika aku bukanlah ibu kandungnya?"
“Tuhan! Haruskah aku berpura-pura?”
"Yunna maafkan aku!"
Menatap Yazza seolah tegar.
Menarik tangannya.
“Waktu itu, aku melihat ada wanita lain yang juga membawa seorang bayi," ujar Vee memulai pembicaraan. "Kemudian pak Ardi datang menemuinya dan wanita itu tampak bahagia.”
“Aku sempat mendengar pembicaraan mereka tentang pertanggung jawaban. Lalu aku merasa, gadis itu sangat bodoh!” cibir Vee mendengus pada dirinya sendiri.
Menggeleng.
“Bukan dia," ralatnya melanjutkan, “Aku yang bodoh karena sempat berpikir untuk datang menemui anda juga!”
Yazza terperangah terkejut mendengarnya.
"Apa?"
“Aku melihat, dia di awasi begitu ketat. Dan betapa beruntungnya aku mendengar pembicaraan mereka yang berniat melenyapkan ibu dan anak itu!” cecar Vee terus melanjutkan.
Yazza semakin gelagapan.
“Vee, aku bisa jelaskan!”
Wanita itu sama sekali tidak memperdulikan, “Seminggu setelah kejadian, seorang wanita tanpa identitas yang membawa gendongan bayi ditemukan tersangkut di pesisir pantai tanaman bakau," dia terus berbicara.
“Anda tahu, betapa hancurnya hatiku mengetahui kejadian itu? Apa anda masih akan menyangkal betapa kejamnya anda yang sebenarnya?” Vee mulai mendesak, “Lalu apakah aku harus melanjutkan untuk menemui anda?”
Menggeleng mendengus kecut.
Vee sengaja memainkan dramanya sendiri.
Membuang muka menyilangka tangan seolah merajuk dalam kekesalan.
__ADS_1
“Sudah kubilang, aku hanya berusaha menjaga nama baikku! Bagaimana bisa aku menghadapimu jika reputasiku sudah tercoreng dengan kehadiran mereka?” Yazza berusaha membela diri.
“Tetap saja anda begitu kejam! Bengis!” sahut Vee tegas.
Menghela nafas panjang, “Ya, aku tidak akan menyangkalnya lagi!” berusaha mengalah.
“Anda pria yang tidak bertanggung jawab sejak awal. Jadi jangan pernah lagi membicarakan tentang pertanggung jawaban. Lupakan saja semua omong kosong anda!”
“Aku tidak menghendaki anak itu! Dan aku tidak mau sembarangan menikahi wanita lain! Aku hanya menyingkirkan kerikil agar tidak menyakiti kakiku saat melangkah.”
Vee mendengus sambil terisak, “Kerikil?” membuang muka mengisak tangis, “Itu nyawa manusia!”
“Dia bukan gadis baik-baik!” tegas Yazza.
“Apa!” Vee geram.
Meski memang pada kenyataanya masa lalu Yunna terbilang gelap dan perilakunya cukup genit kepada semua orang, Vee tetap menyangkal jika Yunna bukanlah gadis baik-baik.
Yunna adalah sahabatnya.
Dia hanya seorang gadis yang mencoba mencari kebahagiannya!
Bahkan meski memiliki nasibnya yang begitu menderita sejak kecil, Yunna akan tetap tersenyum dan tertawa begitu ceria.
Sungguh, sesuatu yang sulit dilupakan!
“Anda tahu tidak?" menatap tajam Yazza, "Saya sampai harus pergi keluar kota, untuk menghindari anda karena saking takutnya jika anda melakukan hal yang sama kepada kami!” tegasnya mendesis disela gigi yang dirapatkan.
Dia hanya tidak ingin menarik kerumunan jika berteriak, memekik keras saat ini.
Kembali meraih kedua tangan Vee, “Aku tidak akan melakukannya kepada kalian!”
Vee menyipitkan mata.
Kali ini membiarkan tangannya dalam genggaman Yazza.
“Itu sangat tidak masuk akal!” sela Vee tegas.
“Demi kamu dan putri kita, meskipun harus menghilangkan seratus nyawa, aku rela menanggung dosa itu!”
“Cukup pak Yazza!” menghentakkan tangan Yazza dengan kasar.
“Duri di kaki harus segera di cabut! Karena aku harus terus melangkah, sebelum menjadi infeksi yang terlalu parah, bukankah lebih baik harus cepat-cepat di buang?” ucap Yazza kembali membenarkan dirinya sendiri.
Luapan amarah memenuhi dada Vee.
Kuku-kuku jari menancap di telapak tangannya sendiri saat dikepalkan erat.
“Yeah! Dan yang dia maksud dengan duri ataupun kerikil itu adalah sahabat baikku. Orang ini sungguh luar biasa! Aku sampai hampir lepas kendali ingin menghajarnya saat ini juga!”
Meski rahangnya mengeras, dia tidak meluapkannya dengan umpatan atau tindakan yang nyata.
Vee hanya memejamkan mata dan berusaha menahan diri.
Melihat getaran hebat di kedua tangan Vee membuat hati Yazza semakin sesak.
Dengan lembut dan hati-hati dia mencoba mengendurkan kepalan tangan Vee.
“Jika ingin memukul atau menamparku lagi, itu akan lebih baik! Tapi jangan menyakiti dirimu sendiri! Tanganmu bisa terluka.”
Mendongak menatap Yazza dengan bibir kelu.
“Ini sangat menjijikan! Tapi aku tidak punya cara lain!”
Hanya dengan membiarkan Yazza berpikir seperti yang dia pikirkan, barulah dia akan bebas dari situasi ini.
Satu-satunya cara untuk menyelamatkan Yve adalah, dengan berpura-pura mengakui jika anak itu memang anak dari hubungan keduanya di masa lalu.
__ADS_1
"Yunna, aku sungguh meminta maaf!”
“Aku tidak bisa menyembunyikan Yve lagi!”
“Dan aku begitu jahat karena mengambil peranmu! Bahkan aku tidak bisa memberitahukan tentang ibu kandung Yve yang sebenarnya!”
“Ini demi kebaikan Yve!”
“Sepertinya Yazza tidak akan menyakiti Yve selama aku bersandiwara!”
“Biarkan dia bermain dalam imajinasi sendiri!”
“Meski aku tidak rela saat dia berpikir jika aku dan dia benar-benar pernah tidur bersama, tapi aku harus diam. Jika aku tidak mengakuinya, bukankah dia akan mencari kebenarannya?”
“Lebih baik seperti ini ketimbang dia mengetahui tentang identitas asli Yve!”
“Kembali lagi, semuanya hanyalah tentang ego!”
***
Yve berdiri panik begitu melihat Vee dan Yazza kembali keruang tunggu VIP Bandara.
Melihat mamanya tidak lagi terlihat marah dan kesal. Yve merasa lega.
Vee melirik Yazza.
Pria itu tengah tersenyum kearah Yve.
Selama di depan Yve, Vee tidak akan memperlihatkan kebenciannya lagi terhadap Yazza.
Dia hanya ingin melihat putrinya bahagia.
Vee akan berpura-pura sudah memaafkan Yazza, meski di belakang Yve, Vee masih tidak bisa menerima kebaikan pria itu.
Yazza tidak keberatan, karena dia yakin, akan ada hari dimana Vee benar-benar akan memaafkannya.
“Apa mama setuju untuk berangkat?” tanya Yve kepada papanya.
Yazza tersenyum mengangguk, “Tentu saja!” menggendong Yve, “Ayo berangkat! Pilot kita sudah menunggu.”
Mereka memang akan menggunakan pesawat jet pribadi.
Yve tertawa begitu senang dalam gendongan Yazza. Kepalanya menoleh menatap mamanya penuh rasa terima kasih.
Vee hanya bisa menghela nafas panjang, mencoba menahan diri.
Demi Yve.
***
“Apa? Bali?” Daniel syok mendengarnya.
“Yve putrinya juga ikut.” pak Didik memberitahu.
“Kenapa tiba-tiba begini!” Daniel berdiri, “Aku akan menyusul mereka!”
“Pak Daniel tenanglah. Jangan asal bertindak sembarangan jika menghadapi pak Yazza!”
“Tapi! Bali!!!” Daniel mencibir. “Cihh!”
“Vee pasti bisa menjaga diri. Terlebih, ada Yve di sana!”
Menghela nafas panjang sembari mengusap dadanya, “Astaga! Sesak sekali rasanya!”
__ADS_1
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))>' '<((((<...