RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
TIKUS BERKAKI DUA


__ADS_3


Jemari mungil Yve masih menggenggam erat tangan Yazza.


Seakan dunia hanya berputar diantara mereka berdua.


Melihat senyum manis di bibir anak kecil itu, membuat Yazza merasa tenang.


“Oke tepuk tangan sekali lagi untuk pesulap cilik kita dan asistennya! Silahkan kalian boleh kembali lagi dan selamat menikmati makan malam untuk semuanya!” tersenyum membungkuk sambil melepas topinya yang di letakan di depan dada dengan kaki menyilang.


Pesulap pamit undur diri dari panggung.


Suara tepuk tangan meriah menyadarkan Yazza dari lamunan sesaat nya.


Apa lagi ini?


Batinnya sembari menarik tangannya.


“Jalan sendiri! Kamu sudah besar!” ucap Yazza ketus.


Yve tersenyum mengabaikan.


Tanpa ragu dia kembali menggandeng tangan Yazza, menarik papanya untuk kembali mendekat ke mama dan eyang buyut.


Tanpa banyak berkomentar atau memprotes, Yazza mengikuti.


“Wah, anak mama keren sekali!” Vee langsung memeluk Yve.


“Papa juga keren!” memberikan setangkai mawar pada mamanya.


Vee melihat Yazza yang duduk di sebelahnya, “Pertunjukan yang hebat!”


“Jangan mengolok-olok!” mengambil gelas minuman sembari membuang muka.


“Cih!” cibir Vee tersenyum melihat Yazza.


“Heh … lain kali coba keluarkan setumpuk uang. Jangan hanya bunga mawar!” kek Gio terkekeh.


“Hya! Kalian semua tertipu oleh pesulap itu!” Yazza mendengus masih membuang muka.


“Yang melakukan sulap kan Yve dan kamu!”


“Cih! Pokoknya kalian ditipu!” gengsi untuk mengaku jika dia juga menikmati pertunjukannya.


“Hya, kamu sendiri tidak bisa membuktikan trik tipuannya kan?” goda Vee.


“Shhh!” menoleh melirik ke arah Vee.


Vee tersenyum cekikikan mengejeknya.


Kek Gio, Yve, pak Karno dan pak Ardi ikut menertawakan.


“Hya! Diam kalian!” menatap pak Ardi dan pak Karno.


Dua pria paruh baya itu menunduk menyembunyikan senyum di balik telapak tangan.


...***...



Hans baru pulang saat sudah sangat larut.

__ADS_1


Hirza menyambutnya dengan raut gelisah.


“Jadi bagaimana?” tanya Hirza tidak sabar.


Menghempaskan badan ke sofa ruang keluarga, “Huuh … capek … ngantuk sekali!”


Ikut duduk di sebelah Hans, “Hya, aku bertanya padamu!”


“Sabar mas bro, biar aku bernafas dulu sebentar!”


“Kalau kamu tidak bernafas sejak tadi, itu artinya kamu sudah mati!” dengus Hirza kesal menarik kumis palsu Hans dengan keras.


“Awww!” memekik menatap protes kakak angkatnya, “Astaga! Hya … itu hanya kata kiasan!” mengelus atas bibir.


“Shhh! Sudah jangan bertele-tele. Katakan, apa yang kamu dapatkan dari penyamaran mu kali ini?” desak Hirza.


“Mereka pergi bersenang-senang di restaurant. Semuanya tampak normal dan baik-baik saja!” jawab Hans datar.


Menyipitkan mata, “Hah? Apa Yazza sengaja menutup mata dan tidak melakukan apa-apa? Seperti yang dia lakukan saat dia tahu, aku dan kamu yang mencoba mencelakainya?”


Menggeleng, “Aku mendengar pembicaraan Yazza dan pak Ardi. Katanya, nona Vee justru menangis, dan menghibur kesedihan Yazza. Itu membuat Yazza tidak jadi marah padanya!”


“What? Rasanya itu bukan Vee!” bantah Hirza. “Kamu yakin tidak salah dengar?”


“Ya elah, lain kali kalau mengintai begini aku bawa perekam suara dan kamera tersembunyi sekalian deh!” cibir Hans.


Hirza mendengus menatap Hans memicingkan mata, “Makanya inisiatif sejak dulu!”


“Cihhh! Benar-benar malah menyalahkan aku!” cibir Hans membuang muka, “Tanya Ozzy kalau tidak percaya!”


“Shhh!” setengah melotot, “Katakan! Lalu apa lagi yang kamu dapatkan?”


“Makanan gratis, desert sisa dan gaji part time!”


Hans cengingisan melirik kakaknya, “Iya deh … iya!”


“Anak ini benar-benar ya!” cibir Hirza.


“Jadi, Yazza mulai curiga kalau nona Vee sedang patah hati …-”


Hans menyipitkan mata menerawang ke depan, tidak melanjutkan kalimatnya.


“Nona Vee patah hati? Shhh … apa dia sudah tahu tentang Daniel dan ular betina Nirwana itu?” gumam Hans bertanya pada dirinya sendiri.


“Hah? Tunggu! Vee sudah tahu tentang Daniel dan Tisya?” Hirza mendengus menertawakan dirinya sendiri, “Kenapa semua jadi makin berantakan seperti ini?”


“Tapi darimana nona Vee bisa tahu?” Hans justru balik bertanya.


Hirza menggeleng, “Rencana dan skenarioku rusak sudah!” menghempaskan punggung menyandar sofa.


“Mas bro yakin Yazza hanya akan berdiam seperti itu?” tanya Hans meragukan ketenangan Yazza dalam menghadapi masalahnya dengan Vee saat ini.


Menggeleng, “Aku tidak tahu! Terus saja awasi mereka, jika sampai Yazza membuat Vee kenapa-napa, baru kita turun tangan!”


Menghela nafas panjang, “Huft! Padahal aku sudah tidak sabar memberi Yazza pelajaran jika sampai nona Vee disakiti!”


...***...



Vee sibuk mencari tempat untuk menyembunyikan kamera CCTV di kamarnya.

__ADS_1


Yazza hanya diam melihat tingkah Vee.


“Shhh, kalau di sini terlalu mencolok!” kembali memindahkan ke tempat lain.


“Lagian kenapa sih kamar dikasih begituan! Mau mendokumentasikan permainan ranjang kita!” ucap Yazza datar.


“Shhh! Kamu pikir aku sudah gila!” bertolak pinggang melotot memprotes.


“Ya! Kurang lebih begitu,” tersenyum mengejek.


Mengernyit memicingkan mata, “Aku hanya ingin tahu, apa ada tikus yang sering menyelinap di sini!”


“Hya … kamu pikir rumahku ini kumuh?” protes Yazza.


“Bukan tikus beneran! Tapi tikus berkaki dua!” mendekat duduk disebelah Yazza, “Aku ada cerita yang ingin aku ceritakan padamu! Tapi aku masih cukup ragu! Takutnya … jika salah hanya akan menimbulkan fitnah!”


“Kamu sudah mengatakannya! Mau membuatku insomnia karena penasaran? Cepat katakan!”


Manyun mencibir, “Jadi, hari ini aku bertemu Berli. Dia memberitahukan tentang sesuatu, berhubung yang dia ceritakan sedikit ada keterkaitan dengan yang sudah kita alami, aku jadi penasaran dan ingin mencari tahu!”


“Apa sih yang kamu bicarakan? Lagian kenapa menanggapi omong kosong benalu itu sih?” protes Yazza.


“Bukan Yve yang sembarang masuk ke kamar ini! Dia juga tidak memakai parfum ku,” Vee cukup yakin dan percaya dengan pengakuan putrinya.


“Hah?” Yazza menyipitkan mata menatap Vee.


“Sekarang aku tanya, kata siapa Yve masuk ke sini?”


“Pe … pengasuhnya lah! Dia bilang Yve kangen padamu, itu sebabnya anak itu memakai parfum mu!”


“Nah!”


“Nah?” ulang Yazza menyipitkan mata.


“Berli bilang, dia melihat Dania menari-nari memegang dalaman pria! Bukankah kamu kehilangan dalaman mu?”


Memicingkan mata, “Jadi kamu mencurigai pengasuh itu hanya karna omongan Berli? Kamu yakin tidak sedang dipermainkan Berli? Dia itu selalu berusaha menjatuhkan mu, bisa saja dia mengarang cerita dan hanya ingin mengacaukan suasana. Bagaimana jika pencuri dalaman ku itu adalah Berli?”


“Shhh! Ya sudahlah … apa salahnya juga mencari tahu dengan memasang kamera itu!”


“Hmph! Kenapa aku tidak memasang CCTV di kamar apartemen mu sejak dulu ya? Dengan begitu, aku akan mudah menemukan bukti perselingkuhan mu itu!”


“Hya … kenapa dibahas lagi sih!” cibir Vee kesal.


Mendengus, “Masih mending aku tidak memasung mu atau mengikat terbalik di bawah pohon!”


Berdiri bertolak pinggang, “Hya! Dasar otak criminal!”


Mendengus tersenyum, “Kamu yang mengajariku!” menatap lurus ke layar Tv.


“Cihh!” mencibir menatap protes ke arah Yazza. “Oke! Kalau begitu akan aku hilangkan image buruk itu! Lihat saja, aku akan membuktikan janjiku!”


Yazza melirik Vee mencibirkan bibir mengejek lalu kembali melihat ke layar Tv.


“Hya! Akan aku buat kamu melongo sampai tidak bisa berkata-kata lagi! Tunggu saja perubahanku!”


“Power Ranger! Berubah!” olok-olok Yazza cengingisan menertawakan.


“Shhhh!” Vee semakin kesal melotot masih bertolak pinggang menatap Yazza tajam.


...-@,@- To Be Continue -@,@-...

__ADS_1


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2