RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
MENCARI PERLINDUNGAN


__ADS_3

 Vee menenteng kresek plastik berisi jagung bakar.



“Kenapa sepi sekali?” Vee melihat ke sekeliling villa yang dia tinggali.


“Ckk … pasti pergi bermain di luar lagi. Dasar … sudah dibilang suruh tidur siang dahulu!” gerutu Vee lirih.


Vee masuk ke kamar.


Pintunya sudah terbuka lebar.


Dia pikir, Yazza juga ikut pergi keluar.


Selangkah dia masuk, Yazza langsung menutup dan menguncinya.



Ternyata Yazza memang sudah bersembunyi di balik pintu sedari tadi.


Vee membalikan badan, mundur bersikap waspada.


“Apa-apaan ini!” tanya Vee defensive.


Yazza tersenyum sinis menarik kunci, memasukannya ke dalam saku celana.


Dengan santai dia berjalan melewati Vee yang bergerak menghindarinya sambil menarik satu jagung bakar yang diarahkan kepada Yazza sebagai senjata.


“Dimana putriku?” Vee masih mengancam Yazza dengan jagung.


Yazza tersenyum duduk santai menyandar di punggung ranjang.


“Hanya kita berdua sekarang,” membuka kancing kemejanya, “Kemarilah!”


Tanpa pikir panjang, Vee melempar jagung tepat mengenai kepala Yazza.


“Aww!” mendengus tersenyum, “Kasar sekali!” turun dari ranjang, “Jadi kamu suka main kasar ya?”


Kemejanya masih dipakai, tapi seluruh kancing sudah di lepaskan.


Memperlihatkan bentuk perut dan dadanya yang sempurna.


Mengambil jagung yang lainya, "Akan kulaporkan kepada polisi atas tindakan pelecehan!”


Terkekeh pelan, “Bukankah kita akan segera menikah?”


“Siapa bilang aku mau menikahimu!” Vee mundur ke arah pintu kaca geser yang mengarah ke kolam.



Mendengar pernyataan Vee, senyum Yazza buyar.


Kedua tangannya mengepal menatap tajam penuh amarah kearah Vee yang berusaha menggeser pintu.


Sial!


Pintunya terkunci!


“Berapa kali sudah kubilang! Aku yang akan memutuskan!” tegas Yazza.


Vee melepaskan jagung yang dia pegang.


Mendengus mencibir menatap Yazza tajam, “Kamu pikir, kamu itu siapa? Beraninya mengatur-atur hidupku!”


Yazza mendekat.


Membuat Vee menelan ludah, mundur memepet ke pintu kaca.


Tatapan Yazza begitu dalam dan tajam kali ini.


Sepertinya dia benar-benar sedang sangat marah.


“Apa tidak bisa, hanya menurut seperti semalam dan pagi tadi?” nadanya santai tapi berat.


“Dasar gila!”


Sakit dan perihnya saja masih terasa.


Cibir Vee dalam hati.


“Kamu kira aku menyukai itu? Jika bukan karena tidak ingin membangunkan Yve, aku tidak akan diam saja!”


Menyeringai sinis, memojokkan Vee, “Kenapa dengan pria lain kamu mudah tersenyum? Dan kenapa kamu selalu judes ini saat berhadapan denganku?”


“Hanya orang baik yang berhak mendapatkan senyuman!”


Membelai wajah Vee dengan jemarinya.


Vee menepis, mendorong Yazza kasar.


Dengan sigap Yazza menahan lengan Vee, “Mulai sekarang, aku melarangmu tersenyum kepada pria lain manapun!” tegas Yazza menatap dalam.


Vee hanya terdiam mendengarnya.


Dia tidak pernah setakut ini kepada siapapun sebelumnya.


Tapi, hanya dengan ancaman kata-kata itu, pertahanan yang dia bangun selama ini menjadi runtuh seketika.


Jujur saja, dia gemetaran saat ini.


Laki-laki ini hanya seorang Yazza!


Bahkan dengan preman anak buah juragan Lohan yang berbadan lebih besar saja, Vee mampu melawannya!


Dia berusaha menyentakkan tangannya, tapi masih tidak bisa melepaskan genggaman Yazza.


Entah dia menjadi lemah atau Yazza memang terlalu kuat.


“Kamu tidak berhak melarangku!” sentak Vee dengan bibir kelu.


Satu hal yang dia tahu, bukannya dia tidak mampu melawan.


Tapi dia sudah terlanjur tersugesti pada ketakutannya sendiri.


Masalahnya, ada rahasia yang harus dia jaga.


Dan itu membuatnya jadi berpikir, Yazza adalah lawan yang cukup tangguh yang tidak bisa sembarangan dia kalahkan.


Terlebih, Yve sedang tidak bersama dengannya saat ini, melainkan bersama suruhan Yazza.

__ADS_1


Dengan kasar Yazza menarik menghempaskan tubuh Vee ke ranjang lalu menindih di bawahnya.


“Kalau begitu, akan aku buat sampai aku berhak! Tidak peduli, kamu suka atau tidak!” kepala Yazza turun langsung mengecup bibir Vee.


Vee berusaha menghindar, mendorong wajah pria itu, “Yazza … hentikan kegilaan ini!”


“Aku sudah pernah memaksa dan membuatmu melahirkan Yve sebelumnya. Apa bedanya jika terulang lagi?”


“Apa kamu bilang?” Vee geram dia menjambak rambut Yazza kasar.


Yazza menahan kedua tangan Vee, menarik ke atas kepala, hingga membuat wanita itu kesulitan bergerak lagi.



“Apa lagi yang kamu takutkan? Aku sungguh akan menikahimu. Dan kita akan kembali bersama, menjadi keluarga yang sempurna!”


Vee tersenyum mencemooh, “Tidakkah itu kedengaran sangat menggelikan? Keluarga yang sempurna!” Vee mendengus mencibir kepada dirinya sendiri.


Menyipitkan mata, “Kamu tidak bahagia karena kita akan bersama-sama membesarkan putri kita?”


Bagaimana dia bisa bahagia?


Setiap kali melihat Yazza, dia teringat akan Yunna.


Penderitaan dan penghinaan yang Yunna terima dan juga kematian sahabatnya. Vee memejamkan mata, meneteskan air mata.


Kenapa dia harus terjebak disini.


“Kenapa aku harus bertemu denganmu!” desis Vee di sela kepedihannya.


Yazza menatap Vee dalam diam untuk beberapa saat.


Bahkan sudah sedekat ini, dia masih belum bisa memahami apa yang Vee pikirkan.


Kebencian di hati Vee masih saja membara meski dia sudah berniat baik untuk bertanggung jawab.


Yazza menelan ludahnya, saat melihat wajah Vee yang masih memejamkan mata terisak ringan.


Meski ada perasaan tidak tega dan kasihan, dia masih saja menuruti nafsunya.


Yazza kembali mencium bibir Vee.


Awalnya, dia takut jika Vee akan marah.


Begitu memastikan Vee tidak melawan, Yazza semakin yakin dan percaya diri untuk terus melanjutkan.


Memang dia sadar dan tahu, Vee diam karena terpaksa.


Tapi dia tidak peduli akan hal itu.


Yazza masih saja melanjutkan memuaskan nafsu birahinya sendiri.


Membuat Vee meringis merintih dalam kenikmatan yang tidak pernah dia harapkan.


Seandainya jika aku bisa berkata, ‘Yve bukanlah putri kita berdua!’


Tidak akan ada alasan bagiku, untuk berpura-pura menjadi lemah seperti ini!


Vee pasrah tidak melawan.


Dia hanya bisa terisak pelan.


 


...***...



“Eyang! Papa bukan orang jahat kan?” tanya Yve di pangkuan kakek buyutnya.


Menggeleng, “Papamu terkadang bersikap keras dan tegas. Itu karena dia hanya berusaha menguatkan dirinya sendiri. Sebenarnya dia sangat kesepian. Kakek dan nenekmu meninggalkan papa sejak papamu masih kecil.”


“Mirip sekali dengan mama. Mama kadang juga galak dan tegas!” Yve terkekeh pelan.


Kek Gio terkekeh, “Ya … itu benar! Mamamu juga keras kepala, terlalu pemberani dan sangat nekad! Tapi di balik semua itu, dia sangat baik.”


“Sudah sejak lama Yve berdoa agar papa dan mama bisa bersama-sama tinggal bersama Yve!” Yve muram.


“Bukankah sekarang sudah bersama kembali?”


Menggeleng, “Mama sepertinya masih sangat membenci papa Yazza!”


“Lalu, apakah Yve juga membenci papa Yazza?”


“Tentu saja tidak!” sahut Yve cepat, “Yve selalu ingin bertemu dengan papa Yazza.”


“Tapi papamu sudah jahat kepada mama Vee?”


“Kakek tahu … dulu mama selalu bilang pada Yve agar menghajar orang yang jahat pada Yve. Dan Yve selalu berkelahi di sekolah yang lama karena hal itu. Tapi, setelah mama dipanggil ke sekolah, mama selalu meminta maaf dan menyalahkan dirinya sendiri,” menunduk memainkan jemari kakeknya, “Bukankah dari situ sudah terlihat dengan jelas … mama hanya terlihat keras di luar tapi tetap saja lembut di dalam hatinya?”


“Ehhh, anak sekecil ini kenapa sudah pandai berkata-kata?” kek Gio terkekeh terkesan.


Tersenyum bangga, “Itu karena Yve mempunyai mama yang begitu luar biasa!” melihat jam dinding, “Yve harus kembali … mama pasti mencari Yve!” turun dari pangkuan kakek buyutnya.


“Tidak tidur disini saja?” tanya kek Gio.


Menggeleng, “Tadi saat main kesini, Yve tidak bilang kepada mama. Takutnya mama akan marah.”


“Kalau begitu baiklah. Besok kakek akan mengantar kalian ke Bandara. Kakek akan siapkan banyak sekali hadiah untukmu!”


Tersenyum riang, “Yeay … terima kasih kakek!”


Kek Gio terkekeh.


...***...


Jam delapan malam.


Vee baru selesai mandi dan mencuci rambut.


Melihat Yazza tersenyum santai menatapinya begitu keluar dari bathroom membuat Vee semakin kesal.


“Aku sudah menyuruhmu membereskan semua ini!” mengambil pakaian Yazza di lantai lalu melemparkan ke wajah Yazza yang masih santai telanjang di atas kasur.


Yazza masih belum berpakaian dan hanya menutup setengah badannya dengan selimut.


Dia tidak menggubris celotehan Vee.


Dengan santai menyingkirkan pakaian dari wajahnya.

__ADS_1


“Setidaknya menyingkirlah dari situ biar aku membereskan bed covernya!” ranjang itu sudah benar-benar berantakan tidak karuan.


“Nanti juga akan berantakan lagi!”


Menyipitkan mata, “Apa … nanti … hya! Jangan asal bicara!” sentak Vee.


Tersenyum mendengus membuang muka.


“Mama!” teriak suara Yve dari luar.


Vee panik melihat ke arah Yazza lalu melihat ke sekeliling.


Yazza tersenyum santai sambil mengenakan pakaiannya.


Vee dengan cepat langsung mengambil celana dan bantal yang ada di lantai.


Ia meringis geli saat memegang ****** ***** Yazza.


Dengan jijik dia langsung melemparkan ke arah Yazza, berjalan menuju pintu.


“Cepat bereskan!” desis Vee kepada Yazza sambil memegang gagang pintu.


Tok…tok…tok!


“Ma … mama di dalam?” Yve mengetuk pintu menyipitkan mata.


Astaga, dia lupa kuncinya!


“Yazza! Kuncinya!” desis Vee.


“Masih di dalam celanaku!” jawab Yazza santai sambil mengenakan ****** *****.


Vee segera berlari kecil, “Sebentar sayang!” teriak Vee ke arah pintu.


Vee menarik celana Yazza yang hendak di pakai.


“Hei! Sabar … agresif sekali! Putri kita sudah diluar, tunggu sampai dia tidur nanti.”


Vee geram mendengarnya. Ia melotot sambil mengambil kunci.


Malas rasanya menanggapinya.


Setelah mendapatkan kunci, Vee melempar dengan kasar celana panjang Yazza.


Yazza terkekeh pelan langsung mengenakan celananya lagi.


Begitu melihat Yazza selesai berpakaian, Vee memutar kunci dan menarik pintu sampai terbuka.


“Sayangnya mama!” Vee jongkok untuk memeluk putrinya.


Madan Lia berdiri di belakang Yve.


“Kenapa mengunci pintu?” Yve manyun.


“Emm, mama pikir, Yve tidak akan datang. Mama takut dan mengunci pintu!”


Madam Lia hanya cengingisan dari belakang.


“Jadi mama tahu jika Yve ke rumah eyang buyut?”


Mengangguk, “Anak nakal … kenapa tidak ijin mama dahulu!”


“Yve kira, pak Ardi dan madam Lia hanya akan mengajak Yve berkeliling dengan mobil saja. Maafkan Yve!” mengelus rambut Vee, “Mama sehabis mandi?”


Madam Lia berdehem menahan senyum.


Vee mendongak menghela nafas panjang.


“Em, nyonya, kalau begitu saya kembali dahulu.”


Vee mengangguk.


Yve melongok ke arah dalam.



“Ma, berantakan sekali. Mama dan papa berantem?”


Madam Lia tersedak kali ini.


Vee mencibir menatapnya.


“Ah, maaf … saya rasa saya harus minum obat!” tapi madam Lia justru cengingisan dan berbalik sambil buru-buru melangkah pergi.


“Tidak!” Vee mengelus rambut putrinya, “Tadi nyamuk besar yang suka mengigit itu datang lagi. Jadi mama mencoba mengusirnya.” Vee berusaha tersenyum.


“Tapi sayangnya, nyamuk itu lolos dan mama mu tidak bisa mengalahkannya!” Yazza terkekeh menimpali.


Vee memejamkan mata, kembali menghela nafas panjang.


Yve mengusap wajah mamanya, “Mama kena gigit serangga itu lagi? Apakah sakit?”


Vee mengangguk tersenyum, “Sangat sakit!” memegang dadanya, “Bahkan sampai sini!”


Yve menyipitkan mata, “Hati mama?”


Mengangguk.


Senyum Yazza buyar, dia yang menghela nafas panjang kali ini.


“Mama Vee hanya kesal karena nyamuk itu menang lagi darinya!”


Sepertinya keduanya saling sindir sekarang.


“Ah, mama sakit hati karena tidak bisa menangkap nyamuk itu!” Yve yang polos hanya menyimpulkan dengan sederhana.


Vee mendengus tersenyum, “Yve temani mama tidur ya? Mama takut nyamuk itu datang dan menggigit mama lagi!”


Tersenyum mengangguk, “Tentu saja! Yve akan melindungi mama!”


Memeluk putrinya, “Oh …. sayangku. Mama sayang Yve!”


Balas memeluk mamanya, “Yve lebih sayang mama!”



Yazza mendengus mencibir, “Mencari cara untuk meloloskan diri rupanya!” desisnya lirih pada dirinya sendiri.


...-@,@- To Be Continue -@,@-...

__ADS_1


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2