
“Oke anak-anak, sudah boleh berkemas sekarang! Besok pasti adalah hari yang kalian tunggu-tunggu bukan?” bu Tania wali kelas Yve tersenyum ramah di hadapan seluruh anak didiknya.
“Ya!” semua anak di kelas bersorak gembira.
Hanya Yve yang celingukan tidak paham.
Usai berdoa, anak-anak bergegas bubar keluar ruangan.
Kecuali Yve.
Caesar yang tadinya juga hendak keluar, begitu melihat Yve masih diam, dia juga ikut duduk diam.
Menoleh, "Kenapa tidak keluar?" tanya Yve cuek kepada teman sebangkunya itu.
"Bareng sama Yve saja." Tersenyum ramah.
Merapikan buku, “Caesar!” panggil Yve tanpa menoleh ke arah temannya.
“Ya?” jawab anak laki-laki itu.
“Memangnya besok ada apa?"
“Perlombaan antara anak dan ayah.” Caesar mengingat sesuatu, “Ah benar, undangannya sudah disebar seminggu sebelumnya. Kamu baru di sini jadi belum tahu.” Tersenyum kembali.
“Ayah dan anak?” Seketika Yve merasa muram dan sedih.
“Ayahmu akan datang?” Caesar menyipitkan mata.
Yve menunduk sedih.
Melihat perubahan ekspresi teman barunya, Caesar jadi merasa bersalah.
“Em, maaf. Apa aku salah berkata?” sesalnya.
Yve langsung berdiri dan melangkah pergi.
Caesar mengejar, “Yve! Maafkan aku!”
“Aku tidak punya ayah.” Jawab Yve datar sambil berjalan.
Caesar semakin tidak enak hati, “Emm, sudahlah. Lagipula acara besok tidak terlalu menarik!” mencoba menghibur Yve.
Menghela nafas panjang, “Jangan berbohong. Kalian semua terlihat sangat antusias!”
Meski dia kesal, tidak seharusnya dia bersikap seperti itu kepada Caesar yang sudah berusaha menghiburnya.
Yve tersenyum, “Jangan sampai kalah besok!” memukul pelan bahu Caesar lalu kembali melangkah ke arah gerbang depan.
Caesar diam menghela nafas panjang melihat Yve.
Dia merasa kasihan sekaligus tidak enak hati karena menyinggungnya.
***
Yve ingin mengatakan tentang acara besok kepada mamanya.
Tapi saat melihat mamanya muram melamun melihat langit malam di samping jendela, Yve urung dan memilih untuk tidak mengganggu mamanya.
Vee tidak mengerti kenapa dia begitu gelisah dan marah setelah mendengar kalimat Yazza.
Dia bilang Vee selalu muncul dalam mimpinya.
Sungguh pernyataan yang berbanding terbalik dengan yang dia rasakan.
Tidak disangkal jika pada kenyataannya Vee begitu ingin menyingkirkannya dari kehidupan ini.
Vee pikir, Yazza tidak memperhatikan dan akan mengabaikannya.
Tapi, Yazza justru mengingat dan selalu memperhatikan jika mereka memang sering berpapasan.
Bukankah delapan tahun bukan waktu yang singkat?
Bagaimana dia masih mengingatnya hanya karena kembali berpapasan satu kali saat di depan gerbang apartemen kemarin?
Apakah tatapan kebenciannya ini begitu mencolok hingga membekas baginya?
Yang jelas, Vee tidak ikhlas jika Yazza terus memimpikannya!
__ADS_1
***
Yve berjalan digandeng mamanya menuju ke sekolah.
“Ma! Boleh tidak, hari ini ijin saja?” Yve melihat ke jalanan.
“Hmm, kenapa begitu?” Vee berhenti untuk menatap wajah putrinya.
Yve diam tidak menjawab.
Menyipitkan mata, “Apa ada yang menjahatimu?”
Menggeleng.
Handphone Vee berbunyi.
Pak Didik menelfon.
“Sebentar sayang!” Vee menjawab panggilan.
“Hallo pak?”
“Vee ini gawat. Cepatlah datang ke kantor!”
“Haiz, sudah kubilang. Jangan menghubunginya!” ada suara Daniel juga di sana.
“Apa yang terjadi?” tanya Vee.
“Kemarilah secepatnya.”
“Baik pak!”
Yve melihat mamanya. Sepertinya semakin tidak ada kesempatan untuk mengatakan tentang acara sekolah kepada mamanya.
Raut kekecewaan menambah kemuraman di wajahnya.
Bagaimanapun juga, hari ini adalah acara orangtua dan anak di sekolah. Tanpa siapapun, bagaimana Yve akan melewati hari ini.
Rasanya anak itu semakin enggan saja untuk datang ke sekolah.
Yve mengangguk tanpa ekspresi.
Vee tersenyum mengelus rambut Yve. Dia segera memesan taksi online.
Yve langsung kembali berjalan.
“Hati-hati sayang. Love you.” Vee menatap ke arah putrinya melambai tersenyum.
Yve tidak menjawab dan bahkan anak itu juga tidak menoleh ke belakang.
Hanya punggungnya yang terlihat.
Vee merasa ada yang aneh. Tidak biasanya putrinya bersikap seperti itu kepadanya.
Dia hendak mengejar putrinya.
Tapi, lagi-lagi pak Didik menelepon.
Sepertinya terjadi sesuatu yang besar sampai pak Didik meneleponnya berkali-kali sepagi ini.
***
“Teratai Putih masih cukup berbaik dengan memberikan kesempatan ini!” pak Didik duduk dengan gelisah.
“Pak, seharusnya biarkan saja!” protes Daniel.
“Heh, apa yang kamu bicarakan. Ini bukan masalah keuntungan perusahaan saja!”
“Lagipula, aku pikir pak Yazza itu cukup professional. Tapi kenapa dia baperan!”
“Huss! Kurasa memang ada masalah di antara Vee dan pak Yazza sebelumnya. Kemarin Vee bilang padaku jika dia sangat membenci orang yang akan kita temui.”
Termenung mengingat pembicaraan Yazza dan Vee, “Apa benar mereka memang sudah pernah saling mengenal sebelumnya? Haiz! Kenapa pak Yazza berbicara seperti itu!”
Menoleh menatap Daniel, “Kenapa?”
“Aku takut jika Vee tidak mau melakukannya. Bagaimana jika dia meninggalkan kantor ini lagi seperti dahulu?”
__ADS_1
“Justru itu masalahnya. Yang aku pikirkan itu nama baik Vee di mata semua orang. Ini menyangkut reputasinya. Vee tidak mungkin lepas tanggung jawab begitu saja.”
“Tetap saja aku takut jika Vee menghilang lagi!”
“Jika Vee sungguh benar-benar meninggalkan White Purple, kenapa dia justru kembali memilih bekerja di cabang kantor yang sama? Mungkin dulu dia pergi memang karena alasan yang sangat penting.” Pak Didik menghela nafas panjang.
“Sudahlah! Kita semua sudah semakin dewasa sekarang. Vee seorang ibu tunggal, dia harus membiayai sekolah putrinya. Dia sudah bertahan dengan White Purple selama bertahun-tahun. Tidak mungkin dia akan pergi tanpa kabar lagi seperti dahulu.
Vee masuk ke ruangan.
Pak Didik dan Daniel terdiam menatap kehadirannya dalam kegelisahan.
Tampak jelas sekali raut keputusasaan di wajah keduanya.
“Ada apa ini?” bahkan kantor masih sepi.
Pak Didik menghela nafas panjang. “Vee, masalah besar!”
“Pak, sudahlah! Kita cari jalan lain.” Daniel berusaha menutupi.
Vee semakin menyipitkan mata. “Katakan saja!” desak Vee.
“Teratai Putih mengirimkan result penilaian. Dan ada satu missed poin yang membuat mereka harus mempertimbangkan untuk membatalkan kerja sama.”
“Missed poin?” ulang Vee menyipitkan mata.
“Yeah.”
“Emm, biar aku yang menemui pak Yazza. Bagaimana pak Didik?” Daniel tersenyum menawarkan diri.
“Pak Daniel! Tolonglah! Masalahnya jika Vee sendiri yang tidak mengatasi, takutnya akan berimbas ke semuanya! Jika ayah pak Daniel tahu, pekerjaan Vee juga dalam bahaya!”
Vee semakin tidak mengerti, “Sebenarnya apa yang kalian bicarakan?”
Pak Didik kembali menghela nafas, “Pak Yazza merasa, sikap salah satu karyawan membuatnya tidak nyaman untuk melanjutkan kerja sama. Dan jika karyawan itu tidak segera meminta maaf dengan baik-baik selagi mereka membuka kesempatan. Mereka tidak akan menerima kontrak kerja sama.”
Vee merasa semakin geram.
Daniel menghela nafas, “Jika kamu tidak mau. Tidak apa-apa kok! Kita batalkan saja kerja sama ini!”
“Hya!” sentak pak Didik.
Daniel dibuat menciut terdiam menggaruk kepalanya.
Dia takut akan menyinggung perasaan Vee jika harus memaksakannya kembali menemui Yazza.
Vee memejamkan mata menarik nafas panjang dan menghempaskannya.
Dia tidak mau egois dan mengorbankan banyak orang.
Nama perusahaan ini akan lebih naik jika bekerja sama dengan mereka.
“Itu adalah kesalahan saya, jadi saya sendiri yang akan menyelesaikan!” ucap Vee berhati-hati.
“Itu bagus. Pak Yazza dan tangan kanannya belum menyebarkan result resmi ke pak Direktur. Dia masih berbaik karena memberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan itu.” Pak Didik menepuk-nepuk bahu Vee.
“Apa dia sengaja menargetkanku karena pembicaraan di depan toilet kemarin?” Vee memejamkan mata, “Haiz, ini memang kesalahanku! Seharusnya aku tidak perlu menanggapinya!”
“Aku mohon, turunkan egomu dan jangan membuat kesalahan yang akan merugikan masa depanmu. Kamu berbakat dan berpotensi. Aku tidak ingin kehilangan orang sepertimu di kantor ini hanya karna masalah pribadi.”
Daniel merasa semakin tidak rela jika Vee kembali menemui Yazza.
Rasanya dia yang lebih tidak menginginkan hal itu.
Entah karena cemburu atau merasa takut tersaingi.
Kalimat yang Yazza ucapkan kemarin cukup membuat Daniel kepikiran sampai tidak bisa tidur.
***
Banyak sekali piala dan piagam penghargaan di ruang kantor Yazza.
“Mereka sudah berada di lobby depan!” Pak Ardi melapor.
Yazza duduk santai di sofa tempat pertemuan di dalam ruangannya.
Tersenyum licik, “Kita lihat, apa dia masih bisa seangkuh itu kali ini!”
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))>' '<((((<...
__ADS_1