
Yazza melihat Vee yang terdiam begitu mendengar curahan hatinya.
“Haiz … kurasa aku salah karena sudah menceritakannya padamu!” sesal Yazza bergumam lirih.
“Hya … kenapa begitu? Aku justru senang karena kamu bisa membuka diri!” cibir Vee memprotes.
“Pasti sekarang kamu berpikir untuk menemui seniormu itu dan akan berbicara padanya tentang masalah ini kan?”
Vee menatap takjub suaminya, “Woah … darimana kamu tahu? Kamu memang punya bakat meramal deh!”
“Hya … jangan pernah melakukan sesuatu yang konyol! Ini urusan bisnisku … aku akan berusaha professional kok!”
“Cuih … padahal aku bisa membujuk senior buaya supaya dia mengganti partner untukmu!”
“Aku jauh lebih tidak suka jika kamu keseringan berhubungan dengannya!”
“Hya … memangnya dia salah apa sih? Aku sudah mengenalnya sejak lama!”
“Dia berbahaya!”
“Semua orang kamu cap seperti itu!” cibir Vee membuang muka.
“Hya … apa kamu akan percaya jika aku bilang kalau dia bisa saja membunuh seseorang hanya dengan satu kedipan mata.”
“Hya … itu terlalu berlebihan! Jangan menjelek-jelekan orang!”
“Sudah aku duga … kamu memang tidak akan mempercayainya!”
“Karena memang setahuku … Hirza itu orang baik … meski dia sering gonta-ganti pacar dan menyakiti banyak hati wanita!”
“Latar belakang keluarga istrinya bukan main-main. Sekarang mana bisa dia bermain-main dengan wanita lain!” cibir Yazza mengejek.
“Haiz … lagi-lagi menjelekkan orang lain! Sudahlah … lagipula itu urusan rumah tangga dan kehidupannya!”
“Hya … aku hanya berkata yang sebenarnya!”
Vee menghela nafas panjang, “Well … apa kamu yakin … mau melanjutkan kerjasama dengan Paradise dan White Purple?” tanya Vee serius kali ini.
“Jangan khawatir … aku bukan pria lemah!”
Vee mendengus mencibir, “Cuih … ya … ya … memang begitu!”
“Hya … apa maksudmu itu?” cibir Yazza ikut tersenyum mendengus.
“Bukan apa-apa!” Vee cengengesan membuang muka.
“Dasar otak mesuum!”
“Hya … sembarangan!” cibir Vee menatap manyun, “Oh iya … Yve tadi menanyakan tentangmu … sepertinya dia masih agak canggung untuk benar-benar memaafkanmu.”
Yazza tersenyum menggambil sesuatu dari bawah bantal.
__ADS_1
“Apa itu?” tanya Vee menyipitkan mata.
Sebuah kotak kecil panjang tampak manis dengan pita pink di atasnya.
“Tadi aku sengaja mampir untuk membelikannya sebuah hadiah … sebagai tanda permintaan maaf!”
“Coklat?” tebak Vee menyipitkan mata.
“Hya … dia anak gadis! Jika terlalu banyak memberinya hadiah yang manis-manis … akan merusak penampilan giginya kelak!”
Vee kembali tersenyum mendengus mencibir, “Woah … suatu perkembangan yang luar biasa kamu sampai bisa berpikir sejauh itu!”
“Cih … jangan membuatku kembali merasa canggung dengan situasi ini!”
“Iya deh maaf!” Vee memegang kotak hadiah dari Yazza untuk Yve, “Apa isinya?”
“Jam tangan!”
“Hah? Jam tangan? Kenapa bukan gelang yang manis atau kalung saja?”
“Ada pelacak GPS dalam jam ini … mengingat banyaknya kekacauan yang terjadi pada keluarga kita akhir-akhir ini … aku pikir hadiah ini akan sangat berguna untuk tetap bisa memantau keberadaanya.”
Vee tersenyum senang mendengar kalimat yang Yazza ucapkan.
Ternyata bukan hanya tidak peduli, Yazza diam-diam juga memikirkan tentang keselamatan dan keamanan Yve.
“Putrimu pasti akan sangat senang dengan hadiah ini!”
...***...
Meski rumah yang Hirza tinggali cukup megah dan luas, kekosongan masih saja menguasai suasana yang tercipta di sana.
Banyaknya pelayan dan penjaga rasanya masih tidak bisa membuat rumah itu terlihat lebih hidup.
Hirza dan Hans berjalan santai melewati lorong yang penuh dengan hiasan patung dan lukisan menuju kamar Xean.
“Berkat informasi dari Ozzy … kita bisa jadi tahu kalau paman Vee sudah menceritakan segalanya kepada Daniel di malam resepsi pernikahan Yazza. Dan selanjutnya … mari kita lihat, sejauh mana Daniel ingin berusaha menjatuhkan Yazza!”
Hans menoleh menatap kakaknya masih sembari berjalan, “Tapi aku tidak mengeri deh mas bro! Kenapa tiba-tiba mas mau menjadikan Daniel sebagai umpan?”
“Dulu aku pikir … karena Vee begitu membenci Yazza, meskipun membuat mereka bersama, Vee tidak akan jatuh hati pada pria itu! Tapi ternyata aku salah … yang aku lihat saat ini … Vee justru rela membahayakan dirinya sendiri untuk melindungi Yazza,” Hirza menatap sendu dalam kepiluannya, “Aku hanya tidak rela!”
“Jadi … mas bro mau menjauhkan mereka sekarang?”
“Yazza selalu saja sombong memamerkan kemesraannya dengan Vee setiap kali bertemu denganku … bukankah itu sangat menyebalkan?”
“Kurasa pak Yazza sengaja ingin memancing supaya mas bro menunjukkan respon yang bisa dia jadikan bahan untuk menjatuhkan mas!”
“Aku juga berpikir seperti itu!”
Hans menghela nafas panjang, “Bukankah dia seharusnya berterima kasih karena masih bisa menghirup udara bebas selama ini!”
__ADS_1
“Terkadang aku berpikir … aku ingin memalsukan kematian ku dan memulai hidup yang baru agar bisa mengejar yang aku mau!”
“Mas!” sentak Hans meninggikan nada, “Jangan berbicara seperti itu!”
Pria itu justru mendengus tersenyum sengit, “Bukankah pada dasarnya Yazza itu adalah pria yang beruntung? Dia selamat dari kematian dan sekarang dia mendapatkan hati dari seorang wanita yang tidak akan pernah bisa aku gapai!”
“Mas … mungkin aku memang masih terlalu muda untuk berkomentar … tapi tidak seharusnya mas selalu bersembunyi seperti ini!”
Hirza mengangguk-anggukkan kepalanya, “Yeah … itu sebabnya … kelak, ketika kamu menemukan orang yang sangat kamu cintai … maka jangan pernah ragu untuk terus memperjuangkannya!”
Keduanya sudah berdiri di depan pintu kamar Xean.
“Jangan seperti aku … pecundang yang hanya bisa bersembunyi di balik bayangan!” lanjut Hirza sembari memegang gagang pintu.
“Mas …-“
“Jangan di bahas lagi … Xean akan jadi lebih sensitive setiap kali membahas Vee,” desis Hirza lirih.
Hans hanya menghela nafas panjang dan memilih untuk berdiam ketika kakaknya mendorong pintu ke dalam.
Xean langsung menoleh sebentar, lalu kembali membuang muka acuh tak acuh.
“Apa yang sedang kamu lakukan?” Hirza berjalan mendekat.
Xean tampak sibuk menggerakkan kuas di atas kanvas di hadapannya.
“Widih … hobi baru?” Hans tersenyum cengengesan sembari menutup pintu dari dalam.
“Haiz … jangan menggangguku!” gerutu Xean kesal.
Hirza tersenyum tipis melihat beberapa lukisan yang berserakan di lantai.
“Kamu yang melukis semua ini?” Hirza memerhatikan satu persatu.
“Idih … berantakan sekali!” ejek Hans sengaja menggoda.
“Heh … jangan memupuskan harapan anak-anak yang ingin berkembang!” sentak Xean kesal.
“Astaga! Gaya bicaramu seperti orang tua saja!” cibir Hans berdiri di belakang Xean, “Sedang menggambar apa?”
“Haiz … berisik sekali! Aku sedang berlatih!”
“Berlatih?” ulang Hans mengernyitkan dahi, “Berlatih apa?”
Tepat bersamaan, dua bola mata Hirza terpaku melihat satu lukisan yang terlihat paling rapi di antara lukisan-lukisan lainnya.
Tubuhnya seketika mengejang dengan mata membelalak tajam menatap lukisan buah-buahan yang saat ini ada di hadapannya.
“Xean! Siapa yang mengajarimu melukis seperti ini?”
Tanpa menoleh dia bertanya kepada putranya.
__ADS_1
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...