
Dengan tenang wanita itu membuang majalah lalu kembali berjalan santai.
Berita yang Yazza ciptakan memang menjadi sangat heboh.
Nyaris di semua tempat penjualan majalah edisi Yazza terjual dengan sangat cepat.
Bahkan banyak wartawan yang mencoba mencari informasi kebenaran dari Yazza secara langsung.
Dua orang berjas hitam menyambut wanita tadi.
“Selamat datang kembali nona!” mengambil alih koper yang dia bawa.
“Sudah kubilang, tidak perlu menjemput!” nadanya sangat angkuh, tapi terdengar lembut dan merdu.
“Kami tidak berani melawan perintah nyonya besar!” menunduk tidak berani melihat ke wajah wanita di hadapannya.
Tersenyum sinis, “Antar aku ke Strom!”
“Tapi nona … kami diminta membawa anda langsung ke rumah!”
Memegang pundak pria berjas di depannya, “Mr. X jangan mendebat!”
Menunduk tidak berani melawan, “Baik nona!”
Kembali tersenyum sangat manis, lalu melanjutkan berjalan cuek dengan pesonanya.
...***...
Vee merapikan pakaiannya.
“AC di kantormu rusak!” menatap ke atas.
Merapikan dasi, “Kurasa kamu yang terlalu kepanasan!”
“Cih!” mencibir, “Bukannya kamu bilang, akan ada meeting?”
“Ya …,” melihat jam tangan, “kamu bebas melakukan apa yang kamu suka. Aku akan selesai sebelum jam makan siang! Jangan kemana-mana!”
Mendengus, “Terserah aku mau ke manapun yang aku mau!”
“Memangnya mau ke mana?” berdiri mengenakan jasnya.
Tidak mungkin jika dia harus kembali ke White Purple.
Toh, dia juga akan pergi lagi ke sini setelah makan siang.
Mereka masih harus menemui pihak Wedding Organizer nanti.
“Aku akan berkeliling, melihat apa saja yang kira-kira bisa aku rusak!” meluruskan rok dan ikat pinggang.
Tersenyum mencibir, “Cih!” mengemas laptop.
Vee memperhatikan tatanan rambut Yazza, “Tunggu!” mengambil sisir dari dalam tas.
Yazza berdiri diam menoleh ke arah Vee yang maju mendekat ke arahnya.
“Duduk!” tegas Vee.
Yazza tersenyum menurut.
Kembali duduk mendongak menatap wajah Vee, “Jangan terlalu manis … aku bisa terkena diabetes nanti!”
Menarik rambut Yazza kasar sambil melotot sinis menatapnya.
“Jangan kepedean! Mungkin semua orang tahu jika aku datang ke sini … dengan penampilan yang berantakan seperti ini, apa yang akan orang pikirkan?” menyisir..
Merapikan rambut Yazza.
__ADS_1
Tersenyum melingkarkan lengan ke pinggang Vee, “Tapi yang akan mereka pikirkan memang benar sudah kejadian ‘kan?”
Memukul kepala Yazza dengan gagang sisir.
“Aww!” mendongak memprotes.
“Hya … kamu sering meminta karyawati di sini untuk melayanimu ya?” menyingkirkan lengan Yazza.
“Cih, aku tidak sekotor itu!”
Mencibir menarik sapu tangan dari saku jas Yazza, “Cih … aku akan mencuci ini!” menaruh ke dalam tas.
“Hya … aku membutuhkannya!”
“Haiz … ada bekas lipstick! Aku asal ambil tadi!” membuang muka sok polos.
“Hya! Tidak punya sendiri?”
Mengangkat bahu, “Aku lebih suka pakai tissue! Haiz … ini hanya sapu tangan … kenapa harus di permasalahkan!” dengus Vee lebih galak agar tidak di marahi.
Mencibirkan bibir, “Seperti seekor anjing yang menyalak keras untuk menakuti orang agar tidak mendekatinya!”
“Hya … kamu menyamakan aku dengan anjing?”
Tersenyum tipis, “Aku tidak bilang … kamu sendiri yang menyimpulkan!”
“Cih … benar-benar menyebalkan!” melihat dasi Yazza yang masih miring.
“Kembalikan sapu tanganku!” masih tersenyum santai.
Membuka tas, bukan mengambil sapu tangan Yazza melainkan justru sebungkus tissue kecil.
“Aku akan mencucinya. Akan ku kembalikan setelah bersih!”
“Biar saja sih!”
“Nggak! Jika orang lain yang melihat, akan jadi bahan gossip!”
“Dasar tukang umbar aib sendiri!”
Menatap Vee mesra, “Terima kasih untuk charge mood yang kamu berikan tadi!”
“Hya … berhenti bicara hal yang memalukan! Dasar otak mesuum!”
“Hanya berlaku padamu!” melihat jam tangan kembali, “Aku harus pergi sekarang!”
“Sebentar!” menunduk untuk membenahkan dasi Yazza.
“Kurasa kamu hanya mengulur waktu agar berlama-lama bersamaku! Atau masih belum puas?”
“Cuih!” merapikan pakaian Yazza, “Emb … bagaimana dengan mantan yang masih tidak rela melepas kamu itu?”
Menyipitkan mata, “Berli?”
“Yang waktu itu ketemu di Bali?” Tanya Vee tidak yakin.
Menahan kedua lengan Vee.
Wajah keduanya sangat dekat.
Yazza tersenyum menatap mendalam, “Aku tidak akan mengulangi jawaban ini … percaya atau tidak … meski lama berpacaran dengan Berli … hubungan kita tidak pernah sampai sejauh ini!”
Menyipitkan mata meragukan pernyataan Yazza, “Hmm … hanya ada dua kemungkinan! Pertama kamu tidak normal dan kedua, kamu hanya berbohong karena malu mengakuinya!” tersenyum sengit untuk mengejek.
Mendekatkan kepala, “Jika aku tidak normal … kenapa aku begitu terus menerus menginginkanmu?” nafas Yazza menyapu wajah Vee.
Matanya nakal melihat ke arah bibir Vee.
“Jika masa depanku saja seindah ini … kenapa masih harus mengingat masa lalu?”
Deg!
__ADS_1
Vee terdiam tanpa bisa berkata-kata melihat mata Yazza.
Perasaan aneh apa ini?
Pintu terbuka.
Vee langsung menarik diri, berdiri tegak merapikan rambut sembari membuang muka.
“Ehheem!” Vee berdehem salah tingkah melihat ke luar jendela.
Lagi-lagi pak Ardi merasa canggung ikut salah tingkah, “Upss … maaf!”
Yazza mengepalkan tangan kesal melirik ke arah pak Ardi, “Ketuk pintu!” sindir Yazza.
“Saya lupa jika nyonya Vee di sini!” tersenyum meringis.
“Bagaimana?” tanya Yazza berdiri merapikan jasnya kembali.
“Semua sudah siap di ruang meeting.”
“Okay kita ke sana!” melihat ke arah Vee, “Jika ingin merusak sesuatu, barang-barang yang ada di sini saja … jangan ke luar terlalu jauh!”
Mengangguk angkuh, “Tentu saja! Aku punya waktu yang cukup banyak untuk memporak-porandakan kantor ini!”
Tersenyum menenteng laptop, “Aku pergi dulu!”
Vee mengangguk tidak melihat ke arah Yazza.
Pak Ardi membukakan pintu lebar-lebar untuk Yazza.
Begitu tuannya ke luar dari ruangan, dia baru mengikuti untuk kembali menutup pintu.
“Sepertinya semakin dekat saja!” desis pak Ardi.
Yazza tersenyum mencibir, “Dia hanya sedang memakai topeng?”
“Topeng?” tanya pak Ardi menyipitkan mata.
“Ya … dia menginginkan sesuatu!”
“Kalau boleh tahu … apa itu?”
“Dia membuat penawaran agar menyetujui jika dia tetap bekerja di White Purple!”
Mereka berdua terus berjalan.
“Apakah anda setuju?” pak Ardi yang sebenarnya tampak kurang setuju.
Yazza mengangguk.
“Tapi tuan … anda tidak resah dengan pak Daniel?”
Tersenyum licik, “Aku hanya memanfaatkan keuntungan yang aku dapatkan!”
Semakin tidak mengerti, “Keuntungan?”
“Dia bilang … dia akan bersikap baik selama aku setuju dengan pilihannya!”
“Bukankah anda sudah bisa mengkontrol nyonya Vee tanpa harus setuju dengan keputusannya?”
Menggeleng, “Beberapa media pasti akan menyorot padanya … lautan selalu tidak tertebak … tidak tahu apa yang akan dia katakana di depan umum! Hanya mengantisipasi … setelah kehebohan ini reda … akan aku pikirkan cara supaya dia keluar dari sana!”
“Ah … saya mengerti … memberikan madu kepada beruang untuk menjinakkannya.”
Yazza tersenyum sinis, “Dia sendiri yang meminta madu itu … tunggu saja sampai lebah menyengatnya!”
Pak Ardi ikut tersenyum, “Anda memang sungguh sangat mengagumkan tuan!”
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
__ADS_1
...>))))> ' ' <((((<...