
Tangan Yunna gemetaran dengan kepala tertelungkup di atas kemudi.
Untung saja dia menginjak rem tepat pada waktunya.
Nyaris saja mereka menabrak Yazza.
Dengan helaan nafas panjang, Vee menatap lega ke arah depan.
"Orang gila!" umpatnya.
“Hahaha …” Yazza terkekeh membuang botol minumannya ke bahu jalan.
Melihat pria yang justru terlihat mengolok-olok keduanya, amarah Vee meluap.
Tangannya mengepal dengan rahang mulai mengeras, “Biar ku hajar saja sekalian!” melepas sabuk pengamannya.
Yunna mendongak melihat ke depan, "Tunggu!” menahan lengan Vee yang hendak turun.
Sekali lagi dia melihat dengan seksama ke arah depan, “Sepertinya tidak asing?"
“Pelangganmu?” tanya Vee datar.
Yunna mencibir, “Cih! Sembarangan!” melihat sekeliling, “Bantu aku membawanya masuk ke mobil!”
“Siapa dia?”
“Dia bos utama di kantor kita nantinya,” Yunna membuka sabuk pengamannya.
Vee mengernyit, “Kelakuan bos besar seperti itu?”
Membuka pintu mobil, “Dia tidak pernah begitu sebelumnya. Pasti ada masalah ... ayo bantu, sebelum dimaki-maki orang karena kita berhenti ditengah jalan!” Yunna turun dari mobil.
Vee mengikuti dengan santai.
Menghempaskan nafas panjang melihat ke arah Yazza.
“Pak Yazza!” panggil Yunna mendekat.
Yazza justru melihat ke arah Vee, “Hei kamu kembali? Peri kecil!”
“Dia gila!” bisik Vee kepada Yunna.
“Shhh!” setengah melotot melirik sahabatnya.
Yunna menggandeng Yazza, “Pak masuk ke mobil yuk!”
“Hahaha!” Yazza kembali terkekeh memeluk Vee.
Sontak Vee langsung saja mendorongnya hingga jatuh tersungkur.
“Vee! Dia bos besar!” desis Yunna kesal, memukul pelan lengan sahabatnya.
“Dia menyentuhku!” gerutu Vee menunjuk tepat ke arah muka Yazza yang terduduk di jalanan.
“Dia hanya mabuk!” Yunna merangkulkan tangan Yazza ke bahunya, membimbingnya untuk kembali berdiri, “Rapikan jok belakang!”
Vee mengangkat bahu. Dengan acuh dia segera menuruti perintah Yunna. Memindahkan koper dan tasnya ke bagasi belakang.
"Dia memanggilmu peri. Bagaimana dia tahu julukanmu?" Yunna kesusahan membawa Yazza.
"Memangnya ada orang mabuk yang bisa berpikir waras? Sudah jelas dia pasti sedang berhalusinasi!" melemparkan tas dan kopernya dengan sembarangan.
“Vee, kamu duduk di sini buat jagain pak Yazza ya?”
“Dih, biarin saja tidur di belakang sendirian!” memprotes sambil menutup pintu bagasi.
“Takutnya dia terguling dan jatuh!”
“Menyusahkan!” gerutu Vee.
BIIIMMM … BIM!!!
Klakson kendaraan terdengar memekikkan telinga.
Pengendara mobil lain melintas dengan kesal. Kaca jendela mobilnya terbuka.
“Maaf!” Yunna tersenyum kepada pengendara tersebut.
“Dasar ******!” umpat pengendara itu.
"Anda gigolo! Bangsat!" teriak Vee membalas mengumpat.
"Vee! Shhh!" Yunna menatap Vee mengisyaratkan agar tenang.
“Cih!” Vee mencibir melihat Yazza yang sudah di dalam mobil, “Oke deh, dari pada kelamaan!” matanya kembali tertuju ke arah mobil yang sudah melaju jauh di depan.
Masih ada rasa kekesalan kepada pengendara tadi.
Sebelum lebih banyak orang yang mengumpat, sebaiknya dia tidak mengulur-ulur waktu.
__ADS_1
...***...
Yazza menyandarkan kepalanya di bahu Vee. Berkali-kali Vee menyingkirkannya, tapi tetap saja posisi kepalanya kembali ke semula.
Sembari mengemudi, Yunna sesekali melirik melihat ke belakang, “Mimpi apa bisa membawa pak Yazza satu mobil denganku!”
Yazza membuka mata, mendongak lalu duduk tegak mendekat ke arah Vee.
Vee yang terkejut dengan kelakuan Yazza, hanya bisa menatapnya memicingkan mata.
Yazza mendekatkan kepalanya.
Dengan gerakan yang tidak bisa diduga, detik berikutnya bibir Yazza sudah menyentuh bibir Vee.
PLAK!!!
Dengan cepat Vee mendorong lalu menampar pria itu.
Yazza tersentak memegang pipinya.
Dia menyipitkan mata menatap Vee yang tengah menatapnya nanar.
“Vee!” sentak Yunna.
“Mau mati ha!” Vee kesal mengusap bibirnya.
“Hahaha!” Yunna malah terkekeh pelan.
“Hya kenapa kamu malah menertawakan!” protes Vee.
“Ayolah, jangan kasar padanya," mengangkat kedua bahunya, “Aku pikir, dia sangat dingin dan acuh selama ini. Ternyata dia bisa genit juga!”
Kepala Yazza kembali tertunduk dengan tangan yang terkulai lemas.
Dia duduk terdiam.
“Hya! Pingsan?” Vee mencoba menundukkan kepala untuk melihat wajah Yazza.
Lagi-lagi Vee dibuat terkejut saat Yazza tiba-tiba kembali mendongak.
Kali ini Vee sedikit mundur, untuk mengantisipasi gerakan Yazza yang tidak terduga lagi.
“Hya,” memasang kuda-kuda tinju di hadapan Yazza.
“Kenapa kamu sangat membenciku?” Yazza tampak muram menatap Vee, “Tidak apa jika kamu menamparku. Tidak apa-apa kamu berselingkuh, tapi jangan tinggalkan aku!”
Yazza menjatuhkan kepalanya di pangkuan Vee.
Yunna langsung menoleh, “Vee! Jangan!”
Mematung menatap Yunna, “Tapi dia menempel!”
“Please Vee! Bersikaplah baik. Dia bos kita nantinya!”
Dengan kesal Vee hanya bisa menghela nafas pajang sembari membuang muka.
“Aah, malang sekali! Mendengar ocehannya, sepertinya dia diselingkuhin bu Berliana!”
Yunna mengangguk-angguk, masih fokus mengemudi.
Vee berusaha menyingkirkan Yazza dengan sedikit lembut, tapi Yazza justru mendekap erat pinggangnya.
“Jangan pergi lagi peri kecil! Dingin sekali!” mendesal di perut Vee.
Vee merengek, “Aaa ...! Yun ... menjijikan sekali!”
“Hahaha!” Yunna kembali terkekeh.
Tiba-tiba sesuatu terlintas di kepalanya, “Eh, kamu masih ingat apartemenku?” tanya Yunna.
“Ya!” melihat ke arah Yunna, “Apa yang sedang kamu rencanakan?”
Melirik Yazza, “Kapan lagi kan?” mengerlingkan mata nakal.
“Jangan gila deh!”
“Dia kayaknya sedang butuh seseorang buat menemaninya. Kali aja, abis ini aku dapat promosi!”
“Yun, please deh!”
“Kamu kembali sendiri ya ... ke apartemenku! Jangan menyetir pick up mulu. Mobil bagus juga dong kadang-kadang!”
“Mana ada tuan rumah menyuruh tamunya pergi sendirian!”
“Ayolah, kapan lagi ada kesempatan naik ranjang bersama big bos.”
“Dasar wanita gila!” gumam Vee.
“Shhh! Kalau aku jadi wanitanya bos. Kamu juga akan terkena imbas baiknya!”
“Hya! Sejak kapan nasibmu itu akan menjadi baik?” gerutu Vee mencibir.
“Dih! Jahat sekali! Kamu mengutukku ya?” cibir Yunna mengerucutkan bibir.
“Lagian, sudah jadi orang benar, kenapa malah mau aneh-aneh lagi sih!”
__ADS_1
“Vee, sayangku! Jaman sekarang, kalau mau cepat di posisi enak ... ya … paling tidak harus pintar menjilat.”
“Tidak semuanya begitu dong! Ayolah, pria ini aneh banget Yun!” mengernyit menjambak Yazza agar menyingkir dari pangkuannya.
“Vee! Jangan seperti itu!” tegur Yunna lagi.
“Risih Yun!” mengerucutkan bibir.
Yazza tersenyum semakin erat mendekap perut Vee.
“Haiz! Pria mesum!” gumam Vee pasrah.
Dia hanya tidak mau menyinggung Yunna dengan tidak mengikuti perkataan sahabatnya itu.
Yunna tersenyum menoleh ke belakang, “Dia tampan 'kan?”
“Tapi wajahnya terlihat seperti pria yang selalu ingin dihajar!” menunduk ke bawah, “Judes dan galak!”
Terkekeh pelan, “Benar sekali. Dan ini kali pertama, aku melihatnya tertawa lepas dan tersenyum seperti itu.”
Mencibir, “Sungguh bukan kriteria calon suami idaman!”
“Hya, kalau standar mu seperti Hirza, kurasa kamu tidak akan pernah menikah seumur hidup!”
“Hya! Kenapa kamu terus membahasnya. Kita hanya berteman, dan dia itu punya banyak kekasih!”
“Aku dengar dia sudah punya anak. Tapi aku tidak tahu jelasnya. Sejak dia wisuda, kita sudah kehilangan kontak dengannya!”
Vee tersenyum melihat ke luar jendela, “Semua orang pasti akan berubah dengan seiring waktu!”
Yunna tersenyum, “Aku harap, sahabat terbaikku, Vee Lesyanna akan berubah jadi agak feminine ketika dia sudah memiliki anak! Dengan begitu, dia tidak akan mengajari anaknya bertarung di jalanan!”
“Hya! Bisa tidak, tidak membicarakan seseorang di depan wajahnya secara langsung?” protes Vee.
Menoleh kebelakang, “Aku membicarakan di belakangku!”
“Shhh! Wanita gila!”
“Hahaha!” Yunna kembali terkekeh, “Jadi, bagaimana? Apa kamu mau pulang sendiri?”
“Cih! Terserah kamu saja!” membuang muka.
Laju mobil cukup lancar. Tidak ada kemacetan dan tidak ada antrean mobil di jalanan.
Seperti yang sudah direncanakan.
Yunna membawa Yazza check in ke salah satu hotel. Dan Vee kembali ke apartemen Yunna seorang diri.
Temannya itu memang tidak pernah berubah.
Sulit sekali jika dinasehati.
...***...
Yazza terbangun.
Kepalanya sangat pusing.
Dia cukup terkejut melihat seorang wanita di sampingnya.
Pakaian berserakan di mana-mana.
Yazza segera melompat turun dari ranjang.
Dia telanjang, dan dia sama sekali tidak mengingat apa-apa.
“Apa-apaan ini!” desisnya memegang kepala.
Sekilas, dia seperti melihat tatapan seorang wanita dalam ingatannya.
Bahkan dia ingat saat dia mencium paksa wanita itu di dalam mobil.
Tapi wajahnya tidak mirip dengan wanita yang masih terlelap di atas ranjang.
*Tidak!
Bahkan aku tidak mengingat dengan jelas wajahnya! Kenapa aku sangat yakin jika dia bukanlah yang ini*?
Pikirnya.
Yazza tidak mengerti, kenapa hanya memori tatapan mata itu saja yang terlintas jelas.
Dan dia yakin, itu sangat nyata di depan matanya.
Satu hal yang sudah pasti.
Tatapan gadis itu, mirip sekali dengan yang sering teringat di kepalaku.
Kembali melihat wajah Yunna
Tapi bukan dia!
Mendengus menggelengkan kepala.
Lalu siapa?
__ADS_1
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...