RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
KODE


__ADS_3


Yve memeluk mamanya dalam taksi online.


Usianya memang masih 8 tahun. Tapi terkadang dia bisa menjadi lebih dewasa dari usianya.


Pemikirannya kritis dan selalu peka dengan keadaan sekitarnya.


Yve sangat memahami mamanya, yang begitu acuh kepada semua orang.


Kecuali urusan bisnis dan pekerjaan, Vee tidak akan sok akrab dengan orang yang tidak dia kenal.


Tapi, begitu melihat mamanya tadi berbicara pada pria asing di taman. Tentu saja membuatnya penasaran.


“Mama mengenal paman itu?” tanya Yve polos mengingat senyum dan tatapan mamanya kepada pria tadi.


“Seorang yang menyebalkan.”


“Emm, kodenya?” melirik Vee.


Vee tampak berfikir, “Emmm, lem tikus?”


Yve terkekeh, “Sepertinya cocok. Dia tadi bakhan bilang tidak mau pergi sebelum mama datang!”


Vee ikut terkekeh. “Oke, panggilannya adalah lem tikus!”


Mengangguk, “Setuju!” tersenyum lalu menghela nafas, “Kenapa kita pindah kesini?”


Vee ikut menghela nafas panjang, keputusan yang berat untuk kembali ke kota ini.


“Mama mendapat promosi untuk pindah ke kantor pusat.”


“Aku benci teman-teman baru. Bagaimana jika mereka mengejekku lagi?”


Tersenyum, “Kenapa putriku begitu lemah? Memangnya mereka memberimu makan sehingga berhak mengejekmu. Hajar saja!”


Terkekeh, “Mama sudah sering mendapat panggilan guru karena Yve.”


Tersenyum mencium kepala Yve, “Demi Yve, mama juga bisa bertarung dengan beruang besar.”


“Sungguh?” Yve berbinar menatap Vee.


“He’em, mama sayaaaaang sekali sama Yve!” tersenyum gemas.


“Yve juga sayang mama.” Memeluk Vee makin erat.


***



Daniel memikirkan Yve sepanjang hari.


Dia sekarang sudah menjadi pemimpin di kantor pusat.


Semua orang terkejut ketika satu tahun yang lalu pak Direktur utama mengumumkan siapa sebenarnya Daniel.


Tidak ada yang menyangka, Daniel berpura-pura menjadi orang biasa selama bertahun-tahun.


Daniel tidak perlu lagi tinggal di perumahan sederhana. Dia sudah kembali kerumah dan tinggal bersama kedua orang tuanya.


Sebenarnya, ibunya yang memaksanya kembali tinggal bersama mereka.


“Apa yang sedang kamu fikirkan?” tanya mamanya membawakan camilan.


“Tidak ada!” jawab Daniel singkat.


Ayahnya yang duduk di sebelah Daniel, hanya melirik sekilas sembari menonton berita.

__ADS_1


“Dia sudah muram sejak pulang jogging!”


“Apa terjadi sesuatu?” tanya mamanya spekulatif.


“Ma, boleh tidak menyukai istri orang?” ucap Daniel sambil menatap kosong ke langit-langit rumahnya.


Ayah dan ibunya langsung menatapnya terkejut.


“Hah?”


“Apa?”


Daniel nyengir menegakkan duduknya.


“ Hehe! Bercanda!”


Bu Risma menghela nafas panjang. Duduk di sebelah suaminya.


Beliau berada di tengah-tengah sekarang.


“Kamu sudah sangat cukup umur untuk menikah. Mama capek dengan semua gosip di luar sana. Setiap kali dijodohin, kamu selalu menolak dan bilang menunggu seseorang. Sebenarnya apasih maumu!”


Menyenggol lengan istrinya, “Shhh, kenapa menyinggungnya lagi!” desis pak Fauzan.


“Pa, mama malu pa! Masak anak kita dikatai pedoopiiil, gaaay dan macam-macam!” gerutu ibu Daniel.


“Kalau aku mengejarnya lagi, mungkin akan bertambah menjadi perebut istri orang!” guman Daniel santai.


Kedua orang tuanya kembali melirik ke arah Daniel.


Menyadari hal itu Daniel kembali nyengir salah tingkah.


“Sebenarnya apa maksudmu berkata seperti itu?” tanya ayahnya.


“Kamu sungguh menyukai istri orang?” bu Risma memasang wajah terkejut.


“Heh! Kau sungguh menyukai istri orang!” Ibunya menaikan nada, bertanya sekali lagi.


“Gadis yang selama ini aku tunggu itu…, aku bertemu dengannya pagi ini! Tapi dia membawa anak kecil.” Menutup muka dengan bantal, “Aaaaaa! Sakit sekali!” menepuk-nepuk dadanya.


“Haiz! Kenapa anak kita tidak waras sih pa!” rengek bu Risma melihat tingkah anaknya.


“Setidaknya dia menyukai wanita.” Jawab pak Fauzan santai kembali menonton berita.


“Pa!” kesal. “Anak dan ayah sama-sama tidak waras!” menyingkirkan kepala Daniel lalu berdiri melangkah pergi.


 


***


Yazza semakin dikenal banyak orang.


Top pengusaha muda saat ini.


Wajahnya sering muncul di majalah-majalah bisnis dan media online dunia bisnis lainnya.



Tidak sedikit yang berusaha medekatinya, tapi tidak satupun yang berhasil mendapatkan perhatiannya.


Dia terus saja fokus pada bidangnya demi mengalahkan Gerry. Saingan bisnis yang selalu menghalangi jalannya.


“Tuan, kapan kita akan menyetujui pertemuan kerjasama dengan White Purple?”


“Lusa.” Membaca file, “Kudengar, pemimpin saat ini sungguh konyol dan kekanakan?”


“Ya, tapi dia cukup membuat semua orang terkesan. Dia bekerja sebagai karyawan biasa dan tidak seorangpun tahu jika dia anak direktur. Dia mencapai posisi tinggi dengan usahanya sendiri selama bertahun-tahun dan barulah dia mengaku siapa dirinya.”

__ADS_1


“Cukup menarik!” Yazza menerawang.


“Meskipun kekanakan dan konyol. Dia cukup bersinar akhir-akhir ini.”


Mengangguk-angguk, “Aku penasaran juga ingin segera menemuinya.”


 


***


Vee mengantar Yve ke sekolah barunya.


Baru setelah itu dia menuju kantor White Purple. Kantor yang pernah menjadi tempat dia bekerja sebelumnya.


Ia menghela nafas panjang kembali gugup seperti awal pertama dia menginjakan kaki di sana.



Pak Didik sudah menjadi direktur bagian pemasaran sekarang, dan dia menjadi orang kepercayaan Daniel.


Hanya pak Didik yang masih berani menegur dan memarahi Daniel jika Daniel mulai tidak serius.


“Kenapa tidak mengganti dengan sekertaris pria lagi saja?” tanya Daniel santai sambil bermain game.


“Sebenarnya ini request dari ibu presdir!” pak Didik santai.


“Cihh, berharap aku memulai kisah romansa dengan sekertaris baru?” cibir Daniel.


“Tidak juga. Hanya saja beliau takut ada gosip yang menyebar tentang.., .gaaay itu!”


Daniel menurunkan ponselnya dan menatap pak Didik, “Kenapa semua orang begitu haus akan gosip sih!”


Menyodorkan file map tipis, “Ini data sekertaris barumu. Dia sebenarnya, dipromosikan untuk menjadi manager pemasaran yang baru. Karena bertepatan dengan kasus korupsi sekertarismu, jadi aku pikir dia cocok untuk menggantikannya.”


“Seorang wanita dari kantor cabang?” Daniel mengernyit.


Tersenyum mencibir, “Kalau kamu tidak mentraktirku kali ini, aku akan memukul kepalamu dengan setumpuk laporan!”


“Cihh!” mencibir menyingkirkan kertas file di mejanya. “Kenapa aku harus mentraktir pak Didik!”


“Sungguh tidak ingin melihat profilenya? Dia sangat berbakat loh, aku tahu sendiri!” cengingisan.


Daniel sok cuek kembali bermain game online.


“Ya sudah terserah! Aku pergi dulu!” berjalan menuju pintu. “Ah, satu lagi. Dia seorang janda!”


“Janda! Dia pikir aku ini apa!” gerutu Daniel.


Dengan sok angkuh Daniel mengambil file itu untuk memeriksanya.


Binar bahagia dan senyumnya merekah lebar seketika.


“Pak Didik! I Love You So Much!” Teriak Daniel kencang. Tepat saat pak Didik keluar dari ruangan dan membuka pintu.


Otomatis suara Daniel menyebar keluar dan membuat semua orang menatap ke arahnya.


Pak Didik tersenyum malu kepada semua orang.


Segera dia menutup rapat pintu ruangan Daniel.


“Dasar anak ini. Tidak sembuh-sembuh!” gerutunya sambil berjalan menutup wajah dengan sebelah tangan karena malu kepada karyawan yang melihatinya.



Daniel terkekeh riang smelihat kertas identitas seseorang di tangannya.


...-@,@- To Be Continue -@,@-...

__ADS_1


...>))))>' '<((((<...


__ADS_2