
Seorang berseragam dokter berdiri di belakang Margo yang duduk berhadapan dengan Zoya.
Seperti biasa, mereka tengah berbincang dengan sajian teh poci di atas meja.
Teras taman belakang tampak cukup terang dengan lampu-lampu taman di berbagai sudut.
Hujan yang turun membuat udara terasa dingin, tapi ketiganya seolah tidak terganggu dengan cuaca tersebut.
“Aku dengar … hari ini mereka melakukan pertemuan lagi,” dengan gaya santai Margo menghisap cerutunya.
“Wanita dari Strom itu lagi?” tanya Zoya menyipitkan mata.
“Yeah … tapi dia tidak sendirian!”
“Maksud paman?”
“Dia datang bersama kekasihnya. Kemungkinan Hirza memang sedang menjalin kerjasama dengan mereka!”
“Kerjasama? Apakah berkaitan dengan pembangunan Rumah Sakit baru?”
“Mengingat pria yang datang bersama wanita itu adalah anak dari pemilik White Purple, aku menduga Hirza memang ingin menggandeng perusahaan itu untuk mengisi Rumah Sakitnya!”
Zoya tersenyum lega, “Bagus deh!”
“Jadi kamu sekarang tidak perlu khawatir mengenai hal ini kan? Hirza dan wanita itu tidak ada hubungan lain selain hubungan kerjasama dalam pekerjaan!”
Zoya mengangguk dengan senyum riangnya, “Seharusnya aku percaya … Hirza masih setia padaku … dia tidak akan pernah bisa berpaling dan mencari pengganti ku!”
“Hahaha … memangnya siapa yang bisa berpaling dari wanita secantik kamu Zoe,” puji Margo sengaja meninggikan hati Zoya.
“Paman … aku mau bercerita!” Zoya kembali menatap Margo dengan binar bahagia.
“Apa itu nak? Sepertinya kabar bagus?”
“Yeah,” Zoya mengangguk, “tadi ketika aku mengajari putraku melukis … aku akhirnya melihat dia tampak senang dengan apa yang aku ajarkan!”
“Oh ya?” Margo ikut tersenyum bahagia, “Lalu?”
“Dia bilang … dia akan belajar lebih giat lagi agar bisa melukis dengan baik!”
“Memangnya apa yang kamu ajarkan, sampai membuat putramu tertarik begitu?” tanya Margo masih duduk santai menyandar punggung kursi.
“Kode dalam lukisan,” jawab Zoya tersenyum bangga.
“Loh … apa itu tidak terlalu dini? Putramu masih Sekolah Dasar,” Margo menyipitkan mata.
“Dia sangat pandai! Hirza mendidiknya dengan sangat baik!” mengingat senyum Xean, membuat Zoya kembali tersenyum, “Dia sangat cepat tanggap dan mudah memahami apa yang aku ajarkan!”
“Lalu … apa ini tidak terlalu beresiko? Jika Hirza tahu putranya sudah belajar tentang kode dalam lukisan, apakah dia tidak akan curiga?”
__ADS_1
“Apa yang harus di curigai?”
“Kode dalam lukisan adalah sarana komunikasi khusus yang tehniknya tidak banyak di ketahui orang luar. Lalu, jika sampai Hirza tahu putranya sudah bisa memahami sebelum dia mengajarkannya … bukankah Hirza akan curiga?”
Zoya tersenyum, “Paman jangan khawatir … aku sudah memikirkan dengan matang!”
“Maksud kamu?”
“Pokoknya serahkan saja padaku nantinya!”
Melihat semangat yang Zoya tunjukkan membuat pria tua itu tampak bahagia, Margo menoleh ke belakang dan tersenyum kepada dokter.
“Lihat, dia sudah semakin membaik kan?"
Pria dengan seragam Dokter tersenyum mengangguk, "Benar tuan!"
"Paman senang melihat kamu seperti ini! Sepertinya kamu sudah cukup sehat untuk kembali ke kerajaanmu!”
“Itu tidak mungkin paman! Dalam satu kerajaan tidak bisa di pimpin oleh dua Raja!”
“Bukankah dari awal Paradise adalah milikmu?”
“Jika aku mengambil alih kembali … apa itu akan menjamin keselamatan Hirza? Aku takut orang-orang jadi tidak menaruh hormat kepadanya lagi! Aku tidak mau dia kehilangan dukungan dan kembali banyak orang yang mengancamnya!”
“Zoe, kamu sudah banyak berkorban untuknya … jika sampai dia membuatmu kecewa, aku adalah orang pertama yang akan menyingkirkan dia!”
“Haiz … seharusnya dia tahu … betapa besarnya rasa cintamu pada nya, sampai-sampai … kamu bahkan tidak peduli pada dirimu sendiri!”
“Aku yakin Hirza pasti tahu kok! Lihat saja … bukankah dia juga masih bertahan menyendiri sampai saat ini?”
Margo menghela nafas panjang, dalam diamnya dia menaruh rasa iba yang begitu besar terhadap wanita di hadapannya ini.
Hirza menjadi seperti itu juga karena di bawah tekanan banyak orang.
Jika bukan karena para tetua Paradise, tidak tahu apa yang akan terjadi. Mengingat betapa playboy nya Hirza ketika dia masih bersama Zoya, sampai membuat putri tunggal pewaris Paradise itu menjadi gila, pria itu masih saja bergonta-ganti pasangan dan terus menerus menyakiti hati dan perasaan Zoya.
“Hirza seharusnya bersyukur karena kamu memilihnya!” desis Margo bergumam lirih.
...***...
Hans melihat kakak angkatnya yang berdiri diam di balkon kamarnya. Pemuda itu menghela nafas panjang lalu menghempaskan perlahan.
Cukup ragu dia hendak mengganggu kesendirian Hirza.
Melihat betapa sendunya malam ini, sepertinya mendukung perasaan yang tengah Hirza rasakan.
Langit tak berbintang dan bulan tidak menampakkan diri. Hanya kilat yang sesekali menerangi gelapnya langit malam.
Merasa tidak sanggup mendekat, Hans memutuskan mundur.
__ADS_1
“Hans!”
Satu langkah pria itu hendak undur diri, kakak angkatnya justru memanggil.
“Eh … mas!” Hans terkejut, “Maaf! Apa aku mengganggu?”
Hirza membalikan badan, bersandar di pembatas, “Kenapa mau pergi … bukankah kamu sudah datang ke kamarku?”
Dengan ragu, remaja itu kembali melangkah ke depan.
“Aku takut mengganggu waktu santai mas Hirza!”
“Tidak perlu berpura-pura di hadapanku … aku tahu, kamu pasti juga tahu tentang apa yang saat ini aku rasakan kan?”
“Mas masih kepikiran tentang mbak Vee ya?”
“Aku tahu dia sekarang sudah menikah, dan aku sendiri yang merencanakan ide untuk membuat mereka bersatu. Meski aku sadar tentang statusnya saat ini, tapi mendengar kabar tentang kehamilannya … masih saja membuatku sakit hati! Apakah aku sudah mulai tidak waras?”
“Mas merasa tidak rela kan sekarang?”
“Aku tidak tahu! Aku sendiri tidak bisa menyimpulkan … perasaan apa yang saat ini aku rasakan! Aku bingung, gelisah dan tidak bisa tenang setiap kali mengingat kenyataan yang baru aku dengar!”
“Seharusnya mas tidak perlu berpura-pura dari awal!”
“Tidak perlu berpura-pura?” ulang Hirza mendengus tersenyum sinis, “Jika aku terlahir kembali dan bukan menjadi Hirza … mungkin aku bisa memperjuangkan Vee secara terang-terangan!”
Hans kembali menghela nafas panjang lau menghempaskan nya lagi.
Dia duduk di bangku balkon, hanya terdiam dan membisu. Rasanya sulit sekali menemukan jawaban yang tepat untuk mengomentari pernyataan Hirza.
“Sudahlah … kamu masih muda! Tidak perlu memusingkan urusanku ini,” Hirza menatap adik angkatnya, “Kamu datang hendak menemui ku … itu artinya ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan. Apa ada sesuatu?”
“Yeah … ada laporan dari Ozzy mengenai Kepala Sekolah Xean!”
“Tunggu,” sela Hirza memotong, “Kepala Sekolahnya Xean? Apa anak itu membuat masalah lagi?”
Hans menggeleng, keningnya mulai berkerut memikirkan sesuatu yang berat.
“Ozzy bilang, Kepala Sekolah menunjukkan gesture aneh. Seolah dia berisyarat sesuatu, tapi wanita itu begitu terbatas ruang geraknya,” Hans menatap Hirza, “Bukankah sepertinya … ada yang diam-diam mengawasi gerak-gerik Kepala Sekolah!”
Hirza menyipitkan, memikirkan kemungkinan yang masuk akal untuk menyimpulkan.
“Akhir-akhir ini … Si Seribu Tangan terlihat sering mengawasi kita … apa ada kaitannya?” tanya Hans ikut menyipitkan mata.
“Paman Margo?”
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...
__ADS_1