RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
TIDAK BISA MENOLAK


__ADS_3


“Pak Daniel kenapa?”


Tisya menyipitkan mata seolah sedih.


“Atau jangan-jangan, pak Daniel sudah ada seseorang ya?” seolah merasa bersalah.


Daniel melihat seluruh ekspresi keluarga itu.


Semuanya tampak kecewa menatapnya.


“Ah itu tidak mungkin! Jika Daniel sudah mempunyai kekasih, dia pasti akan bercerita dengan kami, tapi sejauh ini, dia tidak pernah bercerita jika dia mempunyai kekasih,” bu Risma terkekeh pelan berusaha mencairkan suasana.


Tasya tersenyum, “Bagus deh kalau begitu! Mereka sudah mulai bisa berjalan bersama untuk lebih mengenal satu sama lain!”


Tisya menatap Daniel, “Pak Daniel tidak keberatan kan?”


Salah tingkah, “Ah … emb …, saya hanya merasa tidak pantas untuk bu Tisya!”


Tersenyum, “Kenapa sudah bilang begitu? Kita jalani saja dulu, kebetulan saya butuh furniture untuk mengisi rumah baru saya. Bukankah kita akan sering bertemu, pak Daniel bisa membantu saya memilihkan yang terbaik!”


“Ah iya … meskipun mereka dalam masa penjajakan, masalah furniture kami akan membayar full. Jangan khawatir! Hahaha,” kali ini Ganny terkekeh, mencoba mencairkan suasana.


Pak Fauzan tersenyum, “Pak Ganny bisa saja! Lagipula untuk pembelian dalam jumlah banyak, kita juga akan memberi potongan harga khusus kok!”


Menyenggol lengan Ganny, “Mas gimana sih, malah kembali membicarakan masalah bisnis,” tersenyum gemas.


“Nggak enak dong, kalau terlalu serius terus,” tersenyum, “Daniel, saya titip adik ipar saya ya! Dia tidak neko-neko orangnya, hanya saja memang sangat pemilih dalam berbagai hal.”


Daniel tersenyum palsu.


Dia tidak tahu lagi harus bagaimana.


Dia merasa sangat bersalah pada Vee sekarang.


Apa yang harus dikatakan pada Vee nantinya.


Kedua orang tua Daniel tampak bahagia dengan perjodohan ini.


Lagipula, jika dia jalan dengan Tisya, mungkin ini bisa menutupi hubungan gelapnya bersama Vee.


Dengan alasan sudah punya pacar secara resmi, bukankah mempermudah alasan untuk pergi kencan dengan Vee nantinya.


Daniel tersenyum.


Benar!


Dengan begini, aku akan mempunyai alasan untuk lebih sering mengajak Vee pergi menginap di luar!


Gumamnya dalam hati.


Bi Nanny datang menggendong Cessa sembari menggandeng Caesar.


“Ah, ini anak-anak saya!” Tasya memperkenalkan.


“Manis-manis sekali!” bu Risma gemas.


Caesar menatap Daniel cukup terkejut, begitu pula Daniel.


“Dia ini kan papa bohongan nya Yve!” Caesar menyipitkan mata menatap Daniel.


Astaga!


Aku lupa jika teman Yve adalah putra dari pemilik Nirwana!


Apa dia masih mengenaliku?

__ADS_1


Daniel mulai gusar.


Gawat jika dia bercerita kepada Yve!


...***...


Vee dan Yazza turun dari mobil.


Yve masih terlihat mewek menggandeng Vee.


“Sayang, jangan menunjukan wajah jelek di hadapan kakek buyut,” mengusap pipi Yve.


“Yve sedih, Caesar itu satu-satunya teman Yve yang paling baik,” desis Yve lirih.


“Kalau kamu bilang begitu, papa akan mendaftarkan kamu ke sekolah lain mulai besok!” tegas Yazza langsung berjalan mendahului.


Yve kembali menderu memeluk Vee.


Mengelus kepala putrinya.


“Yazza! Kita bicara berdua dulu!” Vee meninggikan nada.


Sedikit menoleh, “Aku tidak mau membuat kakek menunggu lebih lama lagi,” kembali berjalan acuh.


Vee mendengus kesal, mengepalkan tangan menatap ke arah Yazza.


“Nyonya Vee, sebaiknya kita segera masuk,” pak Ardi mempersilahkan.


“Sayang, mama akan bicara pada papa nanti. Sekarang berhenti dulu nangisnya! Kan kita mau ketemu kakek buyut,” mencoba menghibur putrinya.


Mendongak, “Yve tidak mau pindah sekolah ma!”


“Mama ngerti sayang! Yuk masuk dulu,” menghapus air mata Yve.


Mengangguk, “Mama janji mau bicara pada papa nanti?”


“Tentu sayang! Sepulang dari sini, mama akan bicara pada papa!”


“Sudah! Ayo kita masuk dulu, kalau tidak segera masuk, papa akan jadi semakin marah!”


Mengangguk menggandeng Yve.



Kek Gio melihat Yazza berjalan sendirian.


“Loh di mana Vee dan anakmu?”


Menoleh ke belakang, “Sebentar lagi juga datang,” duduk cuek.


“Kenapa mukamu masam sekali?” tanya kek Gio.


Vee tersenyum melihat ke Gio.


Tapi kek Gio justru menyipitkan mata melihat Yve yang tampak bersedih.


“Loh-loh! Kenapa ini?” tanya kek Gio.


Yve langsung mencium tangan kek Gio.


Masih sesenggukan dia langsung duduk tanpa kata-kata.


“Tidak apa-apa kok kek! Hanya habis dimarahi papanya,” melirik ke arah Yazza.


“Marah-marah terus! Memangnya salah apa Yve?” kek Gio mengelus kepala Yve melotot tajam ke arah cucunya.


“Yazza mau mengirimnya ke sekolah khusus anak cewek saja!” menatap tajam ke arah Yve.

__ADS_1


Yve langsung memeluk kek Gio.


“Kenapa begitu?” mengelus punggung Yve.


“Beberapa waktu yang lalu dia dipanggil kepala sekolah karena berkelahi dengan anak pria yang bahkan lebih tinggi kelasnya dibandingkan dia!”


Vee langsung menatap Yazza dengan rahang yang mengeras.


Bisa-bisanya dia selicik itu menggunakan alasan masalah perkelahian Yve yang bahkan sudah di selesaikan dengan baik!


Sudah jelas Yve tidak bersalah dan hanya berusaha membela seseorang!


“Benar kamu berkelahi di sekolah?” tanya kek Gio.


Yve mengangguk.


Kek Gio menghela nafas panjang.


“Emb, itu hanya salah paham. Yve hanya membela temannya yang dibully!” Vee mencoba membela.


“Vee, kali ini kakek setuju dengan Yazza. Yve masih kecil, jadi masih bisa jika mau memperbaiki manner nya sejak dini!”


Yazza mendengus, tersenyum mencibir melirik Vee.


Vee semakin geram melihatnya.


Yve kembali mewek, “Yve janji tidak akan berkelahi atau nakal lagi. Tapi Yve tidak mau pindah!”


“Sudah-sudah kita jangan bicarakan ini dulu di sini!” mengelus rambut Yve, “Sayang jangan nangis ya. Eyang buyut bawain banyak sekali oleh-oleh untuk Yve!”


Mendongak menatap kek Gio, “Benarkah?”


“Hmph … tentu! Kalau Yve berhenti menangis dan tidak bersedih lagi, eyang buyut janji bakalan kasih hadiah tambahan!”


“Apa itu?” tanya Yve sembari menyeka air mata di pipinya.


“Rahasia dong! Yang jelas Yve pasti akan sangat senang sekali!”


“Eyang janji?” masih sesenggukan.


Mengangguk, “Tapi syaratnya Yve harus tinggal bersama kakek!”


Vee menyipitkan mata menatap kek Gio.


“Tinggal bersama kakek? Di mana?” tanya Yve polos.


“Tentu saja di rumah papa! Kata papa Yazza, apartemen tempat tinggal Yve sempit. Hanya ada dua kamar saja. Kalau eyang ikut tinggal di sana, eyang tidur di mana dong?”


Tersenyum meringis menatap kek Gio, “Hehehe, benar juga ya!”


“Kek, maksud kakek apa? Kakek mau kami tinggal serumah di rumah Yazza?” tanya Vee memprotes.


“Vee, kenapa kamu masih tidak mau tinggal di sana?” menatap Vee kali ini.


“Kek, kita belum resmi menikah! Apa kata orang nantinya?” dalih Vee mencari alasan.


“Lalu apa bedanya? Yazza juga tinggal di apartemen mu tiap malam kan?” hardik kek Gio.


Vee melirik Yazza, yang juga melirik ke arahnya.


Pria itu tersenyum mencibir penuh kemenangan.


Dasar pria busuk ini!


Pasti dia sudah merencanakan tentang semua ini dan memanfaatkan kek Gio sebagai alasannya.


Bagaimana aku bisa menolaknya sekarang!

__ADS_1


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2